Naomi menghela nafas, sesaat setelah berfikir gadis itupun akhirnya membuka mulutnya.
"Baiklah."
Darrel tersenyum puas di rengkuhnya tubuh Naomi ke dalam pelukannya.
"Terimakasih Naomi...Saya sangat mencintaimu..." berkali kali di kecupnya leher Naomi yang masih dalam pelukannya.
"Kak..."
"Hmmm..."
"Besok aku akan kembali ke tempat kost ku. Terlalu lama menginap disini aku merasa tidak enak."
Darrel langsung mengurai pelukannya, ia menggenggam kedua lengan gadis itu dan menatap matanya.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Kamu tidak akan kemana mana. Disini lah tempatmu."
Naomi tersenyum kecut, ia membuang pandangannya.
"Mulai lagi.." gumamnya kesal
"Kenapa?"
"Kak Darrel...aku sudah berada disini dua hari, aku rasa sudah cukup. Bukankah rindumu sudah terobati?"
"Kamu pikir dua hari saja cukup? Tidak Naomi."
"Terserah padamu saja kak, aku ke kamar mandi dulu."
Naomi melepaskan tangan Darrel yang berada di kedua lengannya dan berlalu ke kamar mandi.
Setelah menutup pintu kamar mandi, gadis itu menyandarkan tubuhnya di pintu.
Sorot matanya menatap tajam namun pandangannya tak terarah.
Hatinya begitu sakit hingga terasa sesak di dadanya.
Air matanya bahkan menetes tanpa bisa di bendungnya.
Bahagia?
Haruskah ia merasa berbahagia sekarang?
Bersama Darrel? Pria b******k itu?
Kakinya bahkan terasa lemas untuk menumpu tubuhnya yang tak bertenaga walau sudah menelan banyak makanan tadi.
Naomi mengusap air matanya, ia harus menyegerakan ritual cuci muka dan gosok giginya.
Tak berapa lama gadis itu keluar dari kamar mandi.
Ia mendapati Darrel tengah duduk di sofa dengan sebuah laptop berada di atas pangkuannya.
"Aku tidur dulu kak."
"Tanggalkan pakaianmu."
"Hmmmm?" Naomi menoleh ke arah Darrel yang masih fokus dengan laptopnya dan berbicara tanpa melihat ke arahnya.
"Maksudnya?"
"Tanggalkan semua pakaianmu. Saya tidak ingin kamu tidur dengan tubuh terbungkus seperti itu."
"Kak Darreeeellll!!!" Naomi menghentakan kakinya melangkah ke arah Darrel.
Darrel mendongakan kepalanya, meletakan laptopnya di atas meja dan menatap ke arah Naomi yang berdiri di hadapannya dengan wajah kesal.
"Apa kamu keberatan sayang?"Darrel merengkuh pinggang gadis itu dengan erat dan masih menatap manik mata Naomi.
"Apa seperti itu juga perlu?"
"Owh tentu...."
"Apa otakmu hanya di penuhi dengan hal hal m***m saja kak?"
"Apa kamu keberatan?"
Naomi mendengus kesal, ia membuang pandangannya kemudian menanggalkan satu persatu kain yang melekat di tubuhnya termasuk celana dalam serta bra yang di kenakannya.
"Puas?" ucapnya kesal setelah semua pakaian yang ia kenakan kini teronggok di lantai.
Darrel menyeringai.
"Tidurlah, selamat malam."
Naomi berlalu tanpa menjawab ucapan Darrel, gadis itu menutup tubuhnya sampai ke leher menggunakan selimut.
***
Pagi pagi sekali Darrel sudah terbangun, tangannya meraba sesuatu yang membuat darahnya berdesir nikmat.
Naomi yang tengah tertidur pulas dengan selimut yang tersibak, menyajikan pemandangan indah di pagi hari bagi Darrel.
Pria itu bagai mendapat jackpot.
Tender bernilai milyaran rupiah kalah menarik di matanya dibanding posisi Naomi saat ini.
Naomi mengerjabkan matanya, ia merasakan sesuatu yang besar dan tumpul mengganjal di selangkangannya.
"Kak Darrel.." desisnya.
"Kak...kak...ini..masih pagi.." nafasnya putus putus.
Naomi membuang pandangannya, hatinya begitu sakit diperlakukan Darrel seperti ini.
Namun ia tidak menolaknya, ia harus menuruti semua permintaan pria yang tengah bergerak bebas di atas nya itu.
Ia tak ingin berlama lama dalam keadaan seperti ini.
Dibelainya lembut punggung pria itu dan mengecup pipi Darrel.
"Selamat pagi sayang, semoga hari mu indah.." bisik Naomi tepat di telinga Darrel.
***
"Kau akan menikah dengan Darrel?" Adrian membulatkan matanya saat mendengar pernyataan adik tirinya itu.
Matanya di penuhi tanda tanya dan juga amarah yang meluap.
Sementara Naomi dengan tenang menyesap kopi yang berada di tangannya yang di suguhkan Adrian di rumahnya.
Adrian menggenggam tangan Naomi dan menatap lekat mata gadis itu.
"Apakah sampai perlu menikah dengannya?"
"Tidak ada cara lain kak."
"Apa kau jatuh cinta padanya?"
Naomi tersenyum, Adrian tidak mengerti arti senyuman gadis manis di hadapannya itu.
"Apa aku terlihat jatuh cinta padanya kak?"
"Darrel pria kaya, dia juga tampan dan mapan. Wanita mana yang akan menolaknya?"
"Wanita itu adikmu kak."
"Tapi nyatanya kalian akan menikah. Apa kau lupa apa yang si b******k itu lakukan padamu?"
Naomi terdiam, dia tidak lupa bahkan tidak akan pernah lupa.
Sakit di hatinya bahkan sudah membatu karena luka yang begitu dalam.
"Kak, bisakah kau percaya padaku?"
"Apa kau akan bahagia dengannya?"
"Dia bahagia dengan adikmu ini kak. Dan akan aku buat dia semakin bahagia hingga tidak akan merasakan rasa sakit sama sekali."
"Kakak tanya apa kau bahagia?"
"Menurut kakak?"
"Menurutku, kau sudah hilang akal Naomi." Adrian hampir bangkit dari posisi duduknya namun di tahan oleh Naomi.
"Aku ingin bertemu ibu kak, aku harap ibu bisa datang ke pernikahan ku tanpa membawa ayah tirimu." ucap Naomi dengan nada datar.
"Aku tidak pernah menganggap Triawan si b******k itu sebagai ayah tiriku. Selain ayah kandungku, hanya ayahmulah satu satunya ayah yang aku miliki."
Naomi terdiam, bila membahas soal ayahnya , air matanya serasa tak bisa di bendungnya untuk mengalir.
"Tolong sampaikan pada ibu, aku dan kak Darrel mengundangnya ke pernikahan kami. Tapi aku tidak akan menginjakan kaki ku lagi di rumah itu. Walau bagaimana pun ibu mu adalah wanita yang membesarkan ku kak. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja meski nasibku berakhir seperti ini."
Adrian merengkuh tubuh Naomi dalam pelukannya dan membelai rambut panjang Naomi.
"Maafkan kakak Naomi. Kakak tidak bisa berbuat apapun."
"Kakak sudah menjaga ku sampai sekarang itu sudah lebih dari cukup kak."
"Aku menyayangi mu Naomi."
Naomi tersenyum, ia bisa merasakan kasih sayang Adrian tanpa pria itu mengucapkannya.
'Apa kau juga mencintaiku kak?'batin Naomi.
***
"Apa kamu sudah mencari latar belakang Naomi seperti yang saya minta pagi tadi?"
Anthony menghampiri Darrel dan memberikan sebuah map, Darrel menerimanya dan membukanya sementara Anthony menjelaskan.
"Dia anak tunggal pasangan Rizal Adhiyaksa dan Marinna Indah. Kedua orang tua Naomi sudah meninggal bos."
"Itu saya tahu."
"Ibunya meninggal saat dirinya baru berusia dua tahun dan ayahnya menikah lagi dengan Wulan Asri, ibu kandung Adrian."
"Hanya itu yang kamu dapat?"
"Tidak bos, ayah nona Naomi meninggal setahun yang lalu karena serangan jantung dan tak lama kemudian ibu Adrian menikah lagi dengan Triawan."
Darrel terdiam, menunggu penjelasan dari mulut Anthony lagi.
"Tuan Rizal Adhiyaksa adalah pemilik usaha NAKHA furniture yang sekarang berganti nama menjadi MEGA furniture dan perusahan itu yang bekerja sama dengan perusahaan milik paman dari mantan kekasih anda bos."
Darrel menatap Anthony lekat, ia masih tak faham dengan arah penjelasan anak buahnya itu.
"Marissa?"
Anthony mengangguk.
"Lalu kenapa Naomi sampai hidup seperti ini?"
"Ibu tirinya mengusirnya dari rumah dan mengambil semua yang nona Naomi milikki bos."
"Wanita itu..Lalu apa yang terjadi pada adrian? Kenapa pria itu tidak hidup nyaman dengan orang tuanya? Pria itu malah memilih bekerja di bar sebagai bartender."
"Itu karena rasa sayangnya pada nona Naomi bos. Adrian terus menjaga Naomi walau mereka hanya saudara tiri. Bahkan sekarang nona Naomi sedang berada di rumah kontrakan Adrian bos."
Rahang Darrel mengeras, hatinya panas seketika mendengar laporan dari Anthony.
Ia merasa kan sesuatu antara Adrian dan Naomi.
Gadis nya itu menatap berbeda pada Adrian, bahkan ia tak mendapatkan tatapan yang sulit di artikan itu dari mata Naomi.
"Tadi kamu bilang MEGA furniture bekerjasama dengan paman Marissa?"
"Betul bos. Saat kita mendapat proyek apartemen serta perumahan elit tahun kemarin, mereka lah yang mendapatkan proyek furniture dan design interiornya bos."
Darrel kembali terdiam.
'Dunia ini begitu sempit' gumam Darrel.
Naomi dahulu adalah putri seorang pengusaha, gadis itu hidup berkecukupan.
Namun sekarang ia harus bekerja keras hanya untuk sesuap nasi.
Sungguh tak di duga.
Darrel merasa semakin kagum pada gadis itu.
Tak salah bila ia memilih untuk memperjuangkan gadis keras kepalanya itu.
***