Sepeda

1133 Kata
Aku membuka mata dan terbangun dari tidur saat terdengar suara seseorang mengetuk pintu dari luar. Meski kepala ini masih terasa pusing namun aku mencoba tetap bangkit dan berjalan untuk membuka pintu. "Lara, apa kau ada di dalam?" suara itu milik Kania. Ya, aku yakin itu Kania. Saat membuka pintu ternyata benar perempuan berlesung pipi itu berdiri tepat di hadapan. Wajahnya terlihat panik saat melihatku. "Lara, kamu kenapa? Kepalamu?" tanyanya sambil menunjuk perban yang melingkari area kening. "Aku mengalami kecelakaan kecil tiga hari yang lalu. Sekarang sudah tidak apa-apa," jelasku sambil tersenyum. "Ayo masuklah, Kania." Aku mempersilahkannya ke dalam dan segera mengunci pintu rumah saat Kania sudah duduk di kursi rotan. "Aku menghawatirkanmu beberapa hari ini, Ra. Mengunjungi tempat ini setiap hari tetapi selalu sepi. Bagaimana bisa kamu kecelakaan?" tanyanya saat aku duduk berseberangan dengannya. "Aku menyelamatkan Aira, gadis itu menyebrang jalan saat sebuah mobil melintas dengan kecepatan lumayan kencang. Aira berhasil terselamatkan dan seharusnya aku juga keserempet mobil, tetapi saat itu kondisi badanku sedang tidak fit, jadi aku kurang cepat menghindar hingga akhirnya terserempet." "Terus sekarang gimana kondisimu, mana yang masih sakit?" Kania berkata dengan nada khawatir. "Aku sudah baik-baik saja, Kania. Percayalah aku sudah pulih. Hanya tinggal lemas dan butuh istirahat lebih banyak." "Syukurlah aku lega jika kamu baik-baik saja. Kebetulan aku membawa buah-buahan dan sedikit cemilan. Jangan lupa juga diminum obatnya ya." Perempuan itu mengangsurkan plastik kantong berwarna putih yang di dalamnya terdapat anggur dan beberapa snack bok. "Terima kasih Kania," ucapku. "Jangan lupa di makan. Oh Ita sebentar lagi magrib, aku harus pulang. Kamu harus banyak istirahat dan jangan lupa minum obat. Besok aku ke sini lagi." Jadi ini sudah mau Maghrib? Begitu pulas kah tidurku tadi hingga aku tak menyadari waktu sudah cepat berganti. "Sekali lagi terima kasih ya Kania, kamu sudah repot bawa buah-buahan untukku." "Aku ingin kamu cepat pulih dan sehat lagi seperti sedia kala. Aku pulang ya," ucapnya mulai beranjak dan melangkah ke arah pintu. Aku mengikutinya. "Hati-hati di jalan Kania," ucapku saat perempuan itu menuruni anak tangga kayu. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya, aku masih berdiri di ambang pintu sampai tubuh Kania tak terlihat lagi di tikungan jalan. *** Tiga pekan telah berlalu sejak tragedi kecelakaan yang membuatku terpaksa dirawat di rumah sakit. Kini aku sudah pulih dan sudah bisa bekerja lagi di toko Bu Salma. Hari ini aku pulang bekerja dengan badan yang cukup lelah, setelah mandi sore aku langsung memasak sarden untuk makan malam nanti. Benar saja rasa pegal-pegal di badan membuatku mengantuk dan merasa ingin terlelap secepatnya, maka setelah solat isya dan makan aku memutuskan tidur untuk mengistirahatkan tubuh yang terasa sangat lelah ini. Setelah memasang alarm aku menguap berkali-kali dan terlelap begitu saja. Entah di jam berapa aku terbangun tiba-tiba karena sebuah mimpi mengerikan. Mimpi yang terasa nyata dan aku pernah berada di posisi seperti dalam mimpi itu. Sekujur tubuhku berkeringat saat terbangun dan deru napas tersengal-sengal. Aku meringkuk dalam posisi duduk memeluk lutut dan kini dikejutkan oleh sebuah sinar menyorot lewat jendela. Aku semakin merapatkan diri pada dinding, ketakutan-ketakutan bermunculan dalam hati dan pikiran buruk memenuhi pikiran. Apakah ada orang-orang suruhan Danil mencariku ke sini? Kaki ini segera beranjak dan melangkah cepat untuk menutup gorden agar jendela kaca tertutup sempurna. Aku ketakutan, itu benar karena dari sini terdengar bunyi derum mobil yang mulai menjauh. Tadi ada seseorang ke sini saat aku terlelap tidur. Untunglah semua listrik kupadamkan, jadi siapa pun tidak akan mengira bahwa di bangunan ini ada yang menghuni. Kuraih sebotol minuman dingin dari kulkas, duduk di kursi rotan sambil terus meneguk air hingga tandas. Setidaknya hal itu bisa membuatku lebih tenang. Siapakah tadi orang yang datang ke sini? Mungkin kah bahwa orang suruhan Danil masih mencariku? Hal paling mengerikan bukan, saat aku dianiaya dan mengalami kekerasan dalam rumah tangga, aku pergi untuk menghindar dan menyelamatkan diri tetapi Danil malah mengumumkan dan menempelkan gambar-gambar wajahku di berbagai penjuru dengan tulisan serta keterangan seorang 'buronanan' bukan kah hal itu sangat mengerikan? Ruang gerakku menjadi terbatas dan aku harus waspada setiap saat ketika orang asing menatapku lebih lama dengan raut penasaran. Atau saat ada anggota polisi yang tiba-tiba datang ke tempat ini, membuatku ketakutan hingga memutuskan untuk terus bersembunyi. Aku bahkan sudah pergi ke tempat yang menurutku jauh dan Danil pasti kesulitan untuk menemukannya, namun tetap saja aku harus banyak berjaga-jaga untuk kemungkinan yang tak terduga akan kedatangannya. Malam semakin larut dan mataku tak lagi mengantuk, memoriku kembali mengingat potongan-potongan kisah itu lagi. Saat terakhir kali kebersamaanku bersama Danil. Malam terburuk yang membuatku berada di titik jenuh dan jengah terus ditindas dan mengalah. Malam yang menjadikan peristiwa aku nekad pergi dengan segudang luka yang tersimpan rapat di relung sanubari. Semua yang pernah terlewati bersama Danil kini seolah menari-nari dalam ingatan. Aku membencinya sangat membencinya. Bahkan setelah lepas darinya, ia seolah terus meneror dan membuatku takut. Tadi itu siapa sebenarnya? Adakah orang jahat di sekitar sini yang ingin mencelakai? Aku kembali meneguk minuman dingin untuk menstabilkan rasa was-was ini. Setidaknya kini aku merasa lega karena di sini sudah terasa aman setelah orang yang datang dengan mobil tadi sudah pergi. Gerimis turun, udara di sini menjadi sangat dingin menjelang pagi. Aku meraih novel lalu membacanya berharap mata ini bisa terpejam kembali, tetapi nihil hingga waktu menjelang pagi aku masih tak bisa terpejam. Rasanya aku ingin berteriak memanggil Kania untuk menemani, tetapi di jam 04.00 sepagi ini mungkin Kania masih terbuai dalam lelapnya. aku memutuskan untuk beranjak menjerang air dan juga memasak nasi. Menyibukkan diri akan membuatku lupa pada rasa takut dan rasa tak nyaman. Selesai menunaikan shalat subuh aku langsung sarapan dan melangkah ke luar untuk menghirup udara segar. Namun saat baru saja membuka pintu tatapan ini tertumbuk pada sepeda lipat yang tersandar tepat di bawah tangga kayu. Siapa kah gerangan yang menaruh sepeda di sini? Apakah Kania? Atau ... seseorang yang datang tadi malam? Batinku terus menerka-nerka sampai pada akhirnya kuputuskan membawa sepeda ini tanpa menaikinya menuju ke resto Willan. Bukan tanpa alasan tetapi di sepeda itu aku menemukan secarik kertas tulisan tangan yang menunjukkan bahwa sepeda itu dari Willan untukku. Sesampainya di resto aku langsung menaruh sepeda di dekat pohon randu di samping bangunan resto. Mulai melangkah ke dalam berniat menemui Will dan entah mengapa titik emosi dalam diri tiba-tiba saja meninggi saat aku mulai menegur lelaki pemilik resto ini. Aku meluapkan kekesalan pada Will atas perbuatannya memberiku sepeda itu, apa lagi dia lancang mengantarnya ke rumah di tengah malam. Willan tidak tahu betapa aku ketakutan dan merasa parno semalaman hingga tak bisa tidur lagi karena merasa tertekan. Ya aku tertekan dengan ingatan masa lalu, juga tertekan akan rasa takutku pada orang-orang suruhannya Danil. Kini aku benar-benar marah pada Will, bahkan sempat tidak peduli saat Aira menyaksikanku yang terlanjur emosi saat berbicara dengan papahnya. Aira menatapku dengan pandangan aneh dan raut wajahnya berubah kesal, tetapi entah mengapa aku tak peduli. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN