Aku termenung di dekat jendela kayu, menikmati pagi dengan secangkir kopi dan juga sebuah ingatan. Ingatanku yang saat ini tertuju pada Kania. Gara-gara ucapan Willan semalam aku menjadi kepikiran. Sebenernya di mana rumah Kania? Kenapa aku baru terpikirkan tentang keberadaan Kania setelah Will membahasnya semalam. Aku bukan berniat untuk suudzon, hanya saja ingin tahu lebih jelasnya, karena keberadaan Kania cukup misterius.
Namun setahuku dia perempuan baik yang telah banyak menolongku, untuk apa aku terlalu kepo dengan tempat tinggalnya? Ah sudah lah, lagian pikirku tidak mau ada salah paham dengan perempuan baik itu.
"Hai, Ra, selamat pagi." Sebuah sapaan dengan suara bariton itu sukses mengagetkanku. Kania tersenyum dengan memperlihatkan barisan giginya yang putih.
"Pagi juga Kania," jawabku sambil membalas senyumnya. Sejak kapan ada Kania di sini? Kenapa juga dia muncul tiba-tiba? Atau apa ini karena aku melamun dari tadi sehingga tak menyadari sejak kapan Kania datang.
"Aku dari tadi memanggilmu tetapi tak dijawab. Tadinya ingin ngajak joging bareng."
Berarti benar, aku yang melamun sehingga tak mendengar panggilan dari Kania.
"Maaf mungkin tadi aku sedang fokus memikirkan sesuatu," jawabku kemudian.
"Sedang banyak pikiran?"
"Enggak kok, biasa saja sih sebenarnya." Aku berkilah.
"Oh iya bagaimana dengan masalahmu, sudah selesai?" tanya Kania. Ia melirikku sekilas kemudian kembali memainkan boneka jari di tangannya.
"Sudah kok, Alhamdulillah aku merasa sangat lega."
"Syukurlah kalau begitu, aku ikut senang mendengarnya."
"Apa kau tidak ingin masuk Kania? Ada secangkir teh hangat dan juga cemilan kering." Aku menawarkan. Perempuan yang masih berdiri di depan jendelaku itu mengangguk.
"Wah boleh tuh teh hangat, pagi ini sangat dingin," ujarnya.
Aku segera membukakan pintu agar Kania lekas masuk.Kami duduk di ruang tengah sambil menikmati teh hangat dan juga nonton acara televisi.
Kami berbincang hangat sambil menikmati kue kering rasa kacang.
"Aku senang melihatmu tidak ketakutan lagi seperti kemaren." Kania berkata setelah ia meneguk teh hangat hingga tinggal setengah gelas.
"Berkat doamu juga Kania."
"Berkat pertolongan Diwa dan juga Willan kan. Mereka pantas membelamu, karena kamu orang baik."
"Aku tidak merasa baik, karena dulu aku nyaris menghilangkan nyawa seseorang."
"Pasti ada alasannya," ucap Kania cepat.
"Karena aku melakukan itu untuk membela diri."
"Tak apa, kamu berhak melawan untuk menyelamatkan diri, itu baik. Siapa yang menyakitimu hingga sedalam ini menorehkan traumanya?"
"Danil, mantan suamiku."
Kania terhenyak. Ia kemudian menepuk-nepuk lembut pundakku.
"Aku yakin kamu perempuan kuat. Jangan menyerah karena selalu ada jalan keluar dari setiap masalah."
"Udah kok, kemaren Will dan Diwa membantuku lepas dari status buronan yang dituduhkan oleh Danil. Sekarang aku lega, setidaknya kekuatanku menjadi lebih berkurang."
"Syukurlah. Oh iya hari ini kamu mau kerja?" Pertanyaan Kania membuatku melirik ke arah jam yang menempel di dinding. Jarumnya baru menunjuk ke angka 07.00 masih ada waktu setengah jam lagi untuk bersiap-siap, sebelum pergi ke toko Bu Salma.
"Aku berangkat jam delapan, masih ada waktu kok."
"Kalo gitu aku pamit pulang aja."
"Nanti lah kita bareng jalan ke depannya. Aku juga sekalian pengen tahu rumah kamu, Kania."
Aku sengaja mengatakan demikian untuk membuktikan bahwa rumah Kania memang benar di sekitar sini.
"Oke baiklah," jawab Kania enteng.
Ah pasti Willan salah duga, atas dasar apa dia menyuruhku untuk tidak gampang percaya. Padahal jelas-jelas Kania tidak terlihat keberatan sekali pun saat akau mengutarakan ingin tahu dan ingin mampir ke rumahnya. Bergegas aku pergi ke kamar untuk berganti baju dan menyisir rambut. Aku meraih blazer panjang karena cuaca dingin pagi ini rasanya menusuk hingga ke tulang. Blazer ini kugunakan untuk menghangatkan tubuh. Lima belas menit kemudian aku keluar dari kamar dan menghampiri Kania yang masih asik menonton acara televisi.
"Sudah siap?" tanyanya saat aku berdiri di ambang pintu sambil mengenakan tas.
"Sudah, ayo berangkat," ajakku.
Perempuan berambut blonde itu segera meraih remote televisi dan mematikannya. Ia beranjak dari duduknya dan membawa gelas cangkir bekas teh hangat tadi ke meja.
"Apa perlu aku cucikan dulu gelas kotornya?" tanya Kania.
"Tidak usah, Kania. Biarkan saja toh cuma ada dua gelas kok. Nanti aku yang mencucinya setelah pulang dari toko Bu Salma."
"Baiklah."
Aku dan Kania keluar dan mulai berjalan beriringan. Sampai di pertigaan itu langkahku terhenti.
"Rumahmu jauh dari sini Kania?"
Perempuan itu menghentikan langkahnya.
"Enggak kok. Cuma seratus meter kira-kira. Katanya tadi mau mampir dulu, ayok ikut denganku."
"Tapi aku cuma ingin tahu aja kok, siapa tahu nanti kalo aku ada apa-apa bisa minta tolong dan lari ke rumahmu."
"Tentu saja, Lara. Kapan pun kamu butuh aku, datanglah ke rumah. Jangan merasa sungkan," tuturnya.
Aku akhirnya mengikuti langkah Kania dari belakang. Benar saja setelah berjalan sekitar seratus meter ada sebuah rumah panggung yang bentuknya segitiga. Persis seperti rumah sewa yang kini kutinggali. Tak ada rumah lain lagi selain rumah Kania.
"Ini sudah sampai," ucap Kania. Dia duduk di tangga kayu.
"Apa di dekat ini cuma ada rumah sewaku dan rumahmu saja Kania?" tanyaku heran
"Huum. Kamu takut ya?"
Aku menggeleng cepat.
"Tidak."
"Aku nyaman tinggal di sini, hening dan sejuk. Jauh dari kebisingan."
"Kamu tinggal sendirian?" tanyaku penasaran.
"Iya, sama kayak kamu juga. Aku tinggal sendiri dan merantau ke pulau ini."
Aku mengangguk-anggukkan kepala. Mengerti dengan keadaan Kania yang sama denganku perihal kesendirian dan memilih menepi ke sini.
"Oh iya aku harus buru-buru pergi ke toko. Ini sudah jam delapan lewat, takutnya telat."
"Oke baiklah. Hati-hati di jalan ya, Ra."
***
Sesampainya di toko Bu Salma aku diberondongi oleh pertanyaan terkait peristiwa lima hari yang lalu.
"Aku lihat sendiri kamu keluar dan naik mobilnya Diwa. Sebenernya ada apa, Ra?" tanya Bu Salma yang kini duduk di kursinya.
Jujur saja aku tidak bisa bercerita tentang masalahku pada Bu Salma. Aku juga bingung harus menjelaskan apa.
"Ceritalah, aku khawatir kamu kenapa-kenapa."
"Alhamdulillah aku sudah baik-baik saja kok, Bu. Waktu itu hanya ada sedikit urusan yang harus kuselesaikan dan aku meminta tolong Pak Diwa."
"Urusan apa sebenarnya hingga melibatkanmu dengan polisi itu?"
"Selamat pagi Bu Salma, seperti biasa aku butuh airi mneral satu dus dan tisu lima pics." Willan muncul dari arah pintu masuk. Aku bersyukur dengan kedatangannya, karena itu membuatku lolos dari jawaban yang tadi ditanyakan oleh Bu Salma.
"Siap Will, aku akan ambilkan tisunya dan air mineralnya kamu aja ya yang angkat." Aku segera beranjak ke arah rak tisu dan mengambil beberapa pics untuk kemudian dibawa ke meja kasir.
"Oke, Ra, thanks ya," sahur Will seraya mengacungkan jempolnya ke arahku.
"Hai Will, bagaimana kabar Aira apa dia sudah baik-baik saja? Kemarin Bu Salma dengar Aira sedang kurang sehat ya."
"Iya Bu, tapi sekarang Aira sudah baik-baik saja."
"Syukurlah, aku senang mendengarnya," ucap Bu Salma.
"Aira kenapa Will?" tanyaku.
"Cuma batuk pilek biasa kok. Sekarang udah baik-baik aja."
"Syukurlah," gumamku lega.
Aku bergegas menghitung jumlah item dan harganya. Setelah Will membayar dia langsung pergi lagi ke arah restonya. Beberapa pembeli yang lain-lainnya berdatangan, aku disibukkan di meja kasir dan hal itu cukup melegakan ketimbang harus menjawab pertanyaan Bu Salma tadi.
Hari ini toko sangat ramai hingga aku sibuk dan tak sempat beristirahat. Sore harinya Bu Salma membawakanku beberapa makanan untuk di rumah.
"Kamu pasti sangat capek seharian ini, jadi sengaja kubelikan makanan agar nanti di rumah tidak udah masak lagi." Bu Salma menyerahkan bungkusan itu padaku.
"Wah harusnya Bu Salma gak usah repot-repot seperti ini, Bu."
"Tidak repot kok, oh iya ini isinya sate kambing dan seporsi nasi hangat. Kamu suka sate kambing kan?"
"Favorit malah," jawabku cepat. Karena memang sate kambing adalah salah satu makanan favoritku.
"Yaudah hati-hati di jalan ya, Ra. Sampai ketemu lagi besok." Bu Salma melambaikan tangannya saat aku keluar dari toko.
Saat melewati resto milik Willan aku melihat pengunjungnya masih ramai. Tidak terlihat Miko maupun Aira yang biasanya bermain di samping resto. Kemana anak itu? Apa dia di dalam?
Sebenernya aku ingin bertemu dengan mereka, tetapi tubuh lelahku rasanya ingin cepat sampai ke rumah, ingin merebahkan diri di kasur empuk. Aku segera mengendarai sepeda pemberian Willan waktu itu, langit di atas sana sudah mendung tebal, kalau tidak segera pulang sekarang maka bisa-bisa kehujanan di jalan.
Suara guruh dan halilintar mulai terdengar, entah mengapa cuaca mendung, hujan dan halilintar selalu membawa ingatanku pada luka. Baru setengah perjalan gerimis turun, aku semakin kencang mengayuh sepeda berharap cepat sampai ke rumah sewa, untuk bisa beristirahat di kasur sambil berselimut tebal karena memang cuaca begitu dingin.
***