6). Pertama Kali Menjaga Lily?

972 Kata
*** "Ini kamarnya, Mbak. Selama kerja di rumah Pak Mahesa, Mbak Rinai bakalan nempatin kamar ini. Nanti malam Mbak tidurnya sama saya dulu, karena kan saya pulangnya besok." Sibuk mengedarkan pandangan, itulah Rinai setelah Bi Asih membawanya ke sebuah kamar yang ada di belakang. Masuk melalui salah satu pintu di dapur, Rinai ditunjukan kamar pekerja karena memang setelah memohon dengan wajah memelas, dia diterima untuk bekerja di rumah Mahesa. Tak langsung menjadi pekerja tetap, Rinai harus melewati uji coba selama seminggu. Jika dirinya bertanggungjawab menjaga rumah mau pun Lily, Mahesa akan terus mempekerjakannya. Namun, jika yang terjadi justru sebaliknya, mau tak mau Rinai harus angkat kaki dan Mahesa tak menerima kompromi, karena salah satu alasan Rinai diterima pun adalah; rengekan Lily yang terus meminta ayah tercintanya menerima aunty cantik. "Itu ac, Bi?" tanya Rinai setelah mendapati benda berbentuk persegi panjang di bagian atas. "Iya, Mbak, itu ac," kata Bi Asih. "Suhu di Jakarta kan panas banget. Jadi ac harus selalu nyala biar enggak kegerahan. Mati sebentar aja Mbak Rinai enggak bakalan bisa tidur." "Oh gitu." "Nyaman enggak menurut Mbak Rinai, kamarnya?" tanya Bi Asih. "Saya pribadi sih nyaman, karena untuk sekelas art kaya saya, kamar ini gede." "Nyaman sih kayanya, Bi, nanti dicoba aja dulu tidur di sini," kata Rinai. "Kalau pun enggak nyaman, saya harus maksain diri karena selain rumah Pak Mahesa, saya enggak punya tujuan." "Iya sih ya," kata Bi Asih dengan wajah iba, karena sebelum ini, dia sudah mendengar cerita Rinai. "Semoga betah deh di sini, soalnya dari yang saya lihat, Non Lily kayanya bisa banget nerima Mbak Rinai. Susah lho, Mbak, bikin anak kecil suka sama kita tuh. Saya aja sama Non Lily dekat karena saya udah ada pas dia lahir. Jadi enggak susah bujuknya." "Berarti Bibi tahu dong tentang istrinya Pak Mahesa?" tanya Rinai mendadak dilanda penasaran. Seolah akan mendengar cerita panjang, selanjutnya dia mendudukan diri di pinggir kasur sementara Bi Asih memberikan jawaban. "Tahu dong, Mbak," kata Bi Asih. "Saya tuh kerja dari pas mendiang istrinya Pak Mahesa hamil. Jadi ya akrab. Ikut nangis malah saya pas beliau meninggal. Enggak rela gitu karena beliau baik banget. Perawakannya sendiri kaya Mbak Rinai. Mungil." Tersenyum tipis, selanjutnya itulah yang Rinai lakukan sebelum kemudian kembali bicara. "Pak Mahesa setia banget berarti ya. Istrinya udah enam tahun meninggal, tapi beliau masih menduda sampai sekarang." "Iya, Mbak," kata Bi Asih sambil tersenyum. "Pak Mahesa katanya enggak mau mikirin dulu pasangan, karena ada Non Lily yang masih butuh beliau. Kalau udah punya istri, Pak Mahes khawatir sayangnya kebagi. Jadi setidaknya sampai Non Lily dewasa, beliau mungkin bakalan terus jadi duda biar kasih sayangnya cuman tercurah buat Non Lily." "Manisnya," puji Rinai. "Eh, nama anaknya Pak Mahesa tuh asli Lily, Bi? Apa enggak? Lucu kalau Lily, nama bunga." "Nama aslinya mah Lineta Jesslyn Gautama, Mbak, cuman dipanggil Lily karena dulu mendiang ibunya suka bunga Lily. Biar enggak lupa katanya." "Ya Allah, family man banget." Ketika Rinai dan Bi Asih sibuk memperbincangkan Mahesa, maka yang dibicarakan justru tengah sibuk dengan ponsel. Tak di balkon, saat ini Mahesa tengah menemani Lily yang sejak tadi mewarnai buku gambar. Namun, karena sebuah panggilan dari rumah sakit, mau tak mau dia menjeda dulu kegiatannya membantu sang putri. "Ya sudah kalau begitu siapkan ruang operasi langsung sama yang lainnya ya. Dua puluh menit saya sampai." Usai mengbrol panjang, ucapan tersebut Mahesa lontarkan sebelum kemudian menutup telepon. Beralih atensi pada sang putri, selanjutnya dia buka suara. "Ly, Ayah izin ke rumah sakit ya. Ada pasien urgent dan ayah harus operasi secepatnya." "Lho, bukannya hari minggu ini Ayah mau habisin waktu sama Lily? Kok ke rumah sakit?" tanya Lily dengan raut wajah merengut, karena memang sebelum ini, Mahesa sudah berjanji untuk ada di rumah seharian penuh. "Iya, Sayang, tapi ini Ayahnya ada pasien di rumah sakit," kata Mahesa pelan-pelan. "Izin pergi dulu ya. Enggak lama kok." "Bohong!" ujar Lily dengan kedua tangan di d**a. "Ayah selalu bilang gitu setiap pergi mendadak, tapi selalu lama. Ayah enggak pernah nepatin janji." "Ly." "Lily kesal sama ayah!" ujar Lily. "Ayah selalu pentingin kerjaan dibanding Lily. Padahal, Lily juga butuh ayah." "Sayang, tolong ya, Nak," ucap Mahesa. "Ayah janji nanti kalau penanganannya udah selesai, ayah langsung pulang. Izinin ayah pergi ya? Lily kan anak ayah yang paling cantik." Tak menjawab, Lily hanya merengut dengan kedua mata berkaca-kaca, dan hal tersebut membuat Mahesa dilanda bingung. "Lily anak ayah." "Sana aja pergi, tapi habis itu Lily mau marah sama ayah," kata Lily. "Lily enggak mau ngomong sama ayah dan Lily mau diemin ayah. Pokoknya Lily marah!" Lagi, Mahesa diam sebelum akhirnya beringsut. Berjalan menuju meja, pria itu menyambar kunci mobil sebelum kemudian pergi meninggalkan kamar dan kepergiannya tentu saja membuat Lily tak kuasa lagi menahan tangis. Mendesah tanpa berhenti melangkah, Mahesa terus melanjutkan niatnya hingga ketika tiba di lantai bawah, sebuah tanya terdengar—membuat dia menoleh. "Pak, Lily kok nangis? Ada apa?" Bukan Bi Asih, yang bertanya adalah Rinai dan tak diam, Mahesa menjawab, "Saya mau ke rumah sakit buat operasi, Lily enggak kasih izin. Jadi nangis." "Boleh saya tenangin?" "Bisa?" tanya Mahesa sambil menaikkan sebelah alis. "Bisa dong, Pak," kata Rinai percaya diri. "Ya sudah," kata Mahesa. "Tapi jangan macam-macam ya. Lily ada di kamar saya." "Maksudnya macam-macam tuh maling?" tanya Rinai. "Enggak kali, Pak. Saya enggak sekriminal itu." "Ya udah sana." "Oke." Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, dengan segera Rinai bergegas. Pergi menuju kamar Mahesa, dia melakukan tugasnya dengan baik karena tanpa perlu bersusah payah, Rinai berhasil menenangkan Lily dengan menawarkan diri untuk menemani gadis enam tahun itu mewarnai. Duduk di tepi kasur, sesekali Rinai mengedarkan pandangan hingga tak berselang lama atensinya tertuju pada figura kecil di atas meja nakas. Berisi foto perempuan, Rinai mengernyit sambil meraih figura tersebut untuk kemudian dipandangi dengan seksama, hingga selang beberapa detik, sebuah tanya terlontar "Ini foto istrinya Pak Mahesa apa bukan ya? Mukanya mirip mendiang Ibu pas muda."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN