1). Malam Pertama?
"Hai, cantik. Kamu sudah siap?"
Sejak tadi sibuk bergelut dengan tegang, gadis berpiyama biru tersebut mendongak setelah suara berat nan seksi terdengar dari arah pintu kamar mandi.
Tak ada senyuman ceria layaknya pengantin baru pada umumnya, gadis bersurai hitam panjang itu justru meringis tatkala netranya dan netra pria berusia matang yang barusaja resmi menjadi suaminya itu bertemu.
Genit dan siap menerkam.
Itulah penilaian gadis itu terhadap sang suami sehingga alih-alih menghampiri, dirinya justru sibuk merafalkan doa—seolah pria berkolor hitam di ambang pintu adalah jin yang bisa dia usir dengan doanya itu.
"Cantik sekali kamu, Sayang."
Lagi, gadis itu kembali meringis sementara bulu halus di sekujur tubuhnya merinding tanpa permisi. Merapatkan punggung pada sandaran kasur, dia mulai waspada karena tak lagi diam, pria bertubuh jangkung di depannya itu perlahan melangkah.
Setapak demi setapak, kaki pria itu berjalan mendekat—membuatnya dilanda ketakutan mendalam. Namun, tak peduli seberapa besar rasa takut yang dia rasakan, pria bernama Jeffran tersebut tetap mendekat bahkan tanpa ragu duduk di depannya yang sejak tadi duduk bersila.
"Malam ini adalah malam pertama kita, Sayang. Jadi kamu harus memuaskan saya oke?" tanya Jeffran dengan senyuman khas Om-om hidung belang. "Kamu harus buat saya bercucuran keringat, karena memang itulah tugas kamu sebagai istri kedua saya. Paham, kan?"
"Aku bahkan enggak tahu harus lakuin apa malam ini. Aku enggak bisa."
Jeffran mengukir senyum simpul. Tak terlihat indah, senyuman tersebut justru nampak mengerikan—membuat gadis muda di depannya refleks meremas seprai karena ketakutan mendalam yang tiba-tiba saja menyelimuti.
Demi apa pun dia ingin kabur saja dari kamar serasa penjara ini. Namun, sial hal tersebut tak bisa dia lakukan karena jangankan berlari, beranjak dari kasur saja dia tak mampu kedua kakinya lakukan.
"Enggak bisa?" tanya Jeffran tanpa melunturkan senyuman dari bibirnya. "Tenang saja, kamu hanya perlu patuh pada semua instruksi saya, karena di sini saya pemimpinnya dan kamu bawahan. Tidak perlu melakukan banyak hal, kamu hanya perlu menikmati semuanya dan setelah itu kita akan menuai hasil. Tidak lupa, kan, kamu saya nikahi untuk apa?"
"Enggak, Tuan, saya enggak lupa."
"Good," puji Jeffran. "Sekarang saya matikan dulu lampu utamanya ya. Lampu temaram lebih menyenangkan."
Tak melontarkan sepatah kata pun, gadis berpiyama biru itu memilih diam sementara tenggorokannya sendiri sibuk menelan saliva yang terus muncul karena rasa takut dan tegang yang bercampur menjadi satu.
"Semuanya sudah siap, Rinai, mari kita bersenang-senang."
Waktu seolah berjalan begitu cepat, suasana kamar yang semula terang benderang, seketika berubah menjadi temaram. Tak ada kesenangan, tegang dan takut justru semakin merajalela sementara dengan langkah yang pasti, Jeffran mendekat untuk kemudian duduk di kasur.
"Saya harus mulai dari mana ya?" tanya pria itu dengan semangat yang terlihat berada di puncak. "Bibir, hidung, atau langsung ke yang utama? Duh, saya bingung, Rinai. Coba kamu kasih saya saran biar saya tidak bingung. Semua yang ada di diri kamu menarik perhatian saya soalnya."
"Saya enggak tahu, Tuan," ucap gadis di depan Jeffran dengan suara yang terdengar bergetar. "Kalau saya boleh memilih, saya belum siap."
"Belum siap katamu?" tanya Jeffran dengan senyuman menyeringai.
Tak diam saja, telapak tangannya bertindak. Meraih dagu gadis muda yang dia panggil Rinai, Jeffran perlahan mengangkat dagu gadis cantik di depannya agar sedikit mendongak, dengan atensi yang tentu saja terarah padanya.
"Saya sudah bayar kamu mahal, Rinai. Jadi jangan pernah berkata tidak siap karena kapan pun saya mau, kamu harus siap. Paham?"
"Paham, Tuan, tap-"
"Jangan ada tapi, karena saya tidak suka," desis Jeffran dengan raut wajah yang terlihat lebih serius dari sebelumnya. "Tugas kamu itu manut. Jadi diam dan terima saja semuanya oke? Sekali kamu melawan, kamu habis di tangan saya."
"B-baik, Tuan, ampun."
"Bagus," kata Jeffran. "Sekarang karena malam sudah larut, kita mulai semuanya. Lebih cepat lebih baik."
Tak menjawab, gadis di depan Jeffran itu memilih diam sementara kedua matanya perlahan menyipit karena tak terus diam, Jeffran mulai mendekatkan wajah ke arahnya. Dilanda ketakutan, dia memejamkan mata sehingga gerakan tangan Jeffran pun tak terlihat.
“Tuan ….”
Memanggil sambil meringis, pun kedua mata yang terpejam, itulah yang gadis di depan Jeffran lakukan setelah tangan besar milik Jeffran menelusup dengan sempurna ke dalam piyama yang dia pakai.
“Siap, Rinai?” tanya Jeffran dengan senyuman menyeringai.
“Enggak, Tuan, saya enggak siap.”
“Dahayu Rinai, are you kidding me?”