Aira Demam

1465 Kata
POV LARA Malam ini untuk pertama kalinya aku menginap di rumah Will atas permintaan Aira. Gadis itu sedang demam dan dia susah sekali dibujuk untuk makan dan minum obat, dan Will meminta tolong agar aku mau membujuk putrinya itu. Tentu saja aku mau, sebab aku menyayangi Aira tanpa syarat dan tanpa alasan. Mendengarnya sedang tidak sakit saja membuat hatiku gundah gulana. "Bunda ...," lirih gadis kecil itu disela-sela tidurnya yang sering terbangun karena kaget. Suhunya sangat tinggi karena tadi aku baru berhasil membujuknya makan sesuap nasi, belum sempat minum obat tetapi gadis kecil ini malah tertidur lebih cepat. "Aira Sayang Bunda, Bunda pulang ya ke rumah. Bunda temenin Aira dan juga Kak Miko. Aira kangen sekali sama Bunda." Lagi-lagi Aira meracau di tengah tidur pulsanya. Gadis itu masih tidak terbangun meskipun sudah aku coba membangunkannya berulang kali. Apa yang harus kulakukan untuk Aira yang sedang mengalami demam tinggi seperti ini? Sedangkan Willan juga belum pulang, di rumah ini hanya ada Miko yang kurasa ia juga masih belum tahu apa-apa dalam mengatasi kesakitan Aira. Kemudian terlintas dalam pikiran untuk mengambil air hangat dan sehelai kain, ya aku harus segera mengompres Aira agar suhunya bisa turun. Agar ia tidak meracau karena demam yang terlalu tinggi itu. Aku segera beranjak ke dapur dan mengambil air hangat beserta kainnya, lalu kemudian melewati ruang tengah untuk kembali ke kamar. "Mbak Ra, gimana keadaan Aira?" tanya Miko dengan suara lirih. "Demamnya masih tinggi, Sayang. Kalau besok belum turun juga demamnya maka kita akan segera membawanya ke rumah sakit." Miko membuntuti dari belakang, ia juga ikut masuk ke kamar Aira lalu duduk di sofa memperhatikan aku yang kini mulai menempelkan handuk kecil yang telah dibasahi oleh air hangat itu pada kening Aira. Tubuh kecil itu menggigil dengan keringat dingin yang bercucuran dari tubuhnya. Aku mulai merasa panik dan segera mengambil alat pengukur suhu tubuh lalu meletakkan alat itu di ketiak Aira. Beberapa menit kemudian hasilnya terlihat dan membuatku tertegun, suhunya naik menjadi tiga puluh sembilan derajat. Aku melirik arloji di pergelangan tangan dan angkanya menunjuk pukul 21.00. Willan belum juga pulang dan aku tidak tahu harus bagaimana lagi selain terus mengompres kening Air dengan air hangat. “Bunda …,” lirihnya lagi dan hal itu membuatku kian iba, Miko yang dari tadi hanya diam di sofa kini mulai beranjak dan mendekati tubuh Aira yang terbaring lemah. Di usap-usapnya kening adiknya itu dengan raut penuh khawatir. “Mbak Lara, Aira panas banget Mbak,” ucap Miko seraya terus mengusap-usap kening adiknya. Aku mencoba memeluk tubuh Aira yang terlihat menggigil dan bergetar, mungkin dengan cara memeluknya aku bisa sedikit menenangkannya. Tak mengapa jika suhu panasnya mengenai kulit tubuhku, jika bisa aku rela biar aku yang menggantikan beban sakitnya. “Bunda … Aira ikut Bunda.” Aku mendengar lagi Aira mengigau dan menyebut bundanya, dan kali ini membuatku sukses menitikkan air mata. Miko juga terlihat menahan isak. Aku sudah tidak tahu harus bagaimana lagi lalu kuputuskan untuk menghubungi nomor ponsel Willan. Tak lama nada suara ponsel terhubung. “Ya Hallo,” suara Willan terdengar dari seberang. “Will, kamu di mana?” tanyaku mencoba setenang mungkin, namun nyatanya nada kepanikanku terdengar jelas. “Aira demamnya semakin tinggi, Will. Aku takut dia kenapa-kenapa.” “Obatnya sudah diminum?” “Sudah Will, tadi kupaksa untuk minum obat sebelum dia tertidur.” “Oke aku pulang sekarang, Ra. Tenanglah tidak akan terjadi apa-apa dengan Aira, cukup kompres dulu saja. Nanti kalu memang dia kejang atau step maka secepatnya kita bawa ke rumah sakit.” “Pulang sekarang, Will. Aku takut.” “Oke aku pulang,” jawab Willan dari seberang telepon dan sambungan terputus. Miko kini tak lagi menahan tangis, ia memeluk tubuh adiknya dan terus memanggil-manggil nama Aira, diguncangnya tubuh Aira pelan. “Aira bangun, ini Bang Miko, Ra. Bangun ….” Miko terus mengguncang tubuh Aira dan aku segera mengambil tindakan untuk menghentikannya. “Cukup, Sayang, Miko tenanglah Nak. Aira akan baik-baik saja.” Aku berusaha meyakinkan Miko dan beruntunglah anak itu akhirnya menurut dan memeluk tubuhku dari belakang. Aku mengusap lengannya yang menjulur ke leherku, mengucapkan kata-kata baik untuk membuatnya tak lagi panik. Aku bersholawat dan memohon pada Sang Maha untuk kesembuhan Aira dan juga agar demamnya segera turun. Tepat di saat itu aku mendengar pintu kamar dibuka dan Willan berdiri terpaku melihat ke arah kami. Detik itu juga Miko berlari menyongsong Will yang masih berdiri tak jauh dari tempatku. “Apa yang terjadi,” tanya Willan seraya menatapku dengan raut aneh. “Aira demam tinggi , Will,” jawabku cepat. “Aku melihat sebuah hubungan emosi yang sangat baik di sini, aku … benarkah apa yang kulihat tadi?” tanya Willan lagi, aku bahkan tidak mengerti dengan kalimat yang tadi diucapkan oleh Will. Kini ia memepererat pelukkannya di tubuh Miko, hanya sebentar karena setelahnya ia terduduk di sisi ranjang di sebelah Aira. Lengan besarnya perlahan menyentuh kening putrinya itu. “Tadi kamu memeriksa suhunya dengan apa?” Aku segera meraih termometer yang tadi kugunakan untuk mengukur suhu tubuh Aira, kemudian menunjukkannya pada Will. “Aku pakai termometer ini, Will.” “Lalu kamu melakukan apa lagi untuk Aira?” Pertanyaan Will membuatku bingung mencerna maksud dari pertanyaannya itu. Jelas dia tidak mempertanyakan bagaimana kondisi putrinya, tetapi dia bertanya bagaimana aku mengatasi dan memperlakukan Aira di saat kondisinya lemah. Apa maksudnya? “Aku hanya mengompresnya dengan air hangat, apakah itu berbahaya menurutmu, Will?” Lelaki di depanku menggeleng, ia masih mengelus lembut pipi Aira. “Mbak Lara juga memeluk Aira sangat lama, membacakan lagu entah apa. Mbak Lara sangat menyayangi Aira, Pah.” Kali ini Miko bersuara. Aku menutup mulut tak percaya karena tidak terduga ternyata bocah lelaki itu akan mengucapkan hal demikian. Benarkah Miko melihat ketulusan itu dariku? “Sempurna, kamu telah melakukan yang terbaik untuk Aira.” Will meraih lenganku tiba-tiba lalu mengarahkan punggung tanganku pada kening Aira. Saat merasakan suhunya sudah berubah tentu saja hal demikian membuatku sangat kaget. “Apa kau merasakan sesuatu pada tubuh Aira sekarang?” tanya Will dengan wajah serius. “Suhu tubuhnya sudah menurun, Alhamdulillah aku lega Will.” “Benarkah?” tanya Miko seraya mendekat, tangan Miko kini mulai meraba kening Aira lalu bocah sepuluh tahun itu mengangguk dengan senyumnya yang terlihat sumringah. “Benar, suhunya sudah turun,” gumam Miko. Lelaki kecil itu membaringkan tubuhnya di sebelah Aira. “Ini sudah malam, aku mengantuk dan aku ingin tidur bersama kalian, jadi ayolah kita tidur.” Ungkapan yang barusan diucapkan oleh Miko sontak saja membuatku dan Willan saling berpandangan dengan rasa canggung. Oh ayolah bagaiman bisa aku tidur dengan mereka dalam satu kamar, kalau hanya tidur dengan Aira dan Miko mungkin hal itu tidak membuatku kaget, tetapi jika harus dengan papahnya juga aku harus bagaimana? “Oke, kalau begitu ayolah tidur,” ucap Willan kemudian. Aku melotot ke arah lelaki yang kini mengedipkan sebelah matanya itu kepadaku. Astaga sempat-sempatnya lelaki itu mengedipkan mata seperti tadi terhadapku, apa maksudnya? “Mbak Lara tidur di sebelah Aira, Papah tidur di sebelahku.” Miko mengucapkan itu dengan semangat. “Ayo kita tidur dan besok kita akan lomba siapa yang bangun terlebih dahulu itu pemenangnya.” “Oh ya, kalau gitu untuk pemenangnya hadiahnya apa?” timpal Willan, tatapan mata tajamnya tak beralih dariku. “Hadiahnya nanti lah menyusul, akan kupikirkan sebuah hadiah yang menarik.” “Oke kalau begitu ayo kita tidur sekarang,” putus Willan kemudian, bahkan ia tidak meminta persetujuanku terlebih dahulu. Apa yang harus kulakukan dengan kecanggungan ini? Oh ayolah Lara ini hanya tidur bersama dengan mereka, singkirkan terlebih dahulu segala pikiran yang membuatmu tak nyaman, coba terima dan aku akan baik-baik saja, begitulah aku bersenandika dalam hati. Untunglah kasur ini cukup besar sehingga muat untuk tidur berempat. Aku mulai membaringkan tubuh di samping Aira, cukup bersyukur dalam hati karena gadis kecil ini sudah membaik dan suhunya tidak sepanas tadi. Bahkan kini Aira terlihat tertidur nyenyak dan tidak mengigau memanggil bundanya, hembusan napasnya terdengar teratur dan tubuh mungil Aira tak lagi menggigil. Aku mengusap anak rambut yang jatuh di wajah Aira, meringkuk berhadapan dengannya. Aku mencoba menarik napas dalam dan menghembuskannya secara perlahan, menarik napas lagi dan mengeluarkannya berulang-ulang untuk bisa menetralisir perasaanku yang sempat tidak karuan. Melirik sekilas ke arah Miko yang sudah terpejam lalu mencoba melirik ke arah Will yang juga sudah terdengar dengkur halusnya. Mereka cepat sekali terlelap dan terlihat pulas, kenapa aku tidak? Kenapa mata ini terasa sulit untuk bisa dipejamkan. Oh Ayolah ini bukan hal yang buruk, toh aku di sini untuk menemani Aira. Oh Ayolah mata kau harus terpejam dan rasa yang menyelinap aneh di d**a pliis berhentilah sebentar, izinkan aku tenang dan tertidur pulas seperti mereka. Lima menit, sepuluh menit bahkan setengah jam telah berlalu, aku mulai berdoa dan rasa kantuk menyerang dahsyat hingga aku tak sadar akhirnya tertidur di jam berapa. **** TO BE CONTINUE
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN