Tengah hari ini udara sedang terik-teriknya, aku terburu-buru menyebrangi jalan menuju resto milik Willan. Tadi Bu Salma ingin makan menu seafood dan dia meminta tolong agar aku membelikannya. Sampai di resto, terlihat pengunjung hari ini sangat ramai, aku melihat Will yang begitu sibuk membantu para karyawannya dan di sudut yang lain terlihat Aira sedang fokus dengan pensil serta buku gambarnya.
Aku bergegas menyempatkan diri untuk menemui Aira terlebih dahulu, apalagi kata Will semalam gadis kecilnya itu merajuk karena Will pulang telat dan tidak mengajaknya ikut serta ke Danau Angsa. Aku bisa menebak bahwa gadis kecil ini sedang cemburu terhadap ayahnya yang sempat menghabiskan waktu denganku tanpa mengajaknya.
"Hai ... Tuan Putri," sapaku sambil duduk melantai di sampingnya.
Aira menoleh ke arahku dengan wajah datar tak seperti biasanya.
"Hari ini membuat lukisan apa?" tanyaku masih berusaha mengajaknya untuk berbincang.
"Tidak ada yang kubuat," jawabnya singkat. Di titik ini aku tahu dan aku paham gadis kecil ini sedang tidak baik-baik saja. Apa yang harus kulakukan untuk membuat moodnya membaik?
"Mbak Lara minta maaf ya kalau sudah membuat Aira jadi bete seperti ini." Aku mengelus puncak kepala gadis cantik itu.
"Aira tidak kesal sama Mbak Lara, Aira kesal dengan Papa. Semalam Papa pulang telat dan dia bilang lupa mengabari aku karena ponselnya tertinggal di mobil. Papa juga bilang kalau ia seharian itu habis berkano di Danau Angsa, aku sebal karena Papa tidak mengajakku lalu ia pulang telat," tuturnya panjang lebar. Aku mengangguk dan mendengarkan kekesalannya.
"Danau Angsa itu adalah tempat yang membuatku selalu ingat pada Bunda. Dulu di sana kami sering menghabiskan waktu akhir pekan yang sangat menyenangkan. Aku dan Kak Miko sering membakar sosis di pinggir danau, sedangkan Papa dan Bunda asik berkano mengelilingi Danau Angsa yang sangat jernih airnya," tambahnya lagi.
Aku senang karena Aira tak canggung bercerita apa pun terhadapku.
"Jadi itu yang membuat Aira sebal terhadap Papa?"
Gadis itu mengangguk cepat, tangan mungilnya masih memainkan pensil.
"Hmmm bagaimana kalau akhir pekan nanti Mbak Lara yang menemani Aira ke danau. Kita main dan membakar banyak sosis untuk dimakan." Aku memberi usul yang semoga membuat mood Aira membaik.
"Tidak mungkin." Gadis itu menggeleng lemah, aku tak mengerti dengan kalimat 'tidak mungkin' yang barusan diucapkan olehnya.
"Kenapa tidak mungkin?"
"Papa tidak akan mengajak siapa pun ke Danau Angsa, sebab itu adalah tempat favorit Bunda dan juga keluarga yang menyimpan banyak kenangan. Lagian sejak kepergian Bunda, Papa seolah menjauhi tempat itu."
"Oh ya?" Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, gadis kecil ini apa tidak tahu kalau kemarin papanya mengajakku ke sana?
"Baru kemarin Papa mengunjunginya lagi. Itu juga tidak mengajakku dan Kak Miko."
"Memangnya Aira tidak tahu ketika Papa berangkat ke danau?" tanyaku lagi.
Gadis itu menggeleng lemah.
"Aira dan juga Kak Miko lagi ke rumah Bibi. Jadi kami tidak tahu."
Gadis kecil itu kini mencoret-coret buku gambar di hadapannya.
"Aira sebal sama Papa," rajuknya. Tangannya semakin cepat mencoret-coret dengan abstrak buku gambarnya.
Aku memutar otak, berpikir cepat agar bisa membuat mood Aura kembali baik.
"Mungkin Papa berniat mengecek danau terlebih dahulu sebelum mengajak kalian ke sana. Bisa jadi seperti itu kan? Karena tadi kata Aira, Papa sudah lama tidak ke sana." Aku berusaha menjelaskan sekaligus membujuknya.
"Pokoknya Aira sebel sama Papa. Sudah pulang terlambat ditambah pergi ke Danau tidak ngajak-ngajak." Gadis berpipi chubby itu mengerucutkan bibirnya. Ya, aku tahu di titik ini Aira sedang tidak baik-baik saja. Ia butuh dirayu oleh Will, butuh perhatian dan seharusnya Papanya peka terhadap mood putrinya yang terlihat memburuk. Namun ternyata lelaki itu malah menyibukkan diri dengan pembeli. Sebenarnya tidak salah juga sih, hanya saja aku merasa kasihan terhadap Aira yang kini sedang butuh perhatian Papanya.
"Bagaiman kalau kita makan eskrim rasa strawberry? Mbak Lara yang akan mentraktir sampe Aira kenyang," ucapku memberikan penawaran. Kuharap gadis kecil ini tidak menolak.
Aira menoleh ke arahku seraya tersenyum lebar.
"Eskrim strawberry adalah eskrim kesukaanku," ungkapnya antusias. Raut kesal yang tadi menggantung di wajahnya kini hilang dan berganti binar ceria yang terlihat jelas di matanya. Aku lega karena bisa menyaksikan Aira tersenyum dan ceria kembali seperti biasa. Dia mulai melupakan rasa kesalnya begitu kutawari eskrim vanilla.
"Gimana, mau tidak?" tanyaku lagi sambil membalas tatapan bening gadis di hadapanku.
"Aira mau." Gadis itu terlihat sangat bersemangat.
"Oke, kalau gitu Aira tunggu di sini dulu ya, Mbak Lara mau membelikan pesanan Bu Salma terlebih dahulu. Sambil meminta izin juga pada Papanya Aira ya."
"Nggak usah pake izin segala, toh Papa juga tidak memberitahuku saat ia pergi ke Danau."
"Jangan gitulah, Sayang. Aira harus tetap minta izin, nanti Papa nyariin Aira. Atau gimana kalau Mbak Lara aja yang meminta izin pada Papa untuk ajak Aira ke toko?"
Gadis kecil itu mengangguk setuju. Aku segera melangkah dan memesan seafood, menemui Willan yang sedang sibuk di meja kasirnya.
"Berapa?" tanyaku sambil menunjuk seafood yang sudah dibungkus.
"Lobster panggang berbequi?" Ia balik bertanya. Aku mengangguk.
"Pasti pesanan Bu Salma."
"Tentu saja. Oh iya sama kentang goreng juga."
"Kentang untukmu?" tanyanya seraya menota beberapa item.
"Ya," jawabku, lalu segera mengambil dua lembaran berwarna merah dari dompet kecil.
"Seratus ribu."
Aku mengernyitkan dahi mendengar Willan menyebutkan nominal harga yang harus kubayar untuk dua porsi seafood panggang dan seporsi kentang goreng. Itu sangat murah.
"Kamu tidak salah, Will? Dua porsi lobster barbeque dan kentang goreng lho ini. Masa iya harganya segitu."
"Untukmu aku kasih diskon," ucapnya enteng.
"Diskon sebanyak ini? Oh ayolah jangan begitu. Aku tidak mau kamu rugi."
Lelaki tinggi itu tertawa, tawa yang ringan dan khasnya dia sehingga terlihat deretan giginya yang putih itu. Will tidak merokok dan dia juga tidak begitu suka dengan kopi, pantas saja gigi miliknya terlihat bersih.
"Aku tidak akan rugi. Percayalah bahkan jika aku menggratiskannya untukmu dan Bu Salma, hal itu sama sekali tak merugikanku."
"Ya, aku tahu. Seorang Will tidak akan pernah merugi, sebab pengunjung restonya selalu ramai."
"No. Bukan itu."
"Sudahlah aku harus segera balik ke toko, kasian Bu Salma sudah menunggu dari tadi," ucapku kemudian sambil menyerahkan selembar uang berwarna merah pada Willan.
Aku baru akan melangkah pergi tetapi urung saat mengingat harus meminta izin pada Will terkait Aira.
"Ada yang ketinggalan?" tanya Will saat aku membalikkan tubuh menghadapnya lagi.
"Kamu lihat Aira di sana." Aku menunjuk gadis kecil yang masih tengkurap di lantai sambil mencoret-coret buku gambar. Wajahnya masih ditekuk menahan kesal.
Willan menoleh sekilas ke arah putrinya kemudian ia mengendikkan bahu. "Memangnya kenapa dengan Aira?"
"Dia terlihat murung dan mungkin saja gadis itu sedang kesal. Apa kau tak berniat menghiburnya?"
"Aku sudah membujuknya dari semalam tetapi dia masih seperti itu, jadi biarlah nanti juga moodnya baik lagi. Jam segini aku sangat sibuk."
"Baiklah, kalau kamu sibuk biar aku yang mencoba mengajaknya main. Tadi dia setuju untuk makan eskrim denganku di toko Bu Salma. Aku izin padamu untuk membawa Aira."
"Silahkan saja," ucapnya singkat dan Will kembali sibuk menota beberapa pembeli yang mulai menghampiri mejanya.
Aku melangkah pergi dari meja kasir, tetapi tiba-tiba tubuhku seolah terpaku di tempat saat rombongan berseragam aparat baru saja turun dari kapal penumpang menuju ke resto ini. Hatiku dilanda takut karena orang-orang itu kini masuk ke resto dan beberapa di antara mereka menatapku tajam seolah menyelidiki. Astaga, aku harus segera pergi dari sini. Bisa saja mereka itu adalah orang-orang suruhannya Danil yang datang untuk menangkapku.
Udara di sekitarku terasa sesak dan panas, meski diri ini sedang dilanda panik luar biasa tetapi aku harus bersikap rileks dan baik-baik saja, agar mereka tidak curiga, lagi pula aku sudah memotong rambut panjangku yang dulu tentu saja hal itu sedikit menyamarkan penampilan seorang Laysa. Aku segera mengenakan masker dan berjalan ke arah Aira. Pada gadis itu aku harus meminta maaf karena saat ini rasanya tak bisa menghiburnya.
"Aira Sayang, Mbak Lara minta maaf karena saat ini belum bisa mengajak kamu main dan balapan makan eskrim. Lain kali saja ya Sayang. Mbak Lara buru-buru." Aku mengucapkan itu sambil mengecup puncak kepala Aira, gadis itu menoleh dan menatapku tak mengerti.
"Mbak Lara pasti gak dibolehin sama Papa, ya?" Terdengar suara Aira saat aku melangkah keluar Resto, dan pada saat itu juga aku tak bisa menjawab apa-apa karena dalam pikiranku harus pergi secepatnya sebelum rombongan mencurigakan itu mengenaliku.
***