David menatap lekat wajah Naomi yang sedang gugup namun di sembunyikannya dengan aktifitasnya yang sedang makan.
Terlihat sekali tangan Naomi yang gemetar saat memegang sendok.
Ditambah panggilan aneh yang keluar dari bibir gadis itu untuk pamannya.
David mendengar jelas kalau Naomi memanggil Darrel dengan sebutan 'kak', bukannya uncle yang seperti ia dan Naomi biasa sebutkan.
"Sedang apa kamu disini?" Darrel menumpuk kedua tangannya di dadanya dan dengan nada datar menatap wajah keponakannya.
"Aku merasa mengantuk uncle, jadi aku mampir untuk membeli kopi dan melihat kalian ada disini." David mencoba menenangkan dirinya yang merasa aneh dengan suasana ini.
"Selesaikan makanmu, saya harus kembali ke kantor" tanpa melihat ke arah Naomi dan David, Darrel berlalu meninggalkan mereka.
David memandang wajah Naomi dengan tatapan bingung.
"Apa dia yang membelikanmu makanan sebanyak ini?" tatapan David penuh selidik.
"Tadinya uncle kamu janjian dengan seseorang, tapi orangnya tidak datang. Kebetulan aku lewat dan dia memanggilku untuk menghabiskan semuanya." jelas Naomi.
David hanya mengangguk, ia tak ingin memperpanjang kecurigaannya yang tak beralasan.
Karena David paham betul sifat pamannya itu, pria yang cuek dan dingin itu tak mungkin ada alasan khusus untuk mengajak seorang Naomi untuk makan bersama.
"Kita kembali ke kampus."
***
Citra melihat David merangkul Naomi seperti biasa berjalan menuju kelas mereka.
Wajah gadis itu pucat pasi, namun tak mengikis cantik nya.
"Citra, kamu kemana saja? Aku mencari mu..." Naomi melepas rangkulan David dan memeluk tubuh sahabatnya itu.
"Aku...aku tidak enak badan."
"Lalu kenapa kau mematikan handphone mu?"
"Tidak apa apa..aku hanya butuh istirahat. Maaf membuatmu khawatir."
"Yang penting kau baik baik saja"
Dengan senyum yang di paksakan Citra membalas senyum manis Naomi.
Sementara David membuang mukanya, ia hanya ingin duduk tenang di samping Naomi.
***
Darrel membentak sekretarisnya dan melempar dokumen yang di berikan wanita itu ke lantai.
"Sudah berapa lama kau bekerja disini? Apa perlu saya mengajarimu?"
"Tidak pak, saya akan membuatnya lagi."
"Lima belas menit."
Wanita dengan blazer hitam dan rok mini sepanjang lutut itu mengangguk dan pamit permisi meninggalkan ruangan Darrel.
Pria itu menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi dan mengusap wajahnya sembari menghela nafas kasar.
"Anda baik baik saja bos?" Anthony yang setiap harinya memang selalu berada di samping Darrel merasa sedikit aneh dengan mood bos nya yang sering uring uringan tidak jelas.
"Tolong batalkan meeting ku sore ini"
"Anda ingin menemui nona Naomi bos?"
Darrel melempar tatapan tajam ke arah Anthony, pria itu justru tersenyum manis seperti tak ada perasaan bersalah sedikitpun bertanya pada bos nya.
"Apa perlu ijinmu?"
"Tidak bos."
Mood Darrel memang buruk sejak pagi saat melihat tangan David yang dengan mudahnya bergelayut di tubuh Naomi tanpa penolakan dari gadis itu.
David dan Naomi memang sudah dekat sejak lama, selain itu mereka satu sekolahan dan sekarang satu kampus juga.
Tapi itu juga bukan alasan agar mereka bisa dengan bebas saling kontak fisik.
Bagaimanapun Naomi seorang gadis dan David seorang pria.
Apa mereka lebih dari sekedar teman?
Darrel bertanya tanya dalam hati, karena ia memang tidak begitu mengenal Naomi sebelumnya.
***
Beberapa hari Darrel tidak terlihat, dan itu membuat Naomi merasa sedikit lega.
Setidaknya ia tak perlu berdebat pagi pagi sebelum berangkat kuliah, atau setelah ia pulang kuliah dengan tubuh letih.
Naomi bisa kemabli pada aktifitasnya, dan sekarang ia sedang berada di restoran bintang lima tempat ia mendapatkan pekerjaan paruh waktu sepulang dari kampus.
Naomi sangat bersyukur karena di tempat itu ia bisa mendapatkan makanan gratis, karena memang sedari pagi ia tak bisa menelan apapun karena sisa uangnya yang menipis sementara gajiannya di tempat bimbel masih lama.
"Makanlah dulu, wajahmu pucat sekali." mita menyodorkan sepiring nasi dengan lauk pauk yang di sediakan khusus untuk karyawan restoran.
Naomi menerimanya dan langsung memakannya dengan buru buru.
Karena di samping ia sedang lapar, keadaan restoran memang sedang ramai pengunjung jadi dia sangat sibuk.
"Terimakasih, aku memang belum makan apapun sejak pagi."
Mita tersenyum kemudian meninggalkan Naomi di dapur.
Tugas gadis itu memang hanya membersihkan dapur dan mencuci peralatan dapur yang kotor, jadi Naomi tak perlu keluar untuk melayani pelanggan.
Pukul setengah dua belas malam, ia baru bisa pulang ke rumahnya setelah restoran tutup.
Kembali Naomi berjalan menuju rumah, tidak ada angkutan umum tengah malam seperti ini.
Tubuhnya begitu lemas walau tadi ia sudah makan, bahkan keringat dingin mengucur deras.
Hampir saja ia akan terjatuh kalau saja tidak ada orang di sampingnya yang menangkap tubuhnya,
"Uncle..."
Mata Darrel dan Naomi saling beradu.
"Sedang apa kamu malam malam begini?"
"Aku baru pulang bekerja." Naomi melepaskan tangan Darrel yang merangkul tubuhnya, ia merasa tidak nyaman dengan sentuhan pria itu.
"Semalam ini?" Darrel membulatkan matanya, tak percaya dengan jawaban Naomi.
Gadis itu hanya mengangguk, tubuhnya terlalu lemah untuk berdebat dengan Darrel.
"Aku antar pulang."
"Tidak perlu, uncle. Aku bisa pulang sendiri."
"Jangan panggil saya uncle, saya bukan paman kamu Naomi."
"Kak...Da..Rrel..." dengan terbata Naomi menyebut nama Darrel.
Pria itu mengulum senyum mendengar Naomi menyebut namanya.
"Saya memaksa, kamu tahu saya tidak suka penolakan."
Naomi menghela nafas kasar, sebenarnya ia merasa bersyukur bertemu Darrel dan mendapat tumpangan dari pria itu.
Mereka pun masuk kedalam mobil Darrel.
Namun belum juga duduk, Naomi buru buru keluar dari mobil Darrel menuku pinggir jalan.
Darrel kaget dan bingung, pria itupun mengejar Naomi yang tengah berjongkok di bawah pohon.
Naomi tengah memuntahkan seluruh makanannya.
Tanpa rasa jijik, Darrel menepuk nepuk punggung Naomi agar gadis itu merasa lega, kemudian menyodorkan saputangannya pada gadis itu.
"Terimakasih ka..."
"Kamu baik baik saja?"
Naomi bangkit dan berdiri menghadap Darrel.
"Aku baik baik saja" Naomi mengusap bibir nya dengan saputangan pemberian Darrel.
"Wajahmu pucat dan tubuhmu terlihat lebih kurus dari terakhir kita bertemu."
"Aku hanya kecapean."
Naomi mengalihkan pandangannya, Darrel tengah menatap tajam ke arahnya.
"Kita makan dulu."
"Aku ingin langsung pulang kak."
"Tapi perutmu kosong."
"Aku hanya merasa mual mencium aroma lemon di mobilmu kak."
Darrel memeluk pinggang Naomi dan membawanya ke mobilnya.
"Buang pengharum ruangannya, dan buka jendela nya dulu. Naomi mual dengan aromanya." perintah Darrel pada Anthony.
Tak lama kemudian mereka masuk ke dalam mobil dan menuju ke arah rumah Naomi.
"Terimakasih sudah merepotkan mu lagi kak, setelah ku cuci akan ku kembalikan sapu tangannya."
"Istirahatlah..."
Naomi mengangguk dan berlalu menuju rumahnya.
"Ini bukan pertama kalinya bos."
"Apa maksud mu?"
Darrel bingung dengan pernyataan Anthony.
"Nona Naomi seperti gadis yang sedang hamil trimester pertama."
Darrel terdiam, matanya tertuju keluar jendela mobil.
"Orang suruhan saya mengatakan nona Naomi sering mual mual tidak jelas bahkan kemarin hampir jatuh pingsan saat akan berangkat bekerja di restoran" lanjut Anthony.
***
Malam itu, Darrel tidak bisa memejamkan matanya.
Seharian ia memikirkan Naomi dan laporan yang di berikan Anthony kemarin malam saat terakhir ia mengantar Naomi pulang.
Ia pun memutuskan minum bersama Anthony di mini bar yang berada di mansion nya.
"Apa kau pernah b******a sebelumnya?"
Anthony tersedak, ia bahkan hampir menjatuhkan gelas whiski yang berada di tangannya.
Pertanyaan dari bos nya sekaligus sahabatnya itu membuatnya bingung untuk menjawab.
"Ini pertanyaan atau pernyataan bos?" Anthony melirik ke arah Darrel yang duduk di sampingnya.
Pria itu memang sedang berada di samping Anthony, namun pandangan serta pikirannya tak berada di tempat yang sama dengan Anthony.
Walau posisi mereka adalah atasan dan bawahan, namun sering kali Darrel menghabiskan waktunya hanya minum berdua dengan Anthony.
Darrel menghela nafas, dadanya terasa sesak, pikirannya melayang jauh.
"Pernah bos, apa perlu ku sebutkan berapa kali dan dengan siapa saja?"
"Tidak perlu, aku juga tahu kau sering bersama dengan wanita yang berbeda setiap malamnya."
Darrel menyesap kembali gelas whiskynya, tanpa menoleh ke arah Anthony.
"Apa anda cemburu bos?"
"Kamu sudah gila? saya masih normal!!"
Anthony terkekeh, ia tahu arah pembicaraan bos nya tersebut.
"Apa yang ingin anda ketahui bos?"
Darrel terdiam, ia bingung memulainya.
"Apa kau merasakan getaran yang sama pada setiap gadis yang kau tiduri?"
Anthony mengulum senyum, apa yang dimaksud bos nya adalah apakah ia jatuh cinta pada setiap wanita yang di ajaknya b******a? Begitu?
"Apa ini tentang nona Naomi bos?"
"Apa kamu perlu tahu juga?"
Darrel dengan kesal langsung menenggak seluruh whisky yang ada di gelasnya.
"Tidak semuanya bos..."
Darrel menoleh ke arah Anthony, menunggu penjelasan dari bawahannya itu.
"Tidak semua wanita menggetarkan hatiku bos."
"Wanita seperti apa?"
"Wanita yang di saat aku bersamanya ataupun tidak, darahku serasa memanas bos."
Darrel mengangguk anggukkan kepalanya.
"Lalu bagaimana dengan wanita yang membuat mu b*******h?"
"Setiap wanita membuat saya b*******h bos, apalagi kalau wanita itu berdada dan berbokong besar.Membayangkannya saja saya bisa langsung on bos..." tanpa rasa malu Anthony menjelaskan.
"Otak m***m mu sepertinya perlu di betulkan di meja operasi."
Anthony terkekeh, bos nya sungguh naif dan polos.
"Apa anda tidak bisa b*******h bos?"
Darrel menatap tajam wajah Anthony.
"Kamu pikir saya impoten?"
"Bukan begitu maksud saya bos. Jadi kalau kita sudah pernah merasakan rasanya b******a, pasti kita akan ketagihan untuk menikmatinya lagi bos. Itu seperti nikotin, membuat kecanduan."
Darrel mengangguk anggukkan kepalanya, memahami penjelasan Anthony, bagaimanapun bawahannya itu lebih berpengelaman soal s*x.
"Itu harus di salurkan bos. Kalau tidak, bisa membuat emosi dan sakit kepala berkepanjangan."
Anthony benar, itulah mengapa akhir akhir ini Darrel sering kali sakit kepala dan emosinya begitu tak terkendali.
Terlebih gila nya, ia terus saja terbayang menyentuh Naomi seperti malam itu.
Shit s**t shit...Darrel mengumpat dirinya sendiri dalam hati.
Mungkin ia sudah mual kecanduan, kecanduan b******a?
"Carikan saya wanita"
"Yang seperti apa bos?"
"Yang menurut kamu bisa membuat bergairah."
"Nona Marissa bos?"
"Kamu gila?"
Anthony terdiam melihat reaksi bos nya yang langsung marah.
Sebenarnya Anthony tidak salah menyarankan Marissa pada Darrel, bagaiamnapun gadis itu tetap kekasih bos nya.
"Yang lain..."
"Kita ke club saja bagaimana bos?"
***