8). Siapa Tamu Mahesa?

840 Kata
*** "Pak Mahesa? Bapak di dalam?" Bertanya setelah sebelumnya mengetuk pintu, itulah yang Rinai lakukan di depan kamar Mahesa. Bukan tanpa tujuan, kedatangannya ke kamar sang majikan memiliki alasan, yaitu; memberitahukan kedatangan seorang perempuan yang mengaku sebagai teman Mahesa. Entah benar atau tidak pengakuan tersebut, Rinai tak ambil pusing karena masalah pribadi Mahesa entah itu percintaan mau pun yang lainnya, jelas bukan urusannya. "Ada apa?" "Ada tamu, Pak, di bawah," kata Rinai setelah sebelumnya Mahesa menyaut. "Mau ketemu Bapak katanya." "Siapa?" tanya Mahesa dari dalam kamar—masih dengan kondisi pintu tertutup. "Hm, namanya Freya," kata Rinai—mengingat lagi nama perempuan yang malam ini berkunjung. "Katanya sih teman Bapak." "Oh," jawab Mahesa. "Bilangin, tunggu sebentar. Saya pake baju dulu." "Oh, Bapak enggak pake baju?" tanya Rinai spontan. "Iya, kenapa?" "Pantesan pintunya enggak dibuka," kata Rinai. "Saya pikir Bapak judes , tapi ternyata karena enggak pake baju toh. Ya udah deh saya ke bawah dulu." "Silakan." Tak banyak drama, Rinai memutuskan untuk melangkah pergi meninggalkan kamar Mahesa. Namun, baru beberapa langkah berjalan, dia teringat sesuatu sehingga dengan segera Rinai berbalik. "Pak." "Apalagi, Rinai?" "Tamunya buatin minum jangan?" tanya Rinai. "Saya nanya karena barangkali aja tamunya enggak lama." "Buatkan teh hangat tawar aja. Dua sama buat saya." "Oh, siap." Tak ada lagi yang harus ditanyakan, Rinai kembali bergegas. Tersenyum tipis ketika tiba di lantai bawah, dia pergi ke dapur tanpa menyapa sang tamu. Tak terhalang apa pun, ruang tamu dan tengah memang menyatu sehingga ketika orang rumah turun dari lantai atas, tamu di sofa ruangan paling depan bisa melihat dengan jelas. "Cantik banget Mbaknya," gumam Rinai di sela kegiatan membuat teh. "Beneran teman Pak Mahesa apa pacarnya ya?" "Ck, Rinai, enggak usah kepo! Mau pacarnya, temannya, atau neneknya Pak Mahesa sekali pun, kamu enggak perlu tahu karena tugas kamu di sini tuh kerja." "Oke, fokus." Ketika Rinai sibuk mengomeli diri sendiri, maka Mahesa barusaja turun dari lantai dua. Kembali memakai kaos yang seharian ini dikenakan, dia mengurungkan niatnya mandi demi menemui Freya—sang kekasih yang beberapa bulan ini dia pacari. "Hai." "Halo, Mas, malam," sapa Freya dengan senyuman manis. "Maaf aku ganggu. Tadi tuh habis cari angin terus mendadak inget kamu. Jadi mampir deh." "Its okay," kata Mahesa sambil mendudukan dirinya di dekat Freya. "Saya kebetulan lagi enggak sibuk." "Syukurlah," kata Freya. "Oh ya, aku bawain kamu martabak, Mas. Lumayan buat camilan malam." "Waw," kata Mahesa. "Thank you so much." "My pleasure," kata Freya sambil tersenyum, hingga tak berselang lama atensinya beralih pada Rinai yang datang membawa nampan berisi dua cangkir teh. "Tehnya, Mbak, Pak," kata Rinai sambil menyimpan teh yang dia bawa di atas meja. "Teh tawar sesuai pesanan." "Terima kasih," kata Freya ramah. "Sama-sama." "Kamu bisa ke kamar," kata Mahesa. "Biar nanti gelasnya saya yang beresin." "Oh, baik, Pak." Tak mau cari masalah, Rinai bergegas. Tak ada adegan mengintip, dia memilih untuk pergi ke kamarnya dan Bi Asih sementara Mahesa sendiri memulai obrolan dengan Freya. Bukan dokter seperti dirinya, Freya adalah seorang designer dan tentunya tak hanya merancang baju, perempuan itu juga memiliki sebuah butik. Berbeda dengan Mahesa yang berstatus duda anak satu, Freya sendiri masih gadis. Namun, meskipun begitu hubungan mereka sejauh ini berjalan baik karena tak mempermasalahkan status Mahesa, Freya menerima dengan baik pria itu. Belum dikenalkan dengan Lily, sampai detik ini hubungan Mahesa dan Freya masih menjadi rahasia, karena memang tak mau sembarangan, Mahesa ingin mengenalkan Freya secara perlahan. Tak hanya Freya yang belum dikenalkan pada Lily, Mahesa pun belum bertemu dengan kedua orang tua sang kekasih, karena memang di usia hubungan yang belum terlalu lama, keduanya sepakat untuk menseriuskan dulu hubungan sebelum maju ke tahap yang lebih serius. "Aku pulang dulu ya kalau gitu. Takut Mami khawatir kalau kelamaan." Hampir dua puluh menit, Freya berpamitan. Tak dibiarkan pulang sendiri, perempuan itu diantar sampai ke depan, dan sepeninggalnya Freya, Mahesa memutuskan untuk membawa martabak yang dia dapat menuju dapur. Membuka kemasan martabak, Mahesa tersenyum hingga sebuah ucapan dari arah pintu kamar Bi Asih membuatnya sedikit tersentak. "Di kota emang kebalik ya, Pak? Bukan cowok, tapi ceweknya yang bawa martabak." Tak bisa diam saja, pada kenyataannya Rinai gatal sehingga meskipun sedikit takut, dia memberanikan diri untuk bertanya. "Maksud kamu?" tanya Mahesa sambil menaikkan sebelah alis. "Ya kalau di daerah saya biasanya yang bawa martabak tuh cowok pas main ke rumah ceweknya," kata Rinai. "Ini Bapak sama pacar Bapak malah kebalik." "Darimana kamu tahu Freya pacar saya?" tanya Mahesa sambil menaikkan sebelah alis. "Kamu nguping?" "Enggak." "Terus?" "Nebak aja," kata Rinai. "Kalau bukan pacar, Mbak Freya enggak akan datang malam-malam ke rumah Bapak. Iya enggak?" "Jangan bilang apa-apa ke Lily," kata Mahesa. "Kenapa, Pak?" "Ya karena dia enggak tahu saya dan Freya punya hubungan," kata Mahesa. "Lily sedikit possesif pada saya, dan dia enggak suka saya dekat dengan perempuan mana pun. Jadi tolong jangan bilang apa-apa tentang kedatangan Freya." "Oh, baik, Pak," kata Rinai. Diam selama beberapa detik sambil berpikir, selanjutnya dia berkata, "Tapi untuk itu boleh enggak saya minta imbalan?" Refleks menaikkan sebelah alis, hal tersebut Mahesa lakukan dan tak diam, selanjutnya dia bertanya, "Imbalan apa?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN