Makanan pesanan Bu Salma yang tadi aku belikan dari resto Will segera kuletakkan di meja dekat kasir. Aku segera meraih tasku di loker kecil dengan terburu-buru. Tidak peduli dengan tatapan Bu Salma yang menatap ke arahku dengan pandangan aneh.
"Kamu kenapa, Lara?"
"Aku minta izin untuk pulang, Bu. Oh iya makanan yang tadi Ibu pesan sudah kuletakkan di meja sana," ucapku sambil menunjuk ke arah meja kecil tempat biasa menyimpan makanan.
"Kenapa harus buru-buru pulang, Ra?"
"Aku sedang ada urusan mendadak dan tidak bisa ditinggalkan. Maafkan aku." Aku beralasan demikian agar perempuan itu bisa memahami.
"Tapi setidaknya kita makan dulu."
"Tidak usah, Bu."
"Kalau kamu tidak makan di sini, maka bawa ini satu bungkus makanannya untukmu. Kamu pasti lapar," ucap Bu Salma sambil melangkah ke arah meja lalu meraih satu bungkus makanan itu kemudian dimasukkannya ke dalam tas milikku.
"Terima kasih, Bu. Aku harus segera pulang," pamitku sambil berlalu.
"Hati-hati di jalan, Ra. Kabari aku jika kamu butuh bantuan," teriak Bu Salma.
Aku mengangguk dari ambang pintu sambil melambaikan tangan. Berjalan tergesa ke arah parkiran untuk mengambil sepeda lalu segera pulang agar sampai ke rumah. Rombongan polisi itu nyatanya membuatku sangat ketakutan, meskipun mereka tidak sempat mengintrogasi atau mencurigai namun aku harus tetap berjaga-jaga untuk kemungkin terburuk.
Aku segera masuk ke rumah, mengunci pintu lalu meringkuk di kasur sambil berusaha menenangkan hati. Di saat seperti ini rasa sedihku mendominasi dan yang bisa kulakukan hanyalah menangis sambil berdoa agar tetap dilindungi oleh Sang Kuasa.
***
Entah sudah berapa jam aku tiduran dengan hati was-was, tiba-tiba telinga ini mendengar deru suara motor mendekat. Aku segera beranjak lalu mengintip dari jendela. Jantungku berdegup lebih kencang saat mengetahui ada seseorang yang datang, namun akhirnya bisa bernapas lega karena tahu bahwa yang datang ke sini adalah Willan. Aku kembali ke arah dipun dan berguling di sana, karena sesungguhnya aku sedang tidak mau di datangi oleh siapa pun.
Dia mengetuk-ngetuk pintu.
"Lara, pliiis buka pintunya." Willan terus saja mengetuk pintu dari luar sedangkan aku di sini meringkuk memeluk diri sendiri.
Jujur saja rasa takutku sedang berlebihan.
Rombongan yang kulihat di resto itu bahkan sempat dan membuat otak ini menyimpulkan bahwa orang-orang itu adalah suruhan Danil. Ke mana aku harus pergi lagi?
Di antara orang-orang berseragam tadi sempat aku lihat ada sosok Diwa, apakah mereka semua akan menangkap dan menjebloskan aku ke penjara atas status buronan yang dituduhkan oleh Danil? Oh tidak, sebelum mereka menemukanku maka sebaiknya aku harus berkemas dan segera pergi sejauh-jauhnya. Hanya itu yang kini terpikir dalam benak. Aku bahkan mengabaikan suara Willan yang sejak tadi memanggil.
"Lara ... Plisss buka pintunya. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan denganmu. Ini sangat penting," kata Willan lagi. Dan aku masih mengabaikannya.
Aku beranjak dari posisi meringkuk mulai mendekati lemari kayu kecil dan segera memasukkan semua baju-baju ke dalam buntalan kain. Tanganku bergetar dan keringat berjatuhan membasahi sekujur tubuh.
"Lara!" Aku mendengar suara Will semakin meninggi bersamaan dengan suara pintu yang tak lagi diketuk dengan suara berisik.
"Pergilah, Will. Aku hanya ingin sendiri. Pergi!" sentakku dari sini.
"Aira terus menangis dan dia tidak berhenti memanggil namamu, bagaimana bisa aku pergi tanpa membawamu serta, hah?" Nada suara Will terdengar jengkel.
Suara ketukan di pintu kini mulai terdengar keras dan tanpa jeda. Aku tahu Willan melakukan hal itu agar aku keluar menemuinya.
Kini pikiranku mengarah pada Aira. Jadi anak itu menangis? Apa dia juga ketakutan saat melihat sikapku yang berubah tiba-tiba dan meninggalkannya begitu saja waktu di resto tadi? Namun saat itu kalau aku tak segera pergi yang aku khawatirkan orang-orang itu bisa saja menangkapku . Maafkan aku Aira, Mbak Lara ini tak bermaksud membuatmu bersedih.
"Aku sayang terhadap, Aira," ujarku sambil melangkah mendekati pintu. Berdiri di balik pintu itu agar Will bisa mendengar dengan jelas suaraku.
"Will tolong bilang Aira, bahwa aku pasti menemuinya suatu saat nanti," ucapku lagi.
"Suatu saat? Apa yang kamu maksud dengan suatu saat? Kenapa tidak sekarang saja?" Pertanyaan Willan begitu beruntun.
"Aku tidak bisa, Will. Orang-orang itu bisa saja dengan mudah menangkapku," lirihku tanpa sadar, lalu segera menutup mulut saat menyadari kalimat yang barusan aku lontarkan tadi.
"Siapa yang akan menangkapmu, Ra? Aku mohon Lara, tolong buka pintunya. Aku tahu kamu sedang ketakutan, sebenernya apa yang terjadi? Kita bisa bicarakan hal ini baik-baik, Ra. Jangan takut karena aku janji akan membantumu."
Mendengar Will berkata seperti itu, aku tak kuasa lagi untuk tidak menangis. Hatiku begitu penuh oleh sesak dan rasa sedih berlebihan hingga tidak tahu caranya lagi untuk menahan.
"Lara, aku mohon buka pintunya. Jika ada masalah dari masa lalumu yang belum selesai, aku siap membantu semampu yang aku bisa." Suara Will terdengar parau. Apakah lelaki itu juga merasakan kesedihan yang kurasakan saat ini?
Perlahan aku memutar anak kunci, ketika pintu sudah terbuka kulihat Will berdiri seraya menatapku iba. Tanpa terduga lelaki beraroma Citrus itu menarik tubuhku dalam pelukkannya. Rasa haru memenuhi dadaku hingga tidak terasa air mata ini tumpah di d**a bidangnya Will.
"Menangis lah, Ra. Tidak apa-apa jika hal itu membuat beban di hatimu terasa lega," ucapnya sambil menepuk-nepuk bahuku dengan lembut. Aku merasa nyaman berada sedekat ini dengan Will tanpa rasa canggung. Ini kali kedua aku menangis hingga membuat kaus yang dipakainya basah oleh air mataku.
"Jangan takut, Ra. Ada aku, apa pun itu kita hadapi berdua ya," lirih Willan. Dekapannya semakin erat terasa di tubuhku. Dia berusaha menguatkan di saat aku ketakutan seperti ini.
"Boleh aku masuk?" tanya Will kemudian saat tangisku sudah reda.
"Masuklah Will." Aku melepaskan diri dari rengkuhannya dan membiarkan Willan melangkah ke dalam. Aku menutup pintunya dengan cepat, bisa saja Diwa mengikuti atau ....
"Tidak ada yang mengikutiku ke sini, Ra. Tenanglah, jangan takut." Willan bahkan bisa membaca apa yang tengah kupikirkan.
"Ya, aku hanya berjaga-jaga saja. Tadi aku ketakutan saat melihat rombongan polisi datang ke restomu dan di antara mereka juga ada Diwa."
"Apa kamu berpikir mereka akan menangkapmu. Hentikan pikiran seperti itu, karena dengan pikiran buruk seperti itu kamu jadi seperti ini. Padahal mereka datang hanya untuk makan dan menikmati seafood. Hanya itu, setelahnya mereka pergi lagi."
"Benar kah hanya itu?" tanyaku tak percaya.
"Dengarkan aku, di pulau ini sudah terbiasa ada pemeriksaan ke beberapa tempat sepanjang pantai pesisir oleh polisi untuk berjaga dan mengamankan wilayah, sebab pernah ada beberapa turis asing yang ternyata jadi buronan dan bersembunyi di sini. Tapi aku tidak sedang menakutimu, Ra. kasusmu berbeda, kamu justeru ke sini karena untuk lari dari mantan suamimu yang sering menyakitimu itu kan. Kamu bukan buron tetapi korban. Korban yang pantas dilindungi oleh siapa pun." Willan mengutarakan panjang lebar, aku tahu dan aku percaya tetapi tidak mudah untuk keluar dari masalah yang dihadapi ini.
"Aku setidaknya punya bukti untuk membelamu di hadapan Diwa, Ra, jika suatu ketika ada hal yang mengusikmu," ungkap Willan, hal itu sukses membuatku menoleh ke arah lelaki bermata cokelat tanah basah itu dengan penuh harap. Harapan yang semoga saja tidak mengecewakan.
"Bukti apa? Katakan padaku Will, bukti apa yang kamu punya tentangku?"
Willan terlihat meraih ponsel di saku kemejanya, menyalakan layar hape kemudian menscroll ke bawah hingga akhirnya ia menunjukkan sebuah foto. Fotoku tang terlihat cukup mengenaskan di layar yang tengah berpendar itu.
"Aku sempat memotomu malam itu, malam di mana kamu masuk ke restoku dengan keadaan yang menyedihkan. Penuh luka lebam dan kukira kamu adalah korban keroyokan."
Ya, aku masih ingat peristiwa itu. Tetapi bisa kah foto ini menjadi bukti?
"Semoga saja, maka dari itu kita harus mencobanya terlebih dahulu. Dan aku ingatkan sekali lagi sama kamu, Ra. Jangan parno dan jangan berburuk sangka dulu terhadap rombongan polisi apalagi sama Diwa, yakinlah mereka tidak akan macam-macam dan tidak akan semena-mena. Setidaknya mereka juga punya jalur dan proses sebelum menindak lanjuti kasus yang menyangkut kamu ini."
"Kamu benar Will tetapi aku merasa sangat takut."
"Bagaimana kalau selama hidupmu aku yang menemani, agar tidak takut lagi?" Willan mengedipkan sebelah matanya dengan genit, dasar lelaki. Dia seperti sedang menggodaku dengan caranya yang norak.
"Cukup Will, nggak lucu!"
"Peluk mau?"
"Will!" Aku memukul bahunya bertubi-tubi, tetapi dia malah menarikku ke dalam dekapannya. Rengkuhan yang terasa hangat dan nyaman. Will, aku tidak mau pelukan ini malah nanti akan membuatku candu.
"Aku menyayangimu, Ra. Hanya itu," lirihnya. Aku mengerutkan dahi, antara percaya dan tidak dengan ungkapan yang diucapkan oleh Willan barusan. Bisa saja dia hanya menggodaku seperi tadi. Jangan kegeeran Laysa.
"Aku juga, sangat menyayangimu Will," ucapku penuh ekting.
"Kalo gitu gimana kalo kita nikah saja?" Setelah mengatakan itu Will tertawa kencang hingga membuatku sebal.
"Tuh kan ngerjain lagi," ucapku dengan kesal tertahan tapi tak ayal aku ikut tertawa juga melihat Willan terpingkal-pingkal.
"Biar nggak tegang melulu, Ra. Hidup itu mesti enjoy dan santai lah jangan serius melulu, jangan pusing melulu, juga jangan takut berlebihan. Kebiasaanmu adalah mendramatisir keadaan. Ingat Ra, sberapa pun besarnya masalah, kita harus ingat bahwa Allah lah yang maha besar."
Aku mengangguk setuju dengan apa yang baru diucapkan oleh Willan.
"Yuk ke rumahku," ucapnya lagi.
"Kenapa ke rumahmu?"
"Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya membujuk Aira agar dia tidak sedih dan tidak terus menyalahkanku. Jadi kuputuskan ke sini untuk menemuimu, siapa tahu dengan datangnya kamu ke rumah itu bisa membuat Aira tidak merajuk lagi. Aku juga tidak tahu kenapa Aira terus membenciku sejak kepergianmu dari resto tadi."
***