Kedai Soto Romantis

1419 Kata
Kami, aku dan Will bergegas turun dari perahu kecil saat gerimis turun mulai deras. Mengikat sampan ke pinggiran setelah itu Will menggandeng lenganku untuk mengikuti langkahnya. Di bawah pohon yang cukup besar itu kami berteduh. Benar dugaanku jika memang hari ini akan turun hujan. Aku pemenangnya saat teringat tadi berdebat dengan Will perihal hujan. Suara guruh halilintar menggelegar hingga membuatku menutup telinga. "Kita akan kedinginanan kalau terus berdiam di sini. Ikut aku," ucap Willan seraya melangkah dan menarik lenganku. "Kita mau ke mana?" "Kau pasti lapar dan aku punya seorang teman yang mempunyai kedai kecil tak jauh dari sini. Kita bisa makan di sana." Will menjelaskan sambil terus berjalan menerobos hujan dan melewati hutan dengan pohon-pohon cukup besar. "Aku kira di hutan seperti ini tidak ada kedai yang menjual makanan." "Ini bukan hutan Lara, ini hanya perkebunan yang lumayan luas, lima menit berjalan dari sini ke arah Utara kita akan sampai ke pinggir jalan." "Syukurlah kalau begitu. Lagu pula aku ingin segera sampai ke kedai dan perutku tentu saja sangat lapar." Kami masih menerabas jalan setapak di antara pepohonan. "Kita tidak akan cepat sampai dengan langkah pendek dan pelanmu seperti ini." "Astaga, ini aku sudah berlari Willan. Kamu tidak tahu apa dari tadi langkahku terseok-seok mengikuti langkah panjangmu itu." Aku mencebik kesal. Will tertawa lalu tanpa aba-aba lengan kekarnya meraih tubuhku dalam gendongannya kemudian ia berlari cepat menerobos hujan yang deras ya semakin menggila. Aku terpekik dan tak urung tertawa dengan tingkah konyol Willan. "Will kau mau membawaku ke mana? Turunin!" "Biar cepat sampai. Diamlah," perintahnya. Tubuh tinggi itu kemudian berlari cepat memanggul tubuhku hingga ke batas jalan besar. "Turunlah," ucapnya seraya menjongkokkan tubuh agar aku bisa turun. Dari sini bisa kulihat jalanan aspal basah dan hujan masih mengguyur dengan derasnya. "Kita jalan saja ke sana," ucap Will seraya meraih lenganku dan kini kami jalan bersisian. "Kamu lihat di ujung jalan dekat tikungan sana?" Will menunjuk dengan tangannya. Ada sebuah kedai minimalis di antara dua pohon besar yang mengapit. "Apa kita akan ke sana?" "Tentu saja, kita harus makan untuk menghangatkan tubuh yang kedinginan." "Ngopi lah kalo untuk menghangatkan tubuh," timpalku ngeyel. "Ada yang lebih menghangatkan lagi selain ngopi." "Apaan tuh?" "Berpelukan misalnya," ujarnya sambil melirikku dengan senyum jahil. "Siapa tahu kamu mau mencobanya denganku, Ra." "Astaga, Will!" Aku memekik sebal, tanganku sudah melayang di udara untuk memberinya pelajaran agar ia tidak lagi mencoba mengusikku seperti tadi, namun lelaki itu cukup sigap dan tahu gerakku sehingga ia memilih berlari terlebih dahulu meninggalkanku di belakang. Aku mengejarnya sambil berteriak. Kami terus berlari di bawah hujan yang mengguyur deras, untunglah tidak ada petir sehingga aku tidak merasa ketakutan oleh gelegarnya. Memasuki kedai kondisi tubuhku dan Willan basah kuyup, kami sama-sama tidak merasa canggung saat duduk di bangku meskipun beberapa orang di sana memperhatikan kami dengan pandangan aneh. Aku kedinginan, tetapi tak mengapa karena sebentar lagi semangkuk soto yang barusan dipesankan oleh Willan akan segera datang, itu cukup untuk membantu menetralisir hawa dingin dalam tubuh. "Apakah nanti kita akan kembali lagi ke danau?" tanyaku sambil menunggu pesanan datang. Will terlihat menggesek-gesekkan dua telapak tangannya untuk mengusir rasa dingin. "Kita lihat saja nanti. Kalau misalnya hujan masih turun deras seperti ini kita tak bisa balik lagi ke danau, air di sana cepat meluap, lagi pula dengan air yang meluap tinggi dan hujan deras seperti ini jalanan tanah merah menjadi lengket untuk diinjak. Bisa kubayangkan kita akan tersiksa melewati medannya." "Lalu mobil kamu? Terus kita nanti pulang naik apa?" tanyaku beruntun dengan panik. Willan belum sempat menjawab karena kini dua orang karyawan kedai berseragam pink membawakan dia mangkuk soto dan juga dua porsi nasi hangat beserta lauk yang lainnya. Aroma soto bercampur jeruk nipis menguar di udara, terhirup hingga ke hidungku dan membuat selera makananku terbit seketika. Melupakan ingatanku tentang pertanyaan bagaimana nanti pulang ke rumah. Semua makanan kini terhidang cantik di meja, tentu saja aku ingin segera melahapnya. "Minumnya apa, Mbak, Mas?" tanya salah seorang pelayan. "Aku teh melati hangat tanpa gula." "Saya juga sama," imbuh Willan. Setelah itu pelayan tadi segera berlalu. "Apa kamu juga penyuka teh melati tanpa gula, Will?" tanyaku kemudian. "Sebenarnya tidak," jawabnya seraya menarik mangkuk soto dan mendekatkan sepiring nasi hangat ke hadapanku. "Lalu kenapa kamu tadi memesannya?" tanyaku melotot gemas menatap lelaki berwajah innocent itu. "Karena aku ingin mengenang Kania, jadi aku memesan teh melati hangat kesukaannya." Detik ini aku paham, betapa Willan tipe lelaki romantis yang nyatanya mampu memeluk Kania dengan cara meminum minuman yang menjadi favorit isterinya itu. Detik ini aku paham sebesar apa cinta Will untuk Kania meskipun sosok dan belahan jiwanya itu sudah tak ada lagi di dunia. "Kenapa bengong?" Pertanyaan Willan membuatku terperanjat. "Enggak kok," jawabku cepat. "Kamu pasti heran karena minuman kesukaan Kania ternyata sama dengan minuman favoritmu." "Mungkin saja itu kebetulan." "Apa kamu percaya bahwa yang terjadi di dunia ini hanya sebuah kebetulan? Tidak, Ra. Semua sudah di atur sedemikian rupa oleh sang Maha. Bisa jadi, dari kesukaan yang sama kalian juga punya cinta yang sama terhadapku." Kini pria itu terkikik senang. "Willan," teriakku sebal, bisa-bisanya dia menggodaku lagi. Humoris sih tapi tetap saja nyebelin. Ah sudahlah untuk apa juga meladeni kekonyolannya di tengah rasa lapar dan perut keroncongan seperti ini, lebih baik makan dan menikmati soto ayam yang lezat ini. Pertama-tama aku mulai menyendok sup dan mulai menyeruput kuahnya yang berwarna bening kekuningan. Rasa rempahnya terasa segar di mulut, sejenak aku lupa pada semuanya dan menikmati hidangan ini dengan lahap. Baru beberapa menit menyantap, terdengar suara Will memanggil pelayan lagi. Lelaki itu memesan satu mangkuk soto lagi dan tentu saja hal itu membuatku penasaran apakah dia sudah menghabiskan semangkuk soto yang sebelumnya? Benar saja saat kulihat mangkok soto di dekat hadapan Will sudah licin dan tandas tak bersisa. Bagaimana bisa dia menghabiskan semangkuk soto secepat itu? Lapar apa doyan sih sebenarnya? "Pesananku yang ini beda dari soto yang sebelumnya. Kali ini aku mau soto kulit ayam kampung. Full kulitnya dan tidak yang lain," pesan Will pada perempuan berseragam pink itu. "Baik, Mas. Ada lagi?" "Secangkir coklat hangat. Sudah itu saja." "Sebentar Mbak," ucapku kemudian menghentikan langkah pelayan tadi. "Ya, ada yang bisa saya bantu?" "Aku juga mau semangkuk soto kulit ayam kampung." "Baik, Mbak akan saya bawakan. Tunggu sebentar ya, saya permisi ke belakang." Pelayan itu berlalu, dan kini Willan menatapku dengan raut bertanya. "Kamu suka juga soto kulit ayam kampung?" "Nggak tahu, aku cuma ingin mencobanya saja seperti apa rasanya. Maksudku bedanya apa sama soto ini," ujarku sambil menunjuk semangkuk soto yang sedang kunikmati. "Oh gitu. Menurutku sih nggak jauh berbeda, cuma beda di tekstur kulit ayamnya yang lebih kenyal dan kuah sotonya yang tidak begitu berlemak. Ada lagi sih alasannya." "Alasan?" "Soto kulit ayam kampung itu kesukaan Kania, untuk mengenangnya aku juga harus merasakan makanan yang disukainya." "Keren," gumamku pelan. "Apanya yang keren?" "Caramu mencintainya." "Karena dia berhak diperlakukan seperti itu. Dia pantas mendapatkan banyak cinta dariku dan juga anak-anak." Aku mengangguk pelan menanggapinya, kemudi kami sama-sama fokus kembali pada santapan. Hujan masih mengguyur deras di luar, orang-orang yang tadi makam di kedai juga sebagian sudah pada pulang, hanya tinggal satu dua yang masih bertahan di sini. Waktu magrib sudah berlalu sejak tadi, obrolan ringan dan pembahasan seputar Aira dan Miko yang sejak tadi kubahas dengan Willan juga telah selesai. Aku ingin segera pulang karena tidak mungkin menginap di tempat ini. "Jadi gimana caranya kita pulang, Will?" "Aku tadi sudah menghubungi temanku agar menjemput ke sini." "Mobilmu bagaimana? ditinggal?" "Cuaca dan hujan deras tidak memungkinkan untukku balik lagi ke danau, mungkin besok saja kuambil mobilnya." Suara musik mengalun merdu di kedai, lagu slow romantis terdengar syahdu. Will beranjak dari tempat duduknya dan memintaku juga untuk berdiri. Kami melihat-lihat barang-barang antik di ruangan kedai sebelah kanan lalu tak disangka Will meraih lenganku dan mengajak berdansa ditengah alunan musik penuh romansa. Aku mengimbangi gerakkannya sambil tak henti tertawa, terkadang gerakkan Will yang tak terduga membuatku nyaris jatuh tetapi tubuh tegap itu selalu menarikku sebelum jatuh ke lantai. Kami tertawa sepanjang berdansa hingga aku merasa lelah dan kembali memilih duduk. "Gayamu tengil sekali, Will," ucapku sambil meraih teh hangat. "Kamu nggak tahu ya kalau dulu aku jago dansa dan sampe sekarang juga masih jago cuma bedanya banyak gerakan yang lupa." "Sudah sudah semakin ngaco aja kamu. Joget ngasal kaya tadi aja bikin perutku sakit." Kami kembali tertawa dan untuk sesaat baku lupa pada luka, lupa pada hal yang begitu menakutkan tentang Danil. Harus kukatakan bahwa saat ini aku bahagia, bahagia yang cukup sederhana namun sangat berarti bagi jiwa. Will terima kasih atas tawa yang mampu kau cipta di antara kita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN