Sebentuk Peduli

2031 Kata
Kania terus saja memperhatikanku dan ia tersenyum kecil. "Jadi kamu menolaknya?" tanyanya kemudian. Aku mengangguk lesu. Entahlah rasanya ada yang berubah dariku atau mungkin ini hanya sebentuk rasa yang belum siap kembali membuka hati untuk siapa pun. "Hei ... Apa kau pikir Will sedang menyatakan cintanya terhadapmu? Dia hanya memberimu sepeda, dan pemberian di daerah kami adalah bentuk kepedulian yang masih sangat wajar. Jadi kau salah jika mengartikan Will mencintaimu lalu memberikan sepeda itu. Dia orang baik, Lara. Jadi kupikir wajar jika ia peduli dan memperhatikanmu demikian. Maaf jangan tersinggung dengan kata-kataku. Aku terdiam sejenak, ada benarnya apa yang dikatakan oleh Kania. Willan memang lelaki baik, bahkan kulihat pada siapa pun ia kerap peduli dan sering membantu. Apa aku yang terlalu ketakutan? Astaga rasanya benar-benar memalukan saat mengingat kembali bagaimana tadi sikapku terhadap Will, sampai-sampai Aira memperhatikannya dengan mimik sedikit kesal. Kenapa aku baru sadar bahwa sikapku aneh, emosional dan tentu saja tak wajar saat menolak sepeda itu dari Willan. Aku masih mengingat percakapan di resto tadi pagi. "Apa kau yang memberiku sepeda ini?" tanyaku sesaat setelah menyandarkan sepeda di luar dan menghampirinya dengan emosional. "Aku berpikir kamu membutuhkannya karena jarak dari toko ke rumah yang kau tinggali itu lumayan jauh." "Aku tidak suka seseorang datang di waktu malam ke tempatku. Dan satu lagi aku sama sekali tidak meminta sepeda ini padamu." Aku menegaskan dan Willan menatapku dengan raut heran tetapi tak urung ia tetap tersenyum meskipun sangat tipis. "Aku melihatmu berjalan kaki setiap hari, sedangkan jarak tempuh lumayan jauh jadi aku teringat dengan sepeda yang sudah lama tak terpakai di gudang. Kemudian berinisiatif memperbaiki sepeda itu untukmu, malam itu aku lembur karena ingin segera memberikannya padamu, kupikir kamu akan senang menerimanya." Will menjelaskan panjang lebar, dan hatiku masih kesal kala itu. Kesal karena malam itu malam tentu aku ketakutan karena menyadari ada seseorang datang, aku takut itu Danil. "Sekali lagi aku tegaskan Will, aku tidak meminta sepeda itu jadi kau tak usah repot-repot." "Kupikir seseorang akan mengucapkan terima kasih saat ada seseorang memberinya sesuatu," ucap Will seraya menatapku lekat. "Apa kau tidak mengerti Will bahwa aku tidak butuh sepeda itu." "Oke baiklah, aku minta maaf dan kamu tenang saja bahwa hal itu tidak akan terulang lagi," jawabnya cepat. Ia beranjak meninggalkanku dan mulai menyibukkan diri dengan restonya. Sedangkan tak jauh dari tempatku berdiri terlihat Aira memperhatikan dengan wajah gusar. "Aira," panggilku lirih tetapi gadis kecil itu segera berlari menjauh. Rasa sesal kini memenuhi dadaku, rasanya ingin sekali menemui Willan dan meminta maaf padanya atas sikapku yang menolak pemberiannya dengan cara keterlaluan. Marah kah Will atas kata-kataku tadi? “Aku harus bagaimana, Kania?” tanyaku pada perempuan berambut blonde yang kini sedang sibuk menggunting kukunya. “Minta maaf dan terima sepedanya.” “Apa harus sekarang?” “Besok juga nggak papa. Satu yang pasti untukmu Lara, cobalah sedikit saja membuka kepercayaan terhadap lelaki meskipun sebelumya kamu mempunyai pengalaman menyakitkan terhadap lelaki yang menyakitimu. Tidak semua lelaki bersifat b******k seperti Danil. Aku yakin Willan orang baik dan dia berbeda dengan Danil.” “Bagaimana kau bisa tahu dan yakin kalau Willan itu baik?” “Aku pernah mengenalnya dulu.” “Oh ya? Apa kalian pernah bertetangga atau teman kuliah sebelumnya atau patner kerja?” tanyaku beruntun. Kania tertawa, ia menggeleng-gelengkan kepalanya lalu mulai menjelaskan. “Aku mengenalnya lewat apa pun itu tidak penting, Lara. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa Willan lelaki baik karena aku sendiri pernah mengenalnya meski hanya sebentar sebelum aku pindah ke tempat ini.” “Aku dengar nama istrinya Willan juga Kania, mirip dengan namamu.” “Ya aku juga tahu nama istrinya Willan adalah ‘Kania’ dia sudah meninggal dua tahun yang lalu.” Aku menatap mata biru hazel Kania, terlihat dalam dan pekat di saat itu aku merasakan hembusan angin dingin di tengkuk menciptakan suasana magis yang membuat bulu kudukku merinding. Aku membuang pandangan dari wajah Kania dan menoleh ke arah lain. Ada apa ini? Baru kali ini aku merasakan ketakutan yang tak biasa. Berada di dekat Kania biasanya membuatku enjoy tetapi mala mini terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya. Saat tadi menatap mata birunya terasa aneh dan menakutkan. “Hei … kenapa melamun seperti itu?” Sebuah tepukan lembut di pundak membuatku terperanjat kaget dan langsung menoleh ke arah Kania, perempuan itu tersenyum seperti biasa meninjukkan lesung pipit di kedua pipinya. Aku baru sadar bahwa senyum dan lesung pipit di kedua pipi Kania mirip sekali dengan Aira, atau ini hanya perasaanku saja? “Tatapanmu seperti sedang memindai wajahku. Apa yang sedang kamu lihat dariku, Lara?” “Tidak, tidak ada,” jawabku cepat. “Baiklah, aku pulang dulu ya, ini juga sudah larut, kamu harus istirahat biar besok bangun dengan tubuh yang fit. Jangan banyak begadang memikirkan bayangan masa lalu, kamu sudah tidak hidup di masa lalu jadi jalani masa sekarang untuk masa depan yang lebih baik. Maaf jika kali ini aku begitu banyak memberimu saran dan masukkan, percayalah aku sayang padamu seperi saudara perempuanku, maka dari itu aku sangat peduli terhadapmu, Lara. Aku ingin kamu baik-baik saja dan menemukan kebahagiaan di pulau ini.” Aku merasakan Kania mengatakan itu dengan tulus, aku melangkah mendekatinya lalu memeluk tubuh tingginya. Harum cendana tercium dari rambutnya yang tergerai, kurasakan Kania juga membalas pelukanku erat. “Aku sangat berterima kasih karena kamu sudah sangat peduli terhadapku dan membuatku tidak merasa sendirian di tempat ini. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu, Kania.” *** Pagi ini kulihat daun-daun basah oleh hujan yang turun semalam, jalanan berlubang tergenang oleh air berwarna kecoklatan membuatku harus melompat kecil saat melewati jalan itu. Hari ini kuputuskan untuk menemui Willan terlebih dahulu sebelum aku masuk kerja di toko. Menemuinya dan meminta maaf, semoga lelaki itu bisa memaklumi dan juga memaafkan sikap frontalku kemarin. Aku juga harus meminta maaf pada Aira karena sikapku ia terlihat kesal. Resto masih terlihat sepi, hanya ada beberapa karyawan yang barusan datang, aku menyapu pandangan ke sekeliling resto dan menanyakan Willan pada salah satu karyawannya. “Tadi Pak Willan sudah datang Cuma beliau pergi lagi mengantar Aira dan juga Miko ke sekolah. Mungkin sebentar lagi juga datang, Mbak, Tunggu saja di sini,” ucap perempuan muda berseragam pink itu, ia mempersilahkanku duduk di salah satu bangku resto. Aku mengucapkan terima kasih sebelum perempuan itu berlalu dan kembali menyibukkan diri dengan rutinitasnya. Lima menit berlalu dan akhirnya aku melihat sosok Will datang dari arah pintu masuk resto.Dia melangkah masuk ke arah ruangan pribadinya tanpa melihat ada aku di sini. “Will,” panggilku sambil beranjak melangkah menghampirinya yang sudah sampai pintu ruangan. Lelaki itu menoleh ke arahku lalu tersenyum samar, entah mengapa aku merasa sedih tak melihat senyuman Will yang ceria seperti biasanya. Kecewa kah ia terhadap sikapku yang kemarin? “Ada perlu denganku?” tanyanya sambil menunjuk diri. “Ya, ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu, Will.” “Tentang sepeda? Oke aku mengerti kalau kamu memang tidak mau menerimanya aku gak masalah, lagian masalah itu sudah kita bahas kemarin. Jadi kurasa sudah selesai,” jawabnya dingin. Ia melangkah masuk dan duduk di kursi. “Will aku minta maaf.” “Tidak ada yang salah. Jadi tidak ada yang perlu dimaafkan.” Mendengar perkataan Will aku nekat masuk ke ruangan pribadinya dan menutup pintu, tidak peduli jika nanti terjadi salah paham dari pandangan karyawan yang terpenting Willan mau memaafkanku. “Aku tahu kamu kesal karena sikapku kemarin yang tidak sopan menolak pemberianmu.” “Tidak, aku tidak kesal. Hanya cukup tahu diri saja untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.” “Kamu tidak bersalah Will, justeru aku yang bersalah. Maka dari itu aku sungguh ingin meminta maaf. Aku tahu kamu memberiku sepeda karena peduli tetapi karena aku masih trauma di masa lalu jadi aku tak sengaja dan reflek aja menolaknya. Kadang ingatan menyakitkan dan trauma atas kejadian masa lalu membuat seseorang tidak mudah menerima kebaikan seseorang, rasa takut itu masih terlalu besar menghantui jiwa. Itu yang kurasakan Will.” “Ya, aku berusaha mengerti dari penjelasanmu. Aku juga masih ingat dengan luka lebam di wajah dan tanganmu malam itu, saat pertama kali datang ke tempat ini dan meminta untuk bermalam. Tenanglah, aku tidak marah. Jika kamu mau berbagi cerita tentang masa lalumu aku sangat senang, setidaknya bisa jadi pendengar yang baik dan siapa tahu bisa membuatmu keluar perlahan-lahan dari rasa trauma itu,” ucap Willan seraya beranjak berdiri dan melangkah mendekatiku. Kami berhadapan dengan jarak yang cukup dekat, bisa kucium parfum beraroma citrus yang menguar dari tubuhnya. “Terima kasih Will karena kamu sudah mau memahamiku,” ucapku parau dan entah mengapa lagi-lagi aku tak bisa menahan kesedihan di hadapan pria ini. Aku kembali menangis di hadapannya. Detik berikutnya aku merasakan tuguhku berada dalam pelukkan Willan. “Berat ya ada di posisimu, bersabarlah. Selalu ada jalan keluar untuk setiap masalah yang tengah dihadapi seseorang. Jika sat ini kamu mau belum sia berbagi cerita, aku akan menunggunya hingga kamu siap dan merasa nyaman. Sudah jangan menangis, bajuku nanti basah lagi.” Willan tertawa dan aku segera melepaskan diri dari dekapannya. “Jadi kamu keberatan waktu itu aku menangis dan membuat bajumu basah karena air mata dan ingusku?” Aku pura-pura mencebik. “Nggak Sayang, aku sama sekali nggak keberatan, malah senang.” “Dih pake manggil sayang segala, aku takut ada yang cemburu,” ledekku. “Paling juga Aira yang cemburu, dah lah lagi nggak ada dia ini.” “Tapi aku nggak nyaman saat kamu panggil dengan sebutan itu, takutnya ada yang dengar dan jadi salah paham.” “Yaelah aku kan cuma becanda, oke maaf kalau kamu emang gak nyaman aku tidak akan mengulanginya lagi kecuali ….” Willan tidak meneruskan kalimatnya, sepertinya ia sedang menguji rasa penasaranku. “Kecuali apa?” “Ya kecuali kamu mengizinkannya.” Aku melirik jam di pergelangan tangan yang sekarang menunjuk angka 08.00, aku harus segera ke toko. “Will aku ke toko Bu Salma ya. Sekali lagi aku minta maaf atas sikapku yang kemarin terkesan nyebelin, benar katamu harusnya seseorang mengucapkan terima kasih atas sebuah pemberian dan sekarang aku mau mengucapkan terima kasih itu padamu, terima kasih karena kamu sudah baik dan peduli.” “Terus sepedanya mau diterima atau enggak?” “Diterima lah masa iya ditolak, lagian lumayan buat bolak balik dari toko ke tempatku yang lumayan jauh.” “Nah cakep itu, nanti sepulang dari toko ambillah sepedanya di samping resto.” “Yup tentu saja.” Aku segera melangkah dan keluar dari ruangan Will, berusaha abai dengan tatapan beberapa karyawan resto yang menatapku penuh selidik saat keluar dari ruangan pribadi bosnya. Aku segera pergi dari resto dengan langkah tergesa namun saat hendak menyebrang jalan aku mendengar Will memanggil namaku. “Apa lagi,” teriakku. “Nanti sore jangan lupa ambil sepedanya ke sini ya.” “Iya bawel.” *** Sorenya sepulang dari toko aku segera ke tempat Willan, ada Aira sedang bermain ayunan tak jauh dari samping resto. Aku bergegas menghampirinya. "Hai ... gadis cantik. Maukah memaafkan Mbak Lara?" sapaku. Aira menoleh, ia tersenyum lebar dan matanya berbinar indah kala bersitatap denganku. "Mbak Lara tidak bersalah jadi tak perlu minta maaf." "Tapi kemaren itu Mbak Lara membuat wajah Aira berubah kesal karena sikap Mbak Lara yang keterlaluan tidak menerima sepeda." Aku menjelaskan. "Tidak papa, tadi Papah bilang sekarang Mbak Lara udah mau nerima sepedanya. Ambillah di sana," ucap Aira bersemangat sambil menunjuk letak sepeda lipat di pinggi pohon randu. "Terima kasih, Sayang." Aku mengusap puncak rambut Aira sebelum berlalu mengambil sepeda dan mengayuhnya pulang. "Mbak Aira tunggu," teriak gadis kecil dengan rambut ekor kuda itu. Aku menghentikan sepeda dan menoleh ke arahnya. "Ada apa, Sayang?" "Tadi Papah bilang ingin bicara sebentar, tunggu di situ ya akan kupanggilkan." "Oke baiklah," jawabku mengacungkan jempol pada Aira. Tidak lama kemudian. Will datang sendirian menghampiriku. "Ada apa, Will?" "Besok akhir pekan, resto juga libur. Apa kamu mau ikut berkano denganku?" "Berkano? wah pasti seru. Aku juga besok libur." "Jadi gimana, mau ikut?" "Tentu saja, apakah tempatnya jauh dari sini?" Aku bertanya dengan rasa penasaran. "Kita lihat saja nanti. Satu yang pasti tempatnya sangat indah, bisa dipastikan bahwa nanti kamu akan jatuh cinta melihat pemandangan di sana." "Oh ya?" tanyaku mengangkat kedua alis. "Aku akan membuktikannya besok." "Oke, sampai bertemu besok pagi Will," ucapku sambil mengayuh sepeda menuju arah pulang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN