Malamnya Will pulang terlihat lelah. Dia membawa kabar yang membuatku lega. Bahwa nanti aku harus menjalani beberapa pertanyaan dulu di kantor dengan Diwa, namun kasus ini sudah ada jalan keluarnya. Diwa hanya butuh informasi lebih lanjut untuk mempertegas bukti-bukti yang harus dikumpulkan karena memang aku tidak bersalah. Begitu keterangan yang Willan utarakan.
"Jadi ternyata kamu menemui Diwa tadi?"
"Ya, itu jalan satu-satunya agar kamu merasa lebih tenang."
"Terima kasih ya, Will."
"Aku mohon jangan panik lagi ya. Aku janji untuk selalu membantumu, percayalah itu, Ra."
"Ya, aku percaya."
"Anak-anak di mana, apa mereka sudah tertidur?"
"Ya, mereka sudah tidur. Kamu terlihat lelah, Will. Istirahatlah." Aku memberi saran.
"Aku akan mandi dulu setelah itu baru tidur."
"Kalau begitu aku akan pulang."
"Hei ... pulang ke mana, Ra? Tetaplah di sini."
"Aku tidak mungkin menginap di sini, Will."
"Oke, kalau tidak mau nginap, setidaknya tunggu aku sampai beres mandi lalu aku akan mengantarmu."
"Baiklah."
Lelaki itu segera pergi dari hadapanku.
Meskipun aku tahu Willan akan bolak balik menemui Diwa untuk membantu masalah ini, tatapi aku tahu masih banyak hal yang nanti harus kuselesaikan di kantor. Namun aku sudah bisa lebih tenang daripada sebelumnya, karena Will nyatanya selalu ada untuk membantuku.
***
Dua hari berlalu begitu cepat.
Hari ini semoga menjadi pertanda baik. Will tadi menelponku agar sore ini segera bersiap karena aku dipanggil Diwa ke kantor untuk menyelesaikan semuanya.
Sebenarnya aku sudah bersiap dari tadi, tinggal menunggu Will yang mungkin beberapa menit lagi akan sampai.
Benar saja lelaki itu datang dengan mobil Dove miliknya. Ia turun dengan wajah semringah dan langsung membukakan pintu mobil untukku. Sebelum ke kantor Will bilang akan ke rumahnya terlebih dahulu karena ada sesuatu yang tertinggal.
Sampai di rumah Will aku disambut hangat oleh Aira dan juga Miko. Dua anak itu sangat ceria bahkan terus saja mengajakku berbicara.
"Aira, Miko, kalian tetap di rumah ya, Papa mau antar Mbak Lara dulu." Willan berbicara pada kedua anaknya yang masih duduk menggelendotiku.
"Apa Mbak Lara akan pergi jauh seperti kemarin itu? Membawa tas?" Aira bertanya dengan tatapan menyeledik. Aku tersenyum dibuatnya.
"Pokoknya Mbak Lara nggak boleh pergi," ucap Miko.
Menyaksikan Aira dan Miko bersikap demikian, Willan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Kedua anak itu mungkin pahamnya aku akan diantar pergi oleh papahnya ke suatu tempat dan mungkin tidak akan kembali. Padahal sudah kujelaskan pada mereka dengan bahasa yang mudah dipahami bahwa aku hanya pergi sebentar saja dan secepatnya akan kembali.
"Mbak Lara harus janji bahwa perginya hanya sebentar, harus kembali ke rumah ini lagi." Aira merengek seraya memeluk lenganku.
"Iya, Sayang Mbak Lara pasti akan kembali lagi, tenanglah."
"Mbak Lara nggak bohong kan?" Kali ini Miko yang bertanya.
"Enggak sayang. Mbak Lara janji akan pulang secepatnya kalau masalahnya sudah clear."
Aku melihat Willan berjalan ke luar, lelaki itu langsung memanggilku dan menyuruh kedua anaknya untuk masuk ke dalam rumah dan tidak membuka pintu sebelum kami kembali. Aira dan Miko menuruti perintah papanya. Mereka berdua masuk ke dalam dan langsung mengunci pintu, sedangkan aku mulai melangkah menuju mobil. Segera pergi ke tempat tujuan setelah Will mengingatkan agar aku memakai seatbelt dengan benar.
*****
Ruangan ini cukup bersih sebenernya tetapi lagi-lagi dadaku berdebar lebih cepat karena menahan rasa takut. Entah ini takut karena trauma atau takut karena bisa jadi Diwa akan menangkapku sebagai tersangka. Ah ya ampun lucu sekali dunia. Ya rasanya sangat lucu dan miris. Aku yang jadi korban tetapi malah dituduh dan dicap sebagai buronan yang harus ditangkap dan dipenjarakan, ini tidak adil. Aku ingat sebelum masuk ke ruangan ini sempat merasa takut tetapi untungnya Will selalu mensuport dan menguatkan. Teringat percakapan tadi bersama Willan saat akan masuk menemui Diwa di ruangan berukuran 6×6 meter persegi ini.
"Jangan tegang, Ra. Percayalah kamu akan baik-baik saja. Hanya ada Diwa di tempat ini, yang lain sudah pulang dan sedang tidak bertugas di kantor polisi ini." Willan mencoba memberiku pengertian. Ya aku tahu itu, tetapi tetap saja rasanya begitu menakutkan untukku.
"Aku takut Will," ucapku dengan suara bergetar. "Bisa saja Diwa menangkapku dan langsung melaporkan pada Danil."
"Sudah kubilang tidak akan terjadi hal seperti itu. Diwa sahabatku, aku tahu karakternya sejak dulu. Dia baik dan satu lagi, dia tidak akan menangkapmu. Sudah kubahas ini dengannya terlebih dahulu. Kedatangan kita ke sini adalah untuk menunjukkan bukti, bukti bahwa kamu tidak bersalah. Seseorang yang tidak bersalah seharusnya jangan merasa ketakutan. Tenanglah."
Aku dan Will berjalan bersisian dengan saling berpegangan tangan menuju ke ruangan Diwa. Namun sebelum sampai ke sana aku memilih menghentikan langkah sejenak.
"Apa kamu yakin hanya dengan foto itu bisa kita ajukan sebagai bukti yang akurat?" tanyaku gelisah, jujur saja seberapa kali pun Will menyuruhku untuk tenang tetapi nyatanya aku tidak bisa tenang semudah itu.
"Lara dengar aku. Aku memang tidak bisa menjamin foto ini akan bisa menjadi bukti yang akurat, tetapi setidaknya kita harus mencoba terlebih dahulu agar tahu hasilnya menurut pandangan Diwa."
"Baiklah," jawabku kemudian. Mencoba bersikap baik-baik saja ternyata tidak mudah karena kini telapak tanganku rasanya sedingin es.
"Diwa tidak akan menangkapmu. Kita ke sini hanya untuk berkonsultasi, ya anggap saja seperti itu. Tanganmu dingin sekali, coba tarik napas dan hembuskan perlahan untuk menetralisir rasa takutmu yang berlebihan itu." Willan menepuk lembut pundakku. Mungkin ia berusaha menguatkan. Aku mulai menarik napas seperti yang tadi disarankannya, kini merasa sudah sedikit rileks.
"Ada aku di sini, menemanimu Lara. Percayalah padaku."
"Ya, aku percaya padamu Will."
"Bagus. Bagaimana kalau kita masuk dan menemui Diwa sekarang?"
"Baiklah," putusku kemudian.
Dan kini, tepat di hadapanku sosok Diwa duduk bersebrangan. Mata berwarna coklat itu menelisikku dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Membuatku bingung dan mengernyitkan dahi karena tidak mengerti. Lelaki berambut cepak itu kini memandang layar laptopnya, sebentar melihat layar dan sebentar menatap wajahku, dia seperti sedang memindai diriku dan membandingkan sesuatu di layar laptopnya.
"Sebelum datang ke pulau ini kamu sengaja mengubah penampilan agar tidak dikenali." Perkataan Diwa sangat menohok dan tentu saja apa yang barusan diucapkannya itu benar.
"Maksudmu apa Diwa?" tanya Will mulai angkat bicara setelah tadi memilih diam dan hanya menyimak.
"Lara memotong dan mewarnai rambutnya, mengubah penampilan drastis agar tidak dikenali sebagai Laysa."
"Ya, semua itu benar. Aku sengaja melakukan hal itu untuk menghindari orang-orang suruhannya Danil yang dikirim untuk mencariku," potongku cepat.
"Baiklah Nona Laysa, tetapi aku sedang mempertimbangkan apa yang semestinya harus kulakukan."
"Tidak Diwa, aku ingin menunjukkan ini padamu sebagai bukti bahwa Lara bukan tersangka yang berstatus buronan atas tuduhan mantan suaminya. Dia justeru korban kekerasan dalam rumah tangga. Kamu bisa lihat ini?" Willan menunjukkan foto yang muncul di layar ponselnya ke arah Diwa.
"Kapan foto itu diambil?" tanya Diwa setelah beberapa detik melihat dengan seksama ke layar ponsel.
"Kira-kira tiga bulan yang lalu saat pertama kali Lara tiba dan menginjakkan kaki di pulau ini."
"Aku perlu menyelidikinya lebih lanjut, Will. Tetapi kamu tidak usah mengkhawatirkannya karena aku juga berusaha untuk membantu Nona Laysa dari jerat hukum yang dituduhkan."
Mendengar Diwa mengatakan hal itu rasanya beban di dadaku sedikit berkurang, setidaknya aku punya harapan untuk terbebas dari status buronan. Setidaknya aku percaya pada Diwa bahwa lelaki ini memang mau membantu aku agar keluar dari tuduhan yang dilayangkan oleh Danil.
"Apakah harus selesai malam ini?" tanya Willan lagi.
"Tidak Will, membutuhkan beberapa hari untuk bisa membuktikan bahwa dia bisa dibersihkan dari tuduhan itu. Aku juga sedang mengusahakannya dan yakinlah bahwa ini akan berhasil. Sekali lagi kita butuh penelitian lanjutan untuk bisa menyimpulkan kasus ini akan berlanjut seperti apa, semoga saja cepat bisa diselesaikan. Berdoalah yang banyak, tetap optimis. Jangan takut karena ini bukan masalah besar. Kalian bisa pulang dulu sekarang, nanti saat ada info lebih lanjut aku akan menghubungi kalian lagi."
"Baiklah kalau gitu aku dan Lara pulang." Willan mulai beranjak dari kursi tempat duduknya tadi, aku juga mulai berdiri mengikutinya.
"Hati-hati di jalan," ucap Diwa. Aku mengangguk sebagai tanda pamit kemudian berlalu meninggalkan ruangan, sedangkan kulihat Will dan Diwa sedang berbisik pelan, tidak lama karena kemudian langkah Willan menyusulku.
"Apa yang kalian bicarakan dengan berbisik seperti tadi, hah?" tanyaku pura-pura marah pada Willan.
"Diwa bilang kamu cantik." Willan tertawa kecil.
Astaga jawaban macam apa itu?
"Jangan ngaco deh Will. Ayo katakan kalian ngomongin apa."
"Sudah lah Ra, jangan tegang terus. Kita juga harus bercanda agar lebih rileks kan. Apa lagi akhir-akhir ini kamu sering ketakutan. Jadi sekarang tolong bawa santai aja. Tadi Diwa bilang akan secepatnya menyelesaikan masalah ini."
"Alhamdulillah syukurlah kalau begitu aku sangat senang mendengarnya Will."
"Kita pulang dekat ya, Air dan Miko pasti menunggu di rumah."
Will mulai berjalan ke arah parkiran mobil.
"Tapi sebelum pulang ke rumahmu, sebaiknya antarkan aku dulu pulang ke tempatku."
"Oke siap."
Mobil yang kami tumpangi akhirnya meluncur meninggalkan kantor polisi. Malam ini aku mulai tenang dan rasanya bisa terlelap tidur tanpa mimpi-mimpi buruk. Semoga ke depannya hidupku lebih baik.
***