Sebuah nomor asing tertera di layar ponselku yang kian berpendar. Siapa kah? Meski ragu akhirnya aku mengangkat juga panggilan dari nomor asing itu. "Ya Hallo, siapa ya?" tanyaku saat telepon terhubung. "Lara, ini aku Willan." Mendengar suara itu, rasanya seperti gunung batu yang menghimpit dadaku selama ini telah hilang. Terasa plong dan lega. Aku ingin berteriak saking senangnya tetapi nyatanya seluruh tubuhku kaku karena dentuman rasa yang terlalu membuncah. Tentu saja ini adalah kabar baik untukku, terlebih juga untuk Aira dan juga Miko. Aku harus secepatnya mengabarkan mereka bahwa kini papahnya sudah menghubungi. "Will? Aku sedang tidak bermimpi kan? Kamu di mana, apakah sekarang baik-baik saja? Pliiis Will pulang, Aira dan Miko sangat merindukanmu. Tiap hari mereka menanyaka

