Darrel menunggu Naomi di depan ruang UGD dengan panik, wajahnya memucat menunggu dokter memeriksa Naomi namu tak kunjung keluar hasilnya.
Anthony dengan setengah berlari menghampiri Darrel.
"Saya sudah amankan nona Marissa bos."
"Kalau terjadi sesuatu pada Naomi dan bayi saya, saya akan beri perhitungan gadis b******k itu." umpat Darrel.
Tak lama kemudian dokter keluar menghampiri Darrel dan juga Anthony.
"Siapa wali nona Naomi?"
"Saya suaminya dok? Bagaimana keadaan istri dan bayi saya dokter?"
Pertanyaan darrel dan ekspresi Darrel yang panik tidak karuan membuat bingung dokter yang memeriksa Naomi.
"Bayi? Maksudnya?" dokter justru balik bertanya pada Darrel.
"Bukankah nona Naomi sedang hamil dokter. Dia kemari dengan darah yang banyak yang keluar dari selangkangannya." Anthony dengan tenang menjelaskan sementara Darrel menganggukkan kepalanya mengiyakan.
Dokter tersenyum, menghela nafas lega.
"Anda salah paham tuan, istri anda sedang tidak hamil."
"Lalu, darah itu?"
"Itu darah menstruasi. Sepertinya anda baru melihat istri anda datang bulan."
Darrel terdiam, sementara Anthony menahan tawanya melihat ekspresi bingung bos nya.
"Tapi dokter, istri saya sering mual mual bahkan muntah di pagi hari. Seperti morning sickness, begitu."
"Mungkin karena capek dan stress yang di deritanya. Nona Naomi juga memiliki penyakit maag, maka dari itu beliau sering merasa mual."
Darrel terduduk di kursi tunggu pasien, wajahnya terlihat bingung dan tentunya kaget serta putus asa.
"Naomi tidak hamil? Tidak pernah ada bayi di dalam rahim gadis itu." gumam Darrel dalam hati.
"Kita masuk bos menemui nona Naomi."
Dengan langkah gontai, Darrel masuk menemui Naomi yang telah di pindahkan ke ruang rawat inap pasien.
Memar di sekitar siku dan kakinya mulai terlihat.
Gadis itu tengah tertidur pulas dengan jarum infus di tangannya.
Darrel duduk di samping Naomi, memandangi wajah gadis.
Perasaan nya bercampur aduk, kaget dan kecewa tentunya.
Ia berharap lekas menikahi gadis itu agar bayi dalam kandungannya memiliki seorang ayah.
Namun ternyata Naomi tidak hamil sama sekali.
Lantas, bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Naomi?
Darrel menggenggam salah satu tangan Naomi yang tak di infus, membelai nya pelan.
***
Setelah hampir dua jam lamanya akhirnya Naomi siuman.
Matanya mengerjab beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam kornea nya.
Di dapatinya Darrel tengah duduk di sampingnya sambil menggenggam tangan gadis itu.
Wajahnya yang panik berangsur berubah sedikit lega.
"Kamu baik baik saja?"
Naomi hanya menoleh dan menganggukkan kepalanya.
"Lapar?"
Kembali Naomi mengangguk,Darrel mengambil nampan yang berada di atas meja samping ranjang yang berisi penuh dengan makanan.
"Saya suapi?"
"Aku bisa makan sendiri uncle."
Diraihnya sendok di tangan Darrel kemudian Naomi menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Tanpa sisa dan dalam diam gadis itu menghabiskan makanannya.
Darrel tersenyum dan terus memandang wajah Naomi, membuat gadis itu risih.
Setelah meletakan nampan kosong di atas meja, Darrel mengajak bicara Naomi, menatap lekat mata gadis itu dengan wajah datarnya.
"Naomi..."
"Iya uncle..."
"Ada yang ingin saya bicarakan..."
Naomi terdiam, menunggu kata kata apa yang akan keluar dari mulut Darrel.
"Saya sudah mengurung Marissa."
Naomi membulatkan matanya, ia tak mengerti maksud Darrel dengan mengurung Marissa.
"Terserah mau kamu apakan gadis itu, apa kamu mau balas dendam atau..."
"Bebaskan saja uncle." Naomi tersenyum.
"Aku baik baik saja, tidak ada hal buruk yang terjadi padaku."
Darrel menghela nafas, tak mengerti dengan jalan pikiran Naomi.
Jelas jelas gadis itu terkapar di rumah sakit karena di celakai Marissa, namun dengan entengnya ia meminta untuk Marissa di lepaskan begitu saja.
"Ada satu lagi...ini soal kandungan kamu."
Kali ini wajah Naomi berubah tegang, ada sedikit kecemasan di hatinya.
"Kamu, baik baik saja. Dan kamu...kamu sama sekali tidak hamil Naomi." Darrel terlihat kecewa terdengar dari nada bicara pria itu.
Tak berbeda dengan Naomi, sebenarnya ia juga menginginkan keadaannya hamil seperti dugaan Darrel walau ada sedikit ketakutan di hatinya.
Namun ada sedikit kelegaan, setidaknya ia tak perlu mengubah rencana masa depannya untuk putus sekolah atau bahkan menikah di usia muda.
"Naomi..."
"Hammm..." panggilan Darrel membuyarkan lamunan gadis itu.
"Apa kamu kecewa?"
Naomi tersenyum menatap Darrel, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Kan aku sudah sering mengatakannya padamu uncle, kalau aku sedang tidak hamil."
"Jadi selama ini kamu tahu?"
"Sebenarnya tidak, karena aku belum pernah mengeceknya sama sekali atau memeriksakannya. Hanya saja setidaknya itu baik untuk kita uncle. Aku dan uncle, tidak terikat apapun mulai sekarang."
Darrel melepaskan genggaman tangannya pada tangan Naomi, kekesalan memenuhi dirinya.
"Sebegitu bencikah kamu pada saya Naomi? Hingga kamu sama sekali tidak menginginkan kehadiran anak saya pada rahim kamu?"
"Aku hanya berfikir realistis uncle. Aku dan uncle, itu tidak mungkin."
Darrel bangkit dari posisi duduknya, ia menatap Naomi tajam.
"Saya benar benar tidak mengerti kamu Naomi, saya berusaha menjadi seorang pria yang bertanggungjawab namun sama sekali tidak berarti di mata kamu."
Naomi terdiam, Darrel memang tidak salah, hanya saja Naomi memang tidak menginginkan pria itu untuk bersama nya tanpa mencintainya.
"Naomi..." suara seseorang dari balik pintu memecah ketegangan diantara dua orang yang sedang bersitegang di ruang inap itu.
Adrian berlari ke arah Naomi dan langsung memeluk gadis itu tanpa sempat melirik ke arah pria yang sedang bicara serius dengan Naomi.
"Kak Adrian..."
"Kamu baik baik saja?"
Naomi tersenyum menatap wajah panik kakaknya.
"Aku baik baik saja, kak." Naomi tersenyum lebar melihat kehadiran Adrian.
Sementara Darrel yang semenjak tadi sudah kesal, bertambah marah melihat reaksi Naomi yang seolah tidak terjadi apapun dan tersenyum manis saat Adrian tiba.
Adrian menyadari kehadiran Darrel, pria itu tersenyum sambil mengulurkan tangannya pada Darrel.
"Hallo bos, kita berjumpa lagi."
Darrel menyambut tangan Adrian dengan senyum sinisnya.
"Hmmmm..." pria itu hanya berdehem malas menanggapi.
"Kalian sudah berbaikan?" ekspresi bingung Naomi menatap wajah Darrel dan Adrian bergantian.
Adrian tersenyum manis.
"Pacar posesif kamu ini sudah minta maaf pada kakak dan menjelaskan semuanya. Untuk apa kakak memperpanjang masalah lagi."
"Kak...kan Naomi sudah bilang kalau dia bukan pacar Naomi."
Darrel menatap tajam Naomi, gadis kecil ini benar benar tidak tau sopan santun, batinnya.
Sementara Adrian tertawa lepas mendengar jawaban polos Naomi, di elusnya puncak rambut gadis itu.
"Apapun itu, dia selalu ada untuk kamu Naomi. Iya kan bos Darrel?"
Darrel tak mengiyakan atau mengelak ucapan Adrian, ia cukup muak melihat pemandangan yang cukup intim antara kakak dan adik di hadapannya itu.
***
Setelah dua hari Naomi di rawat di rumah sakit, dokter mengijinkannya untuk pulang.
Anthony menyelesaikan semua administrasi gadis itu dan membawanya ke mansion Darrel.
Sejak kedatangan Adrian dua hari yang lalu, Darrel sama sekali tidak muncul atau bahkan menjenguk Naomi di rumah sakit.
Gadis itu sendirian, hanya di tinggali seorang perawat untuk membantu segala keperluannya.
"Uncle Darrel kemana pak?"
"Beliau sedang ada urusan nona." Anthony menjawab sambil tetap fokus pada kemudinya.
"Sejak dua hari yang lalu dia tidak muncul. Apa sedang ada perjalanan bisnis ke luar kota atau ke luar negeri, pak?"
"Tidak nona, bos sedang ada banyak urusan di kantor serta lapangan."
'Sebegitu sibukkah dia sampai tidak sempat menjenguk dan tak menjemputku?' batin Naomi kesal.
Kali ini ia sadar, dirinya sudah tidak terlihat berharga lagi di hadapan pria itu.
Darrel mau menikahinya karena pria itu fikir dia sedang mengandung anaknya.
Kali ini, setelah mengetahui kenyataannya, Darrel menghilang.
Tanpa kabar dan tanpa penjelasan.
Tak lama kemudian mereka telah tiba di mansion milik Darrel.
Tanpa menunggu Anthony membukakan pintu, Naomi bergegas turun dari mobil dan membanting pintu dengan keras.
Anthony menghela nafas kaget, gadis kecil di hadapannya memang benar benar penuh kejutan.
Bergegas Naomi berlari menuju kamar Darrel, ia memutar pandangannya.
Tak ada yang berubah dari ruangan itu sejak terakhir di tinggalkannya.
Telephone genggamnya bahkan masih tergeletak di atas meja dekat ranjang.
Naomi menyentuh layar handphone nya dan menghubungi Adrian.
'Hallo kak...'
'Iya Naomi...'
'Bisa kakak carikan aku kamar kost sekarang?'
'Kenapa tiba tiba?'
'Tidak ada apa apa kak?'
'Apa kau sudah keluar dari rumah sakit?'
'Hmmmm...aku akan ke tempatmu setelah ini.'
'Apa kau bertengkar dengan pacarmu Naomi?'
Naomi terdiam sesaat, air matanya mengalir namun segera ia hapus.
Seorang Darrel tak pantas untuk menerima tangisannya lagi.
'Dia bukan pacarku kak, dia hanya paman dari teman sekolahku.'
Adrian tersenyum, ia tak ingin terus berdebat dengan adiknya yang tak ingin mengakui perasaannya sendiri.
'Baiklah, datanglah ke tempat kakak sekarang, kakak akan menghubungi teman kakak.'
Naomi mengangguk, di putusnya panggilan telephone nya.
Tak menunggu berfikir lama gadis itu langsung membereskan barang barang miliknya dan keluar dari kamar Darrel.
Ia tak ingin berlama lama di tempat k*****t itu.
"Anda mau kemana nona?" tanya seorang pelayan saat mendapati Naomi yang turn dari tangga dengan menenteng dua tas besar di tangannya.
"Aku ada urusan sebentar bi." bohongnya
Wanita paruh baya itu menatap Naomi dengan bingung, namun ia tak berani mencegahnya.
Tuannya bisa marah kalau ia sampai membuat Naomi kesal.
Begitu keluar dari pintu mansion Darrel, sebuah taksi online yang beberapa menit lalu ia pesan telah tiba.
Tak apa menghabiskan sedikit uang, karena bila harus berjalan ke halte bis, ia takut kalau Darrel telah pulang terlebih dahulu.
Atau mungkin ini hanya perasaannya saja.
Kalau memang Darrel berniat menahannya di tempat itu, pria itu tak mungkin menghilang beberapa hari tanpa kabar seperti ini padanya.
Mungkin ini yang terbaik di antara mereka.
Darrel mungkin merasa risih untuk memutuskan hubungan yang tak pernah ada awalnya itu.
***
"Nona Naomi pergi dengan menenteng dua tas besar tuan, dia bilang hanya sebentar tapi sampai menjelang malam seperti ini belum juga pulang."
"Kenapa kalian tidak melaporkan nya padaku?"
"Kami sudah menghubungi anda beberapa kali tuan, tapi baik anda maupun pak Anthony, tidak ada satu nomerpun yang aktif."
Darrel mengacak rambutnya frustasi, Anthony menatap bos nya.
Memang tadi mereka sedang terjebak di wilayah pedalaman dan lupa membawa charger yang terhubung pada mobil.
Alhasil kedua handphone mereka yang mati sama sekali tidak bisa di hubungi.
Anthony memberi kode pelayan wanita itu untuk pergi.
Setelah pelayan itu pamit, Anthony menghampiri Darrel yang tengah duduk di kursi kebesarannya di ruang kerjanya.
"Seperti nya saya tahu keberadaan nona Naomi bos. Apa perlu saya menjemputnya?"
Darrel terdiam sesaat, pandangannya kosong.
Hatinya bimbang antara menginginkan Naomi untuk kembali atau membiarkan gadis itu pergi.
"Tidak perlu, kalau dia lelah bersembunyi, dia akan datang padaku."
Anthony tak menyangka bos nya akan memberikan jawaban seperti itu.
Dirinya menyangka kalau selama ini Darrel mencintai Naomi, ternyata dugaannya salah.
Pria itu sama sekali tidak berubah, tetap dingin seperti gunung es.
***