Wilan

1324 Kata
Lima belas menit setelah kepergian Wilan dan juga Aira. Seorang suster datang membawakan beberapa tablet obat, ia juga memeriksa bagian luka di pelipisku. Perawat itu membantuku berdiri juga membimbing saat kumintai tolong hendak ke kamar kecil. Sekujur tubuh ini rasanya nyeri, tetapi aku harus membiasakan diri untuk banyak bergerak supaya terbiasa dan cepat pulih juga. "Terima kasih, Suster," ucapku saat tubuh ini sudah kembali menempati bangsal. "Sama-sama, Bu. Oh iya, jangan lupa makan dan juga diminum obatnya." Setelah mengatakan itu, suster berwajah ramah itu berlalu. Aku melirik jam yang menunjukkan angka 22.15 sudah malam ternyata. Tenggorokanku terasa kering dan kuraih sebotol sir yang terletak di atas meja. Bermacam buah segar di sana tak membuatku tertarik. Semangkuk bubur juga masih utuh dan belum tersentuh. Perut ini terasa mual, tetapi demi bisa sembuh maka kuraih bubur dalam mangkuk. Mulai melahapnya perlahan-lahan. Perut butuh karbohidrat untuk bisa meminum obat. Baru satu suap terdengar pintu ruangan terbuka. Wilan segera masuk dan kini duduk di kursi di samping bangsal yang kutempati. Ia kini memperhatikanku yang sedang memegang sendok. Mata tajam Wilan menatapku lekat dengan pandangan yang sulit diartikan. "Kenapa kau menatapku seperti itu?" Akhirnya aku memberanikan diri bertanya padanya. "Tidak kenapa-kenapa. Kau perempuan baik, pantas saja Aira begitu menyayangimu." Wilan mengatakan itu seraya mengambil mangkuk bubur dari pangkuanku. "Kenapa kau bisa menyimpulkan seperti itu? Kita baru beberapa hari bertemu, bukan kah hal itu tidak cukup untuk memberi pandangan dan menyimpulkan sifat seseorang baik atau tidaknya?" "Kamu bahkan tidak ada hubungan apa pun dengan putriku, tetapi begitu berani menyelamatkannya dari bahaya dan membiarkan tubuhmu sendiri terluka seperti ini. Sungguh, ucapan terima kasih saja tidak cukup untuk membalas kebaikanmu, Nona," ungkap lelaki di hadapanku dengan wajah serius. Beberapa detik pandangan kami beradu, aku menunduk untuk menghindari tatapan itu. Bukan, bukan maksudku menghindarinya tetapi aku tidak siap dengan luka yang masih terasa basah di dalam d**a. Tentang trauma? Ya, mungkin benar bahwa aku trauma pada makhluk bernama lelaki. Meski tak semua lelaki bersifat buruk seperti Danil namun tetap saja hal itu membuatku tak siap dan ingin membatasi diri, bahkan terhadap Wilan sekali pun. "Siapa pun akan punya niat menolong seseorang yang sedang dalam bahaya," ucapku kemudian. "Tidak semua orang. Hanya orang-orang dengan jiwa baik saja yang mau menerima konsekuensi apa pun untuk menyelamatkan seseorang." Wilan bersikeras. Aku terdiam dan menghela napas, rasanya aku malas untuk membahas hal ini. Lagi pula aku menyayangi Aira dan tentu saja aku ingin menyelamatkannya. Rasa sayang pada gadis kecil itu tak bisa dirangkai dengan kata-kata, karena rasa itu berasal dari jiwa. Mungkin Tuhan yang menitipkan rasa itu di dadaku untuk Aira. "Habiskan buburnya. Kau juga harus minum obat agar lukamu lekas pulih." Wilan menyodorkan sendok berisi bubur ke depan mulutku. Tentu saja aku risih dengan perlakuannya. "Aku bisa makan sendiri." "Dengan tanganmu yang masih bergetar itu? Ayolah buka mulutmu." "Aku tak ingin merepotkanmu." "Aku tidak merasa direpotkan, bukalah mulutmu dan habiskan makanannya." Wilan lagi-lagi tak mau mengalah dan aku kehilangan cara untuk membantah. Selesai makan bubur, lelaki itu segera membukakan tablet obat dan menyuruhku meminumnya. "Istirahatlah Lara, agar esok hari kondisimu lebih baik dan semoga cepat sembuh." Ia mengatakan itu saat aku mulai merebahkan diri. "Terima kasih Wilan, aku akan istirahat dan kamu bisa pulang." "Tidak, aku tidak akan pulang." Lelaki itu di posisi duduknya kini merebahkan kepala di samping bangsal hingga rambutnya mengenai lenganku. "Kenapa tidak?" "Karena tentu saja aku tidak membiarkanmu sendirian di sini." "Siapa bilang aku sendiri? Ada perawat dan juga dokter yang setiap saat mengecek kondisiku. Jadi pulanglah karena ini sudah larut." "Lara, berhentilah menyuruhku pulang, aku ngantuk dan ingin tidur di sini." "Apa enaknya tidur di sini? Dengan posisimu yang terduduk seperti itu?" "Yang penting aku bisa menemanimu, itu sudah cukup. Kau juga tidurlah jangan banyak bicara," tandasnya. Aku merasakan tanganku di genggamnya. Dan kepala Wilan begitu dekat dengan sisi tubuhku. Aku tak bisa berkutik saat terdengar dengkur halusnya di sebelahku. ***** Lelaki ini begitu cepat tertidur, mungkin karena ia lelah seharian di resto dan juga menungguiku atau lebih tepatnya berada di sini karena Aira yang terus saja menangis dan menyalahkan diri. Ya, aku tahu bahwa tadi beberapa kali Willan menenangkan Aira dan sering menatapku dengan rautnya yang bersalah. Padahal aku terbaring di sini juga karena kondisi tubuh yang sedang drop, ada pun luka karena terserempet mobil tadi ternyata tidak parah. Hanya mengalami beberapa lecet di bagian lengan dan kening. Beberapa hari saja luka ini akan cepat sembuh. Aku mencoba meraih ponselku yang tergeletak di atas meja kecil tak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Membuka layar dan memencet aplikasi berlogo F berwarna biru, lalu terpaku setelah sekian lama tak membuka aplikasi f*******:. Serentetan inbok masuk sangat banyak dan siapa lagi yang mengirim teror itu kalau bukan Danil. Ya, ternyata lelaki itu masih berusaha mengusik dan mencari keberadaanku. Dia bahkan menyumpah serapah terhadapku yang ganti nomor dan menghilang begitu saja. [Aku bersumpah akan menemukanmu Laysa, cepat atau lambat kamu akan kembali padaku.] [Seberapa pun kamu menghindari dan jauh meninggalkanku pergi, suatu saat orang-orang suruhanku atau beberapa polisi akan menemukanmu dan menangkapmu sebagai buronan.] [Kamu kira dengan mematikan atau mengganti nomor ponsel, itu akan menghapus jejakmu? Tidak, Sa, kamu akan ditemukan secepatnya.] [Saat nanti aku menemukanmu, itu artinya kau harus kembali menjadi istriku. Laysa, aku sangat mencintaimu. Pliiis kembali.] 'Shit.' Aku mencelos saat membuka deretan inbok dari Danil. Bisa-bisanya dia bilang mencintai setelah menyakitiku bertubi-tubi. Tanpa berpikir apa pun lagi segera nama Danil Hutagalung kublock dari deretan list pertemanan sss. Tak lupa juga aku memprivat semua akun medsos agar dia tak lagi bisa menghubungi. Aku tahu Danil tengah gencar-gencarnya menyuruh orang-orang bayarannya untuk menemukanku, dan tentu saja hal itu membuatku harus lebih waspada. Jika suatu saat nanti keberadaanku diketahuinya maka jalan satu-satunya aku harus pergi. Entah ke mana lagi. Aku sudah lelah dan rasanya ingin menyerah, namun tidak untuk menyerahkan diri pada Danil. Bagaimana? Bagaimana caranya agar aku bisa tak dikenali sebagai Laysa? Haruskah melakukan operasi plastik untuk mengubah wajah misalnya, oh tidak itu sangat mengerikan. Tidak bisa dipungkiri ternyata efek membuka media sosial kali ini membuat dadaku bergemuruh menahan emosi. Aku sangat membenci Danil, kadang terpikir dalam benak kenapa aku tak bisa mengenali sikapnya yang temperamen itu? kenapa aku dipertemukan dengan orang tak berperasaan? Apakah ini ujian atau memang sudah suratan takdir, rasanya begitu menyakitkan. Tak terasa aku terisak lirih hingga saat menahan agar tidak menangis saja tubuhku rasanya terguncang. "Ra, kamu kenapa?" Tiba-tiba Willan terbangun, kini lelaki itu memperhatikanku. "Tidak kenapa-kenapa, aku tadi hanya kelilipan," ucapku berkilah dan segera mengusap jejak air mata dengan ujung jari. Berusaha tersenyum meskipun dengan bibir bergetar. "Kamu pasti kesakitan. Mana yang sakit biar aku kompres pake air hangat ya," ucap Will seraya beranjak dan mengambil mangkuk kompres yang dikasih dengan air hangat. Lelaki jangkung itu meraih lenganku. "Kadang meskipun hanya lecet seperti ini tapi rasanya ngilu," ucapnya lagi seraya menempelkan kain hangat itu ke arah luka di bagian sikut tangan kanan. Aku memperhatikannya, memperhatikan dengan seksama bagaimana Will begitu telaten mengompres, padahal aku tahu dari kelopak matanya yang berat itu dia sedang menahan kantuk. "Sudah Will, aku sudah tidak apa-apa. Tidurlah kamu kelihatan lelah dan ngantuk." "Tapi kamu terlihat kesakitan. Jadi biarkan aku merawatmu seperti ini." Lelaki itu kini memijit area betisku. "Will, aku sudah tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Berhentilah memijitku. Kamu butuh istirahat." Aku menyingkirkan tangan Will. "Ra, boleh aku bertanya?" Aku mengangguk kecil. "Sebenarnya aku ingin bertanya banyak hal tentangmu, tentang kedatanganmu ke pulau ini, tetapi karena aku saat ini sangat lelah dan ngantuk jadi lain kali saja kutanyakan lagi." Willan menguap. Astaga, lelaki ini terlihat lucu. "Sudah jangan banyak bertanya, tidurlah di kursi sana biar ruang gerakmu bisa bebas saat tertidur." "Siap. Kamu juga sebaiknya tidur agar besok pagi bangun dengan kondisi yang lebih baik lagi." "Iya," lirihku. Tak berapa lama setelahnya, aku melihat Will sudah pulas kembali dalam tidurnya. Wajahnya damai, harus kuakui satu hal bahwa Will mempunyai garis ketampanan yang tidak biasa. Di saat aku tak mempercayai lelaki baik, tetapi pada Will entah mengapa aku merasa enjoy dan baik-baik saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN