PENANTIAN YANG SIA-SIA

1064 Kata
Lilia berdiri mengibas sajadah dan menanggalkan ke pundaknya. "Fael kata kamu mau kirim surat, tapi sampai saat ini kamu belum kasih aku surat," Gumam Lilia menatap ke arah laut yang membentang luas di hadapannya. Lilia terus membayangkan wajah Rafael sang kekasihnya jauh di negeri seberang. Air mata Lilia terus berlinang membasahi pipinya, sesekali Lilia mengusap pipinya. kepalanya menunduk menatap papan Dermaga. Lilia melangkah ke arah ujung dermaga lalu kemudian duduk di ujung dermaga. Pandangan matanya terus menatap ke arah lautan yang membentang luas. "Kakaaaaa.....kaaaaa...!!" Seru seorang anak kecil memanggil Lilia. Anak itu terus mendekati Lilia yang duduk di ujung sebuah Dermaga. Lilia hanya menoleh ke arah anak kecil tersebut sembari mengusap air matanya yah belinang di pipinya. "kak, kaka ngapain di sini?" Ucap seorang anak kecil tersebut yang tidak lain adalah Ali adik laki-laki satu-satunya Lilia. "Kaka nunggu surat dari kak Fael Ali," Ucap Lilia pada Ali adiknya. Lilia mengusap rambut Ali adiknya. Lilia Menatap wajah Ali, lalu ia kembali menatap lautan yang membentang Luas di di depannya. "Kak, kaka di cariin sama ibu kak," Ucap Ali, sembari menatap wajah kakaknya. Lalu Ali Pun menatap Lautan yang membentang luas. "Sebentar lagi Li kaka pulang." Ucap Lilia pada Ali yang duduk di sampingnya. "Kak, emang kak Fael kemana kak?" Tanya Ali pada Lilia kakaknya. Ali yang masih polos tidak tahu rasanya rindu pada seseorang. Lilia lalu bangkit berdiri, setelah berdiri lau membalikan tubuhnya dan Melangkah. "Kak, tungguin!" Seru Ali pada Lilia. Ali berdiri berlari mengejar Lilia yang sudah berjalan. Terlihat Lilia berjalan beriringan dengan Ali adiknya. "Ibu udah berangkat belum Li?" Tanya Lilia pada Ali adiknya. "Tidak tahu kak, kan tadi ibu nyariin kaka, makanya aku nyari kaka," Ucap Ali yg berjalan menggandeng tangan Lilia serta jalan loncat lenggak-lenggok. Tak berapa Lama kemudian Lilia dan Ali pun tiba di rumahnya. tampak rumahnya sudah sepi tak sepeti berpenghuni. Ibunya sudah berangkat kerumah juragan Bardan untuk bekerja di sana. "Ali, kamu tidak berangkat sekolah?" Tanya Lilia pada adiknya yang terlihat masuk kebelakang menuju dapur. "Tidak kak, guru Ali lagi keJrakata," Saut Ali dari dapur menjawab Lilia yang masih di depan rumahnya. Terlihat Lilia masih berdiri mengenakan mukena dan sajadah yang di tanggalkan di pundaknya. Lilia masuk ke dalam rumah sembari melepas mukena lalu masuk kedalam kamar, dan menanggalkan mukenanya pada dinding kayu di kamar Lilia. Sesampainya di kamar, Lilia pun mengambil sebuah photo yang terpampang di dinding kayu kamarnya. Kemudian Lilia duduk di ranjang kayu yang beralaskan kasur kapuk yang sudah tipis. Lilia menatap dan mengusap wajah dalam photo tersebut. Wajah dalam photo tersebut tidak lain adalah wajah Raffael, laki-laki yang sangat ia cintai. Terlihat Lilia memeluk photo tersebut. Air mata Lilia terus berlinang membasahi pipinya. Sesekali Lilia menatap dan memeluk erat photo tersebut. "Fael, apakah kamu tidak lagi merindu ku? kamu bohong, katanya kamu mau kirim surat untuk aku." Gumam Lilia menggigit bibirnya sembari menghela nafas. Air matanya kembali berlinang. di tengah-tengah isak tangis Lilia, tiba-tiba Ali datang menghampiri Lilia yang sedang duduk memeluk photo Raffael lelaki pujaanya. "Kak, kenapa kaka menangisi photo kak, emang kak Fael kenapa kak?" Tanya Ali dengan polos sembari membuka paksa photo yang di peluknya. "Nanti, kalau kamu sudah dewasa, pasti kamu juga bisa merasakan seperti yang kaka rasakan." Ucap Lilia seraya menghindar photo dari tangan Ali yang inigin melihat photo tersebut. Sesekali Lilia mengusap Air matanya yang berlinang di pipinya. "Kaka, Ali lapar kak," Ucap Ali pada kakaknya. Lilia tampak berdiri dan menanggalkan kembali photo pada dinding kayu kamarnya. Lilia tampak melangkah menuju keluar kamarnya. Ali tampak mengikuti Lilia dari belakang. Lilia sangat menyayangi Ali adiknya, dari sejak Ali umur 2 tahun Ali sudah di asuh kakaknya karena Ibu Lilia bekerja pada Juragan Bardan, Juragan Bardan orang terkaya dan terpandang di desanya. Semua para nelayan menjual hasil tangkapannya pada Juragan Bardan. Termasuk Ayahnya Lilia pun menjual hasil tangkapannya ke juragan Bardan. Di dapur tampak Lilia sibuk memasak untuk sarapan Adiknya. Setelah selesai memasak, Lalu tampak Lilia mengambil sebuah piring dari bahan teflon, dan mengambil Nasi pada bakul yang terbuat dari anyaman bambu. kemudian tampak mengambil lauk pauk yang selesai dimasak. Terlihat Lilia mengajak Ali adiknya ke depan rumah. Lilia tampak terlihat menyuapi Ali adiknya. Ali dari usia 2 tahun makannya masih di suapi oleh Lilia kakaknya. "Ayo makan Li, biar kenyang." Saut Lilia pada Ali yang makan sembari main lari-lari, setelah di panggil, Ali baru menghampiri. "A kak." Ucap Ali sambil membuka mulutnya dan menganga mengarah pada tangan Lilia kakaknya yg mencomot nasi. Ali sudah kelas 4 SD namun tetap manja pada Lilia kakanya. Lilia pun sangat menyangi Ali adiknya seperti anaknya. "Udah kenyang Li, kalau belum kaka ambil nasinya lagi?" Sahut Lilia pada Ali yang bermain lari-lari dan sedikit menjauh dari Lilia. "Udah Kak, Ali udah Kenyang." Jawab Ali yang mendekati Lilia yang sudah bangkit berdiri. Lilia tampak melangkah pergi meninggalkan Ali yang sedang bermain lari. "Kaka, tolong ambilkan minumnya kak!" Seru Ali pada Lilia Kakanya yang sudah mendekati pintu masuk. "Iya sebentar, kaka mau ambil dulu!" Sahut Lilia pada Ali. Lilia kemudian masuk kedalam rumahnya. Selang beberapa menit kemudian Lilia tampak keluar dari dalam rumah membawa segelas air. "Aliiii.... ini minumnya li" Seru Lilia pada Ali yang masih asik bermain lari-lari sendiri, Lilia tampak terlihat meletakan gelas pada bangku panjang di depan rumahnya, yg terbuat dari bambu di bawah pohon rindang. Pada era tahun itu, belum hadir dan mengenal tekhnologi, di desa yang terpencil anak-anak hanya bermain di pantai dan di sekitar rumahnya. "Mana kak minumnya?" Tanya Ali pada Lilia kakaknya yang sudah meletakan minuman di dalam gelas. "Tuh lihat, di bangku Li!" Ucap Lilia sembari menunjuk gelas yang di letakan pada bangku panjang yang terbuat dari bambu. Ali pun kemudian mengambil minum tersebut. setelah minum Ali tampak mengambil layangan, lalu kemudian berlari membawa layangan. "Aliiiii, jangan jauh-jauh, nanti kaka di marahin sama ibu!" Seru Lilia pada Ali yang berlari semakin menjauh. Lilia pun tampak masuk kedalam rumahnya, lalu terlihat membereskan semua isi rumahnya. Lilia yang sehari-hari sibuk bak seperti ibu rumah tangga. bukan hanya cantik, Lilia juga punya sifat ke ibuan. Lilia yg sudah terlatih sejak kecil mengasuh Ali adiknya. waktu yang terus bergulir, tampak sang surya mulai tenggelam di ufuk barat. Awan putih tampak menjadi merah yang tersorot cahaya sang surya, mulai tenggelam di sebuah desa yang tidak jauh dari pantai. Langit yang berwarna jingga tampak terlihat sangat indah dari barat daya. Tampak Lili dan Ali bersiap-siap ke surau untuk melaksanakan ibadah sholat magrib. SELANJUTNYA.. #SeptemberUpdate
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN