Miko dan Aira memilih menonton televisi setelah menghabiskan sepiring setup roti, sedangkan aku dan Will masih duduk di kursi beranda rumah. Dari sini sambil menikmati secangkir kopi late bisa kusaksikan daun-daun kering berguguran dari pohonnya, mentari senja berwarna keemasan menempa celah pohon-pohon angsana membuat siapa pun betah emandang dan menikati suasana halaman rumah yang luas dan rindang ini. Berderet pohon pepohonan yang berbeda dan di sebelah kanan halamn terdapat ayunan dari jarring-jaring tambang di bawahnya terhampar rumput jepang bak permadani hijau. Meski di sini Will tak memiliki tukang rawat rumah tetapi lelaki itu cukup rajin memperhatikan dan mengurus halaman rumahnya hingga serindang ini.
“Apa yang sedang kamu pikirkan saat ini, Ra?” Pertanyaan Will di sebelah membuatku menoleh.
“Mengangumi senja.”
“Kenapa tidak mengagumiku saja?” ungkapnya pede tetapi tak pelak ia juga tertawa cengengesan. Aku terdiam lalu berpikir sejenak, berniat mengerjainya saat ini.
“Aku juga mengagumimu sebenernya tapi ….” Aku sengaja menggantung kalimat untuk membuat lelaki berkaos biru itu penasaran.
“Tapi apa?” tanyanya dengan raut penasaran. Ah … ternyata misiku sukses.
“Tapi boong.” Kali ini aku tertawa cukup keras tetapi Will malah melihatku dengan raut datar, sedater tol di jalanan.
“Jadi kamu mau ikut kami ke pantai di akhir pekan depan?” tanya Will, kai ini dengan nada serius.
“Untuk memenuhi keinginan Aira aku setuju dan ikut saja,” putusku kemudian.
“Hanya karena Aira?” Willan masih menatapku lekat. Menunggu jawaban.
“Karenamu juga,” ucapku kemudian.
“Benarkah? Tanyanya dengan binar mata yang nyala.
“Ya, memangnya kenapa?”
“Aku sangat senang Ra, aku ….” Tiba-tiba suara Will terdengar sedikit bergetar. Bahkan dia tak mampu meneruskan kalimatnya.
“Hei … kamu kenapa Will?” tanyaku sambil memegang tangannya. Aku takut Will sedang kesakitan.
“Tentu saja aku sangat senang, Ra. Setidaknya kamu mulai bisa membuka diri. Aku senang dan semoga kamu bisa terus mengagumi saya. ” Will tertawa keras seraya menangkap lenganku yang akan bersiap memukulnya. Dai masih saja usil dan suka menggoda.
Aku segera meneguk kopi late hingga tandas lalu bersiap untuk pulang.
“Mau ke mana Ra?”
“Pulang, tugasku udah selesai kan.” Aku meraih tas tangan dan mulai berdiri, tetapi aku harus bilang dulu pada Aira kalau sekarang aku mau pulang agar dia tak mencari atau bertanya lagi pada Willan.
“Aku antar ya,” ucap Will seraya beranjak melangkah mengambil kunci mobil.
“Nggak usah, Will, aku bisa kok pulang sendiri.”
“Kali ini aku maksa kamu biar aku antar saja, dan aku tidak menerima penolakan,” ungkapnya mulai berjalan dari teras menuju ke halaman samping rumah untuk mengeluarkan kembali mobil dovenya.
Aku segera masuk ke dalam dan menemui Aira yang sedang asik menonton kartun bersama Miko.
“Aira sayang Mbak Lara pulang dulu ya. Ini sudah sore, lagi pula Aira juga sudah sembuh kan demamnya, Mbak Lara senang sekali karena Aiera sudah lebih baik kondisinya dari kemaren.”
“Yaahh kok puulag sih, Mbak. Nginep lagi aja ya,” rengek Aira seraya menatapku dengan rauit memohon.
“Iya Mbak Lara, nginep lagi aja, kami seneng kok ada Mbak Lara di rumah,” tambah Miko.
“Aira, Miko, Mbak Lara juga sebenernya seneng berada di dekat kalian tetapi nggak mungkin dong Mbak terus nginep di sini, nanti rumah Mbak Lara di sana jadi kosong dan bisa diisi hantu,” tuturku.
Kedua kakak beradik itu menghela napas saat mendemngar penuturanku, tetapi tak urung Miko dan juga Aira akhirnya mengizinkanku pulang.
****
Di jalan Will lebih banyak diam, aku pun sama. Lebih memilih menikmati pandangan di sekita lewat kaca mobil. Saat ini aku merasa jauh lebih baik dari sebelumnya, saat ini aku merasa punya kehidupan baru yang sederhana dan justru dari hal-hal sederhana seperti itu aku merasakan kedamaian dan ketenangan yang sangat indah, tak mudah dijabarkan atau pun dilukiskan lagi dengan kata-kata. Terbebas dari ikatan Danil adalah sebuah anugerah yang patut di syukuri. Tuhan, terima kasih karena Engkau telah menguatkanku hingga detik ini. Angin sepoi yang menerobos jendela kaca mobil yang terbuka mengenai wajah, terasa sejuk dan membuat mata ini semakin berat, tak tahu di detik ke berapa akhirnya aku terlelap.
Entah saking lelah atau lelapnya aku tak terasa kini berada di pelukkan Will, lelaki itu menggendong tubuhku dan kini tengah menaiki tangga kayu.
“Will,” ucapku terkejut.
“Diam jangan banyak gerak, aku sedang naik tangga kamu bisa terjatuh kalo banyak gerak,” ketusnya. Kemudian aku pun memilih diam dan merasa canggung seketika berada dalam posisi seperti ini. Bisa kurasakan napas Will yang tertahan dan aroma tubuhnya yang maskulin bercampur citrus dari parfumnya.
“Turunin,” lirihku saat kaki Will sampai di lantai kayu dekat pintu. Perlahan tangan besarnya menurunkan tubuhku dan kini aku masih seperti mmpi, ah ya ampun ini nyata. Atau apa mungkin karena mimpiku tadi cukup aneh dan menggelitik konyol seperti kelakukan Will.
“Kenapa bengong? Mana kuncinya?” tanya Will beruntun.
“Kunci?” Aku balik bertanya dengan tampang yang mungkin kelihatan befog bagi Willan hingga lelaki itu tertawa sambil mengusap wajahnya.
“Aku harap kamu tidak amnesia gara-gara tidur pulas sampe ileran.”
“Hah … ileran?” Aku segera mengusap pipi dan bawah dagu, bisa saja kan cairan memalukan dari liurku itu berbekas di sana.
“Ayo katakan dimana kamu taruh kuncinya?’ tanya Willan lagi.
“Di tas kalo gak salah.”
“Terus sekarang tasnya mana?”
Aku celangak celinguk mencari benda berwarna hitam itu dan baru ingat sekarang tadi aku mnenaruhnya di jok mobil.
“Jok mobil,” jawabku cepat. Will langsung berbalik dan segera menuruni anak tangga, ia setengah berlari menuju mobilnya. Aku terbengong mngumpulkan kesadaran akibat tertidur di mobil sejak tadi.
Tidak lama kemudian Will segera datang dengan menyerahkan tas hitam milikku.
“Makasih, Will,” ucapku kemudian membuka tas dan mengambil kuncinya, segera membuka pintu dan saat hendak masuk aku melirik sekilas kea rah Will yang masih berdiri.
“Lho kok masih di situ?” gumamku.
“Ya iyalah, kan belum dipersilahkan masuk,” jawabnya santai seraya memutar bola matanya.
“Memang aku tidak menyuruhmu masuk, lagian ini sudah magrib, kenapa tidak pulang saja.”
Mendengar kalimat yang barusan kuucapkan tadi, Willan mendelik galak, langkahnya mulai mendekati lalu tanpa diduga ia menoyor kepalaku dengan gemasnya.
“Selalu begitu, nggak sopan. Setidaknya kamu harus mempersilahkanku mampir dan menyuguhkan teh hangat. Aku haus,” ucapnya seraya melangkah ke dalam dengan langkah santainya. Ia nyelonong gitu aja tanpa rasa sungkan dan aku hanya bisa menghela napas, menutup pintu lalu segera ke dapur untuk membuatkannya secangkir teh.
“Waw apa kamu yang menata ruangan seunik ini?” tanya Will seraya memperhatika sekeliling ruangan, ya dia baru pertama kali masuk ke sini jadi wajar kalau ia banyak memperhatikan sekeliling yang dilihatnya.
“Ya,” jawabku.
“Wow jiwa senimu lumayan tinggi juga.”
“Seni apaan, biasa aja kok itu, gak ada yang perlu dikagumi.”
“Ini mural yang sangat indah, Lara. Di dinding kayu aja kamu bisa menggambarnya secantik ini.” Willan mengelus lukisan mural yang minggu kemarin iseng kubuat.
Ya, aku senang melukis untuk mengisi luang yang kadang menjenuhkan, tinggal sendiri di tempat yang sunyi membuatku kadang merasa takut saat ada hawa yang cukup misterius, jadi kutumpahkan dalam kesibukkan melukis di dinding.
“Aku salat dulu ya, Will,” ujarku sambil beranjak ke belakang untuk berwudhu.
“Iya, gantian lah nanti.”
Suara jangkrik terdengar berisik, aku sudah selesai salat saat terdengar bunyi air di belakang, Will pasti sedang berwudhu. Setelah ia menunaikan tiga rakaat salatnya aku harus segera mengusirnya pulang, kasian Aira dan juga Miko hanya berdua di rumah.
Beberapa menit berselang dan kini Will duduk kembali di sebelahku, matanya tak lepas dari lukisan mural.
“Aku dulu sempat ingin kuliah di jurusan seni tetapi orangtuaku tidak mengizinkan.”
“Terus?”
“Akhirnya terpaksa kuliah mengambil jurusan bisnis, beberapa tahun yang memuakkan dan menjadikanku seperti robot yang berjalan,” ungkapnya lagi.
“Kenapa?” tanyaku penasaran.
“Apa enaknya melakukan sesuatu yang kita kerjakan tanpa ada jiwa di dalamnya.”
“Mungkin orangtuamu punya maksud yang baik, Will.”
“Entahlah, yang aku tahu setelahnya adalah sebuah perselisihan yang tiada hentinya.”
Aku masih ingin menyimak dan mendengarkan cerita Willan tetapi tiba-tiba ingat kalau Aira dan Miko hanya berdua di rumah.
“Will kamu sebaiknya segera pulang, kasian Miko dan Aira di rumah.” Aku terpaksa mengalihkan pembahasan.
“Ada Bi Resti kok di rumah,” jelasnya. “Tidak usah khawatir.”
“Siapa Bi Resti?”
“Mamanya Tedy yang rumahnya tidak jauh dan kebetulan lagi main di rumah.”
“Oh, kok kamu gak bilang?”
“Kamu juga barusan nanya kan?”
Astaga paling langganan deh ditanya balik nanya.
“Kamu juga seharusnya jangan terlalu menghawatirkan Aira dan juga Miko, mereka akan baik-baik saja kok. Setidaknya kamu perhatiin aku gitu, meski sedikit juga nggak papa.”
“Oke kalo gitu lanjutkan cerita yang tadi.”
“Kisahku terlalu rumit, Ra. Serumit alur mural yang kamu lukis di dinding itu.”
“Jangan sok puitis dalam mengungkapkan kisah, aku bukan jurnalis juga bukan penulis yang bisa memahami banyak diksi.”
“Tetapi kau pelukis yang bisa mencipta gambar dengan sebuah rasa. Aku yakin kamu bisa memahaminya.”
“Lebih rumit mana kisahmu dan kisahku?”
“Sama-sama rumit mungkin. Oh ya aku mau nginep di sini boleh?”
“Apa?”
Bagaimana mungkin aku akan mengizinkannya untuk menginap? Tidak akan.
****
To be continue