Bangkit

1083 Kata
Yang aku tahu hari ini adalah hari di mana aku merasa lebih baik dari kemarin. Aku sudah mulai bisa bernapas lega tanpa ketakutan-ketakutan yang selalu menghantui, berkat Willan dan juga Diwa akhirnya aku bisa bebas dari status buronan. Setidaknya di pulau ini aku menjadi lebih percaya diri lagi. "Aku tak menyangka jika akhirnya Diwa bisa membantu menangani kasus ini, dan sungguh rasanya bagiku ini sebuah anugerah, Will." Aku mengungkapkan kebahagiaanku. Willan tersenyum seraya mengusap kepalaku dengan lembut. "Bukan kah sudah kubilang bahwa kita harus yakin setiap masalah ada jalan keluarnya yang penting kita harus bisa bersabar." "Aku berharap Danil tak akan bisa menemukan keberadaanku di sini." "Jika pun akhirnya menemukanmu, tak apa Ra, jamu jangan takut. Dia tidak akan menyakitimu lagi." "Kamu tidak tahu, Will, bagaimana sikap Danil yang temperamen itu. Dia akan selalu melakukan berbagai cara untuk bisa memenuhi keinginannya. Bahkan ia tak pernah segan untuk menyakiti siapa saja demi mencapai keinginannya," jelasku. "Lara, mungkin sebenarnya dia masih mencintaimu tetapi caranya yang salah. Dia menggunakan apa pun dengan kekerasan. Aku ingin bertanya satu hal padamu, boleh?" Pertanyaan Will kali ini membuatku mengernyitkan dahi karena tak mengerti. "Tanyakan saja, kamu boleh dan bebas bertanya apa pun terhadapku." "Seandainya Danil menemuimu tapi dia sudah berubah menjadi lebih baik ...." "Maksudmu tidak lagi temperamen gitu?" Aku memotong kalimat Willan. "Ya, seandainya Danil sudah berubah dan menjadi baik, lalu dia memohon agar kamu kembali padanya lagi. Apa kamu mau menerimanya?" "Astaga, apa yang kau tanyakan itu Will? Tentu saja aku tidak akan menerima. Aku tidak mau jatuh untuk kedua kalinya di lubang yang sama. Meski dia berubah menjadi malaikat sekali pun, aku tetap tidak akan kembali padanya," tegasku dengan mantap. Karena bagiku sudah tidak ada kesempatan lagi untuk lelaki yang sudah begitu dalam menyakitiku. "Lalu kau akan terus memilih sendirian sampai tua nanti?" tanya Willan seraya mengangkat kedua alisnya. "Bisa jadi." "Astaga kamu tak ubahnya seperti orang yang sudah putus asa." "Tidak Will, aku tidak putus asa. Hanya saja aku masih berada dalam lingkaran trauma untuk kembali menjalin hubungan. Aku harap kamu mengerti." "Takut disakiti lagi?" Aku mengangguk. Lalu tiba-tiba kurasakan sebuah lengan menggenggam erat tanganku. "Kalau denganku, apa kau percaya?" "Maksudmu?" tanyaku tak mengerti. "Aku bertanya apa kau percaya padaku?" "Tentu saja aku percaya padamu, Will. Kamu lelaki baik dan juga sosok papah yang baik untuk Aira dan juga Miko." "Bukan itu, Ra." "Lalu apa? Jangan berteka-teki denganku Will. Aku ingin cepat pulang dan mengabarkan berita bahagia ini pada Kania, dia sahabatku dan berhak tahu apa pun tentangku. Waktu itu saat ia tahu bahwa aku akan pergi, wajahnya terlihat sedih dan ia mengatakan tidak mau kehilangan sahabat sepertiku. Padahal akulah yang tidak mau kehilangan sahabat sebaik Kania." "Kania? Kok nama sahabatmu sama dengan nama istriku ya?" tanya Will. Aku tersenyum menanggapinya. "Iya Will, mungkin kebetulan karena di dunia ini banyak sekali orang dengan nama yang sama tetapi orangnya berbeda. Kania bilang dia juga mengenalmu, Will." Lelaki yang sejak tadi berjalan beriringan di sampingku itu kini mengernyitkan dahinya lalu tertegun. Langkahnya terhenti. "Mengenaliku? Benar kah?" tanyanya seolah tak percaya dengan kalimat yang barusan kukatakan. Aku mengangguk cepat, "iya dia bilang mengenalmu dan juga mengenal Aira. Dulu katanya sempat tinggal dengan kerabatnya yang rumahnya tak jauh dari rumahmu." "Siapa? Ah entahlah setahuku tidak ada nama Kania di dekat rumahku selain Kania isteriku." "Mungkin kamu lupa, Will. Coba ingat-ingat lagi." "Entahlah Ra, karena se-ingat memang tidak ada," ucap Willan, ia mulai meraih kunci mobilnya dan mendahului langkah menuju parkiran. Aku mengekori langkahnya dari belakang dan segera naik mobil setelah Will membukakan pintunya untukku. Sepanjang jalan begitu banyak kebahagian yang kuluapkan dan Will mendengarkannya dengan sabar, ah ya ampun tentu saja dia sabar kalau tidak mana mungkin ia bisa merawat Aira dan juga Miko selama ini. Will adalah sosok ayah yang baik, ia peduli dan juga pekerja keras. Ia seperti tabanio yang sangat kokoh. Meski dihantam kesedihan dan kehilangan belahan jiwa tetapi ia mampu menunjukkan pada dunia bahwa ia bisa melewati semuanya. Dia masih bisa tersenyum dan berdiri membimbing langkahnya dan juga langkah kedua anaknya agar terus berjalan melewati masa-masa sulit, masa-masa sedih dan terpuruk saat harus terpisah dengan orang yang sangat dicinta. Tak berselang lama akhirnya Will menghentikan mobil di depan rumahku. Aku bergegas turun setelah mengucapkan berulang kali ungkapan terima kasih dan satu pelukan hangat yang spontan saja kulakukan tanpa sengaja. "Oh ya, di mana Kania sahabatmu yang sering kamu ceritakan itu, apakah dia ada di sini?" tanya Will dengan raut penasaran. "Ya, mungkin nanti orangnya akan ke sini saat dia tahu aku sudah berada di rumah." Aku mengatakan itu dengan keyakinan penuh. Will menatapku lekat. "Di mana rumahnya dia?" tanya Willan lagi. "Tidak begitu jauh dari sini. Kau lihat jalan setapak di sana?" tanyaku sambil menunjuk jalanan sedikit basah di pertigaan. "Ya," jawabnya. "Dari sana, beberapa meter setelahnya adalah rumah Kania." "Apa kamu pernah ke sana?" Aku menggeleng, tentu saja karena memang aku belum pernah ke sana selama ini. "Lantas kau kamu belum pernah ke sana, kenapa begitu sangat yakin bahwa di sana ada rumah? Astaga kamu itu Ra, ada-ada saja." Kemudian aku tertegun, memikirkan ucapan Willan kemudian membenarkannya dalam hati. Kenapa aku tidak terpikirkan selama ini untuk sekedar ingin tahu seperti apa rumah Kania, jauh atau tidak dari pertigaan itu? Ah kenapa baru terlintas dari pikiran bahwa selama ini hanya perempuan itu saja yang menyambangiku ke sini, sedangkan aku belum pernah satu kali pun bertandang ke rumahnya. "Sudah jangan banyak bengong, Lara. Nanti kalo kesambet bisa repot pula. Aku pulang dulu ya. Baik-baik di rumah ya. Jangan sering ke luar karena bagiku ini hutan, bisa saja banyak binatang buas di sekitar sini." "Stop Will, berhentilah menakut-nakuti aku seperti itu." Aku mencebik kesal. "Iya iya maaf, aku cuma becanda kok jadi jangan dimasukkin ke hati ya." Aku mengangguk. "Terima kasih ya Will, sekali lagi aku mengucapkan banyak terima kasih karena kamu telah membantuku. Aku lega sekarang, lega karena statusku bukan lagi sebagai buronan tetapi korban yang harus dilindungi." "Dan juga dinikahi," timpalnya cepat. Dia tertawa tergelak hingga susunan gigi putihnya terlihat jelas. Astaga dia masih bisa menggodaku dan tentu saja keusilannya itu membuatku menggelengkan kepala. "Sudah sudah, pulanglah Will, kamu semakin ngaco saja bicaranya. Di rumah Miko dan Aira pasti sudah menunggu papanya. Oh iya sampaikan salamku pada Aira dan juga Miko bahwa mereka tak perlu menghawatirkan aku, sampaikan bahwa aku sangat menyayangi keduanya dan besok hari akan menemuinya." "Oke siap Tuan Putri, aku pulang ya." Mobil Will mulai berjalan, aku menatapnya dari sini hingga kendaraan beroda empat itu hilang di tikungan. **** To be continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN