Perjalanan dari Surabaya ke Bali membutuhkan waktu sekitar 40 menit. Dari ngurah rai ke seminyak, Bali membutuhkan waktu 21 menit. Mahendra menyewa sebuah villa yang bernuansa klasik tapi elegan. Di dalamnya ada private pool dan satu buah ranjang king size. Mahendra mulai bersikap lembut pada Vania.
Mahendra memesan makanan untuk mereka berdua. Setelah itu, Mahendra mengajak Vania untuk berenang bersama.
"Ayo berenang bersama, aku tunggu." Kata Mahendra.
Mahendra sudah menunggu Vania ditengah kolam. Memakai pakaian renang yang ketat. Membuat Vania meneguk ludahnya sendiri. Badannya sangat kekar dan perutnya rata. Vania cukup lama memandanginya lalu bergegas ke kamar mandi dan berganti pakaian renang. Vania mulai membuka kopernya dan dia melihat sebuah bikini yang entah kapan sudah ada dalam kopernya.
"Apakah aku harus memakai ini?" Gumam Vania.
Vaniapun memakai bikini itu dan saat bercermin dia merasa malu. Seluruh tubuhnya terekspos nyata. Vania ingin sekali mengurungkan niatnya memakai bikini, namun dia mengingat kembali bahwa dia datang kesini untuk memperbaiki hubungannya dengan Mahendra. Vaniapun keluar dari dalam kamarnya. Menuju kolam renang dan ikut bergabung bersama Mahendra.
Mahendra sangat terpukau melihat tubuh indah istrinya itu. Matanya tak berkedip menatap keindahan didepan matanya. Mahendra mulai berenang dan Vania juga ikut berenang. Mereka melakukan itu selama hampir setengah jam tanpa berbicara. Merasa lelah, Vania mulai berhenti melakukan aktivitasnya. Dia bersandar ditepi kolam. Menatap Mahendra yang masih saja berenang. Lalu Mahendra mulai berhenti dan menghampiri Vania. Vania merasa canggung sekaligus gugup dengan keadaan ini. Mahendra mulai merapatkan tubuhnya dan terjadilah sebuah ciuman panas.
Mahendra semakin memperdalam ciumannya sambil memegang erat pinggang Vania. Vania mulai nenikmati ciuman itu dan juga membalas setiap hal yang dilakukan Mahendra. Mahendra sudah tidak bisa mengontrol dirinya lagi. Dia menggendong tubuh Vania kedalam lalu membaringkannya di ranjang. Menarik tali bikini Vania sampai terlepas. Vania pasrah dengan apa yang dilakukan Mahendra karena bagaimanapun mereka juga suami istri. Mahendra juga mulai melepaskan dalamannya lalu menutupi tubuh polos keduanya dengan selimut. Hari ini terjadilah sesuatu yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Mahendra kaget saat kepemilikannya mulai menerobos masuk pada milik Vania.
"Vania, bukankah dia janda? Tapi kenapa masih serapat ini?" Pikir Mahendra.
Vania memejamkan matanya sambil merasakan kenikmatan yang belum pernah dia dapat. Dia juga merasakan kelembutan Mahendra yang sangat berbeda dengan Adrian. Bahkan yang Vania ingat dari Adrian hanyalah kesakitan dan pemaksaan. Setelah kejadian itu tidak pernah terjadi lagi bersama Adrian. Makanya Mahendra merasa Vania masih seperti gadis.
Mahendra menatap Vania yang tertidur pulas disampingnya karena kelelahan. Ulahnya membuat Vania sangat lelah. Apalagi Mahendra melakukannya beberapa kali dalam semalam. Mahendra sangat menyukainya. Rasanya sangat berbeda waktu melakukannya bersama Sherly. Karena Mahendra tahu kalau Sherly tidur dengan banyak pria, bukan dengannya saja.
Mahendra bangun dan membuatkan sarapan untuk Vania. Bau masakan Mahendra membuat Vania bangun. Vania mulai memakai sebuah kaos polos dan hotpants. Menuju dapur mengikuti aroma masakan yang begitu menggugah seleranya.
"Kamu sudah bangun?" Tanya Mahendra.
Vania masih diam. Dia tak menyangka kalau akhirnya dia bisa menunaikan kewajibannya semalam. Bahkan berkali-kali. Vania tak menyangka kalau Mahendra sangat haus akan s*x.
"Makanlah.." ucap Mahendra sambil meletakkan sepiring nasi goreng buatannya.
Vania mulai memakan suap demi suap nasi goreng tersebut. Lalu mulai merasakan lezatnya sarapannya pagi ini.
"Wah, ini enak sekali." Kata Vania.
Mahendra tersenyum lalu ikut memakan sarapannya.
"Aku tak menyangka kau sepandai ini dalam memasak." Kata Vania.
"Tentu saja. Aku punya keistimewaan yang terpendam." Kata Mahendra.
"Tentu, aku tahu. Terutama semalam. Kau memiliki keistimewaan yang terpendam." Sindir Vania.
"Tapi kau juga menyukainya kan?" Tanya Mahendra.
Vania cepat-cepat menghabiskan sarapannya lalu mencuci piringnya untuk menutupi pipinya yang sedang memerah karena malu.
Tiba-tiba Mahendra memeluk Vania dari belakang dan membisikkan sesuatu.
"Jangan malu. Kita berdua sudah berusaha memperbaiki segalanya. Aku menyukainya dan kau juga." Bisik Mahendra.
Vania berbalik menatap Mahendra lalu tersenyum.
"Aku mengikuti setiap kemauanmu." Kata Vania.
"Mandi dan bersiaplah.. kita ke pantai jalan-jalan." Kata Mahendra.
"Sekarang?" Tanya Vania
"Tentu saja. Atau kau mau kita mandi bersama?" Ucap Mahendra menggoda.
"Tidak, aku mau mandi sendiri." Kata Vania lalu pergi menuju kamar mandi.
Vania memakai dress katun panjang dengan motif bunga-bunga. Sedangkan Mahendra memakai kemaja batik dengan celana pendek. Vania yang melihatnya tertawa karena sebelumnya Mahendra belum pernah memakai pakaian santai seperti itu.
"Diam, kenapa kau tertawa?" Tanya Mahendra.
"Kau terlihat lucu. Kau juga menjadi tidak sangar jika memakai pakaian seperti itu." Jawab Vania.
"Lalu maumu aku memakai setelan jas seperti biasanya saat di pantai seperti saat ini?" Tanya Mahendra kesal karen Vania belum juga berhenti tertawa.
Seperti biasanya, Mahendra membungkam mulut Vania dengan ciumannya. Vania sontak kaget dan melihat sekitar. Untung saja disana sepi jadi tidak ada yang melihatnya.
"Kau ini sangat kebiasaan." Kata Vania
"Aku sudah bilang, jangan menertawakanku. Aku tidak suka." Ucap Mahendra.
"Baiklah, aku diam ." Kata Vania lalu berlari menyusuri pantai seperti anak kecil.
Melihat tingkah Vania, Mahendra tersenyum. Dia kembali teringat saat dulu dia dan Vania sering bermain ditepi pantai. Mereka saling kejar-kejaran. Dan kini Mahendra mulai mengejar Vania lalu menangkapnya.
"Kau tertangkap. Seperti dulu." Kata Mahendra.
"Dan aku bisa kabur, seperti dulu." Jawab Vania.
Dulu mereka sering menghabiskan waktu bersama di pantai Kenjeran, Surabaya. Bukan tanpa alasan kenapa Mahendra memilih tempat penginapan di dekat pantai.
Karena lelah, mereka berdua beristirahat sambil meminum es kelapa muda dan memesan beberapa makanan ringan di Cafe dekat pantai.
"Besok kita akan pergi ke taman bedugul." Kata Mahendra.
Mendengar ucapan Mahendra membuat Vania merasa senang. Dia ingin sekali cepat-cepat berganti hari.
Malam harinya, Mahendra mengajak Vania untuk Dinner bersama. Memesan restoran mewah dengan pemandangan pantai didepan matanya. Angin bertiup menerbangkan sebagian gaun warna merah Vania. Mahendra masih saja tak berkedip memandangi Vania yang terlihat sangat cantik malam ini. Vania tak pernah berubah sejak lima tahun lalu. Dia masih cantik dengan tubuh langsingnya. Setelah menikah dengan Mahendra, tubuh Vania jadi sedikit berisi. Membuatnya nampak seksi di mata Mahendra.
"Iya, aku tahu aku cantik. Tapi apa sudah puas memandangiku dari tadi?" Kata Vania.
"Siapa yang memperhatikanmu? Aku hanya suka melihatmu berpakaian warna merah karena cocoj denganmu. Itu saja." Kata Mahendra.
"Mahendra benar-benar memberikan kesempatan padaku. Apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya terjadi lima tahun lalu?" Batin Vania.
"Tapi sekarang waktunya tidak tepat. Aku bisa mengatakan semuanya besok." Kata Vania dalam hati.
Lamunan Vania buyar karena suara alunan biola yang dimainkan seorang perempuan dan beberapa orang lainnya. Mahendra memberikan kejutan dengan mendatangkan pemain musik.
"Mau berdansa denganku?" Tanya Mahendra sambil mengulurkan tangannya.
"Baiklah" jawab Vania lali berdiri dan berdansa bersama Mahendra.
Semua orang yang hadir disana bertepuk tangan. Mahendra dan Vania adalah sepasang suami istri yang sangat cocok. Mereka tampan dan juga cantik. Membuat mata yang melihatnya iri.
Vania tersenyum bahagia dengan apa yang terjadi. Dia tak menyangka kalau hubungannya dengan Mahendra akan membaik. Vania memutuskan kalau besok malam dia akan menceritakan semuanya pada Mahendra.