CHAPTER 12

1634 Kata
"Apa yang kalian bicarakan? kenapa kak Marissa menemui mu?"pertanyaan David membuat jantung Naomi tentunya kembali berdebar kencang. Serangan apa lagi ini? Bagaiman kalau David mencurigainya juga sama seperti Marissa tadi. "Itu...kak Marissa hanya bertanya." "Bertanya apa?" "Ehmmm...soal tanpa sengaja melihatku keluar dari mansion uncle Darrel, kami tanpa sengaja berpapasan." "Owh..kapan?" "Entahlah aku sendiri lupa." Naomi memaksakan senyumnya, berharap David tak lagi bertanya detail soal dirinya dan juga Darrel. "Kak Marissa dan uncle Darrel sudah bersama sejak tiga tahun yang lalu. Mereka begitu saling mencintai, mungkin sebentar lagi uncle akan melamarnya dan mereka akan menikah. Aku iri pada kisah cinta mereka." cerita David dan sukses membuat Naomi terdiam. Hanya mendengar seperti itu saja membuat hatinya remuk seperti tercabik cabik. Bagaimana bisa ia berkhayal untuk di bandingkan dengan Marissa Aurora. Terlalu jauh bagai langit dan bumi tentunya. Darrel hanya mempermainkannya saja, pria itu sudah memiliki kekasih. Seorang wanita cantik dengan karir yang cemerlang dan telah lama berhubungan dengannya, tentunya mereka tinggal merencanakan pernikahan. Dan Naomi hanya akan menjadi mimpi sesaat bagi seorang Darrel Alexander Abraham. "Kau baik baik saja Naomi?" Naomi kembali pada realita, ia harus sadar diri siapa dirinya dan siapa Darrel. Pria matang itu hanya main main saja dengan gadis kecil sepertinya. Atau mungkin one night stand bagi Darrel adalah sebuah hal yang biasa. Entahlah... *** "Bisa kita bicara Citra?" Naomi menarik tangan sahabatnya itu yang entah sudah berapa lama menghindarinya. "Aku ada urusan Naomi." "Apa aku punya kesalahan padamu?" Citra terdiam, ini memang bukan salah Naomi. Memang tak adil bila ia menghindari sahabatnya itu. "Aku yang salah, maafkan aku Naomi." Naomi bingung dengan sikap Citra. Apa gadis itu punya kesalahan padanya yang teramat fatal hingga ia menghindarinya seperti itu? Mungkin Citra butuh waktu lebih banyak untuk bisa menjelaskan segala sesuatunya pada Naomi. Naomi akan menunggu. *** Darrel merasa ia selangkah lebih dekat dengan Naomi. Urusan prestasi di sekolah atau pun bisnis, Darrel bisa dikatakan seorang yang jenius dan sukses. Namun bila menyangkut soal asmar, jangan bertanya pada pria tampan yang satu ini. Dia mungkin satu satunya pria tampan yang masih kolot dan kuno bila menyangkut hubungan dengan lawan jenis. Bahkan sering kali ia bertanya pada Anthony, sahabatnya yang lebih berpengalaman dan bisa di katakan mafia dalam hal menaklukan makhluk yang bernama wanita. "Apa anda ada rencana bos?" "Apa saya perlu lapor padamu?" "Tidak bos, tapi barangkali butuh jurus baru?" Anthony terkekeh melihat ekspresi Darrel yang menatap tajam ke arahnya. "Kamu pikir tiap kali saya mendatangi Naomi, saya akan mengajaknya b******a? Begitu?" "Begitu juga baik bos, itu demi kesehatan tubuh serta pikiran anda bos." Darrel membuang pandangannya, ia belum kehilangan akal sehatnya untuk memaksa Naomi memuaskan nafsunya. Walau tiap kali ia bertemu dengan gadis itu, bayangan indah serta nikmat saat mereka b******a terus saja terngiang di pikirannya. Membuatnya langsung onfire hingga berakhir dengan merendam tubuh nya selama berjam jam dalam bak mandi air dingin tentunya. "Saya ada urusan malam ini, bos. Bisa saya pamit pergi dulu?" "Sepertinya kamu yang sudah ada janji dengan wanita wanita mu itu." Anthony terkekeh, tebakan Darrel tak sepenuhnya salah. Malam ini ia mendapatkan gebetan baru dan mereka telah berjanji untuk menghabiskan malam bersama. Andai Naomi tak menolaknya terus menerus, mungkin akhir bulan ini mereka bisa langsung menikah dan tak ada malam yang sepi lagi yang harus ia lewati sendirian. Owh iya, anak dalam kandungan Naomi apa kabar? Darrel semakin tidak sabar untuk bertemu Naomi sore itu. Ia tahu jadwal gadisnya kalau hari ini Naomi tidak memiliki pekerjaan paruh waktu apapun jadi ia akan menemuinya. Mungkin Darrel sekarang benar benar sudah menjadi seorang penguntit yang tahu jelas jadwal gadis itu. "Naomi..." Jantung Naomi hampir meledak rasanya, suara itu kembali menghampirinya. Panggilan dari seseorang yang sudah mulai Naomi pikirkan dari kemarin namun harus segera ia hempaskan detik ini juga. Ia menguatkan hatinya, langkahnya terhenti, gadis itu memasang senyum. "Ada apa kak?" "Bisa kita jalan malam ini?" Apakah ini yang namanya godaan iblis tampan yang terkutuk? "Kemana?" "Kemana pun kamu mau..." Darrel tersenyum senang melihat ekspresi Naomi yang seperti nya bahagia bertemu dengannya malam ini, tak seperti hari hari sebelumnya. Atau hati gadis itu sudah berubah sekarang? Naomi mengeluarkan sebuah amplop kecil dan di sodorkan kepada Darrel. "Ini kak..." "Apa ini?" Darrel menerima amplop yang di sodorkan gadis itu lalu membukanya. "Ini...untuk apa kamu memberiku uang?" "Bukankah aku berjanji akan membayar seluruh uang yang kakak pinjamkan padaku dengan cara mencicilnya, aku baru dapat segitu kak, sabar ya..." "Naomi, saya datang kemari bukan untuk ini." ekspresi wajah Darrel berubah melihat ekspresi Naomi yang tetap memasang senyum manisnya. "Aku merasa tidak ada urusan apapun dengan kakak selain hal ini." jawab Naomi datar. "Saya tidak bisa menerimanya." Darrel memberikan kembali amplop di tangannya ke tangan Naomi namun buru buru di kembalikan lagi oleh Naomi kepada Darrel. "Aku mohon kak, urusan kita sudah selesai. Tolong jangan mempermainkan perasaan ku lagi." "Apa maksud kamu?" Darrel bingung dengan apa yang di katakan Naomi. "Mungkin bagi kak Darrel, b******a atau bahkan mempermainkan hati wanita adalah hal yang biasa, terlebih pada gadis biasa seperti aku. Tapi aku mohon kak, jangan di teruskan. Jangan membuat seseorang berharap lebih dengan sikap dan perhatian yang kak Darrel berikan." "Saya tidak mengerti apa maksud kamu Naomi." "Tolong jangan datangi aku lagi." Darrel menahan tangan Naomi saat gadis itu akan melangkah pergi. "Tunggu Naomi, sepertinya disini ada kesalahpahaman. Maksud kamu, saya sering mempermainkan wanita, b******a dengan mereka lalu meninggalkannya? Begitu?" Naomi terdiam, ia membuang pandangannya. "Saya bahkan berani bersumpah bahwa saya hanya pernah menyentuh seorang gadis yaitu kamu. Kamu seorang Naomi." Naomi terdiam, tubuhnya bergetar. Apa yang di dengarnya barusan itu tidak salah? Gadis itu tersenyum kecut, seolah tak percaya dengan pernyataan Darrel. "Ahhh...saya tidak tahu apa yang kamu dengar dari orang lain tentang saya tapi saya bukan seorang playboy." "Kakak pikir aku akan percaya?" "Saya berharap kamu percaya, saya tidak peduli orang lain berkata apa tentang saya. Yang penting kamu percaya pada saya." "Percaya pada ucapan seorang pria dewasa yang berpengalaman? Mempermainkan anak kecil." "Saya memang sudah dewasa, tapi kamu bukan anak kecil Naomi. Umur kamu sudah lebih dari 18 tahun," "Iya, seorang p*****l mempermainkan seorang gadis muda untuk di jadikan mainannya." sarkas Naomi. Darrel tertawa sumbang, ia tak menyangka Naomi akan mengatainya sekasar itu. "Saya bukan p*****l Naomi, umur kita hanya berjarak 7 tahun. Saya pikir itu bukan suatu tindak kriminal untuk bersama dengan gadis muda yang tak terpaut jauh usianya." "Kak Darrel" "Naomi." Darrel tak kalah kerasa menekan kata katanya. Naomi menghela nafasnya kemudian membuang pandangannya. Haruskah ia bertanya soal Marissa Aurora pada Darrel? Oh tunggu dulu. Apa ini perasaan cemburu? Atau perasaan merasa tersaingi? Mengapa hanya karena cinta satu malam nya itu ia harus merebut kebahagian orang lain. Naomi bukan gadis sejahat itu. "Saya tidak ingin berurusan dengan anda lagi kak." Naomi melihat bis nya telah tiba, ia pun segera naik ke atas bis dan meninggalkan Darrel yang terpaku di tempat mereka tadi. Darrel kemabli ke mansionnya, duduk di ruang meja kerjanya dengan gelas whisky di tangannya. Ia meneguknya berkali kali. Ada apa dengannya? Kenapa kisah cinta nya tak semulus pendidikan dan kariernya. Sepertinya di kehidupan ini ia tak di takdirkan memiliki pendamping hidup. Pintu ruang kerjanya terbuka, Darrel memutar kursi kebesarannya, di dapatinya Marissa tengah melangkah berjalan ke arahnya. "Darrel, kita perlu bicara." "Tidak ada yang perlu kita bicarakan." Darrel sedang tidak mood untuk berdebat, tenaganya telah ia habiskan untuk berdebat dengan Naomi tadi. "Ini soal gadis yang bernama Naomi." Darrel meletakan gelas whisky yang berada di tangannya, sepertinya ia mulai faham kenapa Naomi bisa se emosi tadi saat bertemu dengannya. "Apa kamu mengatakan sesuatu pada Naomi?" "Apa kalian memiliki hubungan?" "Jangan jawab pertanyaanku dengan pertanyaan lagi Marissa." Darrel menatap tajam gadis cantik di hadapannya. Marissa baru pertama kali melihat ekspresi kekasih nya yang seperti itu, setelah mengenalnya dan menjalin hubungan selama tiga tahun lebih, Darrel nya yang hangat dan lembut berubah dingin seketika. "Aku menemui Naomi untuk memastikan sesuatu." Darrel terdiam, inilah yang membuat Naomi bersikap seperti itu padanya. "Aku bertanya ada hubungan apa antara kamu dengannya." "Apa Naomi mengatakan sesuatu?" Darrel penasaran denagn cerita Marissa. "Bukankah Naomi teman sekolah David keponakanmu?" Darrel mendengus kesal, kenapa gadis itu tidak mengatakan sekalian kalau dia dan dirinya telah menghabiskan malam bersama dalam satu ranjang? "Hanya itu?" "David juga mengatakan kalau Naomi adalah calon pacarnya." Darrel tersedak ludahnya sendiri, ia tak menyangka keponakannya akan memberikan jawaban aneh pada Marissa. "Apa ada yang salah Darrel?" Darrel tak menjawab, ia membuang pandangannya. "Aku pikir kalian ada hubungan. Kamu dengan Naomi." "Kalau iya?" Darrel menatap tajam manik mata Marissa, ia berharap gadis itu akan pergi dari hidupnya. "Itu tidak mungkin." Marissa terkekeh mengejek. Bagaimana mungkin ia dibandingkan dengan Naomi? Gadis yang terlihat biasa saja baik wajah ataupun penampilannya. "Segalanya di dunia ini mungkin terjadi Marissa. Bahkan hubungan yang terjalin manis tanpa hambatan apapun saja bisa kandas tanpa perlu badai menerjang." "Darrel..." Marissa berkata semanis mungkin, mencoba merayu Darrel. Namun sepertinya tidak akan mempan lagi, karena Darrel sudah muak dengan tingkah palsu Marissa. Pria itu segera mengambil kunci mobilnya dan berlari meninggalkan Marissa di ruang kerjanya. 'Sekarang saya faham, kamu sedang cemburu Naomi. Mungkin kamu pikir saya mempermainkan kamu karena kamu pikir saya memiliki kekasih. Kamu salah Naomi. Saya dan Marissa sudah berakhir dan hanya ada kamu serta anak kita dalam pikiran saya sekarang,' batin Darrel. Ia melajukan kendaraannya dengan kencang, jalanan kota tengah sepi karena hari yang mulai larut. Pukul 23.25 malam Darrel tiba di depan rumah yang di sewa Naomi. Sebenarnya Darrel hendak kembali ke mansion miliknya, namu ia urungkan karena tiba tiba lampu kamar adis itu tiba tiba menyala. Naomi terbangun. Darrel berdiri tepat di depan pintu rumah Naomi. Tok tok tok... Naomi kaget, kenapa selarut ini ada orang yang mengetuk pintu rumahnya. Jangan jangan pencuri. Naomi mengintip dari balik tirai jendela sebelah pintu masuk, matanya membola. Mendapati sosok tinggi tampan yang baru beberapa jam yang lalu ia tinggal di halte bis. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN