Cinta Will untuk Kania.

2216 Kata
“Gak usah terkejut juga kali, aku bercanda kok,” ucap Will seraya meraih gelas berisi teh hangat yang tadi kusuguhkan. Meneguknya perlahan lalu ia meletakkan kembali gelas tehnya di atas tatakan. “Apa kamu ingat aku pernah mengatakan sesuatu padamu, Ra,” katanya lagi. “Mengatakan apa?” “Aku pernah berkata sok bijak saat pertama kali bertemu denganmu malam itu, sebenarnya tak ada maksud apa-apa selain berusaha menyemangati perempuan yang putus asa dan mengatakan ingin bunuh diri,” jawabnya lirih. Aku meliriknya yang kini berwajah sendu. Ya aku pernah berada di titik terendah yang tadi di ucapkan oleh Will, pernah berniat ingin mengahiri hidup karena masalah yang menurutku sangat berat. Beruntung takdir mempertemukanku dengan Will, lelaki yang kala itu berusaha memberi suntikan semangat hidup untukku yang nyaris putus asa. “Sebuah gembok tidak diciptakan tanpa kunci, begitu pun dengan masalah, setiap masalah selalu ada jalan keluarnya.” “Tepat,” ujarnya dengan cepat. “Terus serumit apa masalahmu Will? Kamu sendiri yang bilang bahwa serumit apa pun masalah pasti ada jalan keluarnya.” Lelaki itu terdiam beberapa detik lamanya, terlihat berpikir dan menimbang tetapi tatapannya jauh menembus entah kebelahan dunia yang mana. “Will?” Lelaki itu menoleh dan menatapku lekat, bibirnya tersenyum tapi matanya tidak berbinar, ada jurang di sana jurang yang terlihat dalam dan kelam. Entahlah aku juga tidak tahu sejak kapan bisa membaca seseorang lewat netranya. Tetapi pada Will entah kenapa aku bisa membaca lukanya lewat netra. “Aku punya keluarga yang orang-orang melihatnya sempurna. Ibu dan ayahku yang cukup terpandang karen harta juga jabatannya. Aku yang dianggap anak paling beruntung karena terlahir dari keluarga Dirga, seseorang yang mereka pandang aku bisa melakukan apa saja dengan mudahnya, tetapi mereka tidak tahu seperti apa sebenarnya hidupku yang sebenarnya. Mereka tidak tahu bagaimana menjadi aku yang berusaha mati-matian menjaga hubungan dua keluarga dalam sebuah pertikaian. Mereka tidak tahu rasanya menjadi aku yang harus menjadi korban dari sikap keras kepala orangtuanya.” “Di sini aku bisa menyimpulkan kamu menyudutkan keluarga, tetapi aku juga tidak tahu apa yang membuatmu punya pandangan demikian Will. Ceritalah aku ada dan mendengarkanmu.” “Aku tidak akan cerita seluruhnya, hanya beberapa intinya saja, lagi pula kisahku belum tentu menarik untuk di dengarkan.” “Apa pun itu, Will, ceritalah.” “Keluargaku bersikeras agar aku menikahi Esther, pernikahan itu bukan tanpa alasan dan juga bukan tanpa tujuan. Hal ini dilakukan agar dua keuarga yang selama ini berselisih bisa damai kembali. Ayah Esther terbunuh oleh salah satu keluarga Dirga dan mereka tidak terima hingga terjadilah penuntutan yang berujung fatal, selalu ada pertumpahan darah di antara kami dan untuk menghentikan semuanya kedua kubu berembug dan mencari solusi hingga akhirnya sebuah ide tercetus dengan kurang ajarnya, mereka mengorbankanku seperti tumbal yang sangat malang. Selain itu keluargaku berambisi untuk memperbanyak harta." Detik ini aku seperti mendengar sebuah dongeng dari negeri kerajaan, kisah Will sangat menarik meskipun ia baru mulai bercerita. “Kenapa harus kamu yang dijadikan korban?” tanyaku kemudian. “Karena bagi mereka aku yang cukup berpengaruh kuat dalam keluarga.” “Lalu?” “Aku menentang karena permintaan mereka menyangkut pernikahan. Pernikahan adalah sebuah ikatan yang tanggung jawabnya sangat besar, tidak mungkin aku bisa bermain-main dengan hal demikian, apalagi aku juga punya seorang perempuan yang sangat kucintai kala itu. Perempuan berambut blonde yang sangat cantik, berlesung pipit saat senyumnya terbit. Aku sungguh jatuh cinta padanya dan memutuskan pergi dari rumah untuk bisa hidup dengan Kania," tuturnya lagi. "Kalian kawin lari?" tanyaku dengan dua alis terangkat saat menatap Willan. "Bisa dibilang seperti itu," lirihnya. "Lalu?" "Kami, aku dan Kania sama-sama meninggalkan keluarga. Memilih tempat yang jauh dan terpencil di pulau ini agar tak ada satu pun dari mereka yang bisa menemukan keberadaan kami." "Aku baru tahu kalau alasanku dan alasanmu ke tempat ini adalah untuk sebuah pelarian sekaligus persembunyian." "Sepakat." "Lalu kalian menikah di sini?" Willan mengangguk menanggapi ucapanku. "Kami mulai semuanya dari nol. Beruntung ada seseorang yang sangat baik yang bersedia membantuku." "Siapa?" "Bi Resti, lebih tepatnya suami Bi Resti. Tanpa lelaki baik itu aku tak memiliki resto dan tak memiliki penghasilan yang layak." "Itu juga berkat kerja kerasmu Will, seseorang tidak akan berhasil dan mendapatkan apa-apa hanya dengan berdiam diri. Keberhasilan adalah proses yang panjang dari usaha dan juga perjuangan yang kamu jalani dengan sabar." "Waw aku seperti mendapat pencerahan," ungkapnya tersenyum. "Will!" teriakku geram. "Eh tapi benar lho. Aku bicara apa adanya. Kalimatmu tadi seperti sebuah quotes atau kata mutiara yang patut kutulis lalu kutempel di dinding kamar." "Kamu berlebihan." "Aku menyukaimu, Ra." Entah Will sedang ngaco atau tidak tiba-tiba aku mendengar kalimat suka itu dari mulutnya. "Berhentilah bercanda dan menggodaku, Will. Aku sedang menyimak kisahmu jadi tolong jangan rusak suasananya dengan banyolanmu itu." "Apa kamu tidak menemukan keseriusan di mataku, Ra?" "Matamu terlalu dalam, seperti jurang yang membuatku takut akan terjatuh ke dalamnya." "Jangan samakan aku dengan Danil, Ra. Kita jelas berbeda." "Aku tahu, Will. Hanya saja tidak mudah menghilangkan rasa trauma yang sudah begitu menggores jiwa. Bahkan terhadap rasa cinta, mungkin aku telah mati rasa." "Kamu salah, Lara yang kukenal adalah seorang yang penuh cinta. Kalau tidak, mana mungkin Aira dan Miko begitu betah bersamamu dan selalu ingin menghabiskan banyak waktu denganmu. Mereka mencintaimu karena kamu juga punya cinta yang besar untuk mereka," tutur Will panjang lebar. Aku mengangguk mengiyakan. "Lalu bagaimana dengan kisahmu dan Kania selanjutnya Will?" "Kami berjuang untuk saling meyakinkan dan juga bertahan dalam kondisi apa pun. Aku merasakan punya dunia yang sesungguhnya bersama Kania, mulai menjalani hari penuh cinta dan kebahagiaan kami terasa lengkap setelah Miko hadir ke dunia, tak berselang lama Tuhan juga menitipkan Aira untuk kami. Aku dan Kania sangat bahagia, tetapi setelah kebahagiaan itu takdir menguji kami. Kondisi Kania yang sering drop dan rentan membuatku akhirnya memutuskan untuk mengetahui keluhan yang ada, betapa saat itu langit di atasku serasa runtuh saat dokter memvonis Kania dengan kanker stadium akhir. Bukan, bukan hanya alu yang hancur Kaka itu tetapi Kania juga, hanya saja cara kami meresponnya berbeda. Aku yang selalu khawatir begitu tenggelam dalam kesedihan sedangkan Kania, dia memilih bersikap tenang dan seolah semua baik-baik saja, padahal aku tahu dia bersikap seperti itu hanya untuk menguatkanku dan juga anak-anak. Kania terus berusaha untuk melawan penyakitnya, dia tangguh dan dia cukup kuat menghadapi kenyataan. Aku selalu melihatnya tersenyum vdalam kondisi sepedih apa pun. Dia cinta yang sempurna untukku, dan meskipun raganya tiada tetapi jiwanya masih mengisi ruang hati ini dengan cinta. Ya bagiku Kania tak pernah tergantikan, ia menempati satu ruang di hatiku yang terdalam." Di titik ini aku bisa menyimpulkan betapa cinta Will terhadap Kania sangat besar. Di titik ini aku paham bahwa cinta adalah sebuah rasa yang tak mudah hilang dan lekang meskipun jiwa dan raga telah terpisah adanya. Dear ... Kania, betapa beruntungnya dirimu mendapatkan cinta luar biasa dari seorang lelaki yang mengabadikanmu dalam jiwanya. Semoga kalian bisa bersatu di kehidupan berikutnya. Setelahnya cerita yang mengalir dari bibir Will seperti sebuah dongeng yang alurnya sangat rumit, aku tenggelam di dalamnya, membuat mataku semakin berat, lalu semakin tenggelam dan entah di detik ke berapa duniaku seolah begitu cepat berganti ke dunia mimpi. * Ini tentang kepingan hati yang telah terserak, jarak yang telah jauh memisahkan kita dari sebuah kisah, aku yang memilih pergi karena tak mau lagi terus memeluk hati yang terluka dalam. Aku mematung dari jaraknya yang tinggal beberapa langkah, ya sosok itu hanya beberapa langkah dariku. Mata bulatnya menatapku nanar, langkahnya semakin mendekat. Aku ketakutan, sangat ketakutan. Jika aku punya sebuah mantra untuk menghilang maka akan k****a mantra itu detik ini juga. "Bin ...." Suaranya lirih terdengar, serak basah menjadi penanda khas bahwa itu memang suara miliknya. Bin adalah panggilan sayangnya untukku, dulu. Dulu sebelum aku memutuskan untuk pergi dari hidupnya, dari lingkaran setan yang selalu membuatku terkungkung untuk selalu memaafkannya tetapi ia mengulangi kesalahannya. Lagi dan lagi. "Bin ...." Dia kembali memanggil, suaranya kali ini terdengar lebih berat. Seperti ada beban yang menghimpit atau serupa rasa bersalah yang kian terlukis jelas di wajahnya. Atau bisa jadi ini hanya bagian dari tak tik curangnya untuk mengelabui? Aku merasakan napas hangatnya menjatuhi dahi, jarak kami sudah sangat dekat hanya beberapa senti. Tidak ada yang kulakukan selain terdiam dan terus menatapnya dengan pandangan biasa saja, ya biasa saja, datar dan tak menyiratkan apa-apa. Memangnya apa yang harus kulakukan saat bertemu dengannya lagi? Bersedih? Rindu? Percayalah kedua rasa itu telah kuhapus untuknya. "Aku minta maaf, Bin." Suaranya terdengar begitu luka, tetapi aku tak bergeming sedikit pun bahkan saat tubuh tingginya merosot ke bawah dengan posisi berlutut di hadapanku. "Bin bisa kah kau memaafkanku?" "Jika sekarang aku memaafkanmu bisa kah kau enyah saja dan pergi dari sini? Aku tidak mau bertemu denganmu lagi. Biarkan aku menjalani hidup tenang di sini tanpamu." "Tetapi aku mencintaimu, Bin. Cinta yang tumbuh subur di hati ini selamanya untukmu." Aku muak mendengarkan lelaki berambut gondrong itu berkata-kata, apa pun ya apa pun yang keluar dari mulutnya tentang cinta sudah tidak lagi kupercaya. Cinta macam apa yang terus melukai jiwa secara berkala, aku lelah sangat lelah menghadapinya. Sekelilingku berwarna kelabu, aku tidak tahu ini tempat apa. Banyak kabut, pemandangan sekeliling menjadi blur dan tidak jelas terlihat. Namun lelaki yang kini berlutut di depanku, jelas mata ini tak salah melihatnya. Dia Danil, ah ya Tuhan kenapa pertemuan dengannya tergariskan lagi? Padahal aku sudah berlari jauh darinya. "Bin ... Apa kau tidak mencintaiku lagi?" "Tidak, tidak ada cinta yang tersisa lagi untukmu. Semua telah kuhapus dan hilang tak berbekas. Pliiis pergilah." Mendengar ku mengatakan hal itu Danil bangkit berdiri, tatapan matanya menyalak tajam membuatku gentar dan ketakutan. Dikeluarkannya sebuah pisau dari balik jaketnya kemudian ditodongkan nya benda tajam itu di depanku. "Tempatmu bukan di sini, Laysa. Aku tidak akan membunuhmu kalau kamu ikut pulang dan kembali hidup bersamaku lagi," tegasnya penuh ancaman. "Tidak," ucapku menggeleng dengan keras. Semua terjadi seperti adegan slow motion di mataku, Danil mengacungkan pisau berkilatan itu lalu tepat menghunuskanya ke jantung, aku berteriak kencang, dengan teriakan itu berharap siapa pun mendengar suaraku dan memberi pertolongan. “Aaaaaaaaa,” teriakku sekencang-kencangnya. Aku takut melihat darah segar yang mengucur. Sedetik kemudian tubuhku terpental sangat jauh lalu terdiam saat merasakan tangan besar mengguncang-guncang bagia bahuku. “Lara.” Aku membuka mata seketika lalu terperanjat kaget mendapati Willan yang kini duduk di sampingku. Mencoba mengerjapkan mata berulang kali untuk memastikan di mana kini aku berada. Dinding berlukis kan mural dan lantai kayu, aku memutar mata dan berpikir … bukan kah aku memang sedang di sini, lalu tadi apa? Tadi aku di mana bertemu dengan Danil? Beberapa pertanyaan berjejalan dalam minda. Berhalusinansi kah? “Aku dari tadi cerita panjang lebar dan kamu enak tidur pulas dengan mimpi yang terkesan dramatis hingga teriak-teriak kek kemalingan, fix kamu tipe cewek yang kudu dimusiumin.” Will menggerutu dengan tampang kesal. “Apa, jadi tadi aku ketiduran?” tanyaku dengan tampang cengengesan, tentu saja hal itu membuat Will semakin terlihat bête. “Syukurlah kalo yang tadi itu hanya mimpi. Mimpi buruk bertemu Danil yang mengerikan.” “Jadi kamu teriak tadi karena mimpi bertemu Danil?” Will kali ini menoleh dan menatap lekat wajahku. Aku mengangguk lesu. “Apa yang kamu alami dalam mimpi itu?” “Danil meminta maaf tetapi ia menusuk jantungku dengan pisau karena aku tidak mau kembali lagi padanya,” tuturku. “Alam bawah sadarmu masih terikat dengan rasa takut, Tenanglah, aku akan mengambilkanmu minum.” Will beranjak ke dapur dan tak lama kremudian ia sudah duduk kembali di sampingku dengan menyodorkan segelas air bening. “Minumlah,” katanya lagi, aku segera meraih gelas berisi air putih itu dan langsung meneguknya hingga habis. “Sudah lebih baik sekarang?” tanya Willan lagi. “Ya.” Aku menghembuskan napas perlahan. “Kalo kamu sudah tenang, aku pulang ya.” “Maaf ya Will, aku tidak sopan meninggalkanmu tidur saat kamu bercerita panjang lebar tadi,” uungkapku seraya menggaruk kepala yang tidak gatal. “Taka pa, aku ngerti kok kamu kelelahan Karenna sejak kemarin malam dan seharian tadi jagain Aira, aku yang seharusnya minta maaf padamu, Ra.” “Ya sudah kalo gitu alangkah lebih baiknya kalau kita saling memaafkan.” “Thanks ya Ra, kamu sudah ada untuk Aira,” lirih Will, ia tersenyum dengan bibir di kulum dan mata sabit yang terlihat sayu. Dia tampan, aku harus mengakui itu bahkan pesonanya sanggup meluluhkan. Beberapa detik berlalu dengan kami saling bertatapan lalu tak terduga Will meraih tubuhku dalam dekapannya. “Will,” ucapku sambil menepuk pundaknya pelan. Aku tidak mengerti kenapa dia memelukku seperti ini. “Aku … maaf aku tadi reflek memelukmu,” jawab Will seraya melepaskan pelukkannya dari tubuhku dan mulai berbalik memunggungi. Aku tahu dia sedang merasa canggung. Tubuhnya masih mematung dan kini aku berinisiatif mendekatinya, memberanikan diri untuk memeluknya dari belakang. “Aku hanya sedang mencoba memahami dan menerima semuanya Will. Aku juga ingin dicintai seperti Kania, tetapi aku belum siap untuk membuka hati.” Aku berbisik lirih di telinganya, entah punya keberanian ini dari mana hingga sebuah ungkapan tadi terlahir begitu saja. Will mempererat genggaman tanganku yang melingkari pinggangnya. “Aku tahu, ambillah waktumu dan aku bersabar untuk menunggu.” Malam ini aku merasa seperti melakoni sebuah drama di panggung sandiwara. Tidak ini bukan sandiwara, nyatanya kenyamananku bersama Will tercipta oleh waktu yang tidak sebentar, tercipta oleh kedekatan yang begitu sabar meski pun aku tahu di hati Will sosok Kania tak pernah tergantikan. *** To be continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN