Naomi berada dalam pelukan Darrel, pria itu terus saja mengulum senyum sambil memandang wajah Naomi yang juga balik memandangnya.
Darrel membetulkan anak rambut yang terurai di wajah Naomi, kemudian meletakannya di balik telinga gadis itu.
Naomi tersenyum, wajah Darrel begitu terlihat memujanya.
"Apa kamu pernah menyesal melakukannya dengan ku Naomi."
Jujur Naomi begitu menyesal, penyesalannya begitu besar hingga setiap kali ia memandang tubuhnya di cermin ia begitu membenci dirinya sendiri dan kebodohannya.
"Bagaimana dengan uncle?"
"Aaaahhhhh..." Darrel menghela nafas, di usapnya rambutnya sendiri, menengadahkan pandangannya ke langit langit kamarnya.
"Saya bertanya sama kamu, kamu malah balik bertanya pada saya. Lalu saya bertanya pada siapa?"
Naomi terkekeh, terkadang yang muncul dari bibir Darrel adalah kata kata yang lucu.
"Uncllleeeee..."
"Hmmmm..." Darrel menggeram, tidak suka dengan panggilan yang di sebutkan Naomi.
"Apa saya lebih pantas di panggil uncle kamu? Sepertinya kalau kita bersanding berdua, saya tidak terlihat tua tua sekali."
Kembali Naomi terkekeh, kalau sedang kesal Darrel begitu terlihat seperti anak kecil.
Sebenarnya pria di sampingnya itu adalah sosok yang menyenangkan, tapi kenapa Naomi selalu kesal bila di hadapkan dengan pria itu?
"Apa kamu tidak ingin menikah dengan saya Naomi?"
Naomi kembali terdiam, pria itu kembali ke topik pembahasan yang di benci Naomi.
"Kenapa? Bisa beri saya alasan?"
"Kita tidak sedang berkencan uncle, jadi untuk apa kita menikah?"
"Kamu ingin kita berkencan dulu baru menikah? Apa sekarang kita sedang tidak berkencan? Kita bahkan baru saja selesai b******a Naomi."
Wajah Naomi seketika memerah, kenapa Darrel harus berkata seperti itu?
"Sepertinya anda memang kurang peka UNCLE" Naomi dengan geram menekan kata kata panggilannya pada Darrel.
Pria itu semakin bingung dengan sikap Naomi, terkadang gadis itu dewasa, dan barusan ia begitu menyenangkan hingga membuat Darrel lupa daratan serasa melayang di udara.
Tapi tadi, tiba tiba saja suasana hatinya berubah kesal hanya karena membahas soal pernikahan.
Darrel tidak mengerti, sungguh tidak faham.
***
"Jadi kalian melakukannya lagi?" Mata Mario membola menatap Darrel yang sebenarnya tak menceritakan kejadiannya secara rinci.
"Berarti ini sudah yang ke berapa kalinya bos?" Anthony menimpali sambil menahan tawanya.
"Apa saya mengatakan pada kalian kalau saya dan Naomi b******a?"
"Bukannya sekarang gadis itu sedang tidur di kamarmu? Lalu kau pikir apalagi?"
Anthony dan Mario tak bisa menahan tawanya, terlebih melihat wajah Darrel yang memerah seperti kepiting rebus itu.
"Sekali lagi kamu tertawa, kamu saya pecat!" Darrel menunjuk wajah Anthony kemudian membuang pandangannya pada Mario.
"Kamu juga!"
Namun bukannya diam, justru tawa mereka semakin menggelegar.
Membuat Darrel semakin malu akibat bibirnya yang salah ucap.
Pria itu menyesap gelas berisi whisky di tangannya, pandangannya kosong.
"Apa kau masih mengajaknya menikah?" pertanyaan Mario membuyarkan lamunan Darrel.
Darrel menunduk sambil menganggukkan kepalanya.
"Ya. Tapi dia terus saja menolak ku. Aku bingung dengan jalan pikirannya."
"Bos..."
"Hmmm..." Darrel menoleh.
"Anda tidak pernah menyatakan perasaan anda pada nona Naomi, menurutnya kalian bukan sepasang kekasih yang saling mencintai. Jadi untuk apa menikah?"
Darrel terdiam, mencermati setiap kata kata yang di ucapkan Anthony.
"Jadi dia bilang kami bukan sepasang kekasih? Begitu?"
"Menurutnya seperti itu bos."
"Lalu semua hal yang kami lewati bersama itu apa artinya bagi dia?"
Anthony dan mario saling pandang, tak mengerti ucapan Darrel.
"Lebih baik kalian bicara, tanyakan arti dirimu baginya dan kau juga harus bicara jujur. Apa arti dirinya bagimu. Baru kalian bisa tahu isi hati masing masing." Mario memberikan wejangan yang di balas cibiran oleh Darrel.
"Kamu sendiri masih jomblo. Bahkan kemarin gagal menikah kan?"
Anthony menertawai ucapan Darrel yang mengumpat Mario.
"Aku hanya belum menemukan yang cocok saja. Kalau soal Bella, itu sudah takdirnya untuk bersama dengan adikku." Darrel tersenyum puas, seri, batinnya.
"Jadi sekarang saya harus bagaimana?"
Kembali ke pokok permasalahan, Mario kembali pusing teringat Naomi yang tak kunjung menerima pinangannya.
***
David dengan wajah babak belurnya tak berani pulang ke rumah.
Pria itu masih bingung dengan situasi yang menimpanya, bagaimana uncle nya itu bisa tiba tiba datang dan kenapa Naomi bisa memberikan jawaban yang tak di harapkan nya itu.
Padahal ia berharap sekali gadis itu bisa mengiyakan permintaannya dan mau ikut dengannya untuk pindah ke luar negeri.
Kemana Naomi sekarang?
David tak berani menghubunginya, atau bahkan menanyakan kabarnya pada Anthony, asisten uncle nya yang tadi sempat mengantarnya ke rumah sakit.
Pria manja itu masih bersembunyi di kamar hotel tempat dirinya menginap tadi.
***
"Kamu sudah bangun?" Darrel tersenyum manis menatap Naomi yang baru bangun dari tidur panjangnya.
Tubuh gadis itu terlihat lesu dan juga agak kurusan.
Terbersit rasa bersalah yang begitu besar di hati pria itu.
Karena ide gila Mario yang membuat Naomi terusir dari setiap tempat yang ia singgahi hingga kini sesuai harapannya Naomi tinggal di mansionnya.
"Barang barang kamu sudah saya ambil, saya letakan di lemari bagian bawah paling ujung." Mario menunjukkan letak lemari menggunakan ujung jarinya.
Naomi hanya diam, tubuhnya masih lemas karena perjalanan panjangnya yang di akhiri pergulatan panasnya dengan Darrel sebelum gadis itu tertidur pulas di ranjang Darrel.
"Apa aku tidur di kamar uncle hari ini?"
"Hmmmm..." Darrel mengangguk.
"Lalu uncle berada di kamar yang mana? Yang ujung sana dekat kamar yang biasa di gunakan David?"
Darrel menggelengkan kepalanya.
"Di lantai bawah?"
Kembali pria itu menggelengkan kepalanya.
"Lalu?"
Darrel menepuk atas ranjang tepat di samping posisi Naomi duduk, gadis itu sukses membulatkan matanya.
"Gila. Kita tidur seranjang? Aku tidak mau." Naomi menatap tajam Darrel yang hanya menanggapinya dengan tawa.
"Kenapa? toh kita akan segera menikah, apa salahnya tidur satu ranjang?"
Naomi terdiam, kembali pada topik itu lagi.
"Apa kamu lupa apa yang tadi kamu lakukan padaku?" bisik Darrel parau tepat di telinga gadis itu, membuat wajah Naomi memerah karena malu.
"Uncle...pergilah..." ucap Naomi lirih.
"Ini kamar saya, kenapa saya mesti pergi?"
"Kalau begitu saya yang pergi."
"Tidak, kamu tetap disini. Ada yang mau saya berikan pada mu."
Darrel berjalan menjauh menuju lemari pakaiannya dan membuka salah satu laci yang berada di dalamnya.
Tak lama pria itu kembali pada Naomi dan duduk tepat di hadapan gadis itu.
"Naomi, untukmu." Darrel menyodorkan sebuah tas kecil, Naomi menerimanya.
"Apa ini uncle?"
"Bukalah, hadiah untukmu. Saya beli kemarin di New York sebelum pulang ke Indonesia."
Naomi membuka tas kecil pemberian Darrel.
Sebuah kalung dengan sebuah mata berlian kecil sebagai liontin nya.
"Ini cantik sekali."
"Untukmu, sini saya bantu pakaikan."
Naomi tak menolak apa yang di berikan pria itu, dan ini adalah pertama kalinya.
Darrel tersenyum melihat reaksi Naomi yang tak terduga ini.
Darrel sempat berfikir kalau Naomi akan melempar hadiah pemberiannya ke mukanya atau bahkan membuangnya ke jalan.
Ternyata gadis itu menerimanya.
"Kamu suka?"
Naomi mengangguk sembari tersenyum, hatinya berbunga bunga.
Tinggal satu lagi yang ia tunggu dari pria yang berada di hadapannya itu.
"Apa tidak ada yang ingin uncle sampaikan padaku?"
Darrel terdiam sesaat, pria itu berfikir.
Apa mungkin benar yang di katakan Anthony? Naomi menungguku menyatakan perasaan ku padanya.
"Naomi.."
"Iya uncle..."
"Itu...saya saya..."
"Saya apa uncle..."
Lidah Darrel terasa kelu, ia tidak tahu harus dari mana ia memulainya.
Ini bukan pertama kali baginya menyatakan cinta, namun masalahnya karena Naomi dan dirinya dekat dengan kisah yang salah terlebih dahulu.
Ia belum begitu yakin pada perasaannya.
'Sepertinya aku yang terlalu berharap.' batin Naomi.
Ekspresinya berubah kesal karena harapannya yang terlalu tinggi pada Darrel.
Naomi melepaskan kalung yang berada di lehernya dan menyerahkan nya kembali ke tangan Darrel.
"Sepertinya itu bukan untukku." Naomi turun dari atas ranjang dan berjalan meninggalkan Darrel yang terdiam menatapnya.
Dan saat gadis itu baru membuka pintu kamar Darrel, matanya berhadapan langsung dengan wajah seseorang yang di kenalnya.
"Kak Marissa?"
"Naomi?"
Darrel bangun dari posisi duduknya karena kaget mendengar Naomi menyebut nama Marissa.
Marissa yang memang sudah kesal semenjak datang ke mension Darrel bertambah karena mendapati Naomi yang keluar dari kamar pria pujaannya.
"Kenapa kamu..kalian?" Marissa semakin membuka matanya lebar lebar karena mendapati Darrel berada di belakang Naomi.
"Untuk apa kamu kemari lagi? Saya kan sudah bilang kalau hubungan kita sudah selesai."
Marissa terkekeh mendengar ucapan Darrel.
"Selesai katamu Darrel? Setelah kamu berselingkuh dengan anak kecil ini? Dia kekasih keponakanmu."
"Aku dan David hanya berteman." jawab Naomi polos.
"Jadi kamu mengakui kalau kalian berhubungan?"
Naomi terdiam, ia tak bisa menjelaskan hubungan rumit antara dirinya dengan Darrel yang tanpa status itu.
"Itu bukan urusan kamu Marissa."
"Itu masih menjadi urusan saya Darrel, saya masih kekasih kamu."
"Sudah tidak lagi Marissa."
Marissa yang bertambah kesal karena jawaban Darrel, langsung menarik lengan Naomi.
"Pergi kamu dari sini gadis sialan. Gara gara kamu merayu Darrel, hubungan kami jadi seperti ini."
"Tidak seperti itu kak Marissa."
"Jangan sebut nama saya dengan mulut kotor mu itu."
"Lepaskan dia Marissa." bentak Darrel
"Jangan membela perempuan jalang ini Darrel!!"
"Sakit kak, aku mohon lepaskan." rintih Naomi namun Marissa tak kunjung melepaskan lengan gadis itu dari cengkraman tangannya.
"Marissa!! Saya bilang lepaskan!!!" bentak Darrel dan membuat Marissa yang sedang menarik Naomi melepaskan lengan gadis itu dan mendorong tubuh Naomi yang akhirnya malah justru jatuh ke tangga.
Marissa memekik seketika karena kaget.
Naomi terjatuh hingga berhenti di tikungan tangga.
Darrel yang kaget dan panik langsung berlari menghampiri Naomi, sementara Marissa yang terkejut hanya bisa membulatkan matanya serta menutup bibirnya yang menganga dengan kedua tangannya.
"Naomi...Naomi bangun Naomi...Naomi.."
Darrel menepuk nepuk pipi Naomi yang masih memejamkan matanya.
Gadis itu jatuh pingsan dengan wajah tanpa luka walau terjatuh dari tangga yang tak begitu tinggi.
Namun tiba tiba darah mengalir deras dari s**********n Naomi.
"Naomi bangun...anak kita Naomi..."
Darrel yang bingung berteriak memanggil anak buahnya.
"Ambil mobil cepat." teriak Darrel.
Pria itu menggendong Naomi ala bridal style dengan setengah berlari.
Marissa mengerjabkan matanya berkali kali.
"Apa aku tidak salah dengar? Jadi Naomi sedang hamil? Anak Darrel? Sejak kapan?" gumam Marissa bingung.
***