"Aaaaa.....hiks hiks...." baru saja pria berambut panjang dengan jarum di tangannya itu menempelkan benda lancip tersebut ke kulit Naomi, gadis itu sudah menjerit histeris, bahkan air matanya meluncur tak bisa di tahannya.
Darrel menahan tawa melihat tingkah Naomi yang menggemaskan itu.
Gadis yang mandiri dan selalu terlihat kuat itu bisa menangis juga hanya karena tertempel jarum.
"Tenang nona, ini tidak sakit. Hanya seperti di gigit semut." ucap sang pria penatto ikut gugup melihat reaksi Naomi.
Tangan sebelah kiri gadis itu yang menjadi bidang yang akan di tatto kini telah basah karena keringat Naomi yang gugup dan panik.
Tubuhnya gemetar hebat padahal belum satu tetes pun tinta tatto melekat di tubuhnya.
Darrel duduk di hadapan Naomi dan memeluk tubuh gadis itu.
"Hanya lima belas menit, nggak akan lama Naomi..." Darrel mengelus rambut panjang Naomi.
"Tapi...itu jarum kak.." Naomi sesenggukan, ia mencoba mengatur nafasnya yang terasa sesak.
"Lihat, saya saja baik baik saja.." Darrel menunjukkan hasil tatto inisial DN yang di ukir cantik di punggung tangan nya sebelah kiri terletak tepat antara jari telunjuk dan ibu jari.
"Kakak seorang pria, tentu tidak akan sepanik aku."
Darrel tersenyum, menangkup kedua pipi Naomi.
"Akan saya buat kamu melupakan rasa sakit itu Naomi. Lakukan sekarang bos." Darrel memberi aba aba pada sang penatto untuk memulai pekerjaannya.
Dan saat itulah Darrel melumat bibir Naomi dengan sangat lembut, hingga Naomi tidak merasakan sakit saat jarum tato itu menusuk kulit tubuhnya.
Bibir Darrel bergerak naik turun, memagut bibir ranum Naomi, mencecapnya dan menghisapnya begitu lembut seperti makan es krim.
Naomi memejamkan matanya, gadis itu terbuai dan membalas tiap ciuman Darrel yang tak berhenti sedetikpun.
Perlahan mereka saling mengambil nafas tanpa mencoba melepaskan tautan bibir masing masing.
"Sudah selesai bos."
Darrel melepaskan tautan bibirnya dan menempelkan ibu jarinya ke bibir Naomi.
"Tidak sakit kan?"
Pipi Naomi memerah, ia merasa malu karena berciuman di depan umum seperti tadi.
Setelah menyelesaikan pembayaran, mereka pun kembali ke resort.
Di tangan kiri Naomi kini sudah terukir inisial DN yaitu singkatan Darrel Naomi, serta sebuah cincin lamaran yang Darrel berikan padanya.
Kebahagiannya sungguh tidak bisa di ungkapkan dengan kata kata, entah ini hanya perasaan sesaat atau memang ia telah menjatuhkan pilihan.
Naomi tidak yakin dengan hatinya sendiri, ia kembali termenung.
"Kalian dari mana saja? Aku mencari mu dari tadi Darrel?" Mario menghampiri Darrel dan Naomi yang baru kembali ke resort setelah hampir tengah malam.
"Kencan. Kami sepasang kekasih kalau kamu lupa Mario." ucap Darrel ketus.
"Sebelum makan siang kita harus datang ke lokasi untuk menyurvei tempat pembangunan resort yang baru, mereka tadi mengabari ku secara tiba tiba."
"Selalu saja tiba tiba, mereka pikir saya tidak sibuk."
"Anda sibuk berkencan bos." timpal Anthony
"Bukannya kalian juga tadi bersenang senang? Disini seperti surga bagi lajang seperti kalian."
"Anda juga lajang bos."
"Setidaknya saya punya calon istri." Darrel menaikan tangan kiri Naomi, menunjukkan cincin di jari manis gadis itu pada Mario dan Anthony.
"Sombongnya." Mario mencibir.
"Kalau begitu selamat bos, akhirnya anda melamarnya juga." Anthony menatap tidak suka pada Naomi, di matanya gadis di hadapannya itu bukanlah gadis lugu yang dulu ia kenal.
"Terimakasih Anthony, saya harap kalian bisa menyusul kami."
"Kemana? Berkencan?"
"Ke pelaminan tentunya..."
Naomi tersedak ludahnya sendiri, seperti Darrel terlalu percaya diri.
"Anda baik baik saja nona?" Anthony masih dengan tatapan tajamnya pada Naomi.
"Aku baik baik saja pak. Aku permisi dulu, mau istirahat." Naomi pun berlalu menuju kamarnya.
Mario merangkul Darrel, matanya menatap selidik pada sahabatnya.
"Jadi malam ini kalian akan merayakannya berapa kali?"
"Apa maksudmu?" Darrel berpura pura polos.
"Aaaahhhh...jangan pura pura tidak tahu Darrel. Aku sudah faham, gadis muda itu mampu memuaskanmu kan? Kau pintar sekali memilih." wajah Darrel memerah, yang di katakan Mario memang tidak salah sama sekali hanya saja ia masih malu untuk membahas hal v****r seperti itu.
Darrel belum terbiasa.
Mario terbahak melihat reaksi sahabatnya itu, Darrel yang sejak dulu ia kenal naif dan dingin ternyata bisa juga menjadi pria sejati.
"Kalian tidurlah sana, sepertinya kalian butuh istirahat untuk membetulkan otak kalian yang mulai gila."
Tawa Mario semakin menjadi mendengar jawaban Darrel, pria itupun berlalu meninggalkan kedua sahabatnya itu yang terus saja menggoda nya.
Anthony menatap tajam setiap langkah Darrel, perasaannya semakin tidak enak apalagi ia melihat sebuah cincin yang tersemat di jari manis Naomi.
'Apa Darrel akan baik baik saja?' batin Anthony.
Darrel masuk ke dalam kamarnya, ia mendapati Naomi tengah tertidur pulas dengan tubuh terbalut selimut.
Nafasnya terdengar teratur, tandanya gadis itu tengah terbuai dalam mimpinya.
Darrel tersenyum memandang Naomi, ternyata gadis itu tak melupakan ucapannya untuk melepas seluruh kain yang melekat di tubuhnya saat mereka tidur bersama.
Pria itu pun segera berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, selesai dengan ritual mandinya, Darrel naik ke atas ranjang dan merengkuh tubuh Naomi dalam pelukan.
Malam ini ia akan membiarkan Naomi istirahat, ia harus menahan hasratnya, tak ingin memaksa gadisnya untuk b******a dengannya dengan kondisi mereka yang sama lelah hari ini.
Hari ini benar benar hari yang panjang.
***
Sinar matahari menyilaukan gadis yang tengah tertidur pulas dengan hanya berbalut selimut.
Naomi menggeliat, merasakan tubuhnya begitu nyaman setelah tidur panjangnya.
Tangannya meraba samping tempat tidur nya yang terasa kosong, ia langsung membuka matanya melihat sekeliling mencari keberadaan seseorang yang sedari semalam terus memeluknya.
Gadis itu terduduk, terdiam sesaat dan mulai mengoneksikan sarafnya pada kehidupan.
Matanya beralih pada tangan kirinya yang mulai berbeda sejak semalam.
Sebuah cincin putih bertahtakan berlian melingkar manis di jari manis Naomi, jangan lupakan juga sebuah tatto berinisial namanya dan pria yang memberikan cincin padanya.
Dada Naomi bergemuruh.
Antara senang dan sedih.
Apakah ini akhirnya?
Ia menghela nafas, kemudian segera turun dari ranjang, berjalan ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
Pagi pagi suasana hatinya sudah tidak bahagia.
Naomi menyurai rambutnya, mengusap pipinya lembut dengan krim pelembap wajah dan mengoleskan lipstik warna nude di bibir tebalnya.
Dress motif floral yang di belikan Darrel semalam menjadi kostumnya hari ini.
Setelah menyemprotkan parfum ke tubuhnya, Naomi berjalan keluar menuju pintu yang menghubungkan antara kamar dan kolam renang mini.
Begitu pintu terbuka, matanya di suguhkan pemandangan indah pagi.
Angin berhembus dengan lembut menerpa wajahnya, dan sinar matahari yang mulai beranjak naik memancarkan cahaya hangatnya.
Jam di dinding baru menunjukkan pukul 07.45 pagi, ia harus mencari keberadaan Darrel agar bisa mengajak pria itu sarapan bersama.
Saat Naomi berjalan mendekati kolam renang, ia melihat tubuh Darrel tengah meliuk liuk indah di dalam air.
Mata Naomi seperti terhipnotis, terpukau melihat tubuh indah yang tengah berenang kesana kemari dengan indahnya.
Darrel menuju tepi kolam renang, karena mendapati Naomi yang tengah duduk di kursi sambil terus memperhatikannya.
Pria itu tersenyum, mengibaskan rambutnya yang basah ke belakang.
"Morning baby.."
Jantung Naomi berdebar hebat, melihat Darrel yang hanya mengenakan celana pendek renangnya dengan d**a terbuka dan tengah berjalan menghampirinya.
Tak sedetikpun gadis itu melewatkan pandangannya menatap Darrel.
'Astaga, apa Darrel memang sesexy ini? Atau aku memang baru menyadarinya?' batin Naomi.
Sudah berkali kali ia melihat yang bahkan lebih dari itu, tak hanya melihat, merasakannya pun sudah.
Tapi baru kali ini Naomi benar benar mangagumi tubuh Darrel yang proporsional.
Tubuh yang tinggi dengan d**a yang bidang, perut yang di penuhi dengan roti sobek, jangan lupakan bulu bulu halus yang sedikit tumbuh di antara d**a pria itu, menambah kesan sexy seorang Darrel.
Kecupan Darrel di bibir Naomi, membuyarkan lamunan gadis itu.
"Jangan menatapku seperti itu sayang, kamu bisa jatuh cinta padaku terlalu dalam."
Naomi membuang pandangannya, ia tak ingin jantungnya tiba tiba berhenti berdetak karena meledak terpukau memandang Darrel.
"Kakak sudah bangun dari pagi? Kenapa tidak membangunkanku?" Naomi memutar pandangannya, mengalihkan fokusnya.
Darrel berdiri di samping Naomi, membilas tubuhnya di bawah shower.
"Saya lihat kamu tidur nyenyak sekali. Owh iya, handphone kamu sedang di charge di depan. Maaf saya mengambilnya tanpa izin."
Naomi hanya diam sambil mengangguk.
Darrel telah selesai membilas tubuhnya, pria itu duduk di samping Naomi dengan hanya menggunakan bathrob.
"Kamu sudah lapar? Tadi saya buat sandwich, makanlah."
Darrel menyodorkan sandwich dengan isian sayuran dan ham pada Naomi.
Gadis itu menerimanya dan langsung melahapnya, memang sejak bangun tidur cacing cacing di perutnya sudah berteriak minta di isi.
"Pelan pelan makannya, itu masih banyak."
Benar saja, di meja samping Darrel duduk tersedia banyak sandwich di piring serta secangkir kopi dan segelas s**u putih.
"Minumlah."
Naomi meneguk segelas s**u dengan sekali tegukkan, perutnya kini terasa lebih baik setelah tiga potong sandwich di tutup dengan segelas s**u masuk ke dalam perutnya.
Darrel memajukan wajahnya, menjilat tepian bibir Naomi yang belepotan karena s**u yang di minum gadis itu.
"Manis.." wajah Naomi memerah dengan tindakan kecil yang dilakukan Darrel, bahkan tubuh gadis itu seketika menegang.
"Jangan seperti itu kak.." bisik Naomi sambil membuang wajahnya, ia sedikit malu.
Darrel menyentuh rahang gadis itu agar melihat ke arahnya.
"Kenapa?"
"Aku malu.." Darrel terkekeh, kenapa Naomi begitu menggemaskan.
"Kenapa harus malu? Tidak ada siapapun disini."
Memang benar, harusnya ia lebih merasa malu saat Darrel melumat bibirnya begitu lama di hadapan tukang tatto semalam.
Naomi menghela nafas, ia mencoba menenangkan debar jantungnya yang tidak karuan.
"Kak...aku..." Darrel langsung merengkuh wajah Naomi dan melumat bibirnya.
Ia sudah tidak bisa menahannya lagi, cukup untuknya bersabar karena semalam tidur bersama dengan gadis itu tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya namun ia tak bisa melakukan apapun karena kasihan melihat Naomi yang kelelahan.
***