Nasgor Jadul

1201 Kata
Paginya aku terbangun saat terdengar kokok ayam di kejauhan, mengusap wajah dan membuka mata seketika aku merasa ada yang berbeda dari penglihatanku. Terpejam lagi lalu memutuskan untuk melihat ke sebelah kanan, ada tiga orang yang masih pulas tertidur dengan posisi meringkuk. Detik ini aku seolah tersadar dan kembali pada kenyataan juga kembali pada ingatan semalam. Ya, semalam aku telah berjuang dengan diri sendiri agar bisa berdamai untuk tertidur pertama kalinya dengan Aira, Miko, dan juga Willan. Semalam aku mencoba mengenyahkan rasa tak nyaman yang berlebihan hingga akhirnya bisa terpejam dan tertidur juga. Perlahan aku mulai turun dari tempat tidure dan beranjak menuju kamar mandi, setelah membersikan diri dan berwudhu aku segera menunaikan dua rakaat subuh. Saat selesai sholat aku terkejut oleh suara Willan yang berdehem di belakangku, rambutnya basah dan wajahnya terlihat segar, beberapa detik tatapan kami beradu dan senyum Will terbit dengan cepat. “Gantian tempatnya, aku belum salat,” ucap Will menyadarkanku seketika dari ketertegunan tadi. Aku menyingkir dengan segera namun tak diduga bagian rok mukena terinjak bagian pinggirnya sehingga membuat pertahanan tubuhku tak seimbang, nyaris jatuh andai Will tidak menangkap pinggang dan menahan tubuhku. Beberapa detik yang mendebarkan hati dan aku mulai bangkit melepaskan dii dari Will. “Kenapa bisa jatuh sih?” tanyanya menatapku lekat. “Gak sengaja keinjak unjung mukenanya.” “Tadi kita bersentuhan enggak?” “Kayaknya sih iya, sana wudhu lagi,” perintahku kemudian. “Peluk dulu tapi,” ujarnya tersenyum jahil seraya merentangkan dua tangannya, hal itu sukses mebuatku bersungut-sungut kesal. Aku segera mendorong tubuh Will agar ia menjauh namun yang terjadi malah diluar dugaan. Aku kembali terjerembab dan kini malah terjatuh di menindih tubuh kekarnya. Detik yang membuat jantungku berdebar keras hingga rasanya seperti mendengar jantung sendiri bertalu dengan gaduhnya. Aroma sampo yang menguar dan segar harum sabun dari tubuh Will membuatku menghirup dalam-dalam. “Berat juga ya,” lirih Willan sambil cengengesan. Aku terhenyak dan langsung berdiri dan beringsut darinya, lelaki bertubuh atletis itu tertawa kecil melirikku. “Sudahlah pergi sana, kau membuatku hampir tak bernapas,” cebikku kesal. “Itu karena kamu gerogi dan mungkin mulai jatuh cinta padaku, hayooo ngaku.” Lagi-lagi illan begitu iseng menggoda, aku akn memukulnya dengan tangan kanan tetapi ia segera berlari ke arah westafel. Mula9i menyalakan keran dan dari sini aku bisa melihatnya, melihat Willan yang begitu berkarisma. Astaga apa yang sedang kupikirkan tentang lelaki tengil itu? Aku mengusap wajah dengan kasar dan segera beranjak untuk membuka mukena. Willan mulai menunaikan dua rakaatnya dan aku berlalu ke dapur untuk membuatkan sarapan, tentu saja membuat sarapan untuk Aira dan juga Miko. Untuk Will? Entahlah … aku belum punya ide masak apa untu sarapan lelaki berhidung mancung itu. Khusus untuk Aira aku berniat untuk membuatkannya bubur dan telur rebus. Untuk Miko aku akan berencana membuatkannya nasi goreng special dengan telur mata sapi dan juga sedikit garnish sebagai pelengkapnya. Beras di dalam panci sudah meletup-letup hingga aku harus segera mengaduknya. “Ekhmm.” Suara deheman itu membuatku menoleh ke belakang ke arah pintu dapur, di sana Will telah berdiri dengan senyum khasnya. “Jangan ganggu deh , sana pergi jauh-jauh,” ujarku sambil kembali mengaduk bubur. “Siapa bilang mau ngeganggu, orang mau bantu-bantu kok ya suudzon terus,” protesnya tidak terima. Ia mulai melangkah dan mendekat, di ambilnya tempat bumbu dan kulihat kini Will sibuk mengupas bawang merah. Apa yang akan dia buat? “Pasti kamu bertanya-tanya aku mau bikin apa,” ujarnya. Lha kok bener? Memangnya dia bisa mendengar kata hatiku apa? Oh ayolah apa mungkin Will bisa membaca pikiranku? Duhh itu cukup mengerikan. Lagian tidak mungkin juga Will bisa tahu apa yang kupikirkan, kurasa ia hanya menebak dan kebetulan itu benar. “Aku mau bikin nasi goreng jadul,” ucapnya lagi. “Nasi goreng jadul? Wah baru denger tuh namanya. Apa aja bumbunya?” Aku mulai kepo dan menanyainya dengan beruntun, astaga memalukan sekali. “Bumbu rahasia dong, kamu fokus aja buat bubur biar aku yang memasak nasi goreng,” putusnya kemudian. “Gak nyangka kamu pinter masak.” Aku menggumam pelan sambil terus mengaduk bubur yang tengah meletup-letup. “Itu hanya skill dasar.” “Astaga sombongnya.” “Nanti kapan-kapan aku kasih tahu ke kamu resep rahasia plus bumbunya,” ucapnya kemudian. “Aku mau ngintip resepnya sekarang.” “Nggak boleh lah ngintip, tombilan mau?” “Isshh amit-amit.” Aku mengetuk kepala tiga kali. Kami akhirnya tertawa bersama dengan rasa yang entah, aku bahagia tentu saja karena menemukan hal baru di sini, Bersama Will dan juga kedua anaknya. Selesai masak aku mencoba menata menu sarapan yang telah kami buat di atas meja makan berbentuk bulat yang dikelilingi oleh empat kursi. Aroma nasi goreng buatan Will nyatanya membuatku harus menahan liur agar tidak menetes, kusiapkan satu teko kecil berisi the hangat tanpa dan dua gelas s**u untuk Miko dan juga Aira. Aku baru akan membangunkan Miko dan juga Aira tetapi ternyata dua anak itu sudah terbangun dan kini sedang berjalan menghampiriku dan Will di meja makan. “Hai … gadis cantik bagaimana kondisimu hari ini, apa sudah lebih baik?” tanyaku seraya meraih lengan Aira dan membimbingnya untuk duduk di kursi sebelahku. Gadis itu mengangguk kecil seraya tersenyum manis ke arahku dan Will. “Semalam Aira mimpiin Bunda, Bunda sangaat cantik. Aira ingin ikut Bunda tetapi tidak boleh sama Bunda. Bunda bilang Aira harus tetap menemani Papah dan juga Kak Miko,” tuturnya panjang lebar, membuatku dan Will mengangguk nyaris bersamaan. Aku paham gadis berparas ayu di sebelahku itu sedang rindu, merindukan bundanya yang memang telah tiada. “Kak Miko semalam khawatirin kamu Dek, kamu demam tinggi,” timpal Miko yang duduk bersebrangan denganku. “Tapi Alhamdulillah sekarang Aira udah sembuh dan baik-baik saja, kita semua senang.” “Waktunya makan nasgor.” Kali ini Will yang begitu semangat menyendokkan nasi berbumbu itu ke piring. Miko terlihat antusias karena ia dengan cepat meraih piring berisi nasgor itu ke hadapannya. Aira hanya tersenyum memperhatikan tingkah Miko, aku segera menyendok bubur ke dalam mangkuk dan menyodorkannya ke hadapan Aira. “Mbak Lara bikini bubur buat Aira, makan yuk,” ajakku. “Kok Mbak Lara tahu sih kalau aku sekarang pengen makan BUBUR?” Gadis itu bertanya dengan kedua alisnya yang terangkat. “Tahulah, biasanya orang yang habis sakit itu lebh suka makanan yang bertekstur lembut agar mudah dicerna. Ini bubue special Mbak Lara bikin khusus untuk Aira.” Jelasku antusias. “Terus Mbak Lara masakin apa buatku?” tanya Miko menyela tiba-tiba. “Nasi goreng itu buat Miko,” timpalku cepat. “Ini sih buatan Papa,” jawabnya kemudian menyuap nasgor it ke mulutnya. Seketika Willan terbahak menyaksikan Miko ynang terlihat agak kesal terhadapku. Aira fokus memakan buburnya tanpa banyak cakap. “Oke, nanti Miko mau dibikinin makanan apa oleh Mbak Lara?” “Aku mau dessert box rasa oreo vanilla.” “Aku juga mau itu,” teriak Aira menyahuti. Willan menatapku penuh arti sedamngkan aku sedang memikirkan sesuatu, apalagi kalau bukan memikirkan resepnya, ah mudah sekali di zaman modern ini apa yang tidak bisa lakukan? Tinggal browsing dan kemauan. “Oke siapa takut, nanti siang Mbak Lara bikinkan untuk kalian,” jawabku kemudian. “Horeee.” Aira dan Miko berteriak kegirangan. Di seberangku Willan mengacungkan jempolnya. **** To be Continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN