Adrian mendapatkan kamar kost yang bisa di tinggali Naomi, gadis itu bersyukur karena di saat seperti ini masih ada seseorang yang mempedulikannya.
Hatinya begitu sakit karena Darrel sama sekali tak menghubunginya atau bahkan mencari keberadaan gadis itu.
Ini sudah seminggu sejak dirinya pergi tanpa pamit dari mansion Darrel.
Dirinya semakin sadar kalau Darrel memang dari awal tidak menginginkannya.
"Kamu sudah makan Naomi? Kakak membawakan kamu bubur ayam di perempatan jalan. Rasanya tidak kalah enak dengan yang di depan lapangan rumah kita yang dulu."
Naomi tersenyum dan menerima makanan yang di bawa kakaknya itu.
Dari dulu, semenjak ia kecil, Adrian begitu menyayanginya.
Hingga ia tak menyadari perasaannya pada Adrian bukan sekedar adik pada kakaknya.
Terlebih setelah mengetahui bahwa pria itu bukanlah kakak kandungnya, sikap manis Adrian padanya makin membuat Naomi jatuh cinta.
Ya, Adrian adalah cinta pertama Naomi.
Gadis itu begitu memuja kakak tirinya, namun hanya dalam hati.
Ia berharap suatu saat Adrian akan membalas perasaannya namun itu tidak mungkin, Adrian adalah pria yang baik.
Pria yang selalu ada untuk Naomi dan selalu melindungi gadis itu.
Seperti sekarang ini, di saat Naomi di usir oleh ibunya setelah kematian ayahnya, Adrian justru ikut pergi dari rumah dan memilih bekerja di club agar dekat dengan Naomi tinggal saat ini.
Kasih sayang yang begitu rekat antara kakak dan adik tiri.
"Terimakasih kak, kakak memang yang paling ngerti aku deh..." Naomi membereskan kotak makannya dan membuangnya ke tempat sampah.
"Hari ini kamu nggak kuliah?"
"Libur ka, aku sedang mengerjakan tugas tugas yang menumpuk belum selesai selesai."
"Ada yang ingin kakak sampaikan padamu."
Naomi memandang lekat wajah Adrian, sepertinya itu hal yang serius.
"Kamu siap mendengarnya? Ini soal kematian ayah."
***
Darrel melemparkan berkas berkas yang tertumpuk di atas meja kerjanya ke lantai.
Wajahnya memerah karena emosi yang begitu meluap.
"Kau keluar dulu." ucap Anthony pelan pada karyawan yang berdiri dengan tubuh gemetar karena amukan Darrel.
Pria itu menganggukan kepalanya pamit permisi, kemudian tergopoh keluar dari ruangan Darrel.
Darrel memutar kursi kebesarannya, ia benar benar tidak bisa mengendalikan amarahnya.
Anthony memunguti berkas berkas yang berceceran di lantai kemudian menatanya kembali di atas meja kerja Darrel.
Pria itu faham betul kenapa suasana hati bos nya tidak karuan seperti itu.
"Bos, anda perlu refreshing."
"Apa saya tanya pendapatmu?"
"Anda seperti gadis yang sedang PMS bos."
Darrel menggeram, apa yang di ucapkan Anthony tak sepenuhnya salah, hanya pria itu gengsi untuk mengakuinya.
"Anda perlu melampiaskannya bos, jangan di tahan. Itu akan berdampak pada hari hari anda kedepannya."
Darrel terdiam, pria itu memikirkan ucapan Anthony.
"Apa jadwalku malam ini?" tanya Darrel dengan nada datar.
"Tidak ada bos, anda sudah menyelesaikan semuanya siang ini."
"Kita ke klub, sewakan tempat VIP seperti biasanya. Bawakan gadis gadis padaku."
"Baik bos." Anthony tersenyum.
Malam ini bukan hanya sekedar pesta untuk bos nya, tapi tentu saja untuk dirinya pula.
Ia bisa ikut menikmati setelah seminggu ini suasana hati bos nya yang terus tegang hingga dirinya tak ada waktu untuk menghabiskan malam di ranjang hangat milik para wanita seperti biasanya.
Ia akan memuaskan juniornya malam ini.
***
Keadaan klub malam ini begitu ramai, dentuman musik keras memekik telinga.
Pria dan wanita menari serta menyesap minuman minuman beralkohol di tangan mereka seolah tidak ada hari esok untuk lagi berpesta.
Darrel dan Anthony berjalan menuju ruang VIP yang telah mereka pesan.
Sebuah privat room yang biasa mereka gunakan untuk menjamu para klien bisnis selain di restoran.
"Silakan bos..." Darrel menerima tuangan minuman dari seorang gadis muda bertubuh sintal serta berpakaian minim bahan.
Dan seorang gadis muda lagi tengah duduk bergelayut manja pada dirinya.
Sementara Anthony begitu menikmati dua gadis muda yang mengapit dirinya dengan wajah berkabut siap memuaskan.
Anthony begitu tidak sabar menunggu bosnya menentukan pilihan agar dirinya cepat berakhir di ranjang dengan gadis gadis yang tengah bersamanya itu.
Darrel terus saja menampakan wajah datarnya.
Tak ada satupun dari dua gadis yang menemani pria itu yang mampu membuatnya on.
"Pergilah." Anthony memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dompetnya dan di berikan kepada gadis gadis yang menemani bos nya itu.
"Bos..." Anthony duduk di samping Darrel yang tengah asyik dengan minuman di tangannya dan pikirannya yang melayang entah kemana.
"Sudah dua belas gadis yang anda tolak bos."
Darrel menatap tajam mata Anthony, ia faham betul arti tatapan bos nya itu.
"Saya sama sekali tidak bernafsu melihat mereka." ucap Darrel datar dan kembali menyesap minumannya.
Anthony mendengus kesal, hasratnya sudah berada di puncak sementara sang bos masih memilih milih.
Harus sampai kapan ia akan menunggu bos nya yang pemilih itu?
Bukankah setiap lelaki itu sama?
Dihadapkan dengan wanita seksi, hasrat birahi mereka akan naik dan harus di keluarkan.
Tak butuh cinta dalam melakukan hal itu, dan tentunya ini berlaku bagi Anthony.
Tapi Darrel ternyata berbeda, ia sungguh pemilih.
"Kamu selesaikan dulu urusanmu, saya tunggu disini."
Anthony tersenyum puas, kalimat yang di tunggu nya sedari tadi akhirnya keluar juga dari mulut bos nya.
Pria itupun menggiring dua gadis yang sedari tadi menemaninya ke dalam kamar yang sudah ia pesan.
Belum juga memulai pertandingan, telephone genggam Anthony berbunyi.
Ada notifikasi chat dari seseorang.
Dengan setengah berlari, Anthony menghampiri ruang VIP tempat Darrel berada.
Pria itu masih di tempat yang sama duduk tenang dengan gelas whisky di tangannya.
"Bos.."
"Hmmm..."
"Sepertinya masih ada seorang lagi yang belum saya bawakan pada anda."
"Tidak perlu, sebentar lagi saya akan pulang . Kamu lanjutkan saja urusan mu yang tadi."
"Bahkan celana mu saja belum kamu tutup dengan benar." gumam Darrel.
Anthony segera melihat keadaan celananya yang ia gunakan asal tadi karena panik.
Anthony tersenyum, di saat seperti ini bos nya masih bisa melawak.
"Anda akan menyesal bila tidak menemuinya bos."
Seorang gadis berambut panjang menggunakan dress navy tanpa lengan sepanjang lutut masuk ke dalam ruang VIP tempat Darrel dan Anthony berada.
Gadis itu tersenyum manis menatap wajah tampan Darrel.
"Hallo kak Darrel, apa kabar?"
Darrel membulatkan matanya, tak percaya dengan pengelihatannya.
Mungkinkah ia mabuk sekarang? Tidak mungkin, Darrel tidak akan mabuk walau sebanyak apapun alkohol masuk ke dalam tubuhnya.
"Naomi?"
Naomi berjalan ke arah Darrel dan memeluk tubuh pria itu.
"Aku merindukanmu kak..."
Ucapan serta tindakan Naomi sukses membuat Darrel mematung.
Jantung pria itu berdegup kencang hingga hampir terlepas dari rongga dadanya.
"Nikmatilah malam kalian. Saya permisi dulu." Anthony pergi meninggalkan Darrel dan Naomi yang masih diam membisu sembari berpelukan.
Darrel membalas pelukan gadis itu, erat, bahkan sangat erat hingga Naomi hampir sesak bernafas.
Namun tak ada niat bagi mereka untuk melepaskan pelukannya satu sama lain.
Rasa rindu yang terbendung selama beberapa hari tidak bertemu sungguh menyiksa batin Darrel, namun pria itu tak mau mengungkapkannya.
Kini gadis nya berada dalam pelukannya.
Bahkan junior nya ikut menegang ingin di keluarkan dari sangkarnya.
Naomi terkekeh merasakan sesuatu yang mengganjal keras dan panjang yang menempel di perutnya.
Gadis itu tahu apa itu.
"Kamu tertawa? Ada yang lucu?" Darrel melepaskan pelukannya namun ganti memeluk pinggang Naomi agar gadis itu tak berada jauh darinya.
"Ada yang merindukanku selain dirimu kak?"
"Siapa? Siapa dia? Biar saya hajar." ucap Darrel yang di balas kekehan lagi oleh Naomi.
"Itu." Naomi menunjuk ke arah bawah perut Darrel yang telah menegang sedari tadi sejak ia tiba.
Wajah Darrel memerah, dirinya seperti maling yang kepergok mencuri.
"Jangan menunjuknya seperti itu. Dia bisa marah dan membuatmu mendesah berkali kali menjeritkan namaku."Naomi tersenyum, di tatapnya dua manik mata Darrel.
"Benarkah? Kita lihat siapa yang akan mendesah duluan." tanpa aba aba Naomi menarik tengkuk leher Darrel mencium bibir pria itu dengan lembut.
Darrel terkesiap namun langsung membalas ciuman gadis itu.
Bibir yang telah lama di rindukannya, tubuh mungil namun hangat milik Naomi yang telah menjadi candunya.
***
Naomi tengah berada dalam dekapan Darrel.
Gadis itu tertidur lelap setelah pergelutannya yang tiada henti ber jam jam lamanya dengan pria itu.
Darrel terus saja menatap wajah Naomi, pria itu tersenyum sendiri.
Apa istimewanya gadis ini?
Tidak ada yang spesial di dirinya namun mampu membuat ku tergila gila bahkan terus memikirkannya.
Wajah nya yang manis, tubuh mungil yang tidak terlalu tinggi, serta senyum yang menawan, selalu saja terlintas dalam pikiran dan hatiku.
Kamu, adalah gadis pertama dan saya harap akan menjadi gadis terakhir di hidup saya.
Batin Darrel.
Naomi menggeliat, merasakan sesuatu yang menyentuh wajahnya berkali kali, namun tubuhnya yang begitu letih tak membuatnya berniat membuka mata.
Ia hanya berganti posisi memiringkan tubuhnya hingga berhadapan langsung dengan Darrel yang tengah memandanginya sedari tadi.
"Jangan terus bergerak seperti itu, kamu bisa membangunkan lagi dia yang sudah dengan susah payah ku tidurkan." bisik Darrel parau yang hanya di balas senyuman oleh Naomi tanpa membuka matanya.
Bukannya menjauh, Naomi justru menggoda Darrel dengan memeluk pria itu dan menenggelamkan wajahnya di d**a bidang Darrel.
Gadis itu menyeringai melihat Darrel yang telah terkapar tak berdaya karena godaannya.
***