CHAPTER 13

1504 Kata
"Kak Darrel?" Naomi membuka pintu rumahnya, Darrel tersenyum melihat wajah polos Naomi saat baru bangun tidur. Gadis itu hanya memakai piyama bergambar kuda poni warna biru laut dengan rambut panjangnya yang terurai. Darrel langsung memeluk gadis itu, mendekapnya erat seolah rindunya begitu dalam lama tak berjumpa. "Lepaskan kak..." Rintihan Naomi tak di hiraukan Darrel, ia masih mendekap gadis kecil yang hanya setinggi pundaknya itu. Ia meletakan kepalanya di caruk leher gadis itu, menghisap aromanya kuat, aroma parfum bayi. Setelah beberapa menit berlalu dalam keheningan, Darrel melepaskan pelukannya. "Apa kamu tidak mau menyuruh saya masuk?" "Apa masih pantas kalau bertamu di jam begini?" Darrel tersenyum, ia sama sekali tak peduli dan juga tak perlu menunggu persetujuan gadis itu. Pria itu melangkah masuk, ia memutar pandangannya melihat sesuatu dengan ekspresi wajah aneh. "Kamu tinggal di tempat seperti ini?" "Paman dan keponakan sama saja." gumam Naomi. "Jadi David juga sering kemari?" "Dia sering memberiku tumpangan pulang dari dulu kak." "Hmmm" Darrel mengangguk kemudian mencari tempat untuknya duduk. "Duduk saja di atas kasur ku, jangan khawatir. Itu bersih." Darrel menurut, mereka duduk berdampingan di atas kasur lantai milik Naomi. "Ada apa malam malam begini datang?" "Kamu belum tidur?" "Tadi sudah, tapi aku terbangun karena haus. Tiba tiba kakak muncul." Darrel kembali terdiam, ia merasa senang walau hanya berdekatan dengan Naomi. "Mau sampai kapan kak?" "Hmmm? Apanya?" "Mau sampai jam berapa kakak akan ada disini? Ini bahkan sudah hampir lewat tengah malam." "Apa kamu tidak suka saya datang?" "Apa menurut kak Darrel aku terlihat senang?" Darrel menggigit bibirnya, Naomi tidak mengetahui kejadian sebenarnya oleh sebab itu gadis itu masih marah padanya. "Naomi.." "Iya, katakan " "Saya tidak memiliki kekasih." "Tidak memiliki berapa kekasih maksud kakak? Beri jawaban yang lebih spesifik?" "Saya tidak memiliki seorangpun kekasih di sisi saya." "Tapi David bilang kak Darrel menjalin hubungan dengan model Marissa Aurora selama tiga tahun. Bahkan akan menikahinya." "David mengatakan sepeti itu padamu?" "Iya." "Oleh sebab itu kamu marah marah nggak jelas pada saya? Kamu cemburu?" "Aku tidak cemburu." "Kamu cemburu. Itu terlihat jelas Naomi." "Tidak." tegas Naomi, Darrel mengulum senyum. Sepertinya pendekatannya mulai berhasil, gadis itu mulai membuka hatinya. "Saya sudah mengakhiri hubungan saya dengan Marissa, dia berselingkuh dari saya." "Bukannya kak Darrel yang selingkuh duluan?" "Dia selingkuh dengan pria tua lawan bisnis saya. Hal itu terjadi sebelum saya tidur dengan kamu Naomi." "Jadi...aku hanya pelampiasan kak Darrel saja?" Naomi tidak percaya dengan apa yang dikatakan Darrel, air matanya meluncur dari pucuk matanya. Hatinya sakit, hanya di jadikan pelampiasan belaka oleh oom oom genit yang duduk di sampingnya. "Bukan begitu maksud saya Naomi." "Cukup. Aku tidak ingin mendengar apapun" "Naomi.." "Cukup kak Darrel." bentakan Naomi malah di balas dengan ciuman di bibir gadis itu. Darrel meraih tengkuk leher Naomi dan menciumnya, begitu kasar dan menuntut. Naomi memberontak namun Darrel tak menghentikannya, ia justru semakin rakus melahap gadis itu. Membaringkan tubuh Naomi dan menindihnya hingga gadis itu terkunci tak bisa bergerak di bawah kungkungannya, hanya bisa pasrah dengan apa yang di lakukan Darrel. Darrel begitu merindukan gadis itu. Pekerjaannya yang begitu banyak baik di kantor ataupun di lapangan serta pertengkarannya dengan Naomi semenjak sore tadi membuatnya tak mampu menahan rasa rindunya yang meluap. Ia benar benar ingin membenamkan dirinya pada gadis itu. Naomi tersengal, nafasnya terasa sesak kala Darrel melepas tautan bibir mereka. Darrel menempelkan dahinya di dahi gadis itu, menatap lekat kedua manik mata Naomi dan terus mengulum senyum. "Apa kamu tidak lelah? Bertengkar terus dengan saya?" "Tidak. Sampai kak Darrel pergi dari hadapanku." "Tapi saya tidak ingin pergi darimu. Bolehkah saya memilikimu malam ini?" Naomi terdiam, ia menatap balik manik mata Darrel yang berkabut. Tanpa menunggu lama jawaban gadisnya itu, Darrel kembali meraup bibir ranum gadis itu. Malam ini adalah milik mereka berdua. *** Naomi terbangun dengan sebuah tangan besar yang melingkar di perut ratanya. Gadis itu tersenyum, ini pertama kalinya. Mungkin bukan pertama kalinya untuk Darrel dan Naomi melakukannya, namun ia baru merasakan begitu nikmatnya b******a tentunya dengan cinta serta dilakukan dengan sadar dan tanpa paksaan. Gadis itu mencoba melepaskan tangan yang melingkar di perutnya itu namun ternyata Darrel yang tengah terbangun semenjak tadi tak berniat melepaskan Naomi hari ini. "Jangan berangkat kuliah hari ini, seharian di rumah saja bersama ku." bisik Darrel parau tepat di telinga Naomi. Bulu kuduk gadis itu meremang, tubuhnya yang tak memakai sehelai benangpun dan hanya di tutupi selimut seranjang dengan Darrel dengan posisi ia memunggungi pria itu. "Apa kakak tidak berangkat bekerja?" "Itu perusahaan saya, jadi saya bebas untuk berangkat atau tidak." "Bukan bos yang baik, tidak patut di contoh." gumam Naomi. "Kamu berani mengumpat saya? Mau saya hukum seperti tadi malam?" Naomi terdiam, ia benar benar tak memiliki tenaga lagi untuk meladeni Darrel yang sepertinya tak memiliki rasa lelah itu. Perut Naomi merasa mual tiba tiba, gadis itu mengibaskan tangan Darrel yang melingkar di perutnya dan berlari menuju kamar mandi dengan tanpa busana. Darrel duduk memandang Naomi yang sedang muntah, gadis itu bahkan belum menelan sebutir nasi pun pagi ini. Apa bayi di perutnya berulah? "Naomi, kita kedokter kandungan hari ini?" Naomi membasuh bibirnya dengan air kemudian melilitkan handuk untuk menutupi tubuhnya. "Aku tidak hamil kak." "Kamu sering kali mual seperti itu Naomi. Apa kamu sudah datang bulan bulan ini?" Naomi terdiam, ia melihat kelender yang tergeletak di atas meja belajarnya, ini sudah terlambat seminggu sejak ia semestinya mendapat menstruasinya bulan ini. Dan Darrel juga memandang pada apa yang di lihat Naomi karena terlihat jelas kalau kalender ini di bundari. "Aku tidak mengerti maksud kak Darrel." "Kita harus segera menikah Naomi, saya tidak ingin anak saya lahir tanpa ayah." "Tapi aku sedang tidak hamil kak.." Pagi pagi Darrel sudah mengajaknya bertengkar, ia mendengus kesal. "Katakan pada saya Naomi, kenapa kamu tidak ingin menikah dengan saya? Apa kekurangan saya?" Naomi terdiam, Darrel memang tak memilik kekurangan apapun. Bahkan pria di hadapannya itu sepertinya sudah terlahir sempurna. "Aku mandi dulu kak.." "Jawab dulu pertanyaan saya Naomi." Naomi tak mempedulikan panggilan Darrel, gadis itu menutup pintu kamar mandi lalu membersihkan sisa percintaanya dengan Darrel sejak semalam. *** "Kamu akan pindah ke mansion saya mulai hari ini Naomi." Naomi meletakan sendok dan garpunya di atas meja, menatap lekat manik mata pria tampan di hadapannya yang dengan wajah tanpa ekspresi nya itu tetap asyik menikmati makanannya sambil seenaknya memerintah. "Aku tidak mau." "Mau sampai kapan kamu akan tinggal di tempat seperti itu?" "Tempat seperti apa maksud kakak?" Naomi membulatkan matanya tak percaya dengan hinaan yang diucapkan Darrel pada tempat tinggalnya. "Maksud saya..." "Saya menyewa tempat itu karena saya hanya mampu menyewa tempat yang seperti itu kak. Dengan uang yang di berikan oleh pak Marchello, daddynya David sekaligus kakak ipar kak Darrel, untuk biaya saya karena telah mejadi tutor David, saya bisa menyewa tempat itu untuk tempat berlindung saya selama setahun. Lalu apa salahnya? Saya membayarnya dengan hasil jerih payah saya kak..." mata gadis itu berkaca kaca, Naomi menahan agar air matanya tak menetes. Darrel terdiam, ia salah meminta Naomi tanpa memikirkan perasaan gadis itu. "Aku sudah selesai." Naomi melemparkan lap makannya di atas meja dan meninggalkan Darrel di restorant tempat mereka sarapan bersama. *** "Maaf Naomi, saya tidak bermaksud seperti itu" Naomi terus saja diam sepanjang jalan ia duduk di samping Darrel menuju kampusnya. "Naomi..." tak mendengar jawaban apapun dari gadis itu, Darrel menepikan mobilnya. Ia tak ingin terus bertengkar dengan gadis disampingnya itu. "Kenapa berhenti? Aku hampir terlambat." Naomi sedikit meninggikan nada bicaranya pada Darrel tanpa menatap wajah pria itu. "Kita bicara dulu, saya benar benar minta maaf kalau menyinggung perasaan kamu Naomi. Saya tidak ada maksud seperti itu." Naomi mendengus kasal, sepertinya Darrel menyadari kalau kata katanya menyinggung perasaan Naomi. "Maaf kak, seperti nya aku yang terlalu sensitif." Tiba tiba handphone Darrel berdering. Anthony is calling. "Selamat pagi bos" sapa Anthony dari seberang panggilan. "Ada apa?" "Sepertinya dari semalam anda tidak pulang bos." terdengar kekehan dari Anthony. Wajah Darrel memerah seperti kepiting rebus, teringat ulahnya pada Naomi semalam hingga berakhir tak kembali ke mansionnya. "Apa yang seperti itu juga saya perlu melapor padamu?" ucap Darrel berpura pura kesal. "Tidak bos." "Katakan ada apa?" "Maaf bos, perjalanan kita ke New York sepertinya harus di percepat. Pihak tuan Brown menghubungi saya pagi ini. Saya juga sudah menghubungi pak Mario agar segera bersiap." Darrel terdiam, ia menoleh ke arah Naomi. "Baiklah, siapkan segala sesuatunya. Siapkan juga paspor untuk Naomi." "Anda akan mengajaknya juga bos?" "Segera laksanakan." Darrel menutup panggilannya, Naomi menatap nya dengan wajah masih kesal. "Paspor untuk ku? Untuk apa?" "Ikut saya ke New York sekarang juga. Saya ada perjalanan bisnis bersama Mario selama seminggu di sana." dengan enteng nya Darrel berucap, Naomi tersenyum kecut. "Sepertinya pendapatku sudah tidak di butuhkan. Hidupku sudah menjadi milikmu kak." "Naomi, kenapa kamu berkata seperti itu?" "Memang kita punya hubungan apa sampai aku harus mengikuti semua keinginan kakak?" "Kamu...calon istri saya." "Memangnya aku pernah setuju untuk menikah dengan mu, kak?" bibir Naomi bergetar mengatakannya. Ia sama sekali tak menyukai sikap Darrel yang menganggap dirinya adalah milik pria itu. "Naomi..." "Antarkan aku ke kampus kak, aku sudah terlambat masuk jam pertama." Darrel terdiam sesaat, ia kemudian melajukan mobilnya menuju kampus Naomi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN