POV Willan
Aku percayai di dunia ini semua hal yang terjadi tidak mungkin secara kebetulan. Di dunia ini selalu diciptakan hal yang berpasang-pasangan. Suka dan duka, siang dan malam, hitam dan putih, semua berpasang-pasangan. Ada dan terjadi dalam kehidupan kita.
Seperti halnya sebuah kehilangan maka pasti akan digantikan oleh hal yang baru.
Oh ya, berbicara tentang kehilangan aku pernah merasakannya. Kehilangan belahan jiwa yang sangat kucintai adalah bagian luka yang sangat terasa menyedihkan. Aku pernah terpuruk, pernah berada di titik terendah dalam hidup dan juga pernah menyalahkan garis takdir yang telah ditetapkan. Kehilangan Kania membuat duniaku kelam seketika. Kesedihan setelah kepergiannya membuatku sempat frustrasi tetapi akhirnya aku sadar jika aku tidak bangkit dan keluar dari luka-luka, jika aku tak bisa kuat menghadapi semua ini, lalu siapa yang akan menguatkan kedua buah hatiku--Miko dan Aira.
Aku juga harus bangkit untuk kembali meneruskan usaha resto, karena baru kusadari seberapa pun hidupku diselimuti gulita kesedihan, namun dunia terus berjalan, hari terus berganti dan waktu terus berlalu, tidak ada yang mau menunggu dan jika pada akhirnya aku terlihat kuat dan baik-baik saja itu karena aku tidak mau tertinggal dan hanya berdiam dalam luka-luka akibat kehilangan.
Kania memang telah tiada tetapi aku yakin cintanya akan selalu ada di hati ini sampai kapan pun. Kania memang tiada tetapi darinya masih ada dua jiwa yang harus kubahagiakan dan kujaga sebaik-baiknya. Miko dan Aira mereka juga kehilangan, mereka juga terluka, kalau bukan aku yang menguatkan dan berusaha menghiburnya, lalu siapa lagi?
Malam ini hujan turun deras, semua karyawan resto sudah pulang karena memang mereka bekerja hanya sampai jam 20.30 di resto ini. Mereka pulang sebelum hujan, sedangkan aku terpaksa menunggu hujan reda terlebih dahulu sambil menikmati alunan lagu seribu kali sayang yang dinyanyikan oleh iklim.
Tiba-tiba seorang perempuan masuk resto dengan terburu-buru, dia menghempaskan tubuhnya di bangku sembari menutup wajah dengan dua telapak tangannya, perempuan itu tergugu dengan suara pilu.
Aku yang menyaksikan ikut iba sekaligus bingung. Ya merasa bingung karena tidak tahu harus melakukan apa. Padahal tadi niatku akan menutup rolling door resto. Tetapi melihat perempuan asing ini datang dan tergugu aku mengurungkan niat.
"Menangis lah Mbak, silahkan." Akhirnya kalimat itu yang terucap dari mulutku.
Beberapa menit berlalu dan kini tangis perempuan berbaju hitam itu mulai reda.
Aku mulai bangkit dari bangku dan berniat membuatkannya sesuatu, secangkir minuman hangat kurasa lebih cocok untuknya saat ini.
"Akan kubuatkan teh manis hangat untukmu."
Mendengar ucapku perempuan itu mendongak, tatapan kami bertemu. Aku tertegun seketika saat melihat banyak luka lebam kebiruan di wajahnya, siapakah dia? mungkin kah korban pengeroyokan? hatiku terus bertanya-tanya.
"Jangan teh, kalau ada aku ingin segelas kopi. Kopi pahit ya," ujarnya dengan bibir yang bergetar.
"Baiklah, tunggu sebentar aku akan membuatkannya untukmu," jawabku kemudian.
Sambil mengaduk kopi hitam benakku terus tertuju pada perempuan berambut masai itu. Aku ingin sedikit bertanya tentangnya tetapi biarlah, aku tak berhak untuk menginterogasinya, lagi pula saat ini dia terlihat sangat terluka. Aku mencoba memahaminya dan mencoba memberi ruang agar wanita itu bisa sedikit lebih tenang.
Gelas keramik berwarna putih itu kuisi dengan dua sendok kopi, lalu segera menuangkan air mendidih ke dalamnya. Ketika kopi itu kuaduk aroma khasnya menguar di udara, memenuhi ruangan dan juga seperti aroma terapi yang menenangkan saat aroma kopi itu masuk melalui hidung.
Tidak menunggu lama lagi aku segera membawakan kopi hitam ini untuk perempuan di depan tadi. Kasihan sekali wanita itu, tubuhnya penuh luka lebam dan memar. Sebenarnya apakah yang terjadi dengan perempuan itu, kenapa rasanya hatiku tergelitik untuk mengetahuinya lebih lanjut. Melewati ruangan dapur menuju ke depan aku melangkah dengan hati-hati. Segelas kopi itu segera aku letakkan di atas meja.
Perempuan itu mendekat, ia meraih gelas kopi yang baru saja diangsurkan olehku.
"Terima kasih kopinya, Mas."
"Masih panas, Mbak, pelan-pelan," ujarku mengingatkan karena perempuan itu mulai menarik gelas kopi itu ke hadapannya. Namun ternyata apa yang kulihat berbeda, wanita itu mulai menghirup uap kopi yang mengepul itu, menghirupnya sangat dalam seolah ia menikmati dan mencoba menyembuhkan diri dengan aromanya yang bagaikan aroma terapi.
"Iya Mas," lirihnya.
Dari sini aku terus memperhatikan wanita itu. Sebenarnya sangat iba namun aku juga harus waspada. Di zaman ini banyak kasus penipuan juga kejahatan dari hal-hal tak terduga. Bisa saja seseorang yang jahat awalnya terlihat tak berdaya dan butuh pertolongan, namun akhirnya setelah ditolong maka ia akan memanfaatkan. Bagaimana dengan perempuan ini? Seharusnya aku berhati-hati untuk tetap waspada dan berjaga-jaga. Ah ... apa yang kupikirkan ini?
Tadi perempuan ini bahkan memintaku untuk menutup rolling door dengan wajah memelas, dia ketakutan dan sangat ketakutan karena seseorang. Dia meminta perlindungan dari tatap matanya yang sendu, bahkan wajahnya yang lebam itu mungkin saja akibat penganiayaan. Ya aku menyimpulkan demikian. Perempuan ini layak dilindungi.
Beberapa menit berlalu dan aku masih betah menyaksikannya, menatapnya dari tempatku secara diam-diam. Wanita yang belum kutahu siapa namanya itu terlihat kesusahan saat hendak mengangkat gelas kopi. Tangannya bergetar dan ia meringis kesakitan. Aku segera mencoba membantunya, perempuan itu mengucapkan terima kasih sekali lagi. Tatapan mata kami sempat beradu beberapa kali, selalu ia yang menunduk terlebih dahulu.
Kini ia menyesap kopinya, tangannya berada di genggaman tanganku, kami memegang gelas kopi yang sama, namun saat aku tak sengaja menemukan lebam kebiruan.
"Tanganmu juga luka, sebentar akan kuambilkan kotak obat untuk mengobatinya."
Aku bergegas ke dalam, tidak hanya mengambil kotak obat tetapi juga sebaskom kecil air hangat untuk mengompres lukanya terlebih dahulu. Perempuan itu tidak menolak saat aku mengobati lukanya, ia terlihat pasrah dengan air matanya yang terus terjatuh dan mengalir deras di pipi.
"Pelan-pelan," lirihnya saat aku mengobati bagian pergelangan tangannya yang membiru. Aku iba dan sangat prihatin melihat luka-luka itu.
Kemudian entah di menit ke berapa akhirnya perempuan itu memilih bercerita tentang apa yang baru saja di alaminya. Aku tidak menyangka jika luka di sekujur tubuhnya adalah perbuatan seseorang yang seharusnya bisa melindungi dan menjaganya tetapi malah membuat perempuan ini terluka parah. Aku bisa membaca bagaimana luka itu tak hanya menyakiti raganya tetapi juga membekas menjadi trauma bagi jiwanya. Di akhir cerita ia mengucapkan bahwa rasanya ingin bunuh diri saja, aku menyangkalnya dengan tegas bahwa seharusnya dia tidak punya pikiran sependek itu.
Kini perempuan itu terlelap dengan sedu sedan yang masih terdengar. Aku membiarkannya tertidur di resto ini. Semoga nanti saat ia terbangun besok hari, luka di hatinya berkurang. Semoga saat ia membuka mata, pikirannya menjadi lebih terbuka dan lebih luas memandang masalah dari berbagai sisi. Aku percaya dia perempuan kuat, kalau tidak kuat mana mungkin takdir mengujinya hingga seperti ini. Sendirian, terluka, ketakutan dengan luka penuh lebam. Aku yang menyaksikannya saja tak tega.
Sebelum memutuskan untuk pulang ke rumah, aku sengaja mengambil secarik kertas dan menuliskan kalimat demi kalimat di atasnya. Semoga saja narasi yang kutulis ini bisa membuat perempuan ini lebih semangat untuk menjalani hidup. Aku berharap di mana pun dia berada Tuhan selalu melindunginya. Selesai menulis, aku meletakkan kertas itu di dekatnya. Pelan-pelan aku melangkah agar tidak menimbulkan bunyi, takut mengganggu tidurnya. Usai mengunci pintu rolling door aku memutuskan keluar lewat pintu belakang.
Malam ini aku pulang dengan hati sedikit gundah, tentu saja karena perempuan itu yang datang tiba-tiba. Apakah keputusanku untuk pulang malam ini tepat? Bagaimana kalau perempuan yang tengah putus asa itu beneran akan melakukan bunuh diri? Bagaimana kalau pagi-pagi dia ditemukan tewas di dalam resto? Pasti akan membuat penduduk pulau ini gempar oleh berita viral. Aku mengusap wajah dengan kasar, entah kenapa pikiran-pikiran buruk itu bersinggahan dalam kepala.
Aku terus melangkah ke arah parkiran, memantapkan hati bahwa semuanya akan baik-baik saja termasuk perempuan tadi. Dengan motor biru yang kutunggangi ini aku meluncur pulang ke rumah.
Tepat pukul 22.15 aku sampai. Suasana rumah lengang, aku yakin Aira dan Miko sedang pulas tertidur. Memasuki rumah aku segera mengambil handuk dan langsung membersihkan diri. Usai mengerjakan salat isya, langkahku menuju ke kamar Aira dan juga Miko, mencium kening keduanya secara bergantian lalu melihat wajah pulas mereka yang terlihat nyaman. Wajah Aira turunan dari Kania, matanya, hidung bahkan bibir dan rambutnya sama persis. Ah ... andai Kania masih ada mungkin rumah ini tidak akan terasa sepi seperti yang sekarang kurasakan. Setelah kepergian Kania aku merasa hidup ini sangat hampa, tetapi aku tak boleh terlihat lemah dan terus meratapi duka kehilangan Kania karena ada dua hari yang harus kujaga dengan baik, ada dua jiwa yang harus kuperjuangkan hidupnya. Jika akhirnya aku bisa terlihat tegar seperti ini, itu karena kedua anakku. Jika aku terus terpuruk bagaimana dengan batin Aira dan Miko? mereka pasti akan lebih terluka.
Aku lekas menutupkan selimut hingga batas perut Aira, begitu juga yang kulakukan terhadap Miko. Sebelum keluar dari kamar mereka aku sempat terhenyak karena akhirnya takdir membuat kami jadi kuat dan tetap bisa menjalani hidup dengan baik-baik saja. Aku kira setelah kepergian Kania duniaku akan kiamat, tetapi nyatanya tidak. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Dunia tetap berputar dan hari terus berganti tanpa peduli dengan luka-luka yang kurasakan. Dari kejadian itu aku bisa mengambil hikmah, seberapa pun kita mencintai sejatinya hanya Tuhan yang memiliki. Semua adalah titipan. Isteri dan anak-anak juga titipan, sejatinya mereka adalah milik Tuhan.
Aku menutup pintu kamar dengan pelan.
Malam ini mataku sulit dipejamkan. Ada bayangan Kania yang menarik ingatanku ke dalam sebuah ruang yang bernama kenangan. Aku masih ingat saat pertama mengucap ijab atasnya, kami memulai kehidupan dari titik nol. Dia perempuan hebat dan kuat yang akhirnya bisa mendampingiku hingga memiliki buah hati. Perjalanan cintaku dengannya penuh rintangan dan perjuangan. Cinta kami dibangun dengan tidak mudah. Aku yang lari dari keluarga dan Kania yang tetap setia bertahan bersamaku meskipun kondisi ekonomi sangat sulit ketika itu. Aku menyadari betapa beruntungnya diri ini bisa menemukan perempuan seperti Kania dan bisa hidup bersamanya dalam mahligai rumah tangga, meskipun kini dia telah tiada tetapi aku masih bisa memeluknya dalam doa dan juga kenangan indah bersamanya.
Sebelum benar-benar terlelap aku juga sempat terpikirkan dengan perempuan yang kini tidur di resto. Semoga dia tetap baik-baik saja.
***
Esoknya aku nyaris bangun kesiangan. Aira dan Miko terus membangunkan dengan cara menggelitik bagian perut dan kaki. Dua anak itu sudah terbiasa bangun pagi, kebiasaan positif yang dulu selalu ditanamkan Kania.
"Ayo Papa bangun," rengek Aira yang kini mencubit lenganku.
"Hmmm," gumamku sambil menggeliat pelan. Tangan besarku segera meraih tubuh Aira dan memeluknya dengan erat, bocah kecil itu meronta-ronta sambil meminta tolong kakaknya.
"Semalam Papa pulang jam berapa? Kok tumben sih pulangnya malam?" tanya Miko.
"Iya biasanya kan Papa pulang senelum Aira dan Kak Miko tidur, kok Papa semalam belum pulang? Papa masih sibuk ya di resto?" Kali ini Aira yang berceloteh.
Aku mengangguk dan mengusap lembut puncak rambut Aira.
"Semalam Papa Sibu sayang, maaf ya karena Papa nggak sempet bacain dongeng buat kalian."
"Nggak papa yang penting malam nanti Papa jangan pulang telat lagi." Miko menimpali.
"Anak-anak Papa nih udahulai pinter banget. Sini peluk Nak," ucapku sambil merentangkan di tangan. Aira dan Miko berebut memelukku. Aku selalu damai dan merasa mood lebih baik saat berpelukan dengan kedua buah hatiku ini.
Setelahnya aku segera beranjak ke kamar mandi, menunaikan dua rakaat dan mencoba meluangkan waktu untuk joging bareng Miko dan Aira di halaman rumah.
"Aira ...." Sebuah panggilan dari arah jalan membuat kami sama-sama menoleh. Seorang perempuan dengan tubuh gempal sedang berjalan ke arah kami. Dia bernama Bu Salma, tetangga yang rumah ya tidak begitu jauh dari rumahku. Dia perempuan baik yang pernah membantu kehidupanku dengan Kania dulu, saat kami baru pertama kali tinggal di pulau ini.
Bu Salma sering me
beri makanan, sering membantu apa pun kesulitan kami. Dia sosok yang benar-benar baik, suka menolong tanpa pamrih. Tanpa perempuan itu aku dan Kania mungkin belum punya sebuah resto. Dia sudah kuanggap seperti ibuku sendiri. Dan mirisnya Ibuku mungkin tak sebaik Bu Salma. Kalo ibuku baik mana mungkin aku bisa terdampar di pulau yang sangat jauh ini. Tapi tidak pala, toh kehidupan dan pengalaman sepahit apa pun tetap ada pelajaran dan hikmahnya yang bisa dipetik.
"Bu Salma bawa pisang goreng lho, hayo siapa yang mau," ucap Bu Salma seraya duduk di bangku panjang di bawah pohon sawo.
"Aku mau," pekik Aira dan Miko bersamaan. Kedua anakku sudah begitu akrab dengan Bu Salma.
"Terima kasih Bu, pisangnya enak," ucapku saat mencomot dan mengunyah pisang goreng buatannya.
"Makanlah, aku sengaja menggoreng pisang banyak karena ingat Aira dan Miko suka sekali goreng pisang."
Usai joging dan makan pisang, aku segera pulang dengan anak-anak. Menyiapkan diri untuk mengantar ke sekolahan. Dan aku baru ingat bahwa di resto ada perempuan yang semalam, kira-kira dia masih di sana atau tidak ya?
***