CHAPTER 23

1661 Kata
Naomi membawa Darrel ke dapur setelah pergulatan panas mereka ber jam jam lamanya setelah Darrel pulang dari kantornya sore tadi. Gadis itu mendudukan Darrel di kursi yang berhadapan langsung dengan dapur tempatnya memulai demo masaknya. "Kakak mau aku masakan apa?" Darrel terdiam sesaat, memikirkan sesuatu yang gampang dan cepat bisa di masak oleh gadis nya itu. "Aku mau nasi goreng, dengan telur mata sapi di atasnya serta irisan kubis mentimun dan tomat." Naomi tersenyum sembari mengangguk kan kepalanya. Baginya memasak adalah hal yang mudah baginya yang terbiasa hidup mandiri. "Tunggulah sepuluh menit." "Hanya sepuluh menit?" Darren membulatkan matanya tak percaya dengan jawaban Naomi. Segera Naomi mengambil celemek, melingkarkan nya di pinggangnya, kemudian gadis itu mencepol rambutnya asal dengan menggulung gulungnya serta menusuknya menggunakan sumpit. Darrel terus saja memperhatikan tiap gerakan yang dilakukan gadis itu. Apapun yang di lakukan Naomi terlihat sexy di mata Darrel. Naomi mengambil beberapa siung bawang merah dan bawang putih, mengirisnya tipis. Gadis itu terlihat lihai dengan pisau dapur di tangannya. "Pedas?" Naomi mengangkat wajahnya melihat ke arah Darrel yang tak melewatkan sedetikpun untuk memandang Naomi. "Hmmm? Sedang saja." Kembali naomi menundukkan wajahnya, fokus pada pisau di tangannya dan beberapa buah cabai rawit yang dengan cepatnya teriris. Naomi mengambil teflon dan mulai membuat beberapa telur mata sapi, menaburinya dengan sedikit garam tanpa takut minyak mencipret ke tangannya. Setelah beberapa telur mata sapi matang, ia meletakan nya di atas wadah, kemudian mengambil sebuah wajan yang agak besar dan menuang sedikit minyak goreng ke atasnya. Menaruh irisan bawang merah serta bawang putih dan juga cabai ke atas minyak yang sudah mulai panas. Naomi mengambil dua piring nasi dari dalam penanak nasi kemudian memasukannya ke dalam tumisan bawang. Gadis itu mengecilkan apinya kemudian menaburkan garam, sedikit penyedap rasa dan tak lupa kecap. Setelah dirasa tercampur rata, ia pun mematikan api kompor. Mengambil dua buah piring dan kemudian menata nasi dengan telur mata sapi di atasnya juga tak lupa mengiris mentimun, kubis dan juga tomat sesuai permintaan Darrel. Tepat sepuluh menit kemudian nasi goreng spesial buatan Naomi, gadis itu bawa di hadapan Darrel. Darrel menatap takjub dengan apa yang di hadapannya. Sebenarnya makan nasi goreng adalah hal yang biasa, namun menjadi luar biasa karena ini buatan Naomi. "Makanlah kak...jangan lupa berdoa dulu." Naomi menyodorkan segelas air putih ke samping kiri tangan Darrel. Darrel masih terdiam sambil terus menatap makanan yang ada di hadapannya. "Kenapa kak? Apa ragu untuk mencobanya?" nada bicara Naomi berubah agak kecewa karena Darrel yang tak kunjung menyuapkan makanan buatannya ke dalam mulut pria itu. Darrel menggelengkan kepalanya cepat, pria itu mengulum senyum sambil menatap Naomi. "Kamu sungguh luar biasa Naomi. Apapun bisa kamu lakukan." Naomi tersipu malu mendengar pujian dari Darrel. "Jangan memujiku dulu kak, kau belum mencobanya." Darrel mengambil sendok dan juga garpu, pria itu terlihat antusias ingin mencoba masakan gadisnya. "Baiklah." Dan saat suapan pertama, kembali Darrel terdiam, ia begitu menikmati setiap kunyahan yang ia rasakan dilidahnya. "Bagaimana?" Naomi menunggu jawaban Darrel . "Ini enak sekali. Bagaimana kamu bisa membuatnya seperti ini?" Darrel kembali memasukan sesuap nasi goreng ke mulutnya dan menikmatinya. "Itu di buat dengan cinta kak..." bisiknya menggoda, membuat Darrel gemas melihatnya. Sebenarnya ini bukan yang pertama bagi Naomi di puji enak masakannya. Ayahnya adalah orang pertama yang memuji dirinya kalau masakan gadis itu enak. Saat itu dirinya masih duduk di bangku SMP dan berumur 14 tahun. Ibu tirinya sedang pergi keluar kota karena ada urusan keluarga sedang pembantu rumah tangga nya sedang cuti. Dan di saat sang ayah pulang dari kantor serta merasa lapar, ayahnya meminta Naomi untuk memasakan sesuatu untuk pria itu. Dan mulai saat itulah Naomi suka berada di dapur. Karena pujian sang ayah yang selalu membuatnya semangat membuat masakan dan ayahnya pula yang suka menyanjungnya dalam hal pendidikan hingga membuat Naomi semangat belajar pula. Ayahnya yang sangat ia sayangi dan selalu ia rindukan setahun belakangan ini. Kepergian sang ayah yang tiba tiba yang membuat hidupnya seketika terjungkir. Tak terasa air matanya mengalir, teringat akan sosok sang ayah, Darrel menyadari raut wajah Naomi yang berubah. "Kenapa Naomi? Kenapa kamu menangis? Apa ada yang salah dengan saya?" Naomi lekas menghapus air mata yang mengalir di pipinya. "Tidak kak, tidak ada. Aku hanya merindukan ayah. Tiba tiba." Darrel terdiam, ia menunggu Naomi membuka suaranya. "Ayah juga sering mengatakan masakan ku enak. Beliau selalu memujiku. Dalam masakan ku, dalam akademik ku." "Ayahmu ayah yang baik. Dia pasti sangat menyayangimu." Naomi menundukkan kepalanya. Bila ingat ayahnya hatinya begitu sakit. "Beliau sangat menyayangiku. Beliau selalu bangga dengan apa yang aku lakukan dan aku hasilkan." Sosok seorang ayah di mata Naomi begitu agung, hingga membuat Darrel iri. Ayah Darrel, tuan Abraham, pria itu tak pernah sekalipun berada di hati Darrel. Di saat ayah yang lain sibuk menimang putra putri mereka, memujinya dengan kata kata manis serta menyemangati, berbeda dengan yang dilakukan oleh ayah Darrel. Tuan Abraham tak pernah sekalipun memuji apa yang dilakukan Darrel, sekalipun pria itu selalu memuaskan dalam hal pendidikan dan bahkan sekarang sukses membangun kerajaan bisnis pribadinya di usianya yang masih terbilang muda. Dan karena hal itu pula yang membuat Darrel selalu fokus dengan apa yang sedang dikerjakannya, membuat pria itu sama sekali tidak terlalu mempedulikan masalah cintanya hingga membuatnya tak menyentuh wanita. Namun kali ini berbeda, ia bersama dengan Naomi, dan ia akan memperjuangkan gadis itu. Cukup sudah ia menahan hasratnya sebagai seorang pria normal. Ia ingin memiliki kisah cinta yang sama dengan makhluk hidup lainnya. Ia ingin menikmati hasil jerih payahnya dan hidup bahagia dengan wanita yang di cintainya. "Naomi..." "Hmmmmm...." "Saya tahu saya bukan manusia sempurna. Tapi saya harap, kamu tidak perlu merasakan kesedihan lagi. Karena ada saya yang akan selalu setia menjaga kamu, sekarang, besok dan seterusnya." Naomi terdiam, di tatapnya lekat kedua manik mata Darrel. "Kak Darrel mau menjadi bodyguard ku? Begitu?" "Bukan seperti itu Naomi. Saya...saya sedang melamar kamu menjadi istri saya." Naomi menahan tawanya, Darrel kembali pada topik yang sering kali membuatnya jengah. "Jadi ini sebuah lamaran?" Darrel mengangguk pasti. "Apa tidak ada yang ingin kak Darrel sampaikan padaku?" Darrel terdiam, ia tahu seharusnya dari awal mengatakannya pada gadis di hadapannya namun bibirnya seperti terkunci untuk mengungkapkannya. "Saya...saya mencintai kamu Naomi. Saya sangat mencintaimu. Saya tidak ingin kehilangan kamu Naomi. Jadilah istri saya, bersama menjalani hidup ini bersama saya." Mata Naomi membola, ia tak salah dengar kan? Darrel mengungkapkan cinta padanya. Tak menerima tanggapan dari gadis nya, Darrel berjalan memutari meja menghampiri gadis nya, dengan setengah menundukkan tubuhnya, Darrel berlutut di depan Naomi, menatap lekat wajah gadis itu. "Apa jawaban mu? Apa kamu menolakku? Kenapa kamu cuma diam? Ayo katakan sesuatu Naomi. Ku mohon...Jangan membuat ku frustasi..." Naomi membalas tatapan mata Darrel , menarik tengkuk leher pria itu kemudian mencium dengan cepat bibir manis pria di hadapannya itu. "Aku bersedia." jawabnya setelah mencium Darrel. Darrel menganga, dia kira akan mendapatkan penolakan dari Naomi setelah beberapa kali gadis itu menolak ajakannya menikah. Darrel langsung menarik tengkuk leher gadis itu dan menciumnya, ia menggila, bahagia, kaget dan segala perasaan bercampur aduk dalam hatinya. "Terimakasih sayang . Terimakasih karena telah menerima lamaran saya." Naomi mengangguk kemudian mengecup pelan bibir Darrel. Anthony dan Mario yang sudah tiba di mansion dari tadi, memperhatikan Naomi dan Darrel dari kejauhan. "Aneh." ucap Anthony datar. "Apanya?" Mario melirik sahabatnya bingung. "Naomi dengan mudahnya menerima lamaran Darrel." "Bukankah mereka sudah lama berhubungan? Lalu apa salahnya kalau mereka menikah?" "Apa kau pikir ini tidak aneh? Naomi beberapa kali menolak ajakan Darrel untuk menikah. Dan tiba tiba gadis itu kembali dengan pikirannya yang berubah. Seseorang bisa berubah sifat hanya dalam waktu beberapa hari? Apa itu mungkin?" Mario membalas ucapan Anthony dengan kekehan. "Apa ada yang lucu?" "Jelas lucu Anthony. Kalau orang lain melihat, mereka bisa mengira kau sedang iri dengan kehidupan mereka." "Ku bilang aku sedang tidak iri." "Kalau begitu kau cemburu." "Mario..." Anthony menggeram Mario kembali terkekeh, ia berhasil menggoda sahabatnya yang satu ini. *** "Pertama kita akan mendatangi ibumu untuk meminta restu." ucap Darrel begitu mereka kembali ke kamar Darrel usai makan malam mereka yang di bumbui suasana haru lamaran Darrel yang sama sekali tidak romantis itu. "Ibuku sudah meninggal kak." "Maksud saya ibu tirimu. Tentu kita juga perlu memberi kabar Adrian. Bagaimanapun dia kakakmu." Naomi mengangguk. "Lalu setelah itu kita ke rumah orang tuaku. Mereka juga perlu tahu walau sebenarnya kita juga bisa menikah tanpa mendapat restu dari mereka." Tubuh Naomi menegang, bagaimana pun keluarga Abraham adalah keluarga terpandang di kota ini. Apakah ia akan di terima dengan mudah? "Aku...aku takut kak.." Naomi mendudukkan tubuhnya di atas ranjang sambil tertunduk lesu. "Kamu tidak perlu takut, kamu memiliki saya di samping kamu." Darrel merangkul gadis di sampingnya, meyakinkan. "Lalu baru kita akan memesan tempat, gaun pengantin, juga cincin pernikahan. Owh iya, kamu ingin kado pernikahan apa dari saya?" Naomi menoleh kesamping, menatap lekat wajah Darrel yang sedang berbicara seolah tak memiliki beban. "Memangnya kita akan menikah kapan kak?" "Ehmmm...mungkin bulan depan? Atau setengah bulan lagi? Lebih cepat lebih baik." Naomi menggeser posisi duduknya agak menjauhi Darrel. "Kenapa...kenapa cepat sekali?" Naomi tergagap "Apa kamu tidak ingin cepat menjadi istriku Naomi?" "Kak Darrel...umurku saja baru menginjak 19 tahun. Bagaimana aku bisa menikah semuda ini?" "Saya hampir 26 tahun Naomi, saya pikir sudah cukup matang untuk menjadi suami kamu." "Tapi aku masih muda kak. Aku juga belum menyelesaikan kuliah ku." "Kamu bisa terus kuliah selama kita menikah. Tapi kalau kamu hamil, cuti lah sebentar. Saya sanggup menghidupimu dan seratus anak kita nantinya." Naomi menahan tawanya dengan tangannya. "Kau pikir aku ibunya kurawa sampai melahirkan seratus anak." "Kalau kamu mau kita bisa memiliki seribu anak sekaligus. Saya siap membuatnya setiap saat bila kamu mau." bisik Darrel parau tepat di telinga gadis itu, membuatnya bergidig. "Kau mulai gila kak." Naomi bangkit dari posisi duduknya, dan saat gadis itu akan melangkah tangan Darrel menariknya hingga Naomi kembali terduduk di samping Darrel. "Kamu yang membuatku tergila gila padamu Naomi." "Terserah, tapi tidak bisakah kita undur sampai aku lulus kuliah saja kak?" "Lalu saya harus menahan hasrat saya selama itu untuk menyentuh kamu Naomi?" Naomi mengusap wajahnya, ia bingung, terperangkap dalam ucapannya sendiri. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN