Aku melempar tas rangsel yang aku bawa sepulang kuliah ke atas meja belajar.
Ku hempaskan tubuhku di atas ranjang kecil di kamar berukuran 5x5 meter ini.
Sebuah kamar yang aku sewa selama setahun yang uangnya aku dapatkan dari keluarga David saat aku memberikan bimbingan belajar pada pria itu.
Aku hanyalah seorang gadis yatim piatu yang mencoba berjuang hidup sendiri.
Sebenarnya, nafasku sering sekali terasa sesak karena begitu lelah menjalani hidup yang keras ini sendirian, namun mau bagaimana lagi?
Life must go on dan hidup adalah perjuangan.
Aku harus berusaha, agar tidak tumbang, walau sering kali aku ingin melambaikan tangan, menyerah pada hidup.
Aku bersyukur karena Tuhan masih sangat menyayangiku, memberikan ku raga yang utuh serta otak yang lumayan cerdas yang bisa ku gunakan.
Aku harus bergegas, tak boleh berlama lama bersantai karena sebentar lagi waktunya untuk ku berangkat bekerja.
Selain menjadi seorang mahasiswi, aku juga memberikan les privat pada anak anak dari keluarga menengah ke atas dengan bayaran yang lumayan.
Terkadang, aku juga sering di panggil untuk menjadi pelayan pengganti di restorant berbintang.
Begitulah caraku bertahan hidup.
Dan malam ini, bimbingan belajar Ganesha menjadi tempat tujuan ku.
***
Darrel tak bisa fokus pada laptop yang berada di hadapannya.
Entah kenapa sedari pagi tubuhnya merasakan getaran aneh yang ia sendiri tak mengerti artinya.
Terlebih saat terakhir tadi ia mengantar Naomi pulang.
Saat tangannya menarik pinggang Naomi dan tubuh gadis itu merapat pada tubuhnya, getaran di tubuhnya begitu terasa, darahnya serasa memanas dengan debaran jantungnya yang tak terkendali.
Masih teringat jelas di matanya bayangan malam panas bersama gadis cilik itu.
Setiap sentuhan serta desahan yang mereka lewati bersama begitu nyata terus melintas di matanya.
"s**t s**t shit..." berkali kali Darrel mengumpat.
Ia mencengkeram rambutnya agak kencang karena frustasi, bahkan juniornya pun ikut menegang.
Naomi sungguh menyiksanya.
"Kenapa bos?" Anthony bingung melihat sikap bos nya yang tak seperti biasanya.
Darrel yang cuek dan dingin serta selalu bersikap tenang tiba tiba saja mengumpat tanpa sebab.
"Tidak apa apa. Apa kau sudah menyuruh orang mu untuk terus mengawasi wanita ku?"
"Sudah bos, tadi nona Naomi pergi setelah berada di kediamannya sekitar setengah jam."
"Kemana?" ekspresi Darrel juga tak seperti biasanya, pria itu terlihat antusias mendengar laporan bawahannya.
"Ke bimbingan belajar bos. Dia mengajar disana."
Darrel menyimak penjelasan asisten pribadinya sambil terus menatap layar laptopnya, mencoba kembali fokus padahal pikirannya benar benar melayang entah kemana.
Suara ketukan pintu, memecah keheningan di ruang kantor Darrel.
Seseorang gadis cantik dengan tubuh tinggi semampai di dukung dengan kulit putih halusnya berjalan melenggok menghampiri Darrel.
Marissa, kekasih Darrel yang telah di pacarinya selama tiga tahun terakhir mendatanginya.
"Hallo sayang.." senyum manis di tampilkan di bibir sexy wanita cantik itu
Darrel yang dingin hanya melihat sepintas ke arah Marissa, kemudian matanya kembali tertuju pada layar di hadapannya.
Anthony menganggukkan kepalanya sesaat memberi hormat kemudian pamit undur diri.
Pria itu tak ingin menjadi lalat diantara bos serta pacar cantiknya itu.
Marissa yang merasa tak di hiraukan Darrel, berjalan manis ke arah kursi tempat Darrel duduk dan langsung bergelayut manja seperti biasanya di pundak pria itu.
"Ada apa?" tanpa menoleh pada gadis cantik di sampingnya, Darrel bertanya.
"Tentunya aku merindukanmu sayang... Sudah beberapa hari kamu nggak ada kabar, bahkan dua hari ini chat ku tidak pernah kamu balas..." dengan nada manja yang sepertinya di buat buat, Marissa menggunakan jurus manisnya untuk merayu Darrel seperti biasa.
Namun sepertinya bukti nyata yang dilihatnya langsung kemarin benar benar melukai hati serta harga diri pria itu, Darrel benar benar muak dengan sikap Marissa yang menurutnya penuh kepura puraan.
Darrel melepaskan rangkulan tangan Marissa dan bangkit dari kursinya, berjalan menuju rak buku di pojok ruangan.
"Saya sibuk.."
Marissa menatap curiga pada Darrel, tak seperti biasanya pria nya bersikap sedingin itu padanya.
"Owh benarkah sayang?"
"Hmm..."
"Apa kau sudah makan malam? Bagaimana kalau kita makan bersama? Sudah sangat lama sejak kita terakhir makan malam bersama sayang."
Marissa memeluk tubuh sexy Darrel dari belakang, namun buru buru di lepaskan oleh pria itu.
Darrel membalik tubuhnya dan memundurkan tubuhnya memberi jarak pada gadis itu sembari tersenyum.
"Lain kali saja...saya sedang sangat sibuk. Saya dengar kamu juga sedang banyak pemotretan dan tawaran iklan."
"Apa kau keberatan? apa perlu aku membatalkan semuanya?"
"Tidak, lakukanlah seperti biasa."
Darrel kembali berjalan ke arah meja kerjanya dan menekan angka pada tombol telephone menghubungi sekretarisnya.
"Tolong panggilkan Anthony, antarkan nona Marissa kembali ke apartement nya."
Mata Marissa membulat, ia benar benar tak mengerti dengan sikap Darrel.
"Aku bisa pulang sendiri."
Sebelum Anthony masuk ke dalam ruangan, Marissa bergegas keluar meninggalkan Darrel yang sepertinya tak mempedulikan kedatangannya.
"Apa perlu saya antarkan nona Marissa bos?"
"Tidak perlu, biarkan saja."
***
Darrel pulang ke mansion nya, pikirannya masih melayang pada Naomi.
Entah apa yang di lakukan gadis itu, Darrel sudah tidak sabar untuk menunggu esok tiba.
Tentunya ia ngin mendatangi Naomi kembali untuk membujuk gadis itu lagi.
Darrel melepaskan seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya, malam ini ia akan berendam air dingin, meredam hasratnya untuk terus memikirkan Naomi.
Darrel tak habis pikir, ia merasa seperti kecanduan untuk berdekatan dengan gadis itu.
Bahkan tubuh sexy Marissa yang memeluk serta merangkulnya tadi tak berhasil menggetarkan tubuhnya, tidak seperti saat ia sedang berdekatan atau bahkan saat hanya memikirkan Naomi.
Ada apa dengan dirinya?
Kenapa harus Naomi?
Kenapa ia terus merasakan getaran aneh tiap kali bersentuhan dengan tubuh gadis itu?
Bahkan walau hanya memikirkannya saja?
Tak ada yang spesial pada Naomi.
Tapi...saat tadi ia bersama dengan Marissa, kenap ia tak merasakan getaran seperti saat ia bersama dengan Naomi?
Darrel menutup kedua matanya, mencoba memejamkan mata, ia tak ingin terus tersiksa karena pikirannya.
***
Pagi pagi sekali Naomi membuka dompetnya, ia menghitung sisa uang yang ia dapat dari gaji terakhirnya di tempat bimbel.
Naomi menghela nafas, sepertinya ini tak akan sampai akhir bulan meski ia harus terus berhemat.
Gadis itu harus memutar otak, ia menhubungi salah seorang temannya saat SMA untuk meminta pekerjaan sampingan.
"Besok datanglah ke restorant tempatku bekerja."
Naomi tersenyum mendapat balasan dari teman sekolah nya itu.
Mita, nama gadis yang di hubungi Naomi, adalah teman sekolahnya, tentunya selain Citra.
Nasib gadis itu tak berbeda jauh dari Naomi, hanya saja Mita tak secerdas Naomi sehingga ia tak bisa melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah karena keterbatasan biaya.
"Sepertinya aku harus melupakan sarapan ku, mungkin hari ini aku hanya bisa mendapatkan makan siang."
Namun begitu Naomi tetap bersemangat menuju ke kampusnya.
Walau dalam keadaan perut kosong, gadis itu berjalan tegap seolah tak ada beban di hidupnya.
Ia ingat jelas kalau siang kemarin adalah waktu terakhirnya makanan masuk ke dalam perutnya.
Dan hal itu sudah sangat biasa terjadi.
"Sebentar lagi nona Naomi keluar bos."
Darrel duduk dengan di jok belakang dalam mobilnya, ia sedang menunggu Naomi di depan rumah kontrakan gadis itu.
Tak lama kemudian Naomi keluar dari rumahnya.
Dengan berbalut kemeja longgar warna merah muda dan celana jeans serta sepatu kets nya, tak lupa rambutnya ia ikat kuncir kuda, Naomi berangkat menuju kampus.
Sederhana sekali, tanpa riasan , namun begitu menggoda di mata Darrel.
Pria itu seperti sudah tidak tahan untuk merengkuh tubuh mungil Naomi dalam pelukannya.
"Naomi."
Naomi menengadahkan kepalanya, menatap pria tinggi tampan berbalut jas berwarna merah maroon senada dengan celananya berdiri tegap di hadapannya.
Semburat senyum terukir di wajah pria tampan itu.
"Uncle? Ehm..maksudku tuan Darrel...ada apa sepagi ini disini?" tubuh Naomi menegang, ia bahkan samapi salah menyapa pria di hadapannya itu.
"Saya menunggu kamu, kemarilah."
Darrel langsung menarik pergelangan tangan Naomi dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.
"Aku ada mata kuliah pagi ini."
"Saya tahu."
"Aku harus berangkat sekarang."
"Kamu sudah makan?" Darrel menatap manik mata Naomi, membuat gadis itu semakin gugup.
"Sudah." jawabnya cepat sambil memalingkan pandangannya, ia benar benar merasa grogi di tatap pria tampan di sampingnya itu.
Namun suara yang di yakini berasal dari perutnya itu menolak jawaban yang di berikan Naomi pada Darrel.
"Sepertinya cacing cacing di perutmu kelaparan." Darrel mengulum senyum, setidaknya ia ada alasan untuk bersama Naomi walau sesaat.
Naomi menghela nafasnya, ia merasa kalah juga malu.
Mobil yang di kemudikan Anthony melaju, menuju sebuah restoran langganan Darrel.
Sementara Darrel terus menggenggam tangan Naomi sepanjang di dalam mobil dan pria itu tak hentinya mengulum senyum.
Walau hanya dengan berdekatan dan menggandeng tangan gadis itu saja, gelenyar panas di tubuhnya begitu bergelora.
Ia menikmati sensasi saat bersama Naomi.
Mereka sudah sampai di restoran.
Naomi hanya diam saat Darrel membawanya masuk dan duduk di tempat duduk dekat jendela restoran yang bersisian di pinggir jalan.
'Rejeki tak boleh di tolak, sekali ini saja' batin Naomi.
Sebenarnya gadis itu merasa senang, walau bagaimanapun ia memang merasa lapar, hanya saja ada rasa gengsi dalam dirinya untuk mengakuinya.
"Makanlah." Darrel mempersilakan Naomi untuk menyantap beraneka makanan yang terhidang di meja.
"Tuan Darrel, apa kita masih menunggu orang lagi?"
"Tidak, kenapa?"
"Anda memesan banyak makanan tuan"
"Itu untuk mu semua."
"Lalu anda?"
"Aku sudah sarapan tadi."
Naomi membulatkan matanya.
Bagaimana ia akan menghabiskan seluruh makanan ini?
Apa Darrel pikir perutnya akan muat menampung semua makanan di atas meja sebanyak ini?
"Tuan Darrel..."
"Jangan panggil tuan, nanti orang mengira saya majikan kamu"
"Lalu? apa saya perlu memanggil anda bapak?"
"Saya belum terlalu tua Naomi."
Naomi menghela nafas kasar, masih pagi dan ia sudah di buat kesal oleh pria tampan di hadapannya itu.
"Jangan bilang kalau anda meminta saya untuk memanggil dengan sebutan kakak..."
"Itu lebih baik." Darrel menyesap kopi di hadapannya dan memasang wajah datar seolah tak masalah dengan akhir jawaban Naomi.
Namun gadis itu justru tersedak ludahnya sendiri mendengar jawaban Darrel.
Apa pria itu sudah mulai gila?
Naomi tak melanjutkan perdebatan mereka lagi, ia menyendok lauk yang di sajikan di meja dengan sangat banyak.
Mungkin dengan suasana hati yang kesal seperti ini, setan setan di tubuhnya kan membantunya memakan semua makanan yang terhidang di meja.
Darrel memperhatikan Naomi yang sedang makan di hadapannya, pria itu mengulum senyum.
'Makanlah yang banyak, biar bayi kita yang berada dalam perutmu sehat.' batin Darrel
'Kapan lagi aku bisa makan makanan enak dan bergizi sebanyak ini' batin Naomi.
Ia meyakinkan dirinya sendiri kalau hal ini wajar bila seorang kenalan mentraktir kenalannya.
"Naomi!!!" suara seorang pria berteriak dari arah pintu masuk restoran.
"David..." gumam Naomi.
Darrel menoleh ke belakang tubuhnya.
Dengan setengah berlari, David menghampiri Darrel dan Naomi dan langsung duduk di samping gadis itu.
David seperti biasanya, begitu bertemu Naomi langsung merangkul pundak gadis itu.
"Hai uncle...kenapa kalian bisa sarapan bersama?"
David menyapa pamannya, kemudian pandangannya beralih pada Naomi yang duduk di sampingnya.
"Kami...kami tidak sengaja bertemu tadi. I..i ya kan..kak..."Naomi tergagap menjawab.
Darrel menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi.
Ia kesal melihat tingkah keponakannya yang tiba tiba datang dan langsung merangkul Naomi.
***