bc

JANGGASARA

book_age16+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
time-travel
scary
campus
small town
like
intro-logo
Uraian

Widar, Seorang mahasiswa dari desa terpencil yang bernama Huluwulung. Dia dipaksa untuk PKL di desa bersama teman-temanya oleh kepala desa Huluwulung. Desa itu menganut kepercayaan sunda kuno sehingga jauh darikata moderenisasi. Yang ada hanya ritual-ritual kedekatan dengan alam, alam dunia dan alam gaib. Widar tak ingin kembali ke Desa itu, bukan karena tradisi desa, melainkan karena Widar menyimpan rahasia yang mengerikan hingga Widar kehilangan orang tuanya dan bahkan seluruh teman-temanya. Anehnya dia kembali terbangun dan dipaksa untuk mengulai semua kejadian itu oleh sosok yang menjadi Penjaga Desa Hulu wulung, tidak, bukan penjaga tapi Iblis yang mempermainkan Manusia, yang bernama JANGGASARA.

chap-preview
Pratinjau gratis
PROLOG
Dia Isna, Adik perempuan yang paling Widar sayangi. Gadis sepuluh tahun itu seperti anak kijang yang baru mengenal padang hijau, dengan tawa renyah yang sering memecah keheningan sore. Di belakangnya, Widar, kakaknya yang tiga tahun lebih tua. DIa selalu menjadi bayangan setia. Tidak peduli seberapa jauh Isna melangkah, Widar pasti ada tepat di belakangnya, seolah benang halus tak kasat mata selalu mengikat keduanya. “Ka, ayo cepat!” Isna menoleh, rambutnya yang hitam tergerai dihembus angin, mata bundarnya penuh cahaya nakal. Widar terengah, tetapi bibirnya menyunggingkan senyum yang sama. “Kamu lari terus, nanti jatuh loh.” Namun meski berkata begitu, Widar tak pernah benar-benar menahan adiknya. Ia tahu, menahan Isna sama saja seperti menutup pintu cahaya di dalam rumah mereka yang sempit. Selama Isna bisa tertawa, dunia selalu terasa lebih ringan. Kaos bergambar Hero dan baju gaun Isna penuh debu, lumpur dan tanah. Tak seperti di kota yang harus bersih, disini mereka menemukan kebebasan seolah tak peduli akan apa yang terjadi dengan pakaian mereka. Hari itu, mereka bermain bersama anak-anak desa. Berbeda dengan pakaian Widar dan Isna, Anak laki-laki mengenakan pangsi putih lusuh yang longgar, sementara anak perempuan berbalut kain samping dengan kemben sederhana. Pakaian mereka mungkin sederhana, namun mata mereka bersinar seperti bintang yang baru lahir. Di tanah berdebu, mereka saling berkejaran, melingkar, menjerit kecil, hingga suara tawa membumbung seperti asap dupa yang dipersembahkan ke langit. Isna menyelinap ke samping Widar, menggenggam tangannya erat. “Kita janji ya, jangan pisah. Sampai kapan pun.” Widar terdiam sebentar, menatap wajah adiknya yang polos. Ia tahu Isna kadang berkata sesuatu yang terasa lebih berat dari usianya, seolah suaranya meminjam gema dari tempat yang lebih jauh, lebih tua. Perlahan, ia mengangguk. “Janji.” *** Keluarga Isna baru beberapa bulan tinggal di sini. Desa Huluwulung, nama yang terdengar seperti bisikan sungai dalam hutan gelap. Terletak jauh di pedalaman, menembus rimba Sancang yang bagai tirai hijau raksasa, menutup dunia luar. Huluwulung bukan sekadar desa. Ia seperti fragmen dari masa lalu yang menolak mati. Rumah-rumah panggung berdiri rapat di tepi sawah, berdinding bilik bambu, beratap ijuk yang sudah menghitam. Jalan setapak dari bebatuan yang disusun rapi dan selalu basah oleh embun pagi, seakan bumi enggan melepaskan air matanya. Orang-orang desa masih hidup dengan nafas kepercayaan Sunda Wiwitan. Setiap pohon besar dianggap berjiwa, setiap aliran sungai diyakini memiliki penjaga. Malam hari, suara kentongan bukan sekadar tanda waktu, melainkan doa yang dipukul agar bayangan tak menelan rumah-rumah mereka. Isna beserta keluarganya awalnya terpesona. Desa ini tampak seperti dunia dongeng yang hidup. Orang-orang menyambut mereka dengan ramah, mengajak mereka ikut upacara kecil di balai desa, mengikat gelang janur di pergelangan tangan sebagai tanda diterima. Namun, di balik keindahan itu, ada sesuatu yang samar. Desa Huluwulung terlalu sunyi di malam hari. Angin yang lewat membawa bisikan, seperti suara anak-anak yang masih bermain meski tak ada seorang pun di halaman. Pohon-pohon tinggi di tepi desa, dengan akar menjuntai seperti jemari, sering terdengar bergetar padahal tak ada angin. *** Kedatangan keluarga Isna bukanlah kebetulan. Ayah mereka, Pak Sasmita, tenggelam dalam hutang. Warung kecil yang dikelolanya di kota bangkrut, meninggalkan hanya meja kosong dan tumpukan hutang yang tak pernah selesai dihitung. Hidup mereka terhimpit, sampai kabar tentang seorang kepala desa dari pedalaman datang bagai cahaya samar di ujung lorong. Namanya Ki Wira, pupuhu, pemimpin desa Huluwulung. Ia datang ke kota seperti bayangan asing, menawari pertolongan yang terlalu indah untuk ditolak. “Aki bisa memberi kalian rumah. Sawah untuk digarap. Pekerjaan untuk bertahan hidup,” kata Ki Wira dengan suara berat, matanya yang redup seperti obor tua yang tak pernah padam. “Tetapi ada satu syarat. Kalian harus mau ikut pindah ke desa kami, desa Huluwulung. Aki gak mau desa yang aki sayang terus menutup diri dari dunia luar. ” Ayah dan ibu Isna, yang sudah tak punya apa-apa, menerima syarat itu tanpa banyak pikir. Apa artinya tinggal kota jika perut anak-anak mereka tak bisa kenyang. Namun, Widar yang kala itu baru berusia tiga belas tahun, sempat merasakan keganjilan. Ia ingat bagaimana Ki Wira menatapnya lama, seakan melihat sesuatu yang lain di balik dirinya. Tatapan itu membuatnya gelisah, seolah tubuhnya menjadi cermin tempat bayangan orang lain menatap balik. Sejak hari mereka tiba di Huluwulung, hidup memang berubah. Sawah yang subur, hasil bumi yang melimpah, dan pekerjaan yang selalu tersedia seolah menutup luka masa lalu. Warga desa menyambut hangat, bahkan menyebut keluarga mereka sebagai “titisan yang datang untuk memperkuat Huluwulung.” Meskipun keyakinan berbeda, warga desa tidak pernah menatap curiga pada keluarga Isna. Mereka yang memeluk Sunda Wiwitan masih kerap mengadakan upacara sederhana di tepi leuweung, membakar dupa, menabur bunga, dan melantunkan kidung yang melayang ke angin malam. Sementara itu, ayah Isna setiap subuh tetap membangunkan keluarganya untuk shalat. Dua suara berbeda, dua jalan berbeda, namun keduanya berdiri berdampingan seperti dua batang pohon yang akarnya saling menjalar di tanah yang sama. Anak-anak desa kadang menirukan bacaan doa yang Widar lafalkan, sekadar main-main, sementara Isna ikut tertawa ketika ia diajari menyanyikan tembang kuno Sunda yang ia tak pahami sepenuhnya. Perbedaan itu bukanlah jurang, melainkan jembatan. Seakan-akan desa Hulu Wulung tahu caranya menjaga keseimbangan. Keyakinan adalah cahaya yang menuntun masing-masing, tetapi api unggun di tengah malam selalu jadi lingkaran yang sama, di mana semua duduk, berbagi cerita, dan saling menghangatkan. Dan bagi Isna yang masih kecil, dunia terasa sederhana. Tuhan bisa ia temui di sajadah lusuh kamar panggung mereka, juga dalam bisikan angin yang menelusup dari hutan, dalam nyanyian yang dilantunkan tetua desa. Baginya, tidak ada garis yang memisahkan. Hanya ada satu desa yang membentangkan lengannya, memeluk semua penghuninya tanpa bertanya apa yang mereka sembah. *** Tahun-tahun berlalu, dan perlahan-lahan keluarga Isna tak lagi dianggap orang luar. Rumah panggung mereka yang dulu sepi kini selalu ramai dengan suara tawa tetangga, riuh obrolan di serambi, juga aroma sayur asem yang kadang sengaja dibawakan ibu-ibu kampung. Ayah Isna sering membantu warga dalam urusan pertanian, ia membawa sedikit ilmu dari kota tentang pupuk, tentang cara menata lahan, namun ia tak pernah menafikan petuah tetua desa yang percaya pada tanda-tanda alam. Warga menyukai caranya, sederhana, tak pernah merasa lebih tahu. Karena itu, persaudaraan tumbuh. Mereka bahu-membahu saat musim panen, tertawa bersama di balai desa ketika bulan purnama, bahkan anak-anak Huluwulung sering bermain di halaman rumah Isna hingga senja. Tak ada lagi batas antara pendatang dan asli desa, semuanya telah bercampur menjadi satu tubuh, satu denyut. Namun, di balik keramahan itu, ada sesuatu yang tetap dijaga rapat. “Adat”. Sebuah garis halus yang tak pernah dilanggar, sebuah pusaka tak terlihat yang diwariskan dari leluhur. Dan disanalah, suatu hari, nama Isna akhirnya disebut. Hari itu, Isna berusia dua belas tahun. Usia yang dianggap sakral, ambang antara kanak-kanak dan dewasa. Maka desa memutuskan, ia harus melalui upacara adat pendewasaan. Balai desa dibersihkan sejak pagi, dihiasi janur kuning yang melilit tiang-tiang kayu. Warga berbondong-bondong datang, membawa sesajen bunga, padi, dan air dari mata sungai yang dianggap suci. Api unggun dinyalakan di tengah lapangan, asapnya menjulang, bercampur harum dupa yang dibakar oleh para tetua. Isna duduk di lingkaran, tubuhnya dibalut kain putih sederhana. Matanya gugup, tangannya dingin, tapi ia mencoba tetap tegak. Di sekelilingnya, suara gamelan desa bergema pelan, menandai dimulainya prosesi. Tetua adat, Nyi Laras melantunkan kidung, suara seraknya seperti bercampur dengan desir angin malam. Lalu mereka menaburkan bunga di atas kepala Isna, seolah menandai kelahiran barunya. Orang-orang menunduk, hening, hanya gamelan dan suara burung malam yang terdengar. Namun, di tengah kekhidmatan itu, Isna mulai merasa sesuatu yang aneh. Asap dupa yang semula harum, mendadak menebal dan terasa menusuk hidungnya. Api unggun yang semula tenang, berkeredap liar seakan berbisik. Di antara suara kidung, ia mendengar nada lain. Lirih, berat, seakan suara dari balik tanah. Isna menatap sekeliling. Wajah orang-orang tampak kabur oleh asap, seperti bayangan di air. Mata mereka yang seluruhnya terlihat hitam, dalam, seolah menatap jauh ke dalam dirinya. Ia ingin menoleh pada ayah dan ibunya, namun tubuhnya tak bisa bergerak. Tetua mendekat, menyentuhkan tangan dinginnya ke dahi Isna, sambil mengucap mantra terakhir. Seketika, dunia seperti berhenti. Sunyi. Lalu, bayangan itu datang. Tubuh Isna bergetar, tapi mulutnya terkunci. Di matanya, api unggun memanjang, menjelma menjadi sosok hitam tinggi dengan wajah samar, seperti tengkorak yang diselimuti kabut. Matanya merah, menyala di antara asap, dan dari mulutnya menetes cairan hitam pekat. Namun sekejap kemudian, semuanya hilang. Api kembali tenang, tetua masih berdiri, warga masih menunduk. Upacara berlanjut hingga selesai dengan penuh doa dan syukur. Orang-orang bersorak, menabuh kentongan, mengangkat Isna seolah ia telah resmi menjadi bagian penuh dari desa. Senyuman lebar menyebar di wajah semua orang. Hanya Isna yang diam, dia kebingungan dengan apa yang dilihatnya dan menepis semuanya seolah itu hanya ilusi, entah karena malam yang dingin atau asap dari dedaunan yang dibakar Nyi Laras dan tiupkan kepadanya yang Isna curigai sebagai penyebab halusinasi itu. Beberapa bulan setelah upacara itu, gangguan mulai datang. Mula-mula lewat mimpi. Malam-malam Isna diisi oleh bayangan hutan gelap, pohon-pohon yang berdarah dari batangnya, dan suara tawa berat yang mengitari telinganya. Ia sering terbangun dengan keringat dingin, tubuh gemetar, dan mata yang enggan terpejam lagi. Namun mimpi itu segera merembes ke dunia nyata. Di siang bolong, ketika ia sedang membantu ibunya di dapur, tiba-tiba bayangan hitam melintas di sudut mata. Saat ia menoleh, tak ada apa-apa. Ketika ia berjalan di pematang sawah, ia mendengar langkah kaki di belakangnya, padahal tak seorang pun mengikuti. Dan yang paling mengerikan, terkadang ia merasa tubuhnya bukan lagi miliknya. Tangannya bergerak sendiri, mencengkeram kuat hingga kukunya melukai kulit. Bibirnya bergerak, menggumamkan kata-kata asing yang bahkan tak ia pahami. Warga desa mulai curiga, tapi mereka mengira itu hanya sakit atau kecapekan. Hanya Ayah Isna yang melihat ketakutan di mata anaknya setiap malam, ketakutan yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Gangguan itu semakin menjadi. Suara berat mulai terdengar, kali ini bukan di mimpi, melainkan tepat di telinganya. Kadang berbisik lembut, kadang tertawa panjang hingga bulu kuduknya berdiri. Kadang ia melihat sosok itu jelas, tinggi menjulang, tubuhnya kurus seperti ranting kering, kulitnya hitam berurat, dan matanya merah membara. Saat sosok itu tersenyum, giginya panjang, runcing, meneteskan darah. Isna berteriak, namun suaranya sering lenyap di tenggorokan. Yang terdengar hanya desah nafas berat, seperti ada yang menindih dadanya. Malam-malam Huluwulung yang dulu terasa hangat berubah menjadi neraka bagi Isna. Angin yang berhembus lewat jendela terdengar seperti bisikan. Bayangan pepohonan di halaman tampak menjulur, menekuk, hampir menyentuh ranjangnya. Kadang, ia merasa sosok itu duduk di sudut kamar, mengawasinya dengan mata merah menyala. Isna mulai kehilangan kendali. Tubuhnya tersentak sendiri, seperti ditarik tali tak kasatmata. Ia sering jatuh ke lantai, menggeliat, matanya mendelik kosong. Dari mulutnya keluar kata-kata asing terdengar tua, terdengar busuk, seperti bahasa yang mati ribuan tahun lalu. Dan di tengah semua itu, satu gambaran selalu muncul: wajah hitam, tengkorak berasap, mata merah yang memaku jiwanya. Sosok itu tak pernah menyebut nama. Ia hanya hadir, menunggu, menagih sesuatu yang belum dimengerti Isna. Namun satu hal jelas: ia telah memilih. *** Bertahun-tahun sejak bisikan-bisikan aneh pertama itu masuk ke telinga Isna, sejak mata kecilnya dipaksa menatap kegelapan yang bukan milik dunia, tubuhnya makin rapuh. Malam demi malam ia meracau, kadang tertawa dalam tidur, kadang menjerit sampai darah dari tenggorokannya menetes ke bantal. Ayah Isna, lelaki keras yang selama ini menolak segala tahayul, akhirnya menyerah pada kenyataan. Ada sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih kelam telah mencengkeram putrinya. Maka, ia memanggil tetua desa, Nyi Laras, dukun tua dengan rambut seputih abu tungku, dan Ki Wira, penjaga adat yang dikenal mampu membaca suara gaib dari bunyi angin. Mereka datang dengan wajah muram, seakan sudah tahu jawaban yang tak ingin diucapkan. Bahwa Isna bukan lagi sekadar anak yang sakit, melainkan wadah yang sedang direnggut sesuatu. Ritual pun diputuskan. Malam itu, di halaman rumah panggung keluarga Isna, obor-obor dipasang mengelilingi lingkar tanah. Asap kemenyan merayap, melilit langit gelap, seperti ular hitam yang ingin menelan bintang. Doa dan mantra dilantunkan dengan suara bergetar, tabuhan kendang perlahan berubah jadi degup jantung raksasa yang menekan d**a semua orang yang hadir. Isna diikat di tengah lingkaran, tubuhnya kurus, rambutnya kusut seperti akar pohon yang terbakar. Matanya kosong, tapi dibalik itu ada kilatan lain bukan manusia, bukan pula cahaya. Nyi Laras menunduk, berbisik, "Dia sedang dipandang… oleh sesuatu yang tak boleh disebut." Dan benar. Seolah dari udara, hawa dingin menusuk, menyalip pori-pori, menyusup sampai ke tulang. Warga desa yang tadinya datang ingin membantu, perlahan mundur. Mereka berbisik, takut menyebut nama. Kini pandangan mereka ke Isna bukan lagi simpati, melainkan ngeri. Upacara dimulai dengan ayat-ayat adat yang bercampur doa, namun suara Nyi Laras tiba-tiba patah. Isna mendongak, tersenyum, bukan senyum anak manusia, melainkan seringai yang memamerkan gigi seolah siap mencabik siapa saja. Tubuhnya mendadak bergetar, lalu menegang. Dari tenggorokannya keluar suara parau, serak, bukan miliknya. Suara itu seperti retakan logam beradu dengan batu, dan dari setiap kata yang lolos, darah terasa menggumpal di telinga orang-orang. Mata Nyi laras dengan cepat melirik Ayah Isna. Dengan tatapan tajam dia berkata? "A…pa… yang… kau… perbuat… di masa lalu…?" Kalimat itu bukan ditujukan kepada Isna, melainkan kepada ayahnya. Lelaki itu kaku, tak mampu menjawab. Tetangga yang menyaksikan pun membeku, seolah mereka baru saja melihat rahasia kelam keluarga ini diseret ke tengah malam. Isna menggeram, tubuhnya melengkung. Kulitnya memar, membiru, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekik dari dalam. Ia meronta, jeritan bercampur tawa, dan dari kuku-kukunya yang panjang. Lebih panjang dari seharusnya, di matanya mengalir cairan hitam yang menetes ke tanah, mendesis seperti besi panas dicelupkan ke air. Ketakutan itu nyata. Bahkan udara sendiri seolah ingin lari dari lingkaran itu. Jeritan berubah menjadi lolongan binatang. Isna tak lagi peduli dengan tulang-tulangnya yang mulai bergeser. Bahunya terdengar retak, jarinya melengkung ke arah yang mustahil, seakan sendi-sendinya dirajut ulang oleh tangan gaib. Darah menetes dari mulutnya, bukan merah segar, tapi pekat dan hitam. “Eureun (Berhenti)!” teriak Nyi Laras, mantra yang ia lantunkan pecah di udara, seperti kertas terbakar sebelum sempat dibaca. Ayah Isna hanya bisa menatap dengan mata nyalang. Hatinya koyak, antara ingin memeluk anaknya atau membiarkan ritual itu menghancurkan tubuh mungil itu agar roh jahat pergi. Dia memanggil nama anaknya berulang-ulang. Tapi tidak ada jawaban. Yang ada hanya Isna, yang kini matanya menyala redup, merah seperti bara dalam tungku yang ditiup angin. Itu bukan lagi anaknya. Itu adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang lapar. Tali pengikat yang menahan Isna tiba-tiba terlepas, seolah dipotong dari dalam. Dengan gerakan liar, ia menerkam. Ibunya menjerit, menutupi wajah dengan kain selendang, namun terlambat. Isna, dengan mata merah menyala dan tubuh bergetar, berdiri di ambang kehilangan dirinya. Tubuhnya condong ke depan, jemari menegang, siap menerkam. Ayah dan Ibu nya. Mereka roboh seketika melihat sesuatu yang bukan lagi anaknya, wajah mereka pucat diselimuti ketakutan. Namun sebelum amukan itu meledak, Widar dengan tubuh kecilnya berlari ke depan. Ia merentangkan kedua tangan, membentang dirinya sebagai tameng rapuh. “Isna!” suaranya bergetar, bukan karena takut, melainkan karena cinta kakak pada adik. Sesuatu di dalam diri Isna bergetar, naluri kasih sayang yang terkubur memanggilnya kembali. Sejenak, gigi yang terkatup itu berhenti, dan amarahnya redup. Namun kegelapan tak mau kalah. Bayangan iblis yang bersarang dalam darahnya kembali bangkit, merenggut kendali tubuh Isna dengan kasar. Mata Isna berputar putih, napasnya tersengal penuh desis, lalu ia menoleh perlahan. Tepat di belakangnya, seorang gadis desa berdiri terpaku, gadis itu adalah salah satu temannya, yang dulu sering bermain di tepi sungai bersamanya. Wajah gadis itu penuh keraguan antara keinginan menolong dan rasa takut yang membelenggu langkah. Ia ingin mendekat, tapi kakinya seperti ditanam tanah. Gadis itu hanya berkedip, tapi Isna atau mungkin sesuatu yang menungganginya bergerak cepat. Dalam sekejap, ia sudah berdiri di hadapan gadis itu. Tatapan matanya menyala, penuh amarah dan luka batin yang bergolak. Ada perang di dalamnya, antara jiwa Isna yang berontak, melawan arus hitam yang hendak menguasainya. Namun tubuhnya bergerak sendiri, dan tragedi pun pecah. Gadis itu terbatuk keras, lalu dari bibirnya keluar semburan darah. Matanya membelalak, ketakutan, tak percaya dengan apa yang terjadi. Pandangannya jatuh ke bawah, ke arah perutnya. Dimana separuh tangan Isna sudah menembus isi perutnya, hangat dan basah. Dengan teriakan parau, penuh amarah bercampur putus asa, Isna menghentakkan tangannya, menarik isi perut gadis itu dengan brutal. Suara hutan mendadak hening. Angin berhenti. Burung malam terdiam. Yang tersisa hanyalah detak ngeri yang memukul telinga. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
2.3K
bc

Jodohku Dosen Galak

read
31.1K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.5K
bc

Chiko, Let's Play!

read
23.8K
bc

Troublemaker Secret Agent

read
59.4K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.9K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook