Darrel mendatangi rumah Adrian dan membawa Naomi pergi dari tempat pria itu setelah ber basa basi sejenak dengan ibu Adrian.
Sementara para wartawan yang menungguinya di depan rumah Adrian, telah disingkirkan oleh Anthony dan anak buahnya yang lain.
"Kamu baik baik saja?"
Darrel terus saja merangkul tubuh Naomi, gadis itu telah mengganti pakaiannya dengan gaun yang di bawa Darrel, serta membersihkan tubuhnya sebentar karena lemparan telur dan sayur yang mengotori tubuhnya.
"Aku baik baik saja kak." disaat seperti ini pun Naomi masih bisa tersenyum, Darrel memeluk tubuh gadis nya erat, ia merasa lega , Naomi bukanlah gadis cengeng seperti wanita wanita yang dekat dengannya dahulu.
Darrel memperlihatkan video Marissa Aurora yang semalam melakukan konferensi pers.
Gadis itu mengatakan kalau Naomi merusak hubungannya dengan Darrel saat dirinya di cerca pertanyaan oleh wartawan soal lamaran Darrel pada Naomi di Bali.
Bagaimanapun seluruh tanah air tahu kalau Darrel adalah kekasih dari model top Marissa Aurora.
Naomi menyeringai, ia merasa puas setidaknya langkahnya semakin mudah karena Darrel berada di genggamannya, pria itu selalu membelanya.
"Itu memang salah ku kak, aku merebut mu dari kak Marissa."
"Tidak, wanita itu harus di beri pelajaran. Saya sudah membatalkan semua kontraknya dan ia harus pergi dari agensi yang menaunginya beberapa tahun terakhir." ucap Darrel dengan tatapan tajam matanya.
Anthony terus saja mengemudikan mobil yang di tumpangi Darrel dan Naomi tanpa bersuara.
Namun pria itu tetap memperhatikan gerak gerik Naomi dari kaca spion, termasuk saat gadis itu menyeringai.
"Jangan seperti itu kak, bagaimanapun kalian pernah saling mencintai."
Darrel terkekeh, tak menyangka kalimat itu akan keluar dari bibir Naomi.
"Kamu cemburu?"
"Hahaha..." Naomi tertawa sumbang, andai dia memiliki perasaan seperti itu.
"Tidak." jawab Naomi sembari membuang pandangannya, ia berharap Darrel menangkap sesuatu dari aktingnya.
Dan Darrel langsung merengkuh kembali tubuh Naomi dalam pelukannya, ia tak ingin gadis di sampingnya itu kecewa.
"Saya akan memberikan pelajaran yang pantas untuk orang yang berani menyakiti wanita ku." bisik Darrel
***
Siang itu saat dirinya akan berangkat ke kantor, Darrel sudah di suguhi pemberitaan hangat soal putusnya hubungan antara dirinya dengan Marissa karena wanita itu telah mengadakan konferensi pers semalam.
Rahang Darrel mengeras, betapa tidak tahu dirinya wanita yang telah ia dukung secara moril maupun materil itu setelah pengkhianatan yang dia lakukan pada Darrel.
Bahkan sampai hari ini pun Darrel tidak mengatakan pada Marissa alasan berakhirnya hubungan mereka.
Dan hanya dengan sekali panggilan, putus lah semua kontrak yang berhubungan dengan Marissa.
Entah bagaimana kedepannya nasib gadis itu.
Darrel menyadari sesuatu, wartawan pasti penasaran dengan calon istrinya dan mengejar Naomi.
Ternyata apa yang dipikirkannya benar.
Di depan kediaman Adrian, gadis itu tengah di tunggu puluhan wartawan yang penasaran dengannya, namun yang lebih menakutkan, para fans Marissa yang justru menyerang Naomi.
Darrel tidak tinggal diam, dia menangkap semua orang yang berani menyakiti wanitanya, tanpa terkecuali.
"Kita mau kemana kak?" Naomi melihat sekeliling karena jalan yang mereka lewati bukan mengarah pada mansion Darrel ataupun kantor pria itu.
"Kita ke butik, cari baju pengantin yang pas buat kamu, kita percepat pernikahan kita."
Naomi terdiam, bukan ini yang ia inginkan, namun tak ada bantahan dari nya.
Mereka telah tiba di sebuah butik yang telah di pesan Darrel sebelum ia menjemput Naomi tadi.
"Silakan masuk tuan, kami sudah mempersiapkan pesanan anda."
Naomi dan Darrel di sambut dan langsung di bawa ke ruangan khusus VVIP untuk fitting baju.
Berjajar aneka wedding dress dengan berbagai model namun keseluruhan berwarna putih.
"Kamu suka yang mana Naomi?"
Naomi terdiam, ia mengedarkan pandangannya.
Ini tidak sesuai dengan seleranya, ia tidak begitu menyukai pernikahan yang di gelar secara modern.
Ia lebih menyukai wanita yang berbalut dengan kebaya dan bersanggul, terlihat anggun sepertinya.
Namun tetap pilihan Darrel yang akan menjadi pilihannya pula, ia tak ingin mengecewakan calon suaminya walau Darrel tak perlu bersusah payah mempersiapkan apapun karena pria itu memang memiliki banyak uang serta kekuasaan untuk melakukannya.
"Kakak ingin aku pakai yang mana?"
"Saya lebih suka kamu tidak memakai apapun." bisik Darrel dengan tatapan menggoda.
"Kak..."
Darrel terkekeh, pria itu hanya ingin mencairkan suasana yang sepertinya menegang sedari tadi.
"Ada rekomendasi untuk calon istri saya?" tanya Darrel pada dua pramuniaga yang berdiri di hadapan mereka.
"Mari ikut kami nona."
Naomi pergi dari hadapan Darrel dengan dua pramuniaga yang membawakannya wedding dress.
Tak lama Naomi keluar dengan dress putih tanpa penutup di pundak, memperlihatkan belahan dadanya dengan rok yang panjang menjuntai hingga mata kakinya.
"Bagaimana kak?"
Darrel mengerutkan dahinya, ia tak ingin para tamu melihat tubuh wanitanya yang teramat terbuka.
Darrel menggelengkan kepalanya tanpa berkomentar apapun.
Naomi mendengus, ia berbalik dan masuk ke dalam ruang ganti.
Naomi keluar dengan wedding dress yang menutupi seluruh tubuhnya serta berlengan panjang.
Gadis itu bahkan susah berjalan karena dress yang ia kenakan terlalu ketat dan melekat pas di tubuh kecilnya.
Darrel terkekeh melihat Naomi yang berjalan seperi pinguin.
"Kak.." Darrel mengatupkan bibirnya, tak ingin Naomi tersinggung karena tawa yang keluar dari bibirnya.
Naomi kembali mendengus kesal, hal yang paling ia benci adalah memilih baju serta mendapat komentar dari orang lain.
Sungguh merepotkan menjadi wanita, ribet.
Naomi kembali ke ruang ganti, sepertinya wedding dress yang ini tidak akan di tolak Darrel.
Sebuah gaun dengan lengan pendek serta sepanjang mata kaki kembali di cobanya, ia berharap kali ini Darrel tidak akan menggelengkan kepalanya lagi.
Namun tidak sesuai harapan, Darrel kembali menggelengkan kepalanya, ia merasa Naomi tenggelam dalam dress yang gadis itu kenakan.
"Kak..."
"Hmmmm..."
"Aku lelah."
Darrel bangun dari posisi duduknya, menghampiri Naomi yang terlihat kesal.
Ia baru mendapati wanita yang sama sekali tak tertarik bila di ajak berbelanja.
"Coba yang lain sayang, saya ingin kamu tampil memukau di pernikahan kita."
Naomi menghentikan kakinya kesal, ia pun membalikan badannya kembali masuk ke ruang ganti.
Gadis itu menyadari sesuatu, kesalahan bukan terletak pada gaun yang di kenakan nya melainkan pada tubuhnya yang pas pasan.
Wedding dress itu di tujukan pada pemilik tubuh proporsional seperti Marissa Aurora.
"Ini sudah tiga gaun, padahal ketiganya adalah gaun pengantin yang sedang hits dan dirancang oleh designer ternama." bisik salah seorang pramuniaga.
"Kakinya terlalu pendek, jadi tidak cocok dengan semua yang ada disini." bisik seorang lagi menimpali.
"Mungkin kalau Marissa Aurora yang memakainya, ketiga gaun itu akan tampak memukau."
Naomi terdiam mendengar percakapan dua pramuniaga yang tak mengetahui kalau dirinya berada di dekat mereka.
Ia menggeram, namun hanya dalam hati.
Naomi memutar pandangannya, ia mencari sesuatu yang sekiranya cocok untuk ia kenakan.
Matanya tertuju pada sebuah dress sepanjang lutut tanpa lengan berbadan bruket berwarna putih.
Hampir semua gaun yang di belikan Darrel bermodel seperti itu dan Naomi merasa cocok dengan menggunakan dress seperti itu.
Ia merasa kakinya terlihat jenjang dari pada dress yang panjangnya hingga mata kaki.
Tanpa meminta bantuan dari para pramuniaga itu, Naomi bergegas mengganti dress yang ia gunakan dengan wedding dress yang ia pilih sendiri.
"Aku suka yang ini kak." Naomi keluar dari ruang ganti dan berdiri di hadapan Darrel.
Darrel tersenyum, menghampiri Naomi kemudian merengkuh tubuh gadis itu.
"Kamu yakin akan mengenakan ini di hari pernikahan kita?"
Naomi mengangguk mantap, ia tak peduli apa kata orang lain tentangnya, ia sudah cukup di perlakukan tidak menyenangkan hari ini.
"Baiklah, kami ambil yang ini."
Kedua pramuniaga yang melayani Naomi saling pandang, mereka tidak habis pikir dengan apa yang dipikirkan calon istri pelanggannya itu.
"Tuan, sekarang giliran anda untuk mencoba tuksedo nya."
Darrel berjalan melenggang dengan Naomi dalam rangkulannya.
"Menurutmu, saya harus memakai yang mana?"
Naomi melihat lihat tuksedo yang terpajang di manekin.
Menurutnya semua tuksedo bentuknya sama, hanya berbeda pada warnanya saja.
"Aku bingung kak..." wajah Naomi tampak polos dengan ekspresi bingungnya, Darrel terkekeh.
"Apa saya tidak perlu memakai baju saja ya?" bisik Darrel, Naomi mencubit pinggang pria itu hingga Darrel meringis.
"Dan memamerkan tubuh seksi mu di hadapan orang banyak? Aku tidak rela membiarkan wanita wanita di luaran sana menikmati tubuhmu kak." Naomi menatap tajam Darrel yang justru membuat pria itu gemas melihatnya.
Darrel mengecup kecil bibir Naomi, para pramuniaga di sekitar mereka bahkan menatap iri pada sepasang kekasih di hadapan mereka.
"Saya sangat mencintai mu, sayang." bisik Darrel.
Naomi tersenyum, ia puas membuat orang di sekitar mereka iri pada kemesraan Darrel yang di tujukan padanya.
Ia ingin membuktikan bahwa dirinya begitu di cintai Darrel.
"Yang itu sepertinya cocok kak." Naomi menunjuk satu setel tuksedo putih dengan celana warna senada.
Darrel langsung meminta pramuniaga untuk mengambilkan nomer yang pas untuknya.
Tak lama kemudian Darrell keluar dari ruang ganti, berbalut setelan jas warna putih pilihan Naomi, Darrel terlihat begitu tampan dan memukau.
Tidak, bukan balutan jas nya yang membuatnya terlihat tampan, apapun yang di kenakan pria itu memang membuatnya terlihat tampan.
Paras yang memukau ditambah dengan tubuh yang proporsional, Darrel tampak sempurna.
Naomi terdiam, sesaat menikmati pemandangan di hadapannya.
Jantungnya berdebar amat kencang.
Ia segera menata hati dan pikirannya, tak boleh terlalu terpesona dengan iblis tampan di hadapannya itu.
Naomi mengacungkan kedua jempolnya pada Darrel sembari tersenyum.
"Kita ke toko perhiasan setelah ini." ucap Darrel sebelum menghilang kembali ke ruang ganti.
***