"Kak Darrel..."
"Iya sayang.."
Kembali rasa mual memenuhi perut Naomi padahal gadis itu tidak sedang sakit, ia hanya muak dengan panggilan yang menurutnya 'menjijikan' keluar dari bibir Darrel.
"Apa kita sudah sepakat untuk menikah dalam waktu dekat ini? Bulan ini lebih tepatnya?"
"Bukankah itu rencana kita dari awal?"
"Itu rencanamu bukan rencanaku."
"Apa kamu keberatan?"
"Tentu. Bagaimana dengan kuliah ku?"
"Kamu bisa meneruskannya kalau kamu mau, atau cuti saja dan berdiam diri di rumah."
"Tidak. Aku juga punya impian kak."
"Kita bisa mewujudkan nya bersama kalau kamu mau."
"Itu berarti kita harus menunda soal momongan."
"Kalau soal itu tidak bisa."
"Loh??"
"Usiaku sudah menginjak 26 tahun Naomi."
"Aku baru menginjak 19 tahun kak, setidaknya tunda sampai aku wisuda."
"Berarti usiaku sudah 30 Naomi."
"Itu belum terlalu tua kak."
"Tidak, kita harus langsung memiliki anak. Segera. Saya tidak ingin menundanya."
"Kau egois kak."
"Naomi, saya akan menanggung semua kebutuhan kita dan juga anak anak kita. Lalu apalagi yang perlu kamu khawatirkan?"
"Ini bukan soal kebutuhan kak, ini soal impian ku."
"Impian kamu juga bisa kamu raih. Lalu apa masalahnya?"
"Tidak. TIdak bisa seperti ini."
"Besok kita ke dokter kandungan, kita program hamil dulu sebelum acara pernikahan kita."
Naomi terdiam, Darrel sudah keterlaluan.
Pria itu bahkan mengatur semua masa depannya, dan ia merasa terkekang.
Banyak yang belum bisa ia raih, dan ia ingin meraihnya dengan kedua tangannya sendiri.
Bukan seperti ini caranya.
Tak terasa air matanya mengalir, sesak di dadanya memuncak.
"Kita sudah sampai bos." ucapan Anthony mengalihkan pertengkaran Darrel dan Naomi.
Gadis itu mengusap air matanya dan membuang pandangannya, sebelum membuka pintu mobil Naomi bergumam.
"Kau tahu kak Darrel, aku begitu membencimu."
Naomi membanting pintu dengan keras, membuat Darrel dan Anthony terkesiap kaget.
***
"Apa cuma karena ini kau jadi mencurigainya?"
Mario memberikan tab milik Anthony kembali, menyesap minumannya dan menatap tajam ke arah tangan kanan Darrel itu.
"Apa kau sama sekali tidak melihat sesuatu yang aneh?"
"Aneh dari mana? Itu hanya perasaan mu saja Anthony." Mario menepuk punggung sahabatnya sembari terkekeh, ia tak habis pikir bagaimana Anthony bisa mencurigai Naomi hanya dengan mengawasi gadis itu lewat CCTV.
"Dia seperti mencari sesuatu."
"Naomi hanya melihat lihat, bagaimana pun hubungan mereka baru dekat beberapa bulan ini. Jadi aku pikir wajar kalau Naomi ingin mengetahui seluk beluk calon suaminya."
Anthony terdiam, ia sama sekali tidak setuju dengan pendapat Mario.
Ya, malam ini Anthony menemui Mario di apartemen nya, alih alih membicarakan proyek yang sedang di kerjakan pria itu dengan Darrel, Anthony justru memperlihatkan tingkah Naomi yang menurutnya mencurigakan.
Gadis itu berada di ruang kerja Darrel, sehari setelah kembalinya hubungan mereka.
Naomi mengatakan kalau dirinya tertidur setelah membaca buku di ruang kerja Darrel saat pria itu pulang dari kantornya.
Namun kenyataannya, Naomi justru tertangkap kamera CCTV tengah mencari sesuatu.
Mungkin dengan kasat mata orang akan melihat kalau dia hanya berjalan melihat lihat ruang kerja Darrel, namun menurut Anthony, Naomi seperti memeriksa satu persatu apa yang berada di ruang kerja pria itu.
Begitu juga dengan hari ini saat dia mengawasi Naomi saat gadis itu berada di kantor Darrel.
Anthony kembali melihat hal yang sama.
Mungkin Naomi tidak menyadari kalau kegiatannya yang di samarkan, bisa Anthony ketahui.
Dan ternyata memang hanya Anthony yang menyadari keanehan gadis itu.
Bahkan Mario yang dengan jelas di perlihatkan rekaman CCTV pun hanya terkekeh dan justru meledek argumen Anthony.
***
Darrel tidak kembali ke kamarnya, ia tertidur di ruang kerjanya, memberikan Naomi ruang dan waktu untuk berfikir.
Ia berharap gadis itu mau berubah pikiran dan menuruti keinginannya.
Setidaknya kalau Naomi memiliki anak darinya, gadis itu tak akan pernah pergi meninggalkannya kemanapun.
Dan pagi ini mereka bertemu di ruang makan, Darrel memandang Naomi yang datang dengan wajah bengkak sembab seperti habis menangis.
Namun nafsu makannya sepertinya tidak sesuai dengan suasana hatinya yang kacau.
Dua potong roti dan segelas s**u dan sebuah apel telah masuk kedalam mulut mungilnya.
Darrel terus memperhatikan gerak gerik Naomi tanpa melewatkan sedetikpun.
Ia begitu rindu ingin merengkuh tubuh mungil gadis itu dan menghentikan aksi berdiam dirinya.
"Aku sudah selesai, aku pergi dulu kak. Mau ke tempat kak Adrian." saat Naomi akan meninggalkan meja makan, Darrel menahan tangannya.
"Ada apa ke tempat Adrian? Apa kamu mau lari dari saya?"
"Apa itu yang kau pikirkan kak?"
"Itulah alasannya kenapa saya menginginkan anak dari kamu Naomi. Saya tidak ingin kehilangan kamu."
Naomi terdiam, keegoisan Darrel semata mata karena pria itu begitu takut kehilangannya, begitu mencintainya, mungkin.
"Ibu datang jauh jauh ingin menemui ku, jadi aku pergi ke tempat kak Adrian." ucap Naomi datar, ia masih malas meladeni pertengkaran Darrel.
"Jadi.."
"Jadi aku akan menemui ibu. Ibu kak Adrian juga ibuku kak, walau beliau tidak melahirkan ku."
Darrel bangkit dari posisi duduknya, merengkuh tubuh Naomi kedalam pelukannya.
"Maaf, saya terlalu egois."
Naomi terdiam, ia tak membalas pelukan Darrel.
"Apa kamu mau memaafkan saya?"
"Hmmm.." Naomi membalas asal.
Darrel mengulum senyum, di angkatnya tubuh Naomi ala bridal style dan di bawanya ,menuju kamar tamu dekat ruang makan.
"Kak? Kenapa menggendongku kemari?"
"Sepertinya saya malas pergi ke kantor hari ini."
Darrel meletakan tubuh Naomi di atas ranjang, menatap lekat wajah gadis itu yang tak mau tersenyum sama sekali padanya.
"Kak...sudah siang...sana berangkat."
"Tidak sebelum saya memilikimu pagi ini."
Naomi mendengus kesal, di raupnya bibir ranum Darrel kemudian di lumat dengan lembut.
Darrel membalas ciuman Naomi, gadis kecil di bawah kungkungannya itu memang sudah lihai meladeni hasratnya.
Dan mereka akhirnya b******a sebelum Darrel berangkat ke kantornya.
***
"Naomi..." mata Wulan Asri, ibu kandung Adrian berkaca kaca melihat Naomi muncul di hadapannya.
Gadis kecil yang ia rawat sejak usia 5 tahun itu sudah besar.
Hatinya begitu sakit saat terpaksa dirinya mengusir Naomi dari rumah karena perintah suami barunya, Triawan.
Pria itu mengancam akan mencelakai Naomi kalau bu Wulan Asri tidak mau mengusirnya dari rumah.
Naomi memeluk erat tubuh bu Wulan, bagaimanapun wanita itu adalah orang yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang saat ayahnya masih hidup.
"Ibu." air mata Naomi luluh seketika, ia merindukan pelukan hangat bu Wulan.
"Kamu apa kabar nak? Kamu makan dengan baik Naomi?"
Naomi mengangguk, ia tak ingin membahas apapun hari ini selain pernikahannya.
Pertemuan dengan ibu tirinya cukup mengobati rasa rindunya.
"Naomi akan menikah bu."
Bu Wulan mengangguk, ia sudah mendengarnya dari Adrian saat putra nya itu menghubunginya.
"Selamat atas pernikahan kamu nak, lalu kuliah kamu?"
"Naomi masih tetap bisa kuliah bu. Calon suami Naomi orang yang baik. Ibu bisa menemuinya di hari pernikahan kami."
Wulan Asri mengangguk, ia tak ingin terlalu membebani putri tirinya dengan berbagai macam pertanyaan dan nasihat.
Melihat keadaan Naomi yang sehat dan baik baik saja serta mendengar perkataan gadis itu kalau calon suaminya adalah pria yang baik, itu sudah lebih dari cukup.
"Secepat itu kah?" Adrian menarik lengan gadis itu dan berbisik di kamarnya, sementara ibunya sedang sibuk menyiapkan makan siang untuk mereka di dapur kecil rumah Adrian.
Naomi mengangguk, ia menundukkan kepalanya, tak sanggup menatap manik mata kakak tirinya yang menatapnya penuh intimidasi.
"Apa kamu sedang hamil?"
"Apa itu yang kakak pikirkan? Kakak tahu pasti apa alasan ku."
"Yang jelas kakak tidak habis pikir Naomi, kamu berbuat sejauh itu."
"Aku tidak ingin melangkah separo separo kak."
Dada Adrian terasa sesak, ia tak bisa menghentikan keputusan adiknya yang keras kepala itu.
"Andai kakak lebih kaya, kakak akan menghentikan aksi gilamu itu."
Naomi terkekeh.
"Aku sedang tidak beraksi kak. Nanti kakak lihat saja apa yang bisa adikmu ini lakukan. TInggal dua langkah lagi. Dan bom nuklir akan meledak. Dwwwwwaaaarrrrr..." Naomi mengepalkan tangannya kemudian membukanya di depan Adrian sembari menyeringai.
Adiknya yang keras kepala itu memang sudah mulai gila, terjerumus dalam permainannya sendiri.
***
Naomi keluar dari rumah Adrian dan justru di hadang oleh beberapa wartawan yang tengah menunggunya.
Naomi kaget dan bingung tentunya, karena ia belum ada persiapan apapun untuk menghadapi semuanya.
"Apa anda calon istri bapak Darrel Abraham?"
"Bagaimana anda bisa mengenal beliau?"
"Kapan kalian akan menikah?"
"Apa kalian mendapat restu dari keluarga Abraham?"
Banyaknya kamera dan pertanyaan yang mencerca nya membuat Naomi bingung.
Begitu juga Adrian yang berdiri di belakang gadis itu melindungi adiknya dari para wartawan yang sepertinya penasaran sekali dengan cinderella yang mendapatkan pangeran kaya itu.
Dan tiba tiba Naomi mendapat lemparan beberapa telur serta sayur sayuran yang melayang entah dari mana,disertai beberapa teriakan hujatan yang di tujukan padanya.
"Kamu tidak pantas mendapatkan Darrel"
"Putuskan hubungan kalian!!!"
"Gadis jelek seperti mu lebih baik enyah dari muka bumi ini."
"Dasar perusak hubungan orang!!!!"
Naomi menundukkan wajahnya, tubuhnya langsung di lindungi Adrian , pria itu menjadi tameng dari sasaran orang orang yang tidak menyukai Naomi.
Naomi belum membuka suaranya, buru buru ia kembali masuk ke dalam rumah Adrian,
Dan pria itu buru buru menutup pintu sebelum ada wartawan yang menyerobot masuk ke dalam rumahnya.
"Kamu tidak apa apa Naomi?"
"Aku baik baik saja kak..."
Naomi justru menatap wajah kakaknya dengan perasaan bersalah, pria itu ikut terseret ke dalam masalahnya.
Telephone genggam Naomi berdering, Darrel is calling.
"Hallo kak..."
"Kamu masih di tempat Adrian?"
"Hmmmm..."
"Jangan kemana mana, saya jemput kamu."
Panggilan terputus, sepertinya Darrel menyadari apa yang terjadi pada gadis itu.
***