Ini hari ketiga aku di rawat di rumah sakit, dan selama itu pula Aira, Wilan, juga Bu Salma bergantian menjengukku. Mereka sangat antusias menanyai kondisiku setiap harinya, dan selalu tersenyum bahagia saat dokter menjelaskan bahwa kesehatanku sudah semakin membaik.
Seorang suster melepas jarum infus di lenganku, ada darah sedikit yang keluar dan tangan perawat itu dengan cekatan menekan area yang berdarah, langsung diberi kapas lalu ditutup pakai plaster berwarna cokelat.
Di saat itu Wilan datang, lelaki itu menatapku dengan senyum lebar.
"Apakah hari ini aku sudah boleh pulang?" tanyaku menerka-nerka. Aku tahu tadi Willan dari ruangan dokter.
"Tentu saja, dokternya tadi bilang bahwa kondisimu sudah stabil dan membaik. Bersiaplah untuk pulang."
Aku mengucapkan hamdalah dalam hati. Merasakan sesuatu yang sangat lega dan segera beranjak dari bangsal.
Wilan membantu memapahku perlahan, kami berjalan bersisian hingga tiba di parkiran rumah sakit, Wilan tiba-tiba membopong tubuhku dengan cepat dan membawaku ke dalam mobilnya.
"Lain kali jangan memperlakukanku seperti tadi," omelku sebal.
"Seperti tadi gimana?" Wilan bertanya tanpa menoleh, ia fokus mengemudi dengan tatapan lurus ke depan.
"Membopong tubuhku tiba-tiba tanpa bertanya dulu aku bersedia atau tidak."
Wilan tertawa ringan menanggapiku, ia melirikku sekilas dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Lara kau mungkin punya trauma di masa lalu, tetapi di saat kondisimu baru pulih seperti ini sebaiknya kau belajar percaya terhadapku. Meskipun kau tidak percaya bahwa aku lelaki baik, tetapi kau pernah menangis begitu histeris dalam pelukkanku."
Aku terperangah, Will bisa menebak apa yang pernah kualami. Ya, aku pernah menangis di pelukkannya, apa diam-diam lelaki ini bisa membaca perasaanku? Perasaan yang begitu luka hingga menangis di d**a bidangnya kemarin itu bahkan tak terasa. Aku malu.
"Kenapa diam, betul kan apa yang kukatakan barusan?" tanyanya lagi.
"Ya tapi tidak sepenuhnya benar, aku hanya tidak enak jika kau merasa keberatan."
"Aku tidak keberatan. Pliiis anggaplah aku teman agar kita bisa saling mengenal tanpa canggung dan sungkan."
"Baiklah."
"Aku juga sangat berterima kasih padamu, Ra. Kalau kamu tidak menyelamatkan Aira aku tidak tahu akan seperti apa kondisinya. Seriuosly aku sangat berterima kasih. Apa yang harus kulakukan untuk membalas kebaikanmu?"
"Sudahlah Will jangan terus mengucapkan terima kasih seperti itu. Katanya kita teman, jadi kurasa seorang teman tak pernah mengharap imbalan pada temannya. Melihat Aira sehat dan baik-baik saja aku sudah sangat senang. Itu sudah cukup bagiku."
Willan mengangguk pelan, ia tak lagi membalas ucapanku. Pandangannya fokus ke depan. Diam-diam aku memperhatikannya lalu teringat cerita Bu Salma tentang lelaki yang kini duduk di sampingku.
Will susah move on dari almarhum isterinya seperti yang diucapkan Bu Salma, ya kurasa demikian karena dia lelaki baik. Lelaki yang tak mudah melupakan belahan jiwanya meski telah tiada adalah tipe setia yang menurutku langka. Dua tahun setelah Isterinya meninggal, lelaki itu bahkan belum memiliki pendamping hidup lagi. Aku kagum dengan hal itu, karena kebanyakan kaum lelaki biasanya tidak betah dengan kesendirian, tidak betah dengan kesedihan saat harus mengenang sosok yang dicinta telah tiada, itu mengapa kebanyakan dari mereka memilih cepat mencari penggantinya. Namun lelaki seperti Will, ia justeru sanggup mengenang dan sanggup terus mencinta di saat sang belahan jiwa sudah tak ada lagi di dunia. Aku kagum pada tipe lelaki seperti Willan. Sosok setia yang lebih menjaga perasaannya juga perasaan putra dan putrinya.
"Hei ... kenapa kamu menatapku seperti itu?" Pertanyaan Will seketika membuatku geragapan. Pandangan kami beradu beberapa detik sebelum akhirnya aku memilih menatap kaca mobil di depan.
"Tidak, aku sebenarnya tidak menatapmu Will," jawabku shio menggaruk kepala yang tidak gatal. Entahlah, ini kulakukan hanya untuk menghilangkan grogi karena ketahuan memandanginya. Demi apa pun aku merasa sangat malu terhadap, Will.
"Sudah ketahuan masih saja ngeles." Will tertawa kecil seraya membelokkan kemudi ke jalan arah resto. "Ayolah akui saja kalau tadi diam-diam kamu memperhatikanku," ucapnya lagi.
"Oke baiklah aku mengaku memperhatikanmu, lebih tepatnya memperhatikan garis wajahmu yang tidak menurun pada Aira."
"Oh ya?"
Aku mengangguk yakin, sebab menurutku garis wajah Aira tidak mirip dengan Will. Atau apa mungkin ....
"Aira mirip ibunya. Semua wajah Aira adakah lukisan wajah Kania almarhum isteriku."
Penjelasan Will membuatku tertegun, bukan bukan karena ia menjelaskan bahwa Aira mirip dengan isterinya, tetapi tadi aku mendengar Willan menyebutkan sebuah nama yang tak asing untukku 'Kania' apakah itu Kania yang kukenal? Untuk beberapa detik lamanya aku terdiam hingga menyadari sesuatu, kebodohanku tentunya.
Di dunia ini ada banyak orang-orang bernama 'Kania' kenapa pula aku mesti heran? Lagipula Kania ibunya Aira telah tiada, sedangkan Kania temanku bahkan ia masih hidup dan bernapas. Tentu saja berbeda dan bukan orang yang sama. Bicara tentang Kania, aku ingat pasti perempuan itu tidak tahu kalau tiga hari ini aku dirawat di rumah sakit. Aku bisa menerka bahwa perempuan cantik berlesung pipi itu mencari-cari dan menghawatirkan ku di rumah sewa itu. Ah ... aku bahkan tak sempat mengabarinya.
"Kamu melamun?" tanya Willan.
"Tidak, aku hanya sedang mengingat seseorang."
"Siapa?"
"Temanku yang kebetulan namanya sama dengan nama istrimu."
"Jadi kamu sudah punya teman di pulau ini selain aku dan Bu Salma?" tanyanya kepo.
Aku mengangguk, "Kania yang membantuku mencarikan rumah sewa."
"Oh iya di mana rumah sewa yang kini kamu tempati itu? Biar aku mengantarmu sampai ke sana."
Aku menggeleng cepat, "tidak usah, Will. Aku turun sampai di dekat restomu saja, dari sana aku bisa berjalan sendiri ke rumah."
"Di saat sakit seperti ini pun kamu masih saja keras kepala." Will menghentikan laju mobilnya, ia terlihat kesal tetapi kemudian senyumnya mengembang saat tatapan kami bertemu. Aku kira saat seorang lelaki kesal dia tidak akan mudah untuk bisa tersenyum tetapi Will dia bisa melakukan itu.
"Aku hanya tidak ingin merepotkanmu, Will."
"Justru kalau kamu berjalan kaki dari resto ke rumahmu itu membuatku repot karena merasa bersalah membiarkanmu capek berjalan. Lagipula kondisimu belum pulih seperti sediakala. Jadi plis izinkan aku untuk mengantarmu pulang sampai ke rumah ya?" bujuknya.
"Oke."
Willan kembali melajukan mobilnya di jalan.
"Tunjukkan setelah pertigaan di depan aku harus belok ke mana?"
"Belok ke arah kiri dan masuk ke Jalan Tugu," ucapku menjelaskan.
"Kamu tidak salah, Ra?" tanya Willan yang kini menoleh menatapku dengan pandangan aneh.
"Tidak, memang harus melewati jalan ke sana untuk sampai ke rumah sewa yang kutempati."
"Setahuku itu jalan menuju hutan, memangnya ada rumah sewa di situ?"
"Ada, buktinya ada rumah sewa di sana. Dan kata Kania di sana itu bukan hutan tetapi bekas taman yang sudah lama tidak digunakan lagi, jadinya tidak terawat dan mirip hutan sih menurutku."
"Taman Pahlawan setahuku, ya memang sudah lama taman itu tidak dirawat karena letaknya yang lumayan jauh dari pemukiman penduduk dan jarang ada lagi yang mengunjunginya sejak terjadi peristiwa kecelakaan seorang balita yang jatuh dari ayunan dan meninggal."
"Meninggal?" tanyaku kaget.
"Iya, karena pas jatuh itu kepalanya terbentur pada batu besar. Mengalami pendarahan hebat hingga sampai rumah sakit nyawanya sudah tidak tertolong lagi. Sejak saat itu Taman Pahlawan sepi dan tak ada lagi orang yang mau mengunjungi. Terkesan angker juga mungkin kalau sekarang," tuturnya panjang lebar.
"Kamu sedang menakut-nakutiku Will? Percuma, aku bukan tipe penakut kok."
"Aku hanya memberitahumu, bukan menakuti. Nah ini kita sudah sampai di Taman Pahlawan, setelah ini ke mana lagi?"
"Lurus saja, dua menit lagi juga sampai."
Mobil terus melaju di jalan tanah yang mulai tidak rata, menimbulkan goncangan-goncangan kecil. Di kiri kanan jalan sudah terlihat pepohonan besar, ada bangku-bangku kayu kosong dan seluncuran juga ayunan di taman yang kini kulewati, ya kalau diperhatikan memang terkesan angker. Wajar saja karena memang tempatnya sudah lama tak dirawat dan juga sudah tak ada lagi orang yang datang mengunjungi taman ini.
"Ini hutan, Ra. Kamu yakin?" Will bertanya lagi seolah ia tak percaya dengan penjelasanku bahwa memang aku tinggal di sini.
"Nah itu rumahnya," ucapku seraya menunjuk rumah panggung kecil beratap rumbia dan berdinding kayu.
Willan menghentikan laju mobil tepat di depan rumah panggung yang kutempati. Ketika aku mulai turun dari mobil, ia mengikuti dari belakang.
"Terima kasih Will sudah mengantarku pulang."
Lelaki itu tidak menjawab ia menyapu pandangannya ke sekeliling lalu mata elangnya menatapku.
"Di sini hanya tinggal sendirian? Tidak ada rumah lagi yang kulihat, itu artinya kamu tidak memiliki tetangga. Di tempat terisolir seperti ini kami yakin tidak takut? Ini hutan menurutku dan bisa saja masih ada binatang buas di sekitar sini," tuturnya panjang lebar.
Aku tertawa ringan menanggapinya, jujur saja rasa takutku terhadap hal-hal seperti itu telah menguap entah ke mana. Aku lebih takut jika orang-orang suruhannya Danil menemuiku. Maka dari itu kurasa tempat ini sangat cocok sebagai tempat persembunyian. Selain jauh dari keramaian, di sini juga lokasinya kurasa belum banyak orang yang tahu.
"Kamu malah tertawa, Astaga." Willan menepuk keningnya.
"Kamu tidak usah khawatir Will, aku aman di sini. Binatang buas tidak akan masuk ke rumah selama aku mengunci."
"Bagaimana dengan hantu?"
"Hantu tidak bisa menyakiti manusia Will, kecuali manusia itu sendiri yang mengizinkannya."
Willan menggelengkan kepala, "aku baru tahu ada perempuan seberani kamu."
"Jadi bisakah kamu memberitahuku hal apa yang membuatmu takut?" tanyanya lagi.
"Untuk apa?"
"Hanya ingin tahu," jawabnya cepat. Pandangannya kini beralih menatap rumah.
"Untuk mengetahui kelemahanku?"
"Astaga, berbicara denganmu rasanya membuatku terus berada di posisi yang salah. Kamu begitu pandai membalikkan pertanyaan. Aku kalah."
Mendengar ungkapan Will aku hanya bisa tersenyum, kurasa belum saatnya lelaki ini tahu banyak tentang diriku. Lagipula tubuhku terasa masih lelah dan nyeri di beberapa bagian, aku ingin segera istirahat.
"Pulanglah Will karena aku mau istirahat."
Mendengar ucapku lelaki itu menoleh.
"Aku tidak dipersilahkan untuk masuk dulu, gitu?"
"Tidak Will, mungkin lain kali."
"Apa itu artinya aku boleh ke sini lagi?" tanyanya antusias.
"Untuk hal yang urgent saja."
"Astaga, kamu pelit sekali Lara."
"Pulang Will," perintahku sambil melangkah menaiki anak tangga dari kayu.
"Kamu yakin menyuruhku pulang, Ra?" Will masih bersikeras.
"Kamu pasti ketakutan sendirian di sini," ucapnya lagi. Astaga lelaki itu terlihat lucu dengan wajahnya yang bertampang menakuti-nakuti.
"Siapa bilang aku sendirian?"
"Buktinya di sini tidak ada rumah lagi selain rumah yang kamu tempati. Itu artinya kamu sendirian, tidak ada tetangga satu pun."
"Kau lihat di belokan jalan sana?" Aku menunjuk jalan tanah yang bersimpangan.
"Ya, memangnya kenapa dengan jalan itu?"
"Tidak jauh dari jalan berbelok itu ada rumah lagi, di sana rumahnya Kania temanku."
"Kamu yakin?" Willan terlihat meragukan apa yang barusan kukatakan.
"Sudahlah Will, hari ini kamu begitu banyak bertanya. Aku lelah dan ingin istirahat. Pulanglah." Aku segera membuka pintu dan masuk, menguncinya rapat-rapat.
"Istirahatlah, Ra. Aku pulang ya," teriak Willan dari luar. Tak lama kemudian terdengar bunyi derum mobilnya semakin menjauh.
***