Disadari atau tidak nyatanya kedekatanku dengan Willan menumbuhkan benih-benih rasa nyaman dalam hati. Semalam apakah aku tidak salah dengar? Will mengungkapkan perasaannya terhadapku, tetapi aku memilih untuk memikirkannya terlebih dahulu. Naif mungkin, karena nyatanya aku juga mulai suka.
Pagi ini aku lebih semangat membereskan rumah sebelum pergi ke rumah Willan. Semua baju yang kotor sudah dicuci bersih tak lupa juga membersihkan sarang laba-laba yang di langit-langit ruangan. Sambil membersihkan rumah nyatanya aku terus tersenyum membayangkan Willan. Semalam tidak menyangka saat dia bercerita malah kutinggal tidur begitu saja, sampai-sampai aku bermimpi tentang Danil.
Apakah aku mulai jatuh cinta pada Willan? Meski sudah begitu dekat dengan kedua anaknya, aku masih tidak yakin kalau Aira dan Miko bisa menerimaku. Itu menjadi pertimbangan paling rumit di pikiran. Lagian aku juga tidak ingin terburu-buru. Masih ingin menyembuhkan luka trauma dalam hati.
Jika tiba-tiba nanti Danil datang saat aku sudah menjadi isterinya Will, lalu kemudian lelaki itu marah dan mencelakai salah satu di antara kami bagaimana? Karena aku yakin orang seperti Danil masih akan terus mencari keberadaanku. Dia tipe orang yang tidak mudah menyerah sebelum keinginannya tercapai. Mengingat semua itu pikiranku menjadi kacau.
Aku meraih ponsel yang dulu nomornya sudah . Berselancar di dunia Maya dan mengetik nama Danil di pencarian laman f*******:. Foto profilnya masih sama, ada aku yang berdiri di sampingnya dan ia melingkarkan kedua lengan di pinggangku. Itu foto profil dua tahun yang lalu dan ternyata lelaki itu sampai sekarang belum menggantinya. Tidak ada postingan terbarunya dan aku mengira dia tidak lagi aktif di medsos sejak peristiwa aku kabur dari rumah. Apa dia hanya sibuk mencariku? Dan aku bersyukur karena hingga saat ini lelaki bengis itu tidak menemukanku. Semoga saja selamanya takdir tak lagi mempertemukanku dengan Danil.
Baru saja aku meletakkan ponsel ke atas nakas, benda pipih itu berbunyi. Ada panggilan masuk dan di layar tertera nama Will. Aku segera mengangkatnya.
[Ya, Hallo Will.]
[Ra, kamu jadi kan ikut bersama kami ke Pantai Teluk. Anak-anak sudah bersiap dan sudah menunggu.] Suara Willan di seberang telepon terdengar begitu bersemangat. Dan semangatnya itu seketika menular padaku.
[Kalo misalnya aku nggak jadi ikut, apa itu bermasalah?] Aku mencoba menggoda Willan.
[Jelas bermasalah dong, Aira dan Miko pasti kecewa berat. Mau kamu dijutekin mereka?]
Kali ini terdengar tawa Willan di seberang sana.
[Terus kira-kira aku harus bagaimana membujuk mereka?]
[Makanya buruan datang ke sini, atau apa perlu kujemput sekarang?]
[Nggak usah Willan, aku kan bisa ke sana sendiri naik sepeda. Tunggu aja ya sebentar lagi, aku masih bersih-bersih rumah dan juga belum mandi.]
[Pantes bau asemnya nyampe ke sini. Ternyata kamu belum mandi toh.]
Aku tahu Willan di sana sedang menggodaku dengan jokes garingnya itu.
[Kalau baunya tercium sampai ke sana, jelas itu bukan aku yang belum mandi tapi Papanya Aira dan Miko tuh yang belum mandi. Hayooo ngaku.]
Kemudian kami sama-sama tertawa di sambungan telepon.
[Yasudah cepet ke sini ya, anak-anak kayanya sudah ngak sabaran tuh pengen cepet pergi ke pantai.]
[Oke siap bos, aku akan segera ke sana.]
Setelahnya aku segera mematikan sambungan telepon dan bersiap untuk membersihkan diri.
Aku memilih kaos biasa dan jeans panjang. Menyisir rambut dan mematut diri di cermin sebentar sebelum akhir mulai pergi menuju ke rumah Willan.
Sepanjang jalan sambil mengayuh sepeda aku asik menyanyikan lagu. Entah kenapa saat aku bahagia maka aku lebih senang untuk bersenandung, meskipun menyadari suaraku Faks dan terdengar tidak enak untuk ukuran seorang penyanyi. Tak apa toh aku bernyanyi untuk sendiri.
Sampai di pertigaan aku bertemu dengan Kania, dia sepertinya barunpulang belanja karena aku melihat di tangannya penuh dengan plastik berwarna putih.
"Mau ke mana Ra?" tanya saat kami berpapasan, aku memilih berhenti sebentar.
"Aku mau ke rumah Will."
"Liburan ya?" tanya Kania dengan senyum dikulum.
"Aira dan Miko ingin pergi ke pantai, mereka mengajakku untuk ikut serta."
"Bagus itu, lekaslah ke sana. Selamat berakhir pekan ya, semoga hari kalian menyenangkan."
Aku mengangguk.
"Oh iya, mau kuantar pulang? Kayaknya kamu repot banget cangking plastik banyak gitu?" Aku mencoba menawarkan bantuan. Setidaknya ada jok boncengan sepeda di belakang bisa dimanfaatkan untuk membantunya.
"Nggak usah, toh udah Deket dari rumah." Kania menolak dengan halus.
"Serius? kamu nggak repot bawa barang sebanyak itu, Kania?"
"Nggak kok, lagian ini enteng cuma ciki dan wafer. Stok cemilan buat di rumah."
"Oke kalau gitu aku jalan dulu ya."
"Iya Ra, kamu hati-hati di jalan ya."
Aku segera mengayuh sepeda lagi, kali ini lenih cepat karena ingin segera sampai ke rumah Willan.
***
“Mbak Lara …,” teriakan khas suara Aira terdengar saat aku baru saja menyandarkan speda dihalaman rumah Will. Gadis kecil itu menyongsongku, napasnya terengah-engah dan tubuh kecilnya memelukku erat.
“Kata Papah Mbak Aira gak akan ikut ke pantai, Aira sedih,” tuturnya dengan sendu. Astaga kenapa Will iseng sekali mengerjai anaknya?
“Mbak Lara ikut kok, Sayang. Kan kita udah janji akan menghabiskan akhir pekan ini di pantai.” Aku mengelus puncak rambutnya dan menepuk-nepuk bahunya dengan lembut. Mencoba menenangkan Aira yang masih terlihat sedih gara-gara ulah papahnya yang konyol itu.
“Aira tadi nangis dan saat duduk di teras tiba-tiba melihat Mbak Lara datang, Aira sangat senang. Papah bohongin Aira pasti.”
“Iya ini ulah papahnya Aira, mungkin Papa ingin mengerjai Aira.”
Gadis itu kini mulai tersenyum sumringah.
“Aira senang Mbak Lara ikut, apa kita akan memanggang sosis barbeque di sana?”
“Tentu saja.”
“Horee,” teriaknya girang. Gadis itu berbalik tetapi saat dilihatnya papanya sudah berada di situ, ia malah meninju Will sambil mengatakan.
“Jangan bohongi Aira lagi, itu tidak lucu, Pa. Buktinya Mbak Lara datang kok.
”Aira menatap kesal pada papahnya lalu berlari ke dalam rumah sambil memanggil Miko.
Will tersenyum-senyum menatap ke arahku.
“Kamu membohongi Aira dengan mengatakanku tidak datang, astaga keterlaluan sekali. Atau apa mungkin kamu mengharapkanku tidak datang?” tanyaku dengan mengangkat kedua alis.
“Nggak gitu Ra, aku Cuma iseng kok. Tapi Aira menanggapinya serius. Kamu bawa apa?”
“Bawa diri,” ujarku ngasal sambil ngeloyor ke dalam, meninggalkan Will yang masih tersenyum iseng.
Lima belas menit kemudian semua persiapan telah siap dan lengkap, barang-barang yang mau dibawa sudah tersusun rapi di mobil. Aira dan Miko memilih duduk di jok belakang, sedangkan Aku di depan, di samping Will yang duduk di jok kemudi. Kami menikmati perjalanan dengan saling melontar canda atau sesekali bernyanyi mengikuti lagu yang diputar di mobil. Perjalanan menuju ke pantai ternyata tidak seperti yang kubayangkan, sempat mengira bahwa tidak akan sejauh ini dan nyatanya sudah nyaris satu jam lebih tetapi kata Will ini baru separuh jalan. Aku mulai merasakan mual, sedangkan kulihat Aira terkantuk-kantuk di jok belakang dan Miko masih asik dengan permainan game di hapenya.
“Will aku mulai mual.”
Lelaki yang sejak tadi fokus mengemudi itu menoleh ke arahku, ia menggaruk kepala sekilas dengan senyum yang cukup aneh.
“Maaf Ra, aku lupa bawa minuman bersoda. Aku juga lupa bahwa ternyata kamu itu pemabuk yang payah. Atau … kita berhenti di depan mencari mini market buat beli Fanta.”
Aku mengangguk lesu, terasa keringat dingin telah membasahi seluruh tubuh, kepala terasa berat dan aku memutuskan untuk memejamkan mata, berharap dengan terlelap rasa mual ini akan hilang. Namun jangankan terlelap aku justeru merasakan mual yang teramat sangat hingga sepertinya perut ini terasa diaduk-aduk. Tahan jangan sampai muntah, ucapku dalam hati. Tidak lama kemudian Willan menghentikan mobilnya di bahu jalan dan ia segera keluar menuju mini market di seberang jalan. Aku yang sudah tak kuat lagi menahan mual, segera turun dari mobil berlari menuju tempat sepi dan memuntahkan isi perut di dekat got. Setelah muntah seperti ini rasanya memang lumayan lega, tetapi lidah ini terasa pahit dan sedikit asam. Kepalaku masih terasa pusing dan mencoba menyenderkan tubuh di batang pohon akasia yang cukup rindang. Dari jauh terdengar suara Will memanggil namaku berulang-ulang, bahkan untuk menyahut saja seakan lidah ini kelu, tubuhku bergetar entah kenapa, mungkin efek mabuk yang menyakitkan ini hingga tubuh terasa lemas.
“Lara, astaga kamu gak papa kan?” Will menghampiriku yang sedang bersandar sambil memijit kepala.
“Ayo minum ini,” ucapnya lagi seraya membukakan minuman bersoda itu ke hadapanku. Aku segera meraihnya dan meneguk perlahan. Rasa hangat menjalari kerongkongan dan pahit yang terasa dio lidah tadi menjadi hilang. Aku merasakan tangan Will memijit bagian tengkuk, ia menatapku dengtan tatapan khawatir.
“Apa perjalannya masih jauh, Will?” tanyaku, berharap lelaki itu menjawab dengan kalimat sebentar lagi atau beberapa menit lagi.
“Masih sekitar satu jam lagi, ayo semangaat,” jawabnya sambil mengangkat satu tangan ke arahku.
“Satu jam lagi?” tanyaku menghela napas jengah.
Will mengangguk.
“Aku lemas Will.
“Mau aku gendong ke mobil?”
“Aku masih bisa jalan,” ujarku segera bangkit dan mulai berjalan tertatih, masih terasa pusing tetapi aku mencoba menahannya.
“Sini aku bantu.” Willan mencoba memapahku. Kami berjalan beriringan menuju mobil. Aku mencoba memejamkan mata dan memilih untuk bisa terlelap saat mobil kembali meluncur membelah jalanan. Aku terus mensugesti diri bahwa aku akan baik-baik saja, bahwa tubhku akan erilex dan bisa terlelap. Terkadang kita harus mensugesti diri dengan kalimat baik agar tubuh merespon dan alam bawah sadar kita merekamnya dan konon katanya hal itu bisa sangat positif bagi tubuh.
“Tidurlah, Ra. Nanti kalau udah sampai aku bangunin. Tuh Aira aja udah tidur dari tadi,” ucap Will. Aku menengok ke jok depan, benar ternyata gadis itu sudah tertidur dengan pulas berbeda dengan Miko yang masih tak mengalihkan fokusnya dari gadget.
“Ya, aku akan segera tidur, Will.”
“Yang pulas ya, Sayang.”
Aku tertegun beberapa saat mendengar Will menyebutku dengan kalimat ‘sayang’ apa aku tidak salah dengar?
“Apa?”
“Yang pulas tidurnya, Lara.”
“Nah kalau gitu memang benar, jangan diulangi lagi kalimat yang tadi, kau tidak lihat ada Miko ada di belakang? Dia bisa saja mendengar kalimatmu yang tadi,” ucapku dengan nada berbisik.
Mendengarku mengatakan hal itu, Will malah terbahak hingga suaranya membuat tidur pulas Aira terusik. Gadis itu sempat terbangun sebentar kemudian lelap kembali. Miko mulai meletakkan ponselnya dan ia meraih bantal kecil untuk dijadikan senderan leher dengan posisi tertidur.
“Kenapa kamu tertawa sangat keras, Aira sempat terbangun tadi dan sungguh bukan kah tidak ada yang lucu, kenapa harus tertawa sekeras itu?” Aku bersungut kesal, niat semula akan tidur menjadi buyar seketika.
“Hal sekecil itu masih kamu permasalah kan, apa yang salah coba dengan aku memanggilmu ‘Sayang’?”
Sebelum menimpali kalimat Will aku menengok kembali ke jok belakang untuk memastikan bahwa Miko juga terlelap. Untungnya anak lelaki itu memang sudah tertidur.
“Kamu tahu tidak Will, bahwa tidak mudah menerima kehadiran sosok lain di sisi ayahnya bagi anak-anak yang telah kehilangan ibunya. Itu mengapa meski sudah sedekat apa pun kita, aku terus berusaha menjaga hati Aira dan juga Miko agar tidak terluka.”
Willan tertegun seketika, seraya mengernyitkan dahinya tetapi matanya masih tetap fokus menatap jalan. Sebelum menjawab perkataanku ia melirik sekilas menatapku.
“Kenapa kamu berpikiran seperti itu, Ra? Aku bahkan melihat Aira begitu menyayangimu, sangat terbuka juga terhadapmu. Setelah beberapa waktu yang kita lalui bersama, apa kamu masih berpikir bahwa Aira dan juga Miko tidak menerimamu?”
“Karena kita tidak tahu dengan hati terdalam mereka.”
“Pliis buang pikiran negatifmu itu.”
“Aku bicara apa adanya Will.”
“Tidak Ra, kamu ngaco dan mungkin ini efek mabuk dan tubuhmu yang lemah. Jadi sebaiknya tidurlah,” perintah Will.
Tangan besarnya mengusap puncak kepalaku. Ya, sebaiknya aku tertidur karena mataku juga sudah terasa berat dan mengantuk.
Aku mulai menyandarkan tubuh ke sandaran jok dan mulai memejamkan mata, berharap saat terbangun nanti mobil yang kami tumpangi ini sudah sampai di tempat tujuan.
****
To be continue