Sebuah Perjuangan

1546 Kata
Hari ini aku menjalankan aktivitasku seperti biasa. Bangun pagi, membereskan rumah lalu pergi ke toko Bu Salma. Beberapa pembeli sudah berdatangan dan mereka ke luar setelah aku menghitung dan juga menotal harga yang harus mereka bayar. Toko mulai lengang dan aku memilih duduk di meja kasir. Melamuni kejadian kemarin yang membuatku sempat ketakutan. Namun tiba-tiba aku terkesiap saat seseorang menghampiri dan menegur. "Lara." Sosok yang tak asing telah berdiri di hadapanku, ia tersenyum tipis. Lelaki itu Diwa. "Aku ada perlu denganmu sebentar, Ra. Apa kamu ada waktu?" tanyanya lagi. "Ya, sebentar aku akan meminta izin dulu pada Bu Salma. Sebaiknya Tuan Diwa menunggu di luar." "Baiklah," ucap Diwa mengangguk dan aku segera berlalu meninggalkannya dengan rasa tidak tenang. Entah wajahku sudah berubah pias atau mungkin sudah pucat pasi saat menemui Bu Salma di ruangannya. Mau tidak mau aku harus meminta izinnya terlebih dahulu. "Bu saya izin keluar sebentar, boleh? Ada hal penting yang harus aku selesaikan secepatnya." Bu Salma yang sedang mengecek beberapa item barang menoleh padaku, ia mengernyitkan dahi. "Urusan apa lagi, Ra? Kenapa wajahmu terlihat pias seperti itu?" tanyanya seraya beranjak dan kini duduk menghadapku. Tidak, tidak mungkin aku menceritakan yang sejujurnya perihal kedatangan Diwa pada Bu Salma. Aku harus mencari alasan yang masuk akal untuk bisa dipahami oleh Bu Salma. Tetapi alasan apa? Haruskah aku berbohong dengan menjadikan Aira sebagai alasan? "Aku mau menemui Aira dulu, Bu. Tadi dia berpesan minta dijemput olehku karena ingin beli eskrim." Akhirnya cuma alasan itu yang sanggup aku ucapkan. "Oh karena itu," ucap Bu Salma seraya tertawa kecil. "Ya silahkan, jemputlah Aira dan bawa ke sini. Aku senang melihat gadis cerewet dan menggemaskan itu di sini. Ayo pergilah, Ra. Jemput dia kemari." "Baik, Bu. Saya permisi," ujarku dan segera melangkah ke arah pintu keluar. Tidak bisa kusembunyikan bunyi detak jantungku yang kian bertalu-talu karena cemas dan khawatir pada hal buruk yang mungkin akan terjadi. Aku mulai keluar dari pintu toko, di sana terlihat Diwa berdiri tegak dengan postur tubuh tingginya. Ia mempersilahkan agar aku segera naik ke mobilnya. Meski aku dalam ketakutan tetapi berusaha tetap tersenyum dengan gestur yang tetap tenang, aku memang tidak tahu Diwa menyusulku ke sini untuk apa, tetapi feeling mengatakan kalau ada suatu hal yang meski kuselesaikan. Beberapa menit berlalu, di dalam mobil kami saling terdiam. Aku yang terlalu sungkan untuk bertanya dan Diwa yang begitu fokus menyetir mobil. Tidak lama kemudian mobil yang kami tumpangi terhenti lalu Diwa mempersilahkan untuk ke luar disusul juga olehnya yang mematikan mesin mobil, lelaki itu juga mulai membuka pintu mobilnya dan segera menyusul langkahku. Tempat ini adalah sebuah taman kecil yang di tengah lokasinya ada air mancur, aku tidak tahu kenapa Diwa membawaku ke sini. "Silahkan duduk," ucapnya. Aku mengangguk dan segera duduk di bangku panjang bersebrangan dengan Diwa. Ia juga menghempaskan tubuh besarnya di bangku kayu berhadapan denganku, hanya terhalang meja kecil berbentuk bulat yang terbuat dari logam. Cuaca siang ini mendung, matahari betah bersembunyi hingga sinar teriknya tak tampak siang ini. Aku menghirup udara segar dan mencoba melakukan tarikan napas yang teratur, aku sedang mendinginkan perasaan, sedang berpikir positif pada Diwa yang tengah menatapku dengan wajah serius. Wait, lelaki itu kini bukan hanya menatapku tetapi ia memindai wajahku. Ada apa? sesuatu hal buruk sedang kurasakan saat ini. "Nona Lara, benarkah nama anda Lara?" tanya Diwa seraya masih tetap menatapku tanpa berkedip. "Ya," jawabku. Lelaki itu tersenyum aneh sekilas. "Aku membawamu ke mari, maaf sebelumnya. Seharusnya ini kulakukan di kantor tetapi karena suatu hal jadi aku memilih tempat ini untuk mendapatkan informasi darimu. Berterus terang lah atas pertanyaan-pertanyaan yang akan kuajukan terhadapmu, Nona." Nada suara Diwa terdengar tegas. Dadaku semakin berdebar dan bisa kurasakan telapak tangan ini sudah berubah suhunya menjadi dingin. "Karena anda seorang polisi, dan mungkin kini akan menginterogasi tentangku maka silahkan lakukan tugas anda, Tuan Diwa," ujarku. Entah punya keberanian dari mana sehingga aku bisa mengutarakan kalimat itu dengan tenangnya. "Baiklah, akan aku mulai lagi dari sekarang. Pertanyaannya sejak kapan anda tinggal di pulau ini?" "Baru beberapa bulan, mungkin lebih tepatnya tiga bulan yang lalu." "Sebelumnya anda berasal dari mana dan akhirnya berada di sini untuk tujuan apa?" "Aku dari Jakarta dan memutuskan ke sini karena suatu hal." "Bisa kah disebutkan lebih rinci alasannya?" "Aku melarikan diri agar selamat dari penganiayaan yang kerap aku terima berkali-kali dari sosok yang seharusnya melindungi." "Tidakkah anda sedang memutar balikkan fakta?" "Tidak, aku sedang berbicara dengan hal yang sebenarnya." Mendengar kalimat yang terlontar dari mulutku, mata Diwa menyipit. Mungkin ia tengah mempertimbangkan kalimat yang barusan kuucapkan. "Nona Lara, anda tentu tahu bahwa saya seorang polisi. Banyak menerima laporan juga harus melakukan penyelidikan. Pertama kali bertemu denganmu saat Willan memintaku malam itu menjemput kalian, aku merasakan sesuatu terhadapmu. Seperti pernah melihatmu dalam sebuah foto yang bertuliskan seorang buronan. Tetapi malam itu aku tidak mau terburu-buru menyimpulkan. Beberapa hari setelahnya aku memperhatikanmu diam-diam sambil mengamati sebuah foto yang terpajang di kantor kepolisian. Lalu aku seperti menemukan titik terang dan jika akhirnya hari ini aku menemuimu itu artinya aku tidak salah orang. Aku yakin anda tahu maksud dari perkataanku," tutur Diwa panjang lebar. Penjelasannya membuatku terlempar pada jurang kenyataan bahwa aku sudah ditemukan, atau lebih tepatnya jika Diwa akan menangkapku sebagai buronan maka selesai lah penyamaranku sekarang. "Ya, saya mengerti," jawabku kemudian. "Tapi saya butuh menginterogasi anda lebih dari ini." "Apakah itu artinya anda akan menangkapku Tuan Diwa?" "Tenang saja, kita bisa bicarakan hal ini baik-baik. Jangan takut dulu, karena semuanya belum jelas." Jangan takut katanya, tapi sungguh rasa itu kian meraja dalam d**a dan pikiranku. Aku harus bagaimana? Tiba-tiba terdengar ponsel Diwa berbunyi. Ia mengangkatnya dan mulai berbicara. Hanya sebentar, setelah itu ia menutup pembicaraan dan memasukkan kembali benda pipih itu ke dalam saku kemejanya. "Nona Lara, pertanyaan dariku mungkin harus tertunda dulu. Ada suatu hal penting yang harus kuselesaikan sekarang juga. Beberapa hari lagi aku akan kembali menemuimu. Jangan takut, Nona. Aku sahabatnya Will teman dekatmu. Tugasku memang seorang polisi tetapi untuk menetapkan seseorang sebagai tersangka itu perlu pembuktian yang akurat. Jika anda memang sebagai korban, aku akan berusaha membantu mencari penyelesaiannya. Sekian dulu dan mari saya antarkan Nona Lara ke tempat semula. Maaf karena telah mengganggu waktunya." "Tidak apa-apa," jawabku. Kemudian memilih mengikuti langkah Diwa dari belakang menuju ke mobilnya. Aku di turunkan di depan toko Bu Salma oleh Tuan Diwa, lelaki itu pamit dengan sopan sebelum pergi.Mobilnya sudah menjauh dan kini tinggallah aku yang mematung di depan toko Bu Salma. Aku tidak ingin melanjutkan bekerja. Sudah kuputuskan untuk pergi saja dari pulau ini. **** Aku sudah sampai di dermaga teluk, menunggu kapal penumpang datang sebentar lagi. Detik-detik yang sangat menyesalkan untukku sebenernya adalah harus meninggalkan pulau ini dan juga harus terpisah dari Aira, Willan, Bu Salma dan juga Miko. Aku tidak tahu akan pergi ke mana setelah ini, sebab di sini merasa sudah tidak aman untuk ditinggali. Diwa mungkin saja akan secepatnya mengenaliku lalu menangkapku sebagai buronan, meskipun dia bilangnya tadi cuma menginterogasi. Aku tetap ketakutan. Ah ya ampun betapa hidup menjadi tidak mudah bagiku untuk sebuah kebebasan padahal ini semua bukan salahku. Akulah korban tetapi mengapa malah dituduh menjadi tersangka, betapa bagiku Danil teramat kejam. Lelaki itu selalu membuatku kesusahan. Dari jauh terlihat kapal penumpang sebentar lagi akan sampai ke dermaga, aku bersiap mengenakan masker agar tak ada orang yang mengenali, bisa saja ada satu dua orang suruhan suruhan Danil dalam kapal itu dan aku harus tetap waspada. Tak berselang lama kemudian kapal itu telah sampai di dermaga. Aku segera melangkah menuju kapal saat terlihat semua penumpang yang baru datang itu telah keluar. "Lara." Sebuah panggilan itu menghentikan langkahku. Aku tahu siapa yang barusan datang menemui ku saat ini, Will ya itu adalah Willan. Dadaku sesak menahan haru karena tak menyangka dia akan ke sini menemuiku. Dari mana dia tahu kalau sekarang aku ada di sini? Ah ya ampun aku bahkan lupa tadi sempat menghubunginya. Mungkinkah Willan menemuiku untuk ucapan selamat tinggal dan salam perpisahan? Aku berbalik dan sosok tinggi itu sudah berada tepat di belakangku. "Will." "Jadi kamu tetap akan pergi?" tanyanya dengan suara parau. "Aku tidak punya pilihan lagi, Will. Sebelum mereka menangkapku maka aku harus menyelamatkan diri." "Percayalah, Ra, bahwa mereka tidak akan menangkapmu, jangan takut hanya Diwa menemui dan bertanya padamu." "Bagaimana kau bisa meyakinkanku seperti itu, Will? Sedangkan di beberapa tempat foto-fotoku tersebar sebagai buronan," ucapku emosional hingga tak terasa dua titik bening terjatuh dari sudut mata. "Percaya padaku, kita berjuang bersama menghadapi masalah ini." "Tenanglah, Ra," ucapnya lagi, ia mulai mendekat hingga akhirnya lelaki beraroma Citrus itu menarikku ke dalam dekapannya. "Kamu tidak bersalah, Ra. Kamu itu korban yang seharusnya dilindungi," ucapnya lagi. "Tetapi aku terlanjur ketakutan, Will." "Tenanglah, Ra. Aku akan memikirkan bagaimana caranya agar kamu terhindar dari tuduhan keji yang dilayangkan oleh Danil. Tetaplah di pulau ini. Aku berjanji akan membantumu. Kamu percaya aku, kan?" tanya Will dengan wajah serius. "Aku percaya, Will, tetapi untuk saat ini aku harus menyelamatkan diri sebelum orang-orang itu menangkapku." "Tidak akan ada orang-orang yang menangkap kamu. Bahkan jika itu Diwa, percayalah bahwa dia tidak akan berbuat seperti itu." "Apa jaminannya, Will?" Lelaki itu terdiam dan tak mampu menjawab. Jujur saja aku masih merasakan tidak tenang. "Jangan menanyakan tentang jaminan, kita hadapi bersama dan aku selalu ada untukmu. Ini tidak rumit sebenernya cuma pikiranmu saja yang terlanjur berprasangka. Kamu harus tenang, setelah tenang maka pikiranmu akan bisa berpikir jernih dan positif."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN