Tahu rasanya saat kita merasa bebas dari belenggu dan tekanan? Ya rasanya seperti ini, plong lega dan terasa memiliki separuh dunia mungkin terdengar berlebihan tetapi yakinlah bahwa rasanya memang seperti beban kita hilang. Aku akhirnya bisa tinggal di pulau ini dengan rasa tenang tanpa takut lagi dengan kehadiran Danil, itu juga berkat Diwa membantu mengurus kasus dan akhirnya bisa selesaikan dengan baik. Akhir-akhir ini aku sering menghabiskan waktu dengan Will dan juga anak-anaknya, tak bisa dipungkiri bahwa kini hubungan kami semakin dekat dan erat. Aku tidak pernah mempunyai harapan lebih lagi karena hati masih merasa trauma dan kini hanya mencoba menjalani saja kehidupan dengan santai dan tanpa beban.
Hari ini setelah menyelesaikan sarapan bareng Will dan juga kedua anaknya, rencana aku juga akan berangkat ke toko seperti biasa tetapi Aira terus merengek dan meminta agar aku menemaninya, Will juga tadi sempat memohon agar aku bisa libur kerja di toko Bu Salma untuk menjaga putrinya itu, Miko sudah berangkat ke sekolah bersama Willan saat ia juga berangkat ke resto. Aku akhirnya menyetujui untuk menemani Aira di rumah, pembantunya sedang pulang kampong dengan waktu yang sangat lama, begitu penuturan Will semalam, lagi pula aku juga tak mungkin tega meninggalkan Aira seorang diri di rumah saat ia enggan ikut Willan ke resto.
Namun ada baiknya kini aku mengabari Bu Salma terlebih dahulu, agar ia tidak menungguku tanpa kejelasan. Aku segera mendial nomor Bu Salma, hanya selang beberapa detik akhirnya terdengar suara sambungan sudah terhubung.
“Ya, hallo, Ra?” Terdengar suara khas Bu Salma dari seberang.
“Selamat pagi Bu Salma, hari ini aku meminta maaf karena mungkin tidak bisa berangkat ke toko. Aku diminta Will untuk menjaga Aira yang sendirian di rumah, ia juga baru pulih dari demamnya semalam.”
“Iya tidak apa-apa, aku senang kamu peduli terhadap Aira. Tadi Will juga sudah memberitahuku bahwa hari ini kamu tidak bisa ke toko karena harus menjaga Aira.”
“Oh jadi Will sudah ....”
“Ya kamu jangan khawatir karena dia sudah memberitahuku terlebih dahulu. Dia cukup pengertian dan tentu saja dia lelaki kesepian,” ucap Bu Salma memotong kalimatku dan kini terdengar suaranya tertawa terbahak di seberang telepon. Aku juga tersenyum mendengar kalimat kelakarnya tadi. Bu Salma tadi hanya berkelakar untuk menggodaku ada-ada saja. Setelah itu Bu Salma mengahiri telepon dengan berpesan terlebih dahulu bahwa aku harus sering menjaga Aira.
“Mbak Lara habis teleponan sama siapa?” tanya Aira yang tanpa kusadari sudah berada di sampingku.
“Sama Bu Salma, Sayang.”
“Ngobrolin apa?” tanyanya kepo.
“Nggak ngobrolin apa-apa kok, Mbak Lara cuma bilang kalau hari ini nggak bisa masuk kerja karena mesti nemenin Aira kan di sini, kasian kalau Aira sendirian di rumah.”
“Mbak Lara sayang ya sama Aira?”
Aku mengangguk cepat kemudian tersenyum melihat matanya yang berbinar indah itu.
“Aira juga sayang banget sama Mbak Lara, terima kasih ya, Mbak Lara sudah baik dan mau merawat Aira.” Gadis cilik itu kini merangkulku.
“Sama-sama, Sayang.”
Kami terediam beberapa menit dengan posisi berangkulan dari sini bisa kuhirup aroma flower dari rambutnya yang sedikit pirang keemasan.
“Mbak Lara mau nggak jadi Mamaku?” Pertanyaan itu seketika terlontar dari mulut mungilnya, membuatku terpaku dan melongo untuk beberapa saat. Aku tak bisa menjawab pertanyaan Aira, itu sangat rumit dan tentu saja aku butuh waktu yang tidak sebentar untuk memutuskannya. Seseorang yang pernah menderita akibat kekerasan yang menimbulkan trauma dalam hubungannya, sungguh sangat sulit untuk kembali percaya dan untuk kembali menjalin ikatan kembali. Aku … masih trauma untuk sebuah jalinan yang mengikat. Masih teringat dan masih menjadi mimpi buruk bagaimana kilas bayangan pukulan Danil yang pernah menjatuhi tubuhku dengan pukulan bertubi-tubi. Ya, aku masih ketakutan. Mungkin Will tidak seperti Danil tetapi entahlah aku masih tak mengerti dengan ketakutan-ketakutan yang bersemayam dalam jiwaku ini karena sebuah trauma.
‘‘Mbak Lara gak mau ya jadi Mamaku?” tanya Aira lagi, kali ini nada suaranya terdengar parau.
“Bukan begitu, Sayang. Mbak Lara mau kok jadi Mamanya Aira tapi ….” Aku memilih untuk tidak meneruskan kalimat, berpikir bagaimana caranya menjelaskan kalimat yang mudah dipahami anak kecil tanpa harus membuat perasaannya terluka.
“Tapi apa?”
“Mbak tidak harus tinggal di sini kan? Mbak mau kok jadi Mamanya Aira.”
“Kenapa Mbak tidak mau tinggal di sini sama Aira, Kak Miko dan juga Papa?” Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja tidak boleh karena bisa jadi menimbulkan fitnah, anak kecil seperti Aira tentu belum paham dan mengerti.
“Nggak dibolehkan Sayang,lagi pula kan Mbak Lara sudah punya rumah, nanti siapa yang isi?” Aku balik bertanya.
“Kalau Mbak Lara menikah dengan Papa tentu saja tinggal bersama kami tidak dilarang lagi, jadi mau kah Mbak Lara menikah dengan Papa?”
Fix sebuah ungkapan polos yang keluar dari mulut Aira kali ini membuatku benar-benar tercengang.
“Mau ya, Mbak,” lirihnya lagi. Astaga aku harus jawab apa?
“Oh iya Mbak lupa kalau sekarang waktunya bikin setup roti permintaan Kak Miko, ayok Aira mau bantuin Mbak Lara nggak?” ucapku sengaja mengalihkan pembicaraan, namun ternyata gadis cilik itu malah menggeleng dan cemberut.
“Aira nggak mau bantuin Mbak Lra sebelum Mbak jawab dulu pertanyaanku tadi.”
Di sini aku baru memahami betapa kritisnya anak seperti Aira ini. Ia tipe yang pantang menyerah dan juga terus berusaha.
“Oke akan Mbak Lara jawab tapi beri waktu ya, karena memutuskan sesuatu itu tidak mudah bagi Mbak, juga tidak boleh gegabah. Aira paham?”
“Tapi ,Mbak Lara akan menjawabnya kan? Janji tidak lupa atau nanti akan terus kutagih jawabannya.”
Telak, aku tak bisa lagi mengelak bahkan di hadapan bocah kecil berusia enam tahun ini.
“Siap komandan,” ucapku sambil beranjak berdiri dan meletakkan satu tangan kanan di sebelah kepala dengan posisi hormat. Aira tertawa melihat tingkahku barusan, gadis itu kemudian mengekori langkahku dari belakang untuk menuju ke dapur. Ya aku mau membuat setup roti pesanan Miko, dan tentu saja resepnya kudapatkan dari tutorial di yutub. Taka pa jika dulu aku malas berkutat di dapur tetapi kini harus bisa untuk memenuhi keinginan Miko dan Aira, bersama mereka aku merasa dicintai sedangkan dengan Will entahlah saat ini belum bisa menjabarkannya.
***
Sore ini.
Aku sedang duduk dan menikmati secangkir teh hangat bersama Aira di beranda, sesekali bercengkrama dan mendengarkan cerita dari mulut Aira tentang Bundanya, tentang akhir pekan yang sering ia habiskan bersama di Danau Angkasa.
“Selain Danau Angsa kami sekeluarga juga sering ke Pantai Teluk. Pantainya sangat indah dengan pasir putih sepanjang bibir pantainya. Mbak Lara harus mengunjunginya suatu saat nanti bersama kami,” ungkapnya dengan wajah berbinar.
“Ya, tentu saja. Aku juga suka pantai dengan aroma garamnya, suka melihat beberapa tongkang para nelayan.”
“Di sana juga masih ada beberapa kura-kura kecil,” imbuhnya.
“Pasti sangat menyenangkan.”
“Sangat, hanya saja sudah lama Papah tidak mengajak aku dan Kak Miko ke sana. Apa besok Mbak Lara ada waktu?” tanyanya kemudian.
“Mbak Lara besok kan harus kerja di toko Bu Salma.”
Gadis itu mengangguk-angguk mengerti. “Kalau lusa?” tanyanya lagi.
“Lusa juga masih masuk kerja. Memangnya kenapa?”
“Terus kapan liburnya?”
“Liburnya Cuma hari minggu.”
“Oke kalau gitu hari minggu Aira akan minta Papa untuk pergi ke pantai bersama, Mbak Lara harus ikut juga ya,” tuturnya dengan raut memohon.
“Oke.”
“Horeee,” teriaknya girang, saat itu Will dan juga Miko datang. Keduanya tersenyum melihat Aira yang berteriak kegirangan.
“Cieee ada yang lagi senang nih rupanya,” ujar Willan seraya menghempaskan tubuhnya duduk di kursi rotan tepat di sebelahku. Lelaki itu mengedipkan mata genitnya sekilas, astaga dia terlihat konyol sekali.
“Iya dong, aku senang karena akhir pekan nanti Mbak Lara libur kerja dan mau ke pantai.”
“Ke pantai?” tanya Miko dan Willan bersamaan.
“Iya, ke Pantai Teluk Tiga. Aira mau ke sana bareng Ayah, Kak Miko dan juga Mbak Aira. Lagian kita juga udah lama kan nggak ke pantai, iya kan Pah,” ucap Aira bersemangat.
“Oke akhir pekan depan kita akan ke pantai.”
“Horeee,” teriak Aira dan Miko berbarengan, sedangkan aku menatap Will sambil garuk-garuk kepala.
“Dah lah ikut aja, aku punya kejutan untukmu di sana,” kata Willan seraya beranjak berdiri kemudian memeluk tubuh Aira.
Aku segera mengeluarkan setup roti rasa vanilla dan rasa cokelat dari freezer pendingin lalu segera menyuguhkannya untuk mereka yang sedang duduk bersantai di beranda.
“Setup roti rasa coklat pesanan Kak Miko udah jadi lho, ini dia.” Aku menyodorkan dua rantang besar stup ke meja bulat dan seketika langsung disambar oleh Miko dan juga Willan.
“Punyaku yang rasa vanilla,” tutur Aira seraya menyendok setup dari rantang ke piring kecil.
“Setupnya enak banget Mbak Lara, nanti aku boleh kan dibikinin lagi,” ujar Miko antusias. Ia terlihat lahap memakannya. Sedangkan Will terus mengacungkan jempolnya sebagai tanda setuju dan mengakui kalau setup bikinanku memang terasa lezat, di titik ini aku merasa dihargai dan dibutuhkan.
***
To be continue