Berkano
Jam yang tergantung di dinding menunjukkan angka 09.00. Pagi ini aku bergegas menaiki sepeda dengan semangat menuju rumah Willan. Hari ini kami sudah sepakat untuk pergi berkano. Aku tidak tahu tempatnya di mana tetapi Will bilang dia dulu sering berkano di sebuah danau yang airnya sangat jernih. Willan tak memberitahuku nama tempatnya dia bilang 'kejutan,' apa mungkin tempat berkanonya jauh? Sebab lelaki itu tidak mau mengajak Aira maupun Miko untuk ikut serta.
"Lara ...." Sebuah teriakan dengan suara khas itu memanggil namaku. Benar saja ternyata Willan sudah berdiri di teras rumahnya sambil melambaikan tangan ke arahku.
"Ternyata kamu sudah siap." Aku berkata sesaat setelah memarkirkan sepeda dan mendapati Will memasukkan barang-barang dan juga perlengkapan untuk kami berkano.
"Tentu saja aku harus sudah bersiap."
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, terlihat sepi dan tak ada siapa pun di rumah ini. Apakah Aira dan Miko belum bangun? Itu tidak mungkin. Dua anak itu sudah terbiasa bangun pagi, Aira sendiri yang bilang kalau dia setiap pagi terbiasa berolah raga bersama Miko dan papanya.
"Anak-anak ke mana? Kok pada nggak kelihatan ya," tanyaku kemudian.
"Oh mereka, pagi-pagi sekali bibinya datang untuk mengajak Aira dan juga Miko main ke tempatnya. Sudah lama juga mereka tak berkunjung ke rumah bibinya, mungkin mereka kangen main bareng Tedy dan juga Fika sepupunya."
"Apa rumahnya jauh?" tanyaku lagi.
Willan menggeleng.
"hanya berjarak empat kilo dari sini. Semua sudah siap ayo bantu aku meletakkan barang-barang ini ke bagasi." Tanpa banyak cakap lagi aku segera membantu membawakan beberapa peralatan berkano itu ke bagasi mobil.
Kini aku dan Willan sudah duduk di jok mobil, lelaki itu sudah bersiap untuk berangkat. Ia mengingatkanku agar segera memakai seatbelt.
"Apakah tempat yang akan kita kunjungi jaraknya jauh?"
"Memangnya kenapa kalau jauh?" Willan menoleh menatapku. "Jangan bilang kamu mabuk perjalanan," ucapnya lagi seraya tersenyum jahil.
"Justeru itu, aku pemabuk yang sangat payah. Berada terlalu lama di mobil membuatku tidak baik-baik saja. Bersiaplah untuk kemungkinan aku akan muntah-muntah," tuturku panjang lebar.
"Itu bukan hal besar, lagi pula aku punya trik khusus agar kamu tidak mabuk perjalanan."
"Oh ya? Kalau minum Antimo aku tidak mau, karena itu tak berefek apa-apa."
"Aku tidak akan menyuruhmu minum antimo," jelasnya seraya mulai menyalakan mesin mobil.
"Lalu apa?" tanyaku penasaran.
"Nanti kukasih tahu, sekarang kita harus berangkat biar cepat sampai tujuan," tandasnya lagi.
"Oke."
Mobil mulai bergerak maju dan membelah jalanan, beberapa saat aku enjoy dengan musik--jalanku masih panjang Saykoji. Menikmati pemandangan kiri kanan yang asri dan alami oleh pohon-pohon besar sepanjang jalan.
Tidak terasa satu jam sudah berada di mobil, meskipun aku dan Will sempat mengobrol ringan tetapi rasa mual sudah mulai kurasakan. Beginilah pemabuk kendaraan sepertiku yang mudah mual dan sering muntah, rasanya berjalan jauh sedikit saja begitu lelah.
"Kamu sudah mulai mual?" tanya Will seraya menoleh sekilas padaku.
"Ya, mungkin sebentar lagi aku akan muntah. Bawa kresek tidak?" tanyaku sambil memijit kening sendiri.
"Minum ini," ujarnya seraya menyodorkan sebotol sprite. "Bedakan rasanya sebelum meminum dan sesudah."
Tanpa berpikir apa-apa aku langsung meraih botol itu dari tangan Willan kemudian meneguk minuman bersoda itu pelan-pelan. Rasa mual dan tidak nyaman di dalam perut yang tadi sempat kurasakan kini berangsur membaik. Aku memutar mata sambil berpikir kenapa baru tahu kalau minuman ini bisa menghilangkan mual dan mencegah mabuk perjalanan?
"Gimana udah enakan belum?" tanya Willan tanpa menoleh ke arahku.
"Sudah enakan, mual juga hilang. Kok aku baru tahu ya kalau minuman ini bisa mencegah mabuk perjalanan?"
"Menurut artikel yang aku baca, minuman berkarbonasi dapat membantu mengurangi total keasaman lambung dan mengatasi mual. Tetapi jangan terlalu sering mengkonsumsinya juga karena efek soda tidak baik untuk organ tubuh yang lain."
"Wah aku berasa konsultasi sama dokter," ucapku menggodanya. Lelaki itu hanya tertawa sekilas dan kembali fokus menyetir, kali ini medan yang kami lalui adalah tanah berbatu yang cukup terjal. Will butuh konsentrasi untuk melewati jalanan ini. Beruntung arena jalan yang rusak itu tidak terlalu panjang, kini mobil terhenti saat memasuki kawasan sebuah danau yang belum kutahu namanya.
Will keluar dari mobil dan aku mengikutinya, pertama kali melihat pemandangan sekeliling yang natural dan sangat indah ini aku berdecak kagum. Udaranya yang sejuk di paru-paru membuat siapa pun betah berlama-lama di tempat ini.
"Bagaimana dengan tempat ini menurutmu, Ra?"
"Surga tersembunyi," tuturku takjub. Ayolah siapa pun akan takjub melihat danau yang jernih airnya dikelilingi berbagai macam tumbuhan dan pohon-pohon besar. Ada segerombolan burung yang berkicau di atas danau lalu kabut tipis masih bisa terlihat dari sini. Ada pula barisan bunga lily yang tumbuh subur di sepanjang tepian, satu perahu kayu yang biasa kusebut sampan tersandar manis di dekat dermaga kecil. Ah entah apa namanya jembatan kecil yang terbuat dari kayu itu yang bentuknya menyerupai
dermaga. Di sini belum terjamah tangan-tangan modern bahkan semuanya masih alami. Tidak terasa dari tadi aku berjalan mendekati danau dan melupakan keberadaan Willan, saat aku mencari-cari lelaki itu ternyata dia sedang mengeluarkan beberapa alat untuk kami berkano.
"Ayo kita mulai berkano," ajaknya yang kini mulai mendekati sampan.
"Kamu pakai ini," ucapnya lagi seraya memberikanku semacam baju pelampung berwarna hijau. Will juga mengenakannya.
Aku memilih duduk di tepi sampan berhadapan dengan posisi duduk Willan yang berjarak satu langkah dariku. Meraih dayung dan mulai mencelupkan kayu berbentuk pipih memanjang itu ke dalam air. Dari atas sampan terlihat beberapa ikan bergerombol di dalam air yang warnanya jernih kehijauan. Jika laut jernih berwarna kebiruan maka danau ini warnanya jernih dengan warna cenderung hijau.
"Sudah siap?" Will mulai mendayung dan aku mulai mengikuti gerakkannya.
"Semoga hari ini tidak hujan meskipun tadi kulihat perkiraan cuaca dari ponsel di sekitar sini akan turun gerimis dan mendung pekat."
"Tidak akan hujan, Ra. Tenang saja," timpal Willan yang terlihat menikmati pemandangan danau.
"Ya, semoga saja. Apa kamu sering mengunjungi tempat ini, Will?"
"Dulu, setiap akhir pekan ini adalah tempat favorit yang seolah wajib dikunjungi bersama Aira, Miko, dan juga ...." Willan tak meneruskan kalimatnya, tetapi aku tahu nama siapa yang semestinya disebutkan itu. Sejenak bisa kulihat lelaki di hadapanku rautnya berubah sendu. Ah apa seberat itu sebuah rindu terhadap seseorang yang telah tiada?
"Kania."
"Ya, bersama Kania," lirihnya.
"Apakah tempat ini juga masih menjadi tempat favorit bagi kalian setelah Kania tiada?"
"Aku sempat menghindari Danau Angsa ini beberapa lamanya setelah Kania tiada, kenangan-kenangan bersamanya seolah membuatku terus terpuruk pada kerinduan. Rindu yang rasanya begitu sakit mengingat seseorang yang kita cintai sudah tak lagi ada di dunia ini."
"Kau sangat mencintainya, Will. Bisa kulihat itu dari nada suaramu saat menyebut nama Kania dan dari matamu saat menuturkan rindu tentangnya."
"Ya, aku sangat mencintainya. Bahkan setelah sosoknya tidak ada, cinta ini masih tersimpan rapat di dalam dada."
"Lalu kenapa kamu memilih menghindari tempat indah seperti ini? Bukan kah di sini kamu bisa memeluk kenangan yang utuh bersama Kania?"
"Awalnya aku ingin melupakan semua kenangan tentang Kania, karena semakin diingat maka jiwaku semakin sakit. Aku rindu dan sangat merindukannya setiap saat, itu mengapa aku berusaha move on dari ingatan tentang Kania, tetapi saat aku berusaha melupakan yang terjadi malah ingatan itu semakin tajam."
Suara berat Willan terdengar begitu luka, aku mencoba mengerti bagaimana posisi seseorang yang tengah kehilangan.
"Kalau bukan kita yang mengenang seseorang yang sangat kita cintai, lalu siapa yang akan mengenangnya? Bukan kah Kania pantas untuk dikenang dalam hidupmu, Will?"
"Dia belahan jiwaku dan aku baru sadar dari kalimat yang kamu utarakan tadi, Ra. Jika bukan aku yang mengenangnya maka siapa lagi? Sedangkan perempuan sehebat Kania pantas untuk dikenang. Darinya aku bisa miliki Aira dan juga Miko, ia pejuang tangguh yang terus semangat dan selalu tersenyum walaupun saat itu penyakit menggerogoti tubuhnya. Kania tidak kalah tetapi takdir telah menentukan garis hidupnya hanya sampai di sana."
"Aku bisa membayangkan bagaimana kamu sangat terluka saat kehilangan Kania."
“Semua telah berlalu dan seberapa pun aku bersedih nyatanya hidup terus berjalan, jika sekarang aku terlihat tegar itu karena aku tidak ingin terus larut dalam kesedihan. Masih banyak hal yang harus kulalui bersama Aira dan juga Miko, jika aku tak mampu bangkit bagaimana dengan mereka?”
Sampun bergerak lamban karena Will hanya mendayungnya pelan, begitu pun denganku yang fokus menyimak serta mencoba memahami tentang kehilangan yang Willan rasakan. Aku dan Will layaknya dua orang yang sama-sama ingin menyembuhkan luka dari peristiwa yang pernah begitu keras menghantam jiwa, bedanya medan kami berbeda. Willan kehilangan orang yang sangat dicintainya, sedangkan aku memilih menghilang dari orang yang begitu kejam melukai berulang-ulang.
“Pulau yang kusinggahi ini sangat indah, aku jatuh cinta pada keindahan alamnya, Will,” ungkapku setelah beberapa menit lamanya kami terdiam.
“Yakin hanya jatuh cinta pada alamnya? Mungkin saja kamu juga jatuh cinta sama aku?” Mengataka itu Will kemudian tertawa hingga matanya membentuk sabit. Aku tahu apap yang diucapkannya tadi hanya sebuah banyolan saja, entah untuk menghiburku atau menghibur hatinya yang mungkin saja masih merasakan luka karena rindu pada Kania.
“Bahkan aku terlalu takut untuk kembali jatuh cinta,” tandasku kemudian.
“Dari matamu aku melihat ada luka yang sangat dalam dan terpendam.”
“Oh ya?” senyumku melebar. Detik ini pandanganku dan Willan bertemu.
“Mungkin kamu bisa menutupinya dan bersikap baik-baik saja, tetapi aku bisa membacanya,” katanya lagi.
“Katakan kamu membaca apa dari mataku?” tanyaku menantang Will.
“Membaca uka-uka,” tawanya berderai, bisa kulihat kali ini Will seperti telah sembuh dari kesedihannya tentang Kania.
Setelah tawanya rada aku mencoba menatap Willan dengan seksama, dia saja bisa bahagia meskipun twelah kehilangan seseorang yang dicintainya. Kenapa aku tidak? Kenapa aku terus menerus tertekan oleh bayangan masa lalu?
Ketakutan-ketakutan yang timbul karena ancaman Danil membuatku tak bisa tenang dalam hal apa pun. Dia bisa saja datang ke sini dan membawaku dalam kehidupannya lagi, sedangkan aku sudah lelah dengan sifat kasarnya.
“Kamu ketakutan?” Pertanyaan itu membuatku menoleh pada Willan, detik ini aku percaya lelaki itu benar-benar membacaku, membaca hatiku dan membaca gerak-gerikku.
“Ya, oleh karenanya aku melarikan diri hingga sampai ke tempat ini.”
“Kamu diancam?” tanyanya lagi.
“Lebih dari itu, Will.”
“Kenapa tidak coba lapor ke polisi?”
“Apa kau pikir aku bisa lari ke kantor polisi setelah memukul seseorang? Aku terlalu takut dan yang ada dalam kepalaku kala itu bagaimana caranya bisa lari dari rumah untuk menyelamatkan diri.”
“Kamu yang tersakiti apa kamu yang menyakiti?”
“Menurutmu?” Aku balik bertanya. Apakah Will tidak ingat bagaimana kondisiku saat pertama kali dia melihatku? Sampai kini aku bahkan masih teringat bagaimana terkejutnya wajah Willan saat menatap wajahku yang penuh luka lebam.
“Aku melihatmu prtama kali malam itu dan aku sempat mengira kamu habis dikeroyok, tetapi aku paham saat kamu menyuruhku untuk menutup rolling dor dan memohon untuk bermalam agar ….”
“Cukup, Will. Aku bahkan tak ingin mengingat peristiwa itu lagi, sangat menyakitkan bukan saat kita jadi korban tetapi malah dituduh menjadi tersangka dan kini dilabeli dengan status buronan.” Aku memotong ucapan Willan begitu saja, menjelaskan hal demikian membuat kesedihanku muncul lagi. Tuhan, kenapa rasanya sangat menyakitkan.
“Aku sama sekali tidak menyangka kenapa masalahmu jadi pelik seperti ini. Siapa yang tega menjadikanmu sebagaoi buronan?”
“Danil. Apa sih yang tidak bisa dilakukan olehnya? Dia punya harta dan kekuasaan, baginya hal itu sangat mudah dan aku bisa apa selain melarikan diri untuk menyelamatkan diri darinya?”
“Tenanglah, Ra, aku tidak akan diam saja melihatmu disakiti seperti ini.”
"Bagaimana kalau orang-orang suruhan Danil menemuiku? Aku sungguh takut Will, takut jika mereka menangkap dan mengembalikan ku ke rumah itu lagi."
"Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, aku akan membantumu sekuat yang kubisa."
Tiba-tiba saja gerimis turun, aku dan Will memutuskan untuk mengayuh sampan hingga sampai ke sebrang. Tidak terasa ternyata aku dan Will sudah berkano lumayan jauh.