"Sudah saya bereskan semua bos." Anthony memberi laporan pada Darrel, pria itu tengah berdiri di depan pintu masuk ruang VVIP tempat Darrel, Mario dan juga Naomi makan saat ini.
Naomi menatap tegang wajah Anthony, pria itu terlihat begitu patuh dan setia pada bos nya.
Tawa Mario memecah keheningan, Naomi tersentak kaget.
"Sudah hentikan, ayo lanjutkan makan. Kau lama sekali."
Anthony mengangguk kemudian duduk di samping mario.
Mengambil makanan yang terhidang di meja kemudian memakannya dengan lahap, dan hal itu tak luput dari pandangan Naomi.
"Kenapa diam? Lanjutkan makanmu." Darrel menyenggol siku Naomi, membuyarkan lamunannya.
"Dia..." Naomi menunjuk Anthony bingung.
"Jangan heran, kami memang seperti ini kalau sedang hanya bertiga." jawab Mario.
"Mario dan Anthony adalah sahabatku sejak masuk kuliah hingga sekarang." jelas Darrel sambil menyuapkan sayuran ke mulutnya.
"Nona Naomi...silakan lanjutkan makannya." Anthony ikut menimpali.
"Jangan terlalu formal, hanya ada kami disini.." ucap Darrel.
Anthony, Mario dan Darrel tertawa bersama.
Sungguh pemandangan yang langka.
Tiga orang pria tampan sedang tertawa bahagia di hadapan Naomi.
Sebenarnya yang membuat aneh tentunya Darrel yang biasa nya berwajah datar dan dingin, pria itu bisa mengekspresikan hatinya dengan bebas, seperti tak ada beban.
***
"Apa kau mengenal mereka, Naomi?" tanya manager restoran yang memanggil Naomi sebelum gadis itu meninggalkan restoran.
"Saya berteman dengan cucu dari keluarga Abraham, dan pak Darrel adalah paman dari teman saya pak."
Manager Restauran mengangguk, penjelasan singkat Naomi tak begitu di pikirkannya.
Ia hanya mendapat pesan dari tamu spesialnya itu untuk menjaga dan bersikap baik pada Naomi selama gadis itu bekerja disini.
"Saya permisi pulang dulu pak."
"Baiklah."
Naomi mengambil tas ranselnya dan keluar dari restoran.
Perutnya terasa kenyang, berbagai makan bergizi kembali masuk ke dalam pencernaannya.
"Naomi"
Tanpa menoleh pun ia hafal betul siapa yang memanggilnya.
"Naomi tunggu."
Ia menghentikan langkahnya, percuma saja menghindar, pria itu tak akan lelah mengejarnya.
"Ada apa kak?"
"Aku akan mengantar mu pulang."
"Aku tidak punya uang untuk membayar bensin di mobil mahal mu."
"Apa kamu akan selalu bersikap ke kanak kanakan seperti itu pada saya?"
Naomi memaksakan senyumnya." baiklah"
Darrel dan Naomi masuk ke dalam mobil dengan Anthony berada di kursi kemudi.
Naomi terus melempar pandangannya ke luar jendela, ia berharap cepat sampai ke rumahnya tanpa harus mengobrol apapun pada pria di sampingnya.
"Naomi..."
"Saya sedang tidak ingin ngobrol dengan anda."
"Apa kabar mu?"
"..."
" Naomi..."
"..."
"Setidaknya lihat saya."
Naomi mendengus kesal, ia memutar wajahnya dan tepat hampir tanpa jarak wajahnya berhadapan langsung dengan wajah Darrel.
Mata gadis itu membola, seketika langsung memundurkan posisi duduknya, wajahnya merona karena kaget dan malu.
"Kenapa?" ucapnya dengan gugup.
"Berhari hari kita tidak bertemu, apa kamu tidak ingin tahu kabarku?"
"Setidak nya yang ku lihat sekarang anda baik baik saja, bahkan tadi anda makan banyak. Itu berarti anda sedang dalam kondisi sehat dan tentunya bahagia."
"Menurutmu seperti itu?"
"Menurut saya seperti itu kalau saya lihat." kembali Naomi memutar pandangannya, ia merasa risih di pandang intens oleh Darrel.
"Saya tidak baik baik saja Naomi."
Darrel membetulkan posisi duduknya, menghadap kedepan.
Jantung Naomi berdetak teramat kencang, ia bahkan takut kalau Darrel bisa mendengarnya.
Kenapa ini?
Kenapa aku bisa begini?
Naomi bingung, ia merasakan aneh pada dirinya.
"Bagaimana kabarmu kak?" Naomi masih dengan gugup berbicara.
"Saya tidak baik baik saja Naomi."
Suasana seketika hening, mereka sibuk dengan pikiran masing masing.
"Saya merindukan kamu."
jantung Naomi seperti hampir loncat dari rongga dadanya.
Baru pertama kalinya ia mendengar Darrel mengucapkan kata kata itu.
Padahal kemarin kemarin ia benci setengah mati pada pria tampan yang duduk di sampingnya, karena sikapnya yang selalu memaksa dan wajahnya yang selalu tanpa ekspresi itu.
Tapi kali ini berbeda, Darrel mengatakan kalau pria itu merindukan Naomi.
Gombalkah pria itu padanya?
Tak ada jawaban apapun dari Naomi.
Hingga akhirnya mereka telah tiba di rumah kontrakkan Naomi.
"Terimakasih sudah mengantarku pulang kak, selamat malam."
Tak ada jawaban dari Darrel hingga gadis itu turun dari mobilnya.
Namun tiba tiba Darrel menarik tangan Naomi dan memeluk gadis itu.
Sesaat Naomi terdiam, ia terbuai dengan tubuh tegap tinggi dan serta wangi pria yang memeluknya itu.
Namun itu hanya sesaat, ia tersadar dan memang sudah seharusnya gadis itu sadar diri.
Darrel bukanlah levelnya, pria itu terlalu tinggi dari khayalan dan jangkauannya.
Naomi melepaskan pelukan Darrel.
"Maaf kak, aku tidak enak melakukan ini."
Naomi berlalu meninggalkan Darrel dan masuk ke dalam rumah.
Jantungnya masih berdetak amat kencang, dengan serangan bertubi tubi pria itu.
Tadi pernyataan rindu, dan barusan sebuah pelukan.
Bahkan aroma parfum Darrel masih menempel di kemeja Naomi.
Kalau begini terus ia bisa goyah dengan pesona seorang Darrel Abraham.
Naomi segera melepas kemeja yang di gunakannya dan melemparnya kedalam bak pakaian kotor.
Ia harus mandi untuk membersihkan dirinya dan otaknya yang sudah mulai hilang akal sepertinya.
***
"Sudah dikumpulkan?"
"Sudah."
David tersenyum manis pada Naomi karena ia selamat dari nilai D nya kali ini dan lagi lagi karena Naomi.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini Dave...belajar yang giat. Aku sampai malu pada daddy mu karena pernah menjadi tutor kamu."
David merangkul pundak Naomi dengan erat sembari memasang wajah senyumnya terus.
"Aku traktir deh..."
Naomi membuang muka, David memang paling pintar menyogoknya.
"Aku tinggal sebentar ya...Jangan kemana mana."
David melambaikan tangannya meninggalkan Naomi di taman belakang universitas.
Suara teriakan dari arah belakang membuat Naomi memutar tubuhnya, penasaran.
Ia mengerjabkan matanya berkali kali kemudian tersenyum.
Seorang gadis cantik tengah berjalan melenggang dengan sangat anggunnya hingga di kerumuni para mahasiswa.
Ada yang meminta foto, mengajaknya bersalaman dan tentunya ada dua orang body guard yang menjaga nya pula.
"Itu...Marissa Aurora kan? Aku gak salah lihat..." gumam Naomi.
Ya, Marissa Aurora sedang berjalan ke arahnya, dan berdiri tepat di depannya.
Dengan memakai dress bunga bunga sepanjang lutut dan lengan yang cantik, topi lebar serta memakai kaca mata, Marissa terlihat begitu bersinar di antara mahasiswa kampus.
"Hello.." Marissa menyapa Naomi.
Naomi bangun dari duduknya dan tersenyum pada wanita cantik di hadapannya.
Tubuh Marissa begitu tinggi hingga membuat Naomi harus mendongakkan wajahnya menatap wajah ayu model tanah air itu.
"Hallo." balas Naomi.
Marissa mengulurkan tangannya dan di sambut antusias oleh Naomi.
""Saya Marissa"
"Naomi"
"Bisa kita berbicara sebentar?"
Naomi terdiam sejenak, ia bingung ada apa gerangan seorang Marissa Aurora mencarinya.
Kemudian gadis itu pun mengangguk.
Marissa mengajak Naomi berbicara ke tempat yang agak sepi, sementara dua bodyguard nya berjaga agar tak ada seorangpun yang mengganggu pembicaraan mereka.
"Oke, to the point saja ya Naomi."
"Iya nona Marissa."
"Panggil Marissa saja, atau kakak juga boleh." Marissa terus mengembangkan senyumnya .
"Iya kak Marissa."
"Saya ingin tahu, ada hubungan apa kamu dengan Darrel Alexander Abraham kekasih saya?"
Naomi terdiam, jantungnya serasa berhenti berdetak dan wajahnya memanas seperti tertampar oleh kalimat yang baru saja meluncur dari bibir gadis cantik di hadapannya itu.
"Saya..saya tidak faham apa maksud kak Marisa..." Naomi tergagap, kalau boleh jujur ia memang tidak punya hubungan apapun dengan Darrel, namun bagaimana ia akan mengatakan tak ada hubungan apapun setelah apa yang terjadi pada nya dan pria tampan itu.
Marissa mengeluarkan beberapa lembar foto Naomi yang sedang bersama Darrel.
Saat mereka makan bersama di restorant dan saat Darrel memeluk gadis itu di depan rumahnya semalam.
Matanya membola, bibirnya bahkan terbuka tak percaya ia bagai artis yang sedang di ikuti paparazi.
"Bisa jelaskan pada saya maksud semua ini? Saya juga pernah melihat kamu keluar dari mansion Darrel dan diantar pulang oleh Anthony."
Naomi masih terdiam, ia menundukkan kepalanya tak sanggup menatap Marissa yang duduk di sampingnya menunggu jawaban darinya.
"Apa kalian memiliki hubungan?"
"Tidak kak Marissa." jawab Naomi masih menundukkan kepalanya.
'Siapa saja ku mohon tolong aku.' batinnya menjerit.
"Lalu bagaimana kamu akan menjelaskan foto ini?" Marissa menunjuk foto saat Darrel memeluknya.
"Itu..."
"Kak Marissa!"
Naomi menoleh ke sumber suara, David tengah berdiri di belakang mereka sembari tersenyum dan membawa dua cup jus yang ia janjikan pada Naomi.
"David, kamu kuliah disini?" Marissa tersenyum melihat David.
Naomi buru buru membereskan foto foto di tangannya dan memasukannya ke dalam tas ranselnya.
"Iya, bagaimana kamu bisa mengenal Naomi?" David melihat Marissa dan Naomi secara bergantian.
"Kamu kenal Naomi?" Marissa membulatkan matanya, ia merasa seperti ada konspirasi terencana di balik semua ini.
" Tentu, kami sudah saling mengenal sejak di bangku SMA. iyakan Naomi? "
Naomi tersenyum sembari mengangguk gugup.
"Ini milikmu Naomi." Naomi menerima cup berisi jus yang di sodorkan David.
"Apa gadis ini dan Darrel..."
"Owh uncle Darrel? Kami sering belajar bersama di mansion milik uncle Darrel .Maaf kalau sudah membuat mu salah faham kak..." David merangkul pundak Naomi dan itu sukses membuat Marissa membulatkan bibirnya, ia bingung dengan situasi ini.
"Kalian akrab sekali?" Marissa mencoba menata nada bicaranya agar tak terlihat gugup.
"Sebenarnya aku dan Naomi sebentar lagi kami akan jadian kak..." bisik David di telinga Marissa yang tentunya sukses mengagetkan Marissa, membuat gadis itu membola matanya hampir tak percaya dengan apa yang di dengarnya dari bibir David.
***