Hari ini adalah hari yang begitu membahagiakan bagi seorang Darrel Alexander Abraham.
Ia memenangkan proyek bernilai triliyunan rupiah, yang telah di incarnya dua bulan terakhir itu.
Begitu hebat karena ia bukan hanya seorang pengusaha yang sukses, namun karena kesuksesannya itu diraihnya di usianya yang masih terbilang muda.
Ya, Darrel memang baru menginjak usia 25 tahun dan ia telah memimpin sebuah perusahaan konstruksi besar.
Dan hari ini ia berencana untuk melamar kekasihnya yang telah menemaninya sejak mereka sama sama di bangku kuliah.
Marissa Aurora, adalah gadis yang beruntung itu, seorang super model cantik tanah air.
Tanpa memberitahukan kedatangannya terlebih dahulu, Darrel mendatangi apartemen Marissa dengan membawa sebuah cincin serta sebuket bunga mawar merah di tangannya.
Namun, bukannya ia yang akan memberikan kejutan pada Marissa, Darrel justru di buat terkejut oleh gadis itu.
Marissa, di dalam kamar apartemennya, tengah b******a dengan seorang pria paruh baya, yang ia yakini adalah rivalnya dalam tender terakhir yang di perebutkannya.
Tanpa berkata apapun, Darrel hanya berlalu tanpa meminta penjelasan apapun ataupun menunjukkan batang hidungnya di hadapan gadis itu.
Ia merasa tak perlu mendengar apapun dari bibir gadis itu.
"Uncle..."
David, keponakannya yang usianya tak terpaut jauh dari dirinya mendatangi pria yang tengah duduk termenung di meja kerjanya itu.
"Hmm..." Darrel pura pura kembali sibuk, padahal ia tak sedang melakukan apapun.
"Apa aku boleh minta sesuatu?"
Seperti biasa, walau David bukan remaja lagi namun ia tetap bersikap manja pada Darrel seolah meminta pada kakaknya sendiri.
"Katakan cepat. Uncle sibuk."
"Baiklah, aku ingin mengadakan pesta penerimaan mahasiswa baru dengan teman teman kelasku. Boleh kah kami mengadakannya di mension mu?"
Darrel menghentikan kegiatannya sesaat, ia hanya diam tanpa memandang wajah David yang tengah berdiri di hadapannya dengan harap harap cemas.
Cukup lama Darrel terdiam, membuat David serasa ingin buang air kecil karena ia takut kalau Darrel akan menolaknya.
Berkali kali David, menghentak hentakkan kakinya pelan untuk mengalihkan perasaan cemas nya.
Tak lama kemudian Darrel tersenyum kemudian melanjutkan aktifitasnya kembali.
"Baiklah..."
David melonjak, di hampirinya pamannya yang tampan itu dan langsung di peluknya erat.
"Terimakasih uncle"
"Hmmm..."
Begitulah Darrel, ia begitu menyayangi David layaknya kakak beradik walau masih dengan sikap dinginnya.
***
Keras musik pesta di lantai bawah, tak membuat Darrel berniat untuk melihat ke bawah aktifitas muda mudi teman keponakannya.
Ia masih sibuk dengan kesendirian dan rasa kecewanya pada gadis pujaannya.
Sedari pulang dari kantornya, ia hanya duduk di balkon lantai atas sembari menikmati minuman, untuk menghilangkan rasa sakit di kepala dan hatinya.
Bayangan wajah cantik Marissa seolah berlarian di hadapannya.
Gadis cantik itu, Darrel bahkan tak habis pikir, semua telah ia berikan pada Marissa.
Hati dan cintanya, bahkan seluruh kebutuhan dan keinginan Marissa, Darrel selalu memenuhinya.
Tapi...kenapa gadis itu bisa seperti itu?
Apa yang ia cari?
Darrel terdiam, ia menyadari sesuatu.
Hal yang sangat di inginkan Marissa dan Darrel tidak bisa memberikannya.
Darrel sama sekali tidak pernah menyentuh gadis itu.
Apakah Darrel kelainan?
Sama sekali tidak, ia 100% normal.
Pria mana yang tidak tergiur dengan Marisa.
Gadis cantik dengan tubuh tinggi langsing semampai, di topang dengan kulit halus serta rambut panjangnya, menggoda iman setiap pria yang melihatnya.
Tak terkecuali Darrel.
Namun Darrel berprinsip, kalau ia belum bisa berdiri di atas kakinya sendiri, ia tak akan menikah.
Dan kalau ia belum menikah, ia tak akan menyentuh gadis manapun.
Mulanya Marissa mengerti prinsip yang di pegang teguh Darrel, ia bisa mengerti walaupun di era modern seperti ini masih saja ada pria kolot seperti Darrel.
Namun lama lama Marissa agak tidak tahan, karena Darrel bukan hanya tidak mau menggauli gadis itu.
Bahkan setelah menjalin hubungan selama tiga tahun lamanya, Darrel bahkan hanya mencium pipi Marisa dalam hitungan jari.
Dan itu sukses membuat Marissa geram.
Berkali kali Marissa berusaha menjebak dan menggoda Darrel, namun ternyata pria itu tetap setia dengan prinsip hidupnya.
Dan hari itu, Darrel justru di kejutkan dengan pemandangan yang tidak mengenakan di matanya.
Ia di kejutkan dengan tindakan Marissa yang sama sekali tak ia duga.
Marissa bermain api di belakangnya dan sukses membuat Darrel hancur remuk tak tersisa sedikitpun cinta untuk gadis itu.
Kembali di teguknya botol minuman yang berada di tangannya, entah sudah berapa botol ia teguk, dan Darrel tak peduli.
Malam itu, ia hanya ingin melupakan semuanya.
Langkah seseorang dari arah pintu balkon, membuyarkan lamunannya, namun Darrel tak menoleh sama sekali.
Pria itu terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.
" Sedang apa sendirian disini uncle? Tidak turun ke bawah?"
Darrel hanya diam, ia meneguk kembali botol minuman yang berada di tangannya, tak mempedulikan kehadiran Naomi.
Namun tiba tiba Naomi menjatuhkan gelasnya dan tubuhnya tiba tiba ambruk.
Namun belum jatuh ke lantai, Darrel dengan sigap menangkap tubuh gadis itu.
Dengan nafas yang tersengal, Naomi menatap Darrel, membuat pria itu menjadi panik, ia tidak tahu apa yang terjadi pada gadis itu.
Dan tiba tiba Naomi menarik tengkuk leher Darrel dan menyambar bibir sexy pria itu, Darrel membulatkan matanya kaget dengan serangan dadakan yang di berikan Naomi.
Namun bukannya melepaskan ciuman gadis itu, Darrel justru terbuai dengan bibir manis gadis kecil itu.
Ini adalah ciuman pertama bagi Darrel, meski usianya bukan remaja lagi.
Suasana dini hari yang dingin, dengan pikirannya yang sedang kalut serta di bawah pengaruh alkohol, Darrel justru memperdalam ciumannya pada Naomi.
Ia mengangkat tubuh gadis itu tanpa melepaskan tautan bibir mereka, dan membawanya memasuki kamarnya yang terhubung langsung dengan balkon atas.
Dengan teramat pelan Darrel merebahkan tubuh Naomi di atas ranjang king size nya.
Naomi sepertinya menggila, gadis itu bahkan menjelajahi setiap jengkal tubuh Darrel, membuat pria itu semakin b*******h dan lancang melepaskan seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya dan di tubuh Naomi.
*FLASHBACK OFF*
***
Naomi terdiam mendengar cerita Darrel, tubuhnya menegang dengan hatinya yang berkecambuk tidak karuan.
Ia tahu betul kesalahan apa yang di perbuatnya hingga berakhir seperti ini dengan paman dari teman sekolahnya itu.
Namun yang membuat gadis itu bingung adalah, bagaimana bisa dengan berani seorang Naomi menggoda Darrel hingga berakhir di atas ranjang.
"Saya akan bertanggung jawab" ucapan datar Darrel kembali membuyarkan lamunannya.
Gadis itu menghela nafas pelan, mencoba menenangkan hati dan pikirannya sendiri.
"Aku...aku tidak apa apa uncle..." jawabnya mencoba sebiasa mungkin walau tubuhnya bergetar hebat.
"Tapi saya sudah menodaimu, saya telah merusak masa depan kamu."
Yang dikatakan Darrel memang benar, kehormatannya, harga dirinya, harta satu satu nya yang ia miliki telah hilang karena kebodohannya semalam.
Bahkan bercak noda darah perawannya masih tertinggal di atas sprei putih di atas ranjang Darrel.
Darrel menyentuh noda darah itu, dan menghela nafas kasar.
"Saya akan menikahimu." ucapan Darrel semakin membuat tubuh Naomi membeku.
Hanya karena mengambil keperawanannya, Darrel bersedia bertanggung jawab sebesar itu.
Benar benar pria sejati.
"Pernikahan bukan hal yang main main uncle..."
"Dan saya tidak main main Naomi."
Baru pertama kali Naomi mendengar Darrel menyebut namanya, padahal mereka sudah saling mengenal dalam waktu yang cukup lama.
Gadis itu tersenyum, entah apa arti dari senyum nya itu.
"Ini hanyalah sebuah kecelakaan uncle, kita melakukannya tanpa di sengaja. Jadi uncle tidak perlu merasa bersalah dan bertanggung jawab."
"Tapi kalau kamu hamil bagaimana? Semalam bahkan kita melakukannya berkali kali, tanpa pengaman, dan saya mengeluarkannya di dalam rahim kamu."
Wajah Naomi memerah, ada sedikit perasaan malu mendengar penjelasan Darrel.
Pria itu begitu v****r menyatakannya.
Gadis itu mengibaskan tangannya ke mukanya yang tiba tiba saja merasa gerah.
"Kita bicarakan ini lagi nanti uncle, aku perlu membersihkan diri dulu."
Tanpa memandang ke arah Darrel, Naomi berlalu menuju kamar mandi, ia terlalu malu untuk memandang wajah tampan pria di sampingnya itu.
Dengan pelan Naomi berjalan, masih terasa sakit dan perih serta lengket di bagian pangkal paha nya sisa percintaan nya dengan Darrel semalam.
Wajah gadis itu kembali memanas saat dirinya melihat tubuhnya sendiri di depan cermin kamar mandi.
Darrel meninggalkan banyak tanda kepemilikkan merah keunguan hampir di setiap inchi tubuhnya.
Naomi bergidig ngeri, mengingat cerita Darrel dan sedikit ingatannya tentang kegilaan mereka semalam.
Entah apa yang merasuki mu Naomi?
***
Naomi selesai dengan aktifitasnya di dalam kamar mandi, namun ia merasa bingung dengan pakaian yang akan ia kenakan nanti.
Tiba tiba Darrel telah berdiri di hadapannya, Naomi hampir terjatuh kebelakang karena kaget kalau saja Darrel tak segera meraih pinggang gadis itu.
"Lepaskan uncle, aku baik baik saja."
Darrel melepaskan tangannya dari pinggang gadis itu.
Terlihat jelas mereka begitu kaku satu sama lain.
"Pakailah, dressmu yang semalam sedang di cuci."
Darrel menyodorkan sesetel pakaian pada Naomi, ia menatap wajah polos Naomi yang hanya berbalut handuk.
Gadis itu tetap membuang pandangannya tanpa berani melihat wajah nya.
Darrel menarik sudut bibirnya sesaat kemudian kembali datar seperti biasa.
"Terimakasih" dengan cepat Naomi menyambar pakaian yang di sodorkan Darrel dan kembali masuk kedalam kamar mandi.
Tak lama kemudian Naomi keluar dari kamar mandi, dengan stelan kaos dan celana lengan panjang warna biru muda, yang entah bagaimana bisa pas tubuh kecil gadis itu.
Rambutnya yang panjang dan masih basah, dengan wajahnya yang polos tanpa make up, menambah manis penampilan Naomi, tentunya dimata Darrel saat ini.
"Makanlah dulu, setelah ini kamu istirahat, aku ada pekerjaan di kantor, nanti sore kita bicara lagi."
Darrel tengah duduk di atas sofa dengan berbagai makanan terhidang di meja di hadapannya.
Naomi berjalan ke arah Darrel dan berdiri tepat di hadapan pria itu.
"Aku mau pulang saja uncle, aku mau ke kampus siang ini."
Darrel tak ingin memaksa gadis itu, mungkin Naomi butuh waktu untuk meyakinkan dirinya kalau Darrel benar benar bersedia bertanggung jawab.
***