Namanya Diwa

1040 Kata
Malam semakin larut, di kedai ini semua pengunjung telah pergi. Baju yang sejak sore basah kuyup kini sudah kering di badan. Aku dan Will masih menunggu seseorang yang akan menjemput kami. Dua mangkuk soto ayam jeruk limau sudah masuk ke perut dan itu membuatku sangat kenyang. Will terlihat masih enjoy mengaduk-aduk coklat hangat di gelasnya. "Siapa nama temanmu yang katanya akan menjemput?" tanyaku tak sabar sambil melirik arloji di pergelangan tangan. "Namanya Diwa. Jangan heran dia selalu telat tetapi dia pasti akan datang sebentar lagi." "Dari tadi bilangnya sebentar lagi tapi orangnya nggak nongol-nongol," gerutuku. "Maklumlah Diwa kan orang sibuk. Anggota polisi mungkin banyak hal yang mesti di urus dulu." "Apa? Jadi Diwa temanmu itu seorang polisi?" "Iya, kenapa kamu jadi terlihat panik seperti itu?" Will menatap lekat ke arahku. "Tidak. Aku tidak panik dan aku baik-baik saja." Oh ya Tuhan, bisa saja temannya Will itu mengenaliku. Semoga saja brosur dan foto yang disebar oleh Danil tidak sampai hingga ke pulau ini. "Ya semoga baju basah yang kering di badan juga akan membuat kita baik-baik saja," ucap Will seraya beranjak menuju meja kasir. Dari sini aku hanya bisa tersenyum memandanginya. Memandangi Will yang entah kenapa aku merasa begitu dekat dengannya setelah peristiwa di rumah sakit itu. Saat aku mengingat kembali baju putihnya banjir oleh air mata dan menjadi lap ingusku yang berleleran, sungguh seharusnya aku malu tetapi malah terkesan lucu. Bahkan kini seakan bertanya pada diri, kenapa saat di dekat Will aku seolah tak canggung menunjukkan jati diriku yang sebenarnya. Seperti menunjukkan sikap mellow yang berlebihan kala itu, beruntung Will orang yang humble dan care, ia tak banyak bertanya ia tak banyak menuntut penjelasan apa-apa. "Hei ... Kenapa kamu menatapku seperti itu, Ra?" Tidak kusadari ternyata Willan sudah membalik badan dan kini malah menatapku dengan raut aneh. "Aku ... Siapa bilang aku menatapmu, tadi aku hanya sedang mengingat peristiwa di rumah sakit." Seketika Willan tertawa, "peristiwa saat kau mengotori baju putihku dengan ingus?" Aku menggaruk kepala sambil mengangguk ragu, merasa malu. "Itu tragedi yang juga akan kuingat seumur hidup," ucap Will, lagi-lagi lelaki itu terbahak. "Jangan diingat. Jelas-jelas itu tragedi memalukan buatku." Aku mencebik kesal sambil bangkit dari kursi rotan. Memilih berjalan ke arah Will yang masih berdiri di meja kasir yang tak berpenghuni. "Itu tragedi yang lucu," tandas lelaki yang kini hanya berjarak sepuluh senti saja dari tempatku berdiri. Aku baru saja akan menjawab perkataannya saat seorang perempuan berseragam pelayan kedai muncul dari belakang menuju ke arah aku dan Will. "Berapa semuanya?" "Seratus lima puluh ribu, Pak." Pelayan itu menyerahkan secarik kertas yang langsung diterima oleh Willan. Lelaki itu langsung membayarnya. "Apa kedai ini akan segera tutup, Mba?" tanyaku. "Iya sebentar lagi," jawab pelayan itu. "Terima kasih karena telah berkunjung semoga puas dengan menu dan pelayanan kami." "Iya Mbak terima kasih kembali," jawab Willan cepat. Lelaki itu menarik lenganku dan melangkah menuju pintu keluar. "Kita tunggu Diwa di luar." "Kamu yakin dia akan datang, Will?" Tepat setelah aku menanyakan itu, sebuah mobil berwarna hitam dove meluncur dan berhenti tepat di depan kami. "Sorry Will aku terlambat, ada beberapa hal urgent yang harus aku urusi terlebih dahulu," jelas lelaki bertubuh tambun dengan rambut cepak itu. Jadi dia yang bernama Diwa? Lelaki itu mengangguk pelan saat tatapannya menoleh ke arahku. Diwa tidak mengenakan seragam, ia hanya mengenakan kaos apollo dan jeans hitam. "Sudah kuduga, tetapi baiklah yang penting sekarang kita secepatnya pulang." Willan membukakan pintu mobil untukku, sedangkan Diwa masuk dan duduk kembali di kursi kemudi. Willan tidak duduk di depan bersama Diwa, lelaki itu malah duduk di jok belakang tepat di sampingku. Mobil berjalan menuju arah pulang. Untuk beberapa saat Willan dan Diwa terlibat sebuah obrolan ringan, sedangkan aku memilih menikmati alunan musik Ed Sheeran yang tengah mengalun merdu. Kini mobil melaju membelah jalanan, hujan deras tadi telah reda menjadi gerimis kecil. Efek kenyang membuatku mengantuk tetapi kutahan saja agar tidak kebablasan tidur dan merepotkan yang lain. Setengah jam berlalu kini mobil mulai memasuki jalan menuju Taman Pahlawan. "Ini bukannya jalan menuju hutan?" tanya Diwa yang kemudian memperhatikan sekeliling lrwat kaca mobil. "Memangnya di sekitar sini ada pemukiman? setahuku tidak ada." "Ada satu rumah sewa kok, yang kini ditempati Lara," jawab Willan cepat. "Oh gitu, apa dia tinggal sendirian?" "Ya, aku tinggal sendirian," tegasku. Tidak lama kemudian mobil yang aku tumpangi ini sudah sampai di depan rumah panggung, aku keluar dari mobil dan segera mengucapkan terima kasih, tetapi tak disangka Diwa juga ikut keluar disusul oleh Willan. Lelaki berambut cepak khas polisi itu memindai sekeliling, mengernyitkan dahinya lalu menatap ke arahku. "Tempat ini cukup terisolir dan jauh dari penduduk, apa kau tidak takut tinggal sendirian di sini, Nona?" "Aku mencintai alam dan suasana yang hening, jadi aku betah tinggal di sini meskipun sendirian. Tidak, aku tidak takut toh belum pernah pernah kutemui binatang buas yang mengganggu. Terima kasih Tuan Diwa atas tumpangannya dan saya permisi ke dalam." Aku sedikit membungkukkan badan untuk sekedar memberi hormat padanya. "Baiklah, Nona. Hati-hati." Diwa masuk kembali ke mobilnya, aku sudah sampai di tangga kayu dan hendak membuka pintu saat Will memanggilku. "Ada apa, Will?" tanyaku. Tubuh tinggi itu mulai mendekatiku,"aku ingin bicara sebentar saja tapi tidak di sini." "Di dalam maksudmu?" "Ya." Aku membuka pintu dan dengan gerakan cepat Willan menarik tubuhku. "Hei ... ada apa?" tanyaku tak mengerti. "Aku tahu kamu ketakutan dengan Diwa, dia memang anggota polisi tapi tenanglah untuk kasus kamu itu semoga Diwa tidak mengetahui." "Kau benar Will, ada rasa takut sebenernya tapi aku berusaha untuk tampak baik-baik saja. Namun bisa kah kau bayangkan jika pada akhirnya Diwa mengenaliku sebagai Laysa?" "Jadi namamu Laysa?" Aku mengangguk. "Akan kupikirkan bagaimana caranya nanti agar kamu bisa terbebas dari tuduhan itu." "Makasih Will," ucapku dan reflek saja memeluk tubuhnya. Aku merasa ketakutan dan dia ada untukku. "Tenanglah Ra. Kita hadapi ini sama-sama." Aku merasakan ia membalas pelukanku dengan erat. Entah ini kedekatan macam apa, hingga entah siapa yang memulai aku merasa sebuah kecupan mendarat begitu dalam di keningku. "Good night. Jangan khawatir," ucap Will kemudian ia melepaskan rengkuhannya. Tubuh atletis itu segera keluar dan aku menutup pintu dengan d**a berdebar. Bunyi derum mobil telah menjauh tetapi debaran di hatiku semakin menggila. "Will," gumamku perlahan sambil meraba bagian kening yang tadi diciumnya. Ada apa dengan hatiku yang rasanya tiba-tiba menghangat? *** To be continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN