"Maaf kamu menunggu lama..." sepasang tangan melingkar di perut Naomi, gadis itu merasakan hembusan hangat di ceruk lehernya.
Wajahnya berubah, Naomi tersenyum manis dan membalik tubuhnya menghadap Darrel.
"Aku pikir kau lupa aku masih disini." Naomi menengadahkan wajahnya menatap Darrel, di kecupnya pelan bibir pria tampan di hadapannya itu.
"Jangan menggoda, ini masih siang. Bisa bisa saya khilaf dan memakanmu disini."
Naomi mencubit pelan pucuk hidung Darrel.
"Aku bisa melakukannya kak..."
Wajah Darrel merona, gadis kecil di depannya selalu bisa membangkitkan gairahnya walau hanya dengan sentuhan kecil saja.
"Kita makan dulu, isi tenaga mu untuk bisa meneriakan nama ku berkali kali. "bisik Darrel.
Naomi menundukkan wajahnya.
Andai Darrel melihat ekspresi Naomi kali ini, mungkin pria itu akan bingung mengartikan dirinya bagi Naomi.
***
Di lantai dasar kantor Darrel terdapat kafetaria perusahaan yang biasa di gunakan karyawan untuk makan.
Terkadang Darrel dan Anthony makan di tempat itu bila waktu makan mereka terlalu singkat dan tidak bisa keluar kantor.
Karena jam makan siang sudah lewat, membuat keadaan kafetaria jadi sepi, memudahkan Naomi, Darrel dan juga Anthony untuk berada di tempat itu.
Setidaknya mereka bisa makan dengan nyaman tanpa ada gangguan dari mata yang menatap mereka penuh tanda tanya.
"Kamu mau makan apa Naomi?"
"Aku bisa makan apapun kak..."
Darrel memberi kode Anthony untuk membawakan mereka makanan, Anthony mengangguk kemudian pergi meninggalkan Darrel dan Naomi yang memilih duduk di pojokan.
"Kamu dari mana saja?" Darrel menggenggam kedua tangan Naomi, memandang lekat wajah gadis di hadapannya itu sembari tersenyum.
"Ehm...tadi habis ketemu papa di kantor." jawab Naomi
Darrel mengerutkan dahinya, bingung dengan jawaban yang di berikan gadis itu.
"Papa?"
"Iya, papa kamu kak. Papa aku juga kan?" Naomi tersenyum, ia menunggu reaksi Darrel saat dirinya menyebut papanya dengan sebutan papa.
"Papa saya?" Naomi mengangguk.
Darrel melepaskan genggaman tangannya, menumpuk kedua tangannya sendiri di dadanya dan bersandar pada sandaran kursi.
Wajahnya berubah datar, ia tak mengerti dengan maksud Naomi menemui tuan Abraham.
"Papa merestui kita kak." tambah Naomi, namun tak membuat wajah pria tampan di hadapannya itu tersenyum, seperti nya memang hubungan ayah dan anak ini tidak begitu baik.
"Lain kali ijin saya dulu kalau mau bertemu dengan seseorang."
"Kau marah kak?"
"..."
"Dia papamu."
"Sekalipun itu papa."
"Itu kekanak kanakan kak."
"Maksud kamu saya kekanak kanakan? Begitu?"
Naomi mendengus kesal, ia memutar pandangannya, percuma berdebat dengan Darrel, pria di hadapannya lebih keras kepala di banding dirinya sendiri.
Anthony tiba membawa dua nampan berisi makanan dengan lauk pauk yang beraneka ragam.
Namun sepertinya pria itu datang di waktu yang tidak tepat.
"Silakan di nikmati bos, nona."
"Saya sudah tidak berselera makan." Darrel mengerucutkan bibirnya, membuat Naomi semakin ingin melempar dua nampan berisi makanan tersebut ke wajah tampan pria di hadapannya itu.
"Pak Anthony."
"Iya nona."
"Makanlah bersama ku. Sepertinya iblis di perutku sudah meronta ingin menghabiskan semuanya."
Anthony melirik Darrel sesaat, namun pria itu tidak bergeming.
"Duduklah." Naomi meminta Anthony untuk duduk di sampingnya, pria itu pun menurut.
Dan mereka pun mulai makan tanpa mempedulikan Darrel yang sedang merajuk, seperti anak TK saja, batin Naomi.
Naomi hampir menghabis kan makanan di hadapannya, tanpa memandang wajah Darrel sedetikpun.
Emosi di kepala dan hatinya yang memuncak justru menambah nafsu makannya semakin besar.
Gadis itu meletakan sendok dan garpunya di atas nampan kemudian membawanya menuju meja saji di belakang.
Tanpa menoleh ke arah Darrel, gadis itupun berjalan keluar kafetaria.
"Naomi.." Darrel menarik tangan Naomi hingga gadis itu menoleh ke arahnya dan menatapnya tajam.
"Apa lagi?" Naomi setengah membentak, padahal Darrel hanya memanggil namanya dengan nada datar.
"Kenapa kamu pergi begitu saja? Harusnya saya yang marah."
"Dari awal kita memang sudah tidak cocok kak, lebih baik tidak usah di teruskan. Aku malas berhubungan dengan pria dewasa yang bersikap seperti anak kecil."
Mata Darrel membulat, kilat merah di matanya terlihat kalau dia marah dengan ucapan Naomi.
"Mudah sekali kamu mengatakan seperti itu? Apa kamu pikir hubungan kita selama ini tidak ada artinya?"
"Kak Darrel! Bukan. maksudku uncle. Dengar! Aku lelah. Dan aku rasa ini sudah cukup. Lepaskan tangan anda." Naomi mencoba menepis tangan darrel yang menggenggam erat tangannya.
"Jangan menguji kesabaran saya Naomi."
"Menguji kesabaran anda, uncle? Tidak salah??" Naomi tersenyum kecut, perdebatan dengan pria satu ini semakin panas.
Anthony hanya diam memandang dua insan di hadapannya.
"Mau kamu apa Naomi?" Darrel menurunkan nada bicaranya, ia mencoba meredakan emosinya.
"Kita tidak usah berhubungan lagi."
"Itu tidak mungkin terjadi Naomi."
"Itu yang aku inginkan uncle."
"Saya bukan uncle kamu Naomi!"
"Capek ngomong sama pria tua kolot!"
"Kamu ngatain saya tua?"
"Iya."
"Lucu sekali kamu."
"Hahaha..." Naomi tertawa, tawa yang di buat buat, terdengar sekali kalau gadis itu muak di hadapkan dengan situasi seperti ini.
"Hentikan Naomi."
"Itu maksudku dari tadi. Kita hentikan saja."
Mata mereka saling menatap tajam, tak ada yang mau mengalah satu sama lain.
Darrel langsung merengkuh tubuh mungil Naomi dalam pelukannya, kemudian mendaratkan bibirnya pada bibir gadis itu.
Melumatnya dengan kasar dan penuh emosi.
Naomi mencoba mendorong tubuh Darrel, namun kekuatannya tidak seberapa di bandingkan tubuh Darrel yang tinggi dan kekar itu.
Darrel semakin menggila, seperti nya dia tidak tahu tempat sama sekali.
Mereka masih di dalam kafetaria, tak hanya ada mereka berdua di tempat itu, masih ada petugas kafetaria dan beberapa karyawan yang masih bolak balik di tempat itu.
Akhirnya Naomi terdiam, ia menerima segala perlakuan Darrel.
Gadis itu tersenyum dalam hati, bahkan ia bersorak.
'Inilah yang aku inginkan.' batin Naomi.
***
Naomi duduk di dalam mobil di jok penumpang bersama Darrel dengan Anthony di jok kemudinya.
Mereka masih sama sama diam, satu sama lain tak ada yang ingin memulai pembicaraan, sibuk dengan pikiran masing masing.
Mobil melaju ke panti asuhan Harapan.
Rutinitas Darrel hampir setiap bulan adalah mengunjungi tempat itu, untuk memberikan donasinya serta membagikan hadiah untuk anak anak panti.
Bertambah sedikit rasa kagum Naomi pada pria tampan di sampingnya.
Darrel begitu terlihat sempurna, parasnya yang tampan di dukung dengan hatinya yang seperti malaikat.
Semakin hari Naomi mengenal Darrel,kenapa pria itu bisa memiliki banyak nilai positif?
Naomi segera menghapus rasa kagumnya pada pria di sampingnya itu.
Ia tak ingin terjatuh semakin jauh, semakin ia jatuh semakin ia tidak bisa lari lagi.
"Maaf kan saya Naomi."
Naomi menoleh, ia seperti mendengar Darrel bergumam.
"Maafkan sikap saya yang tadi."
Naomi tersenyum, ia sudah menang berkali kali, jadi ia semakin tidak ragu lagi untuk terus maju.
Gadis itu membuka tas ransel yang sedari berada di pangkuannya.
Mengambil sepotong roti dan memberikannya pada Darrel.
"Makanlah kak, kau belum makan apapun tadi."
Darrel menerimanya, sepotong sandwich isi daging, sepertinya Naomi membuatnya di rumah tadi.
"Terimakasih."
Darrel langsung menyantapnya dengan lahap, perutnya memang terasa bertambah lapar karena emosinya yang sudah mereda.
Naomi terus memandang Darrel yang makan dengan lahap, sebenarnya ia sangat menyukai sandwich yang sedang di makan oleh Darrel, oleh sebab itu ia menyimpannya di dalam tas untuk di makan kalau kalau ia merasa lapar nantinya.
Apa lah daya, daripada Darrel sakit karena terlambat makan, gadis itu terpaksa menelan ludahnya sendiri.
Ia bisa membuatnya lagi kalau sampai dirumah nantinya.
Darrel menyadari arah pandang Naomi, dan saat hampir gigitan terakhir, Darrel bertanya.
"Apa kamu menginginkannya?"
Tanpa berfikir Naomi pun mengangguk.
Tapi Darrel sepertinya ingin menggoda gadisnya itu, pria itu menyeringai, di lahapnya sekaligus potongan terakhir sandwich yang berada di tangannya kemudian tertawa terbahak melihat reaksi Naomi yang terdiam kesal.
Gadis itu membuang pandangannya, kenapa Darrel begitu menyebalkan.
Mereka telah tiba di panti asuhan Harapan.
Sebuah rumah singgah yang besar dengan halaman yang luas, bangunan tua namun masih terawat.
Kedatangan mereka di sambut oleh empat wanita paruh baya dengan puluhan anak anak dengan berbagai usia tengah menanti di halaman depan rumah panti.
"Selamat datang pak Darrel."
"Selamat datang uncle Darrel..." suara anak anak menyapa kedatangan Darrel.
Pria yang dikenal Naomi dengan wajah datar tanpa ekspresinya itu justru tersenyum manis mendapat sambutan dari anak anak panti asuhan.
Pertama tama Darrel menyalami keempat wanita paruh baya yang menyambutnya kemudian beralih memeluk satu persatu anak anak yang mendatanginya, bahkan ada yang bergelanyut manja pada Darrel.
Itu suatu pemandangan yang luar biasa bagi Naomi, satu sisi kemanusiaan Darrel kembali Naomi ketahui.
Acara berlanjut dengan Anthony yang mengeluarkan puluhan hadiah dari bagasi mobil yang entah sejak kapan pria itu menyiapkannya.
Setelah bermain sesaat dengan anak anak panti, Darrel dan Naomi masuk ke dalam ruang kantor kepala panti asuhan Harapan, menemui seorang wanita paruh baya dengan sanggul kecil di rambutnya, memakai dress panjang motif bunga bunga yang biasa di panggil bunda Rossa, dialah pemimpin panti asuhan Harapan.
Wanita paruh baya itu terus saja memandang Naomi sembari tersenyum.
Naomi membalas senyumnya dan memperhatikan wanita itu berinteraksi dengan Darrel.
"Pak Darrel, terimakasih untuk kunjungan rutinnya. Anak anak sangat menyukai terakhir kali anda kemari dan membawa banyak buku seperti yang mereka butuhkan."
"Sama sama bunda, semoga bermanfaat."
"Ini nak Naomi, calon istri anda?"
Naomi melirik Darrel, pria itu tersenyum, bagaimana wanita yang baru pertama kali di temuinya itu bisa tahu hubungannya dengan Darrel.
Apa Darrel juga menceritakan hal ini pada wanita itu.
"Bagaimana nyonya..."
"Panggil bunda saja."
"Iya, bunda. Bagaimana bisa tahu soal.."
Bunda Rossa terkekeh melihat reaksi Naomi yang bingung.
"Tentu tahu, berita soal kalian akan menikah tersebar dimana mana. Seluruh Indonesia tentunya sudah mengetahuinya. Pak Darrel bahkan sudah sekelas selebritis tanah air, nona."
"Naomi saja bunda."
"Iya Naomi."
Naomi mengangguk, tentu semua orang kini sudah tahu, karena lamaran dadakan yang di lakukan Darrel sudah di tonton sejagat raya ini.
Gadis itu tersenyum kecut, mau kabur kemanapun semua orang sudah mengetahui kalau dirinya tunangan Darrel.
"Jadi kapan kalian akan menikah?"
Naomi kembali tersentak, inilah salah satu pertanyaan menyebalkan yang orang orang tanyakan padanya setelah mengetahui hubungannya dengan Darrel telah sampai ke tahap yang lebih jauh.
Sementara Darrel tak hentinya mengulum senyum, ia begitu bahagia mengingat sebentar lagi Naomi akan menjadi miliknya seutuhnya.
"Secepatnya bunda, pada bulan bulan ini,"
Wanita paruh baya itu menghela nafas lega, terlihat sekali dari sorot matanya yang berbinar.
"Syukurlah kalau begitu. Lebih cepat lebih baik. Lekaslah memiliki momongan, jangan menundanya."
Dan kalimat terakhir yang di ucapkan bunda Rossa sukses membuat mata Naomi membola.
Dadanya langsung terasa sesak.
***