CHAPTER 3

1422 Kata
"Kamu tinggal disini?" Darrel menatap bingung pada gadis yang duduk di kursi penumpang di sampingnya. "Iya uncle. Terimakasih sudah mengantarku. Aku permisi." Darrel ikut turun dari mobil daan berjalan di belakang gadis itu. "Kenapa uncle ikut turun?" "Kita sama sama menemui orang tuamu dan bicara tentang hubungan kita." Naomi menatap lekat kedua manik mata pria tampan di hadapannya itu. "Uncle." "Hmmm..." Mereka saling berpandangan sesaat, Darrel menunggu kata apa yang akan di ucapkan Naomi. "Aku tidak punya orang tua, uncle. Jadi aku rasa uncle tidak perlu berbicara dengan siapapun tentang hubungan kita. Kita bahkan tidak menjalin hubungan apapun." jelas Naomi setengah berbisik. Ia tak ingin pembicaraannya di dengar oleh siapapun di lingkungannya. Darrel terdiam, ia kehabisan kata kata dan tak menunggu lama Naomi meninggalkan pria itu yang terdiam seribu bahasa. *** "Semalam kau kemana? Aku mencarimu tapi kau tidak ada?" Tubuh Naomi kembali menegang, setibanya di kampus ia langsung di hadang David tepat di gerbang universitas dan langsung menyeret gadis itu ke tempat yang agak sepi. "Aku...aku semalam langsung pulang. Sorry Dave, gak bisa nungguin kamu" Naomi berbohong, tak mungkin ia menceritakan kejadian tadi malam yang di alaminya bersama paman dari teman sekolahnya itu. David menghela nafas lega. "Syukurlah kalau kamu pulang dengan selamat." "Ehmmm...sebenarnya kamu mau ngomong penting apa sama aku Dave?" Sekarang gantian tubuh David yang menegang, pikirannya menjadi bingung dan tak fokus. "Nanti saja, ayo kita ke kelas." David merangkul pundak Naomi dan mereka bersama berjalan menuju kelas. Ini sudah menjadi pemandangan yang biasa antara David dan Naomi, mereka memang dekat semenjak Naomi menjadi guru privat David saat pria itu akan ujian nasional SMA. Tak ada yang aneh bagi Naomi bila David bersikap seperti itu padanya, dan memang Naomi tidak memiliki perasaan sedikitpun selain sebagai seorang teman pada pria tampan di sampingnya itu. Ia terlalu fokus pada kehidupannya yang memang sulit untuk gadis seusianya. Ibunya meninggal saat dirinya baru berusia lima tahun, dan tak lama setelah itu ayahnya menikah lagi. Kehidupannya dengan seorang ibu tiri memang tak sekejam kisah Cinderella, namun setahun terakhir setelah ayahnya juga meninggalkan dunia ini untuk selama lamanya, ibu tirinya yang telah menikah lagi itupun tak bersedia menampungnya bahkan lepas tangan untuk menghidupi gadis yatim piatu itu meski sebenarnya ayahnya meninggalkan sedikit harta yang menjadi haknya. Alhasil, Naomi harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya dan juga sekolahnya. Untunglah ia di berikan sedikit kecerdasan oleh Tuhan, setidaknya bebannya untuk biaya belajar sedikit berkurang karena beasiswa yang di terimanya. Namun tetap saja, Naomi harus bekerja keras karena roda kehidupan tetap harus berjalan. Saudara? Naomi tersenyum miris bila mengingat itu. Mungkin ayah dan ibunya memiliki banyak saudara. Namun saudara itu hanyalah darah, bila menyangkut soal uang, tidak ada yang namanya saudara. Ia tak ingin mengemis pada orang orang yang seperti itu, ia cukup tahu diri, dan tentunya tak ingin di anggap remeh. *** Naomi mencari keberadaan Citra, sahabatnya. Ia merasa sangat bersalah meninggalkan gadis itu sendirian dan malah dirinya berakhir di ranjang bersama Darrel. Entah bagaimana nantinya ia akan menjelaskan pada sahabatnya itu. Namun yang di cari tak juga di temukannya, bahkan telephone genggamnya pun tidak aktif. Rasa bersalah menyelimuti perasaan gadis itu. Mungkin sepulang dari kampus ia akan meminta David untuk mengantar nya ke rumah Citra yang berjarak lumayan jauh dari tempat tinggalnya. Tapi ternyata sepulang dari kampus, David langsung pergi begitu saja saat dirinya tengah sibuk di perpustakaan. Mungkin ia akan naik bus saja dan berjalan sebentar agar sampai di rumah Citra. Tak mungkin baginya untuk naik taxi karena ongkosnya yang mahal dan tentunya ia tak memiliki uang. Saat Naomi sedang berjalan menuju halte bus, tiba tiba sebuah sedan mewah berhenti tepat di sampingnya. Seorang pria tinggi tampan dan masih berbalut jas hitam keluar dari pintu kursi penumpang. Naomi menoleh, di dapatinya Darrel dengan wajah datar namun menawan itu tengah berjalan menghampirinya. "Kamu sudah pulang, kenapa tidak menghubungi saya?" Naomi hampir tersedak ludahnya sendiri, untuk apa dan ada perlu apa ia harus menghubungi pria itu? Aneh. "Aku tidak punya nomermu uncle." "Saya sudah memasukan nomer saya ke handphone kamu." Naomi terdiam, tentu saja, apa yang tidak bisa dilakukan oleh seorang Darrel. "Naiklah, kita pulang." Naomi menyatukan kedua ujung alisnya, ia merasa ambigu dengan kata kata yang di ucapkan Darrel. "Aku bisa pulang sendiri uncle." "Ini sudah sore, tidak ada taxi di sekitar sini. Kamu pulang sama saya." "Saya naik bis saja uncle." "Tidak ada bis tujuan rumah saya Naomi." Kembali Naomi hampir tersedak, ingin tertawa takut dosa, apa maksudnya ini? "Saya akan pulang kerumah saya sendiri uncle. Kenapa saya pulang ke rumah uncle?" "Karena kamu calon istri saya," Naomi membulatkan matanya, tidak menyangka dengan jawaban yang di berikan Darrel padanya. "Uncle..." "Saya bukan uncle kamu Naomi. Panggil nama saya saja." Naomi menghela nafasnya kasar, ia sudah merasa di buat kesal oleh pria tampan di hadapannya itu. "Oke baiklah tuan Darrel, apa maksud anda kalau saya adalah calon istri anda?" "Saya akan menikahi kamu, oleh sebab itu saya menyebut kamu sebagai calon istri saya." "Apa saya pernah menyetujuinya? Menjadi calon istri anda?" Untunglah jalan sedang dalam keadaan sepi, jadi tak ada yang mendengar perdebatannya dengan Darrel yang sedikit memanas. Dan Darrel pun terdiam sesaat, benar juga yang dikatakan gadis itu. Naomi memang tidak mengiyakan ajakannya untuk menikah. "Naomi..." Darrel sedikit menekan panggilannya pada gadis itu. "Tuan Darrel, banyak pasangan yang melakukan hal seperti itu dan mereka tidak harus menikah. Jadi kenapa anda harus repot repot bertanggung jawab pada saya yang sama sekali tidak meminta pertanggung jawaban?" Darrel hanya diam, ia mencoba menahan emosinya yang mulai membara di dadanya. "Jadi saya mohon, untuk bersikaplah biasa saja seperti dulu anda bersikap pada saya. Saya tidak apa apa." "Naomi.." "Dan, ini terakhir kali kita bertemu. Anggap tidak pernah terjadi apapun di antara kita. Karena ini sepenuhnya adalah salah saya." "Naomi..." Darrel sedikit meninggikan nada bicaranya. Gadis kecil di hadapannya itu benar benar membuatnya kesal dan juga bingung. Apa ada yang salah dengan sikapnya? "Saya tidak ingin anak saya lahir tanpa ayah." ucapan Darrel membuat Naomi terdiam. Bagaimana pria dingin seperti Darrel bisa berpikiran sejauh itu? "Jangan bercanda tuan Darrel, saya sedang tidak hamil anak anda." "Siapa yang tahu? Kita bahkan semalam melakukannya berkali kali tanpa pengaman apapun. Apa kamu tahu bagaimana proses pembuahan itu terjadi? Saat saya dan kamu berada di puncaknya, kita..." Naomi segera membekap mulut Darrel dengan tangannya, wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus karena malu. Bagaimana bisa Darrel dengan mudahnya menceritakan kembali malam panas yang terjadi di antara mereka semalam? "Uncle..." hardiknya setengah berbisik karena malu. Darrel melepaskan tangan Naomi yang menutupi mulutnya. "Jangan panggil saya uncle, Naomi. Saya bukan uncle kamu." Naomi menundukkan wajahnya sembari memejamkan matanya sesaat, tiba tiba kepalanya pusing karena ucapan v****r Darrel. "Tuan Darrel, sekali lagi saya katakan pada anda, kalau saya baik baik saja. Tolong lupakan semuanya dan hiduplah seperti dulu seolah tak pernah terjadi apapun di antara kita. Dan, saya sedang tidak hamil anak anda." "Lalu bagaimana kalau kamu hamil?" Kembali ucapan Darrel membuat pusing kepala Naomi. "Saya akan mengurusnya." "Apa maksud kamu dengan mengurusnya? Apa kamu akan membunuh janin yang ada dalam kandungan kamu? Begitu?" "Saya bukan wanita seperti itu tuan Darrel." "Lalu?" "Itu akan menjadi tanggung jawab saya." "Dan juga saya, Naomi." Naomi kembali diam, ia benar benar kehabisan kata kata untuk berdebat dengan Darrel. "Sudah hampir malam, saya harus pulang." "Biarkan saya mengantar kamu." "Saya bisa pulang sendiri." "Tapi saya memaksa." Darrel langsung merangkul pinggang Naomi dan membawa gadis itu merapat pada tubuhnya dan masuk ke dalam mobilnya. Darrel mengantar Naomi pulang ke rumahnya, dalam perjalanan mereka hanya diam. Naomi melempar pandangannya keluar jendela mobil. Dan Darrel tengah sibuk dengan telephone genggam yang berada di tangannya. Tak lama kemudian mereka sampai di depan rumah Naomi. Sebuah bangunan kecil, bahkan lebih kecil dari kamar mansion Darrel. "Terimakasih tuan Darrel." "Naomi..." Naomi menoleh ke arah Darrel saat dirinya akan membuka kenop pintu mobil. "Ini, pakailah" Darrel menyodorkan sebuah gold card unlimited pada Naomi. Naomi hanya tersenyum dan mendorong tangan Darrel pelan. "Terimakasih, saya tidak membutuhkannya." "Ini untuk anak saya." "Saya tidak sedang hamil" Naomi menekankan kata katanya, ia benar benar di buat kesal seharian ini. "Kita belum tahu apa yang kan terjadi." "Saya bisa mengatasinya tuan Darrel yang terhormat." Tak menunggu jawaban Darrel, Naomi buru buru keluar dari sedan mewah pria itu dan berlari menuju dalam rumahnya. "Tolong awasi wanita ku, aku tidak ingin terjadi apa apa pada calon anakku dan ibunya." Darrel memerintah supir sekaligus asisten pribadinya yang duduk di kursi kemudi. "Baik bos." pria yang bernama Anthony itu mengiyakan permintaan bosnya. Mobil pun melaju meninggalkan lingkungan tempat tinggal Naomi. Membelah keramaian kota yang sudah mulai gelap. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN