CHAPTER 29

896 Kata
"Jangan pernah tinggalkan saya Naomi." Ucap Darrel sambil memeluk tubuh Naomi setelah melepaskan penyatuan tubuh mereka. "Bukankah harusnya aku yang bilang seperti itu padamu kak?" "Saya tidak akan pernah meninggalkan kamu Naomi." Gadis itu mencibirkan bibirnya, ucapan Darrel terdengar gombal di telinganya. Ia sering melihat drama yang seperti ini, usai b******a para pria merayu gadisnya dan berjanji tak akan meninggalkan mereka. Tapi kenyataannya setelah puas, mereka menghilang tanpa kabar dan penjelasan, mencampakkan wanita yang telah menyerahkan seluruh jiwa serta hidupnya. "Tidak ada jaminan untuk itu kak, jangan terus menggombal. Kau membuatku mandi dua kali pagi ini." Naomi mendengus kesal, di urainya pelukan Darrel dan gadis itupun berlalu masuk ke dalam kamar, menuju kamar mandi untuk membersihkan sisa percintaannya. Darrel terus memandang tubuh Naomi yang polos tanpa sehelai benangpun, pria itu mengulum senyum. 'Kamu tunggu saja Naomi, saya akan membuktikannya.' batin Darrel. *** Usai berdandan rapi, Darrel dan Naomi bersiap untuk keluar dari kamar yang mereka tempati. Hari ini Darrel harus melihat lokasi tempat pembangunan resort nya yang baru bersama Mario, Anthony serta Naomi. Gadis itu meminta ikut dari pada harus berdiam diri sendirian di kamar. Naomi melirik jam dinding di kamar, pukul setengah dua belas siang, itu berarti dirinya dan Darrel cukup lama menghabiskan waktu mereka untuk b******a. "Kamu disini dulu dengan Anthony, saya pergi sebentar dengan Mario, oke?" Naomi mengangguk dan Darrel mengecup dahi gadis itu sesaat sebelm meninggalkannya di restoran di tepi pantai yang berdekatan dengan lokasi dimana kan dibangunnya resort baru milik Darrel dan Mario yang bekerjasama dengan William Dominic, seorang pengusaha berkebangsaan Australia yang juga teman kuliah mereka dulu. Naomi beranjak dari posisinya, berjalan jalan di tepi pantai dengan Anthony yang berjalan beberapa meter di belakang gadis itu. Sepoi angin pantai menyurai rambut panjang gadis itu, membuat rok pendek sepanjang lututnya ikut melambai lambai. Naomi memutar pandangannya, namun pikirannya melayang. Darrel begitu sukses untuk pria seumurannya, batin Naomi. "Jangan berjalan terlalu jauh nona, kita bisa tersesat." Naomi membalik tubuhnya, menatap Anthony yang berdiri tegap di hadapannya. "Pak Anthony, kenapa aku selalu merasa kalau anda terus saja mengawasi ku." sorot mata Naomi tajam. "Itu hanya perasaan anda saja nona." Naomi membuang wajahnya dan tertawa sumbang mendengar jawaban Anthony. "Hanya perasaanku saja? Tapi ku lihat anda tidak suka kalau aku bersama dengan kak Darrel." "Saya hanya ingin memastikan kalau perasaan anda tulus dengan bos saya Darrel." "Jadi anda pikir aku tidak tulus pada kak Darrel?" Begitu?" "Saya tidak berkata seperti itu nona." "Tolong jangan ikut campur dalam hubungan ku dan kak Darrel, pak Anthony." "Saya tidak ingin melihat bos Darrel terluka nona." "Apa anda lihat kalau aku melukai bos mu?" nada bicara Naomi mulai meninggi, ia sedikit kesal dengan setiap jawaban yang terlontar dari bibir Anthony. Pria di hadapannya itu terlihat pintar berdebat. "Semoga saja saya salah nona." Anthony mencoba tersenyum pada Naomi, ia tidak ingin kena marah bos nya karena membuat kesal kekasih bos nya. Naomi mendengus, ia pun berjalan kembali ke tempatnya semula beranjak. Ingin segera bertemu Darrel, setidaknya pria itu lebih mudah ia taklukan daripada pria dihadapannya kini. "Dari mana sayang?" Darrel tersenyum dari kejauhan sembari melambaikan tangannya. Naomi setengah berlari menghampiri Darrel dan langsung merangkul lengan pria tampan itu. "Aku lapar kak, bisa kita makan dulu?" bisik Naomi, Darrel tersenyum. Kalau soal makan memang gadis nya itu paling nomer satu. Tubuh kecilnya tidak sesuai dengan porsi makanan nya, namun Darrel tidak keberatan sama sekali. Baginya itu bukanlah hal besar, ia bahkan lebih dari mampu untuk membeli seluruh restoran yang ada di tanah air ini. "Ini calon istrimu?" seorang pria berpostur tinggi dan berwajah bule namun mampu berbahasa Indonesia itu tersenyum sambil menunjuk Naomi. "Kenalkan, namanya Naomi. Naomi, ini teman kuliah ku, William Dominic." Mereka pun saling mengulurkan tangan dan berjabat tangan. "Naomi Khanaya." "William Dominic." "Dia bisa berbahasa Indonesia kak?" bisik Naomi, Darrel tertawa kecil. "Dia kuliah 4 tahun disini Naomi." Naomi mengangguk. "Dia , saya dan Mario akan membangun resort baru di tempat ini." Naomi kembali menganggukkan kepalanya, mendengar penjelasan Darrel. "Jadi, kapan saya mendapat undangan pernikahan kalian?" William menatap Darrel dan Naomi bergantian. Dan wajah sepasang kekasih itu malah memerah, tersipu. "Bos.." panggilan dari Anthony mengalihkan pembicaraan mereka. "Tuan besar menelphon, anda diminta beliau untuk datang ke kediamannya." Darrel beralih menatap Naomi, sepertinya serius. Mereka berempat sudah berada di bandara, pembicaraan dengan William akan di lanjutkan via telephone nantinya. Suasana seketika hening, angin dingin seperti berputar putar di antara mereka. Naomi tak hentinya menatap Darrel yang terus saja diam sedari perjalanan mereka dari resort hingga bandara. Anthony menunjukkan berita yang di unggah baik itu di sosial media ataupun media elektronik. Ternyata proses lamaran Darrel semalam, banyak di antara pengunjung restoran yang merekamnya serta mengunggahnya. Berbagai macam komentar serta judul menghiasi berita hari ini. Darrel dan Naomi yang sedari semalam hingga siang hari ini tidak menyentuh handphone mereka tidak mengetahui kalau hari ini mereka menjadi topik pembicaraan. 'Inikah menantu baru penerus Abraham Group?' 'Lamaran romantis sepanjang masa' 'Pengusaha muda sukses melamar pujaan hatinya' 'Siapakah Cinderella yang beruntung mendapatkan hati sang pewaris tahta Abraham Corp?' Dan masih banyak judul lagi. Mata Naomi membulat melihat beragam komentar pemberitaannya dengan Darrel. Jantungnya berdebar kencang, terlebih melihat reaksi tiga pria tampan yang terdiam dengan wajah datar tanpa ekspresi di sampingnya. Bahkan perutnya yang sedari tadi terasa lapar tiba tiba kenyang sendiri hanya dengan menyantap sepotong roti di ruang tunggu bandara. Apa yang akan terjadi kalau dia bertemu dengan keluarga besar Darrel Abraham. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN