Gerimis turun dari pagi, cuaca menjadi sangat dingin dan membuat gigil di tubuhku nyaris beku. Bukan, bukan hanya tubuhku yang menggigil tetapi juga hati. Apa yang harus kulakukan kini? Sejak Diwa tahu posisiku, impian untuk hidup tenang di pulau ini menjadi habis terkikis begitu saja.
"Apa yang harus kulakukan?" lirihku lagi. Aku ingin menangis tetapi air mataku serasa sudah kering.
Meskipun Willan berhasil membujukku kemarin agar tidak pergi, namun tetap saja aku akan pergi saat sudah merasa tidak nyaman di sini. Ya, memang sebaiknya harys seperti itu.
Tempat ini, rumah sewa yang kutinggali juga lokasi kutempati ini yang katanya terisolir justeru membuatku nyaman. Namun kini semua terasa berbeda. Mungkin sebentar lagi aku akan meninggalkan rumah dan pulau indah ini. Tentu saja untuk menyelamatkan diri, oh ayolah aku ini korban kenapa mesti terus berlari dari satu tempat ke tempat lain seperti buronanan. Ini semua ulah Danil, dia sengaja menyebar foto-fotoku dengan status buronan itu agar dia lebih mudah untuk menemukanku. Sial.
Setetes air mata terjatuh dari sudut netra, aku segera menghapusnya perlahan, bersamaan dengan itu aku mendengar suara pintu diketuk, seseorang berkali-kali memanggil namaku dari arah pintu depan. Itu suara Kania. Aku segera membukakan pintu dan benar saja perempuan cantik berlesung pipi itu sudah berdiri di depan, baju kurungnya terlihat sedikit basah dan rambut blondenya juga basah. Ia tersenyum ke arahku, ya Kania sosok yang murah senyum dan berwajah ramah. Ia sosok baik dan aku bersyukur karena Tuhan mengirimnya untuk menjadi temanku, teman yang sering membantu saat aku dalam kesusahan. Masih terbayang di ingatan bagaimana waktu itu Kania begitu baik mencarikan tempat tinggal tang kini kutempati bahkan ia yang membawa sewanya di bulan pertama aku menempati.
"Ayo masuk Kania," ucapku mempersilahkannya. Ia segera melangkah ke dalam dan aku langsung menutup pintunya. Sementara Kania terduduk di kursi kayu, aku bergegas masuk ke kamar untuk mengambilkan handuk bersih dari loker lalu segera memberikan handuk itu pada perempuan yang kini duduk berhadapan denganku.
"Keringkan dulu rambutmu, Kania. Akan kubuatkan teh hangat."
"Terima kasih, Lara," ucapnya seraya mulai mengeringkan rambut dengan handuk yang tadi kukasihkan.
"Dari mana sampai kehujanan seperti ini?"
"Aku sengaja ke sini dari rumah, karena tidak punya payung jadi terpaksa hujan-hujanan," jawabnya.
"Aku ke belakang dulu, ya," ucapku pada Kania, perempuan itu mengangguk.
Tiga menit kemudian aku membawakan dua cangkir teh dan stoples kue kering rasa almond. Meletakkan teh dan toples kue di meja dan mempersilahkan Kania mencicipinya. Perempuan itu meraih gelas teh dan mulai meneguknya perlahan. Aku juga melakukan hal yang sama, menikmati secangkir teh tetapi bedanya pikiranku kalut dengan hati yang menangis diam-diam meratapi kenyataan bahwa mungkin sebentar lagi aku akan pindah pulau, meninggalkan tempat ini rasanya berat sekali. Tentu saja karena di sini ada orang-orang baik yang telah menerima kehadiranku dengan baik pula.
Kania, Willan, Bu Salma, Aira dan juga Miko. Mereka adalah orang-orang berjasa untukku selama ini. Aku belum bisa membalas kebaikkannya saat ini.
"Apa kamu sedang ada masalah?" Pertanyaan Kania membuatku tersentak dari lamunan.
"Ya."
"Seseorang telah mengetahui penyamaranmu?"
"Dari mana kamu tahu semuanya, Kania? Aku bahkan belum menceritakan semuanya padamu."
"Kalau kamu tidak keberatan, maka ceritalah padaku, Ra," ucap Kania menatapku. Ia mulai meraih gelas tehnya dan kembali meneguk cairan hangat itu.
Aku menghela napas berat. Ya rasanya sangat berat untuk kembali menceritakan kisah ini. Kisah masa lalu, tetapi tidak, aku hanya akan menceritakan poin pentingnya saja pada Kania, toh untuk menghemat waktu juga agar aku bisa secepatnya pergi dari sini.
"Aku datang ke sini karena suatu hal, untuk melarikan diri lebih tepatnya untuk bisa menjaga diri dari kekerasan yang kerap kuterima dari seorang suami. Namun malangnya suamiku malah menyebar luaskan fotoku sebagai buronan. Aku yang jadi korban malah dicap dan diburu sebagai buronan," tuturku. Tak terasa air mata menitik dan jatuh tak terasa.
Kania mendekat dan ia mulai mendekapku, memberi tepukan lembut di punggung untuk menenangkan.
"Jangan terus bersedih, Ra. Pasti ada jalan keluarnya."
"Diwa, anggota kepolisian telah menemukan dan tahu tentangku. Mereka semua mungkin akan menangkapku, dan aku takut Danil akan membawaku kembali ke rumah. Aku tidak mau kembali ke lingkaran mengerikan itu."
"Apa yang bisa aku bantu untukmu, Ra?"
Aku menggeleng, tentu saja aku harus mengatasi semua ini sendiri.
"Tidak, Kania. Terima kasih karena sudah banyak membantuku selama ini. Itu sudah lebih dari cukup ."
"Lalu apa yang akan kamu lakukan, Ra?"
Aku terdiam sejenak, melepaskan diri dari rengkuhan Kania dan segera mengusap jejak air mata yang tadi luruh di pipi, mencoba menguatkan diri mencoba menegarkan hati bahwa aku harus bisa melewati semua ini.
"Aku akan pergi dari sini, Kania."
"Bisa kah untuk tetap tinggal?"
"Aku tidak mau orang-orang itu menangkapku, jadi tidak ada jalan lain kecuali aku yang menghindar."
"Ra, aku akan sedih jika kamu pergi, jika ada yang bisa kulakukan untukmu bisa tetap bertahan di sini. Maka akan kulakukan untukmu, Ra."
"Terima kasih, Kania. Aku tak akan melupakan kebaikanmu."
"Kapan kamu berencana untuk pergi?"
"Secepatnya."
****
Aku menemui Willan dan berterus terang padanya bahwa aku akan pergi saja. Namun lelaki itu melarangku untuk yang kesekian kali.
"Sudah aku katakan berulang, tetap di sini, Ra. Bahkan jika kamu keluar dari pulau ini, bisa saja di jalan Danil menemukanmu. Dia bisa dengan mudah menyakitimu lagi."
"Apa kau sedang menakutiku Will?"
"Tidak, aku sedang berbicara yang sebenarnya agar pikiranmu terbuka dan tidak terus terkungkung oleh rasa takut yang berlebihan," tegasnya.
Aku menatap tajam pada lelaki itu, dia seenaknya bilang begitu, padahal Willan tidak tahu bagaimana sulitnya ada di posisiku ini. Aku mencangking tas besar yang berisi bajuku dan mulai berjalan ke arah pintu ke luar rumahnya.
"Lara dengarkan aku dan jangan pergi," teriakan Will menggema di ruangan.
Aku melihat Miko dan Aira menatapku dengan pandangan bertanya-tanya.
"Lara," panggil Willan untuk yang kedua kali. Aku tetap tidak menggubrisnya.
"Jangan pergi, Mbak Lara. Jangan ...." Aira terisak lirih di pelukanku, tubuh mungil itu terguncang menahan isak. aku semakin iba melihatnya.
"Nanti kita akan berjumpa lagi, Sayang." Aku berusaha menenangkan gadis berbaju marun itu.
"Jangan pergi, Mbak," lirihnya lagi.
Aku tidak tahu harus jawab apa, sebab pada kenyataannya aku memang akan benar-benar pergi dan entah kapan akan kembali ke pulau ini. Pedih di hati kini terasa menjalar ke setiap lapisan sanubari. Melihat Aira terus-menerus menangis seperti ini membuatku merasa serba salah.
"Aira Sayang, percayalah bahwa Mbak Lara tidak akan pergi." Willan yang sejak tadi hanya terdiam menyaksikan kami kini ikut menimpali. Hanya saja aku kaget dengan kalimat yang diucapkannya barusan. Bagaimana dia bisa berkata se-yakin itu sedangkan dia tahu bahwa aku telah memutuskan untuk pergi saat ini. Aku menatap tajam ke arah lelaki tinggi itu.
"Will, jangan membohongi Aira seperti itu. Aku tidak suka. Dia akan semakin sedih saat aku benar-benar meninggalkan tempat ini."
"Percayalah kamu tidak akan pergi dari sini, aku akan mengusahakan itu."
"Tidak Will, percuma," bantahku.
"Kamu tidak akan pergi dan tetap tinggal di sini." Lagi-lagi Willan bersikeras.
"Berhentilah untuk omong kosongmu itu, Will."
"Akan aku buktikan secepatnya, tetaplah di sini sebelum aku kembali." Setelah Mengatakan itu Willan pergi. Aku bahkan tidak tahu dia akan pergi ke mana.
Aku terus memeluk Aira dan berusaha menenangkannya, dari arah kamar terlihat Miko berjalan ke arah kami. Tanpa terduga anak lelaki bertubuh gempal itu kini menubruk tubuhku dalam posisi memeluk. Aku bahkan tidak menyangka jika Miko akan memelukku seerat ini karena sebelumnya bocah itu selalu menunjukkan sikap tidak sukanya terhadapku, selama ini seberapa pun aku berusaha mendekatinya dia tetap menjaga jarak seolah tidak ingin dekat-dekat denganku. Tetapi kini? Dia malah memelukku begitu erat. Rasa haru di dadaku kini terasa sangat menyeruak.
Aku ingin pergi tetapi bagaimana caranya? Willan sudah lebih mendahului, apa yang bisa kulakukan selain menunggunya? Tidak mungkin juga aku meninggalkan Aira dan Miko.
Aku kembali menatap mereka bergantian, mereka menangis dan membuatku semakin pilu. Entah mengapa aku seperti memiliki ikatan batin dengan Miko dan juga Aira. Keduanya adalah sosok yang membuatku sangat berat untuk memutuskan pergi.
"Mbak Lara mau pergi gara-gara Miko ya?" Anak lelaki itu terisak di pangkuanku.
"Tidak, Sayang. Mbak Lara pergi bukan gara-gara Miko. Ada hal penting yang harus Mbak hadapi."
"Pokoknya Mbak Lara nggak boleh pergi." Kali ini Aira yang merengek sambil memelukku.
"Tenang ya, Sayang. Jangan menangis."
Aku mendekap keduanya dalam pelukan. Mereka sudah seperti anakku. Jadi rasanya begitu berat untuk meninggalkannya. Aku tetap harus menunggu Willan sampai dia datang.
***
To be continue