TULUS

1252 Kata
Pagi, aku terbangun dengan kondisi badan yang sudah mulai terasa membaik. Aroma cokelat hangat menguar di ruangan dan memenuhi Indra penciumanku. Saat membuka mata, pertama kali yang kulihat adalah wajah Willan yang tersenyum menatapku. "Selamat pagi, Ra. Aku sudah membuatkan cokelat hangat, diminum ya." Lelaki itu menyodorkan gelas bulat tetapi kemudian menarik kembali mug berisi cokelat hangat itu lalu diletakkannya di atas meja kecil. "Aku berubah pikiran," ucapnya seraya melangkah mendekati dispenser air. Aku sungguh tak mengerti dengan tingkah dan ucapan Willan. Setelah ia mendapatkan segelas air dari dispenser yang tadi dipencetnya, kini lelaki bertubuh jangkung itu melangkah dan duduk di dekatku. "Air putih lebih menyehatkan untuk tubuh. Apalagi diminum setelah bangun tidur itu bisa mengeluarkan racun-racun dalam tubuh. Jadi, minumlah air putih terlebih dahulu sebelum memasukkan makanan atau minuman lain," jelasnya lagi. Tanpa banyak kata aku segera meraih segelas air putih itu dari tangannya dan langsung meminumnya hingga tandas. "Astaga, kau ternyata benar-benar haus." Willan terkekeh pelan saat melihat gelas kosong di tanganku. "Baguslah, kamu memang harus banyak minum. Dan juga harus semangat untuk sembuh." Aku hanya mengangguk dan terdiam, menanggapi kata-katanya yang pagi ini sangat cerewet. Cerewet memperhatikan kondisi kesehatanku. Seharusnya aku senang karena ada seseorang yang peduli dan begitu memperhatikan, tetapi ternyata rasanya hambar. Aku bahkan terlalu takut menunjukkan rasa senang atas perhatian yang diberikan oleh Willan. "Kenapa diam saja?" tanyanya setelah meletakkan gelas kosong bekasku tadi ke atas nakas. "Aku … aku tidak apa-apa," jawabku. Berusaha menunjukkan senyum tapi bibirku terasa bergetar. Tiba-tiba hatiku dipenuhi rasa haru dan sedih yang teramat. Aku bahkan tidak tahu kenapa bisa seperti ini. "Hei … kamu menangis?" Willan mengusap setitik air mata yang jatuh dari sudut mataku. Aku menunduk untuk menyembunyikan air mata, tetapi isakku tak bisa ditahan lagi. Aku tersedu dan menangis hingga kurasakan sebuah tangan merengkuh kepalaku dan meletakkan di d**a bidangnya. "Tidak apa-apa, menangislah sebanyak yang kamu mau," ucapnya. Aku merasakan sebentuk tangan menepuk-nepuk punggungku dengan lembut. Entah mengapa tangisku semakin menjadi, rasa malu atau sungkan mendadak hilang dariku. Rasanya begitu bebas bisa menangis seperti ini, bahkan aku tak peduli dengan kaos putih Willan yang berulang kali kujadikan lap air mata juga ingus yang keluar bersamaan. Entah berapa lama aku menangis di dekapan Willan dan saat tangisku mulai reda, aku seolah tersadar dan kembali pada kenyataan. Ada yang berbeda kini, aku merasa lebih plong dan beban yang selama ini menghimpit d**a terasa hilang perlahan-lahan. Dan aku mulai sadar, sepenuhnya sadar kalau kini posisiku berada di dekapan seseorang. Astaga, kenapa aku bisa bertindak memalukan seperti ini? Apa yang kulakukan tadi? Mataku melirik pada kaos Willan yang basah dan berwarna ingus milikku. Aku baru saja akan melepaskan diri dari dekapan Willan saat tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan kulihat Bu Salma berjalan masuk dengan wajah heran. Sontak saja aku dan Willan saling melepaskan diri dengan bersamaan. Sedu sedan masih tak bisa disembunyikan meskipun sudah kutahan sekuatnya. Buru-buru kuhapus jejak air mata. "Apa yang kau lakukan terhadap Lara, Willan?" tanya Bu Salma seraya memandang ke arah Willan dengan tatapan tajam. "Bisa-bisanya perempuan ini menangis hingga tersedu sedan. Kau apakan?" tanyanya lagi. "Aku tidak melakukan apa-apa, Bu Salma. Sungguh," ucap Willan. Ia beranjak dari duduknya seolah mempersilahkan Bu Salma untuk duduk di dekatku. "Jika kau tak melakukan apa-apa, kenapa Lara bisa sesedih ini?" Bu Salma meraih dan menggenggam erat jemariku. Willan terlihat menarik napas, dan aku segera memberi alasan agar lelaki itu tak perlu repot menjelaskannya. "Aku menangis tadi karena mengingat keluargaku yang jauh di sana." Alasan paling dusta yang aku kemukakan hari ini. Entahlah hanya itu satu-satunya yang bisa kujadikan alasan, meskipun hal yang membuatku menangis adalah beban dan perasaan luka yang masih terasa akibat perlakukan Danil. Ya, aku sebenarnya rapuh oleh luka di masa lalu tetapi terus berpura-pura tegar agar orang-orang tak tahu. Tetapi di hadapan Willan, entah mengapa kesedihan yang selama ini kusimpan rapat seolah tak bisa lagi kutahan dengan erat. "Oh syukurlah kalau bukan Willan penyebabnya. Karena setahuku dia bukan tipe orang yang mudah menyakiti perempuan. Dia lelaki penyayang," tutur Bu Salma seraya menatap ke arah lelaki di sampingnya. "Tidak usah berlebihan memujiku Bu Salma. Aku hanya lelaki biasa yang juga punya khilaf dan kesalahan." Willan menegaskan. Bu Salma tertawa kecil tetapi tak pelak ia mengucapkan terima kasih karena Willan telah menemaniku semalam. "Gimana kondisimu, Ra. Apakah sudah mulai membaik? Kemaren aku sangat kaget melihat kerumunan banyak orang di depan toko, dan lebih kaget lagi saat melihatmu tergeletak di sisi jalan. Aku memaki-maki orang yang menyerempetmu hingga tak sadarkan diri. Untungnya orang itu mau bertanggung jawab dan membiayai perawatanmu di sini. Sebelum orang itu pergi, dia sempat bilang agar menyampaikan ucapan maafnya terhadapmu, dia juga bilang tidak sengaja karena harus terburu-buru mengemudi dengan alasan yang urgent." Panjang lebar Bu Salma menjelaskan. "Tidak apa-apa, Bu. Namanya juga kecelakaan, aku sudah baik-baik saja," jawabku kemudian. "Syukurlah kalau kamu kini sudah baik-baik saja. Aku senang melihatnya." Aku melirik sekilas ke arah Willan yang kini terlihat membersihkan bekas ingusku yang yang menempel di kaosnya dengan tisu. "Maaf aku telah mengotori bajumu." "It's oke. Jangan khawatirkan itu. Kaos bisa dicuci dan dibersihkan, tetapi perasaan tidak mudah dihilangkan," jawab Willan, ia nyengir sekilas. Terdengar Bu Salma berdehem keras. Sedangkan aku tak mengerti dengan kalimat terakhir yang diucapkan Willan. Bukan, bukan tak mengerti masalah perasaan yang tak mudah dihilangkan tetapi perasaan sedih apa rasa yang lain? Entahlah kepalaku terasa sangat berat jika mengingat tentang perasaan. "Oh iya, aku pamit pulang dulu. Pagi ini harus mengantarkan Miko dan juga Aira ke sekolah." Willan pamit dan ia terlihat terburu-buru saat keluar dari ruangan. Hatiku menghangat melihat wajah Bu Salma yang tersenyum teduh. Perempuan yang usianya kuperkirakan memasuki angka setengah abad itu, kini terlihat membuka bungkusan yang tadi dibawanya. Dikeluarkannya kotak tempat makanan berwarna ungu pastel itu lalu dibuka tutupnya. Harum aroma nasi hangat dan juga ayam goreng tercium di hidungku. Aku tak menyangka di tempat baru ini Tuhan mempertemukanku dengan orang-orang yang begitu peduli dan menyayangiku sedemikian rupa. Padahal mereka baru mengenalku, padahal mereka bahkan tidak pernah tahu asal-usulku. "Lara, aku tidak tahu makanan kesukaanmu. Aku hanya memasak ini untuk sarapanmu dan semoga suka," ucap Bu Salma seraya memperlihatkan bekal yang ia bawa dari rumah. "Ayam serundeng dan sayur capcay," pekikku girang. "Aku sangat menyukai menu itu, Bu Salma. Terima kasih karena sudah mau repot-repot memasak dan menyiapkan makanan istimewa ini untukku. Terima kasih, Bu." "Aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Aku sangat senang jika akhirnya kau menyukai menu yang aku masak ini." "Ini menu kesukaanku, sungguh." "Makanlah kalau gitu. Dan kau harus menghabiskannya." Bu Salma tersenyum padaku. "Tentu saja aku akan menghabiskannya," ucapku sambil meraih kotak makanan itu dari tangan Bu Salma. Mulai menyantapnya dan menikmati ayam yang teksturnya empuk dan lembut. Di titik ini aku merasakan kasih sayang seorang ibu yang begitu tulus. Tidak terasa air mataku menitik lagi, kali ini bukan atas nama kesedihan tetapi karena bahagia yang terasa memenuhi d**a. Terima kasih Allah karena sudah menghadirkan orang-orang baik untukku. "Pelan-pelan makannya nanti tersedak. Gimana rasanya, enak?" Bu Salma menepuk lembut pundakku. Aku mengangguk cepat, "enak, Bu." Tidak terasa air mata menetes dari sudut netra. Tidak, aku sedang tidak menangis. Aku bahagia diperhatikan seperti ini, bahagia karena masih ada orang-orang baik hati yang peduli. "Lho kok nangis?" Bu Salma menelisik wajahku. "Terima kasih, Bu Salma karena sudah begitu baik terhadapku." Tidak kuduga aku mendapat pelukan hangat dari wanita berwajah damai ini, ia mendekapku sangat erat hingga aku merasa tentram dan nyaman berada di pelukannya . Mungkin begini rasanya didekap seorang ibu. Anggap saja aku memiliki ibu, meskipun kenyataannya aku tidak pernah mengenal sosok ibu dalam hidupku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN