Dekat Kembali

1140 Kata
Sesuai dengan ucapan dokter Irfan, Vania sudah diperbolehkan pulang sore ini. Dan sesuai dengan janji Mahendra, dia menjemput Vania pulang. Vania turun dari mobil dan langsung disambut hangat dengan kehadiran Dinda dan mama mertuanya yang sangat menghawatirkan Vania. "Mama.." ucap Dinda lalu berhambur memeluk mamanya. "Sayang.." ucap Vania. "Bagaimana sayang? Kamu baik-baik saja kan?" Tanya bu Sandi "Iya, ma. Vania baik-baik saja kok." Jawab Vania. "Hai, Dinda?" Sapa Mahendra "Hai, Om". Kata Dinda "Kok panggil, om? Panggil papa dong." Kata Mahendra. "Emangnya Dinda boleh manggil papa ya?" Tanya Dinda polos. "Sekarang, om ini suami mama Dinda yang berarti om ini papanya Dinda." Kata Mahendra. Dinda yang polos itu senang dan berlari berputar-putar. "Yeay... Dinda punya papa sekarang." Kata Dinda. Vania dan bu Sandi tertawa melihat tingkah Dinda. "Terima kasih ya? Sudah membuat Dinda senang." Ucap Vania. "Yang aku benci kamu, bukan dia." Jawab Mahendra lalu pergi meninggalkan Vania. Vania kembali diam. Mungkin dia terlalu menyakiti hati Mahendra sampai Mahendra tak mau memaafkannya sampai sekarang. "Sampai kapan kamu mau mengatakannya? Apa mama yang harus menceritakan segalanya, sayang?" Tanya bu Sandi. "Nggak, ma. Waktunya belum tepat. Vania yakin kalau nanti Mahendra bisa mengerti. Kalau sudah waktunya, Vania akan kasih tahu segalanya." Kata Vania Vania mulai merapikan kamarnya. Ingin sekali dia cepat beristirahat dan tidur. Mahendra keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk. Sibuk membuka lemari dan mencari sesuatu. Karena tak kunjung menemukannya, Mahendra sampai jengkel. "Dimana tempat dalamanku?" Tanya Mahendra. Vania hanya diam tak menjawab. Berpura-pura tidur dan terlelap. Namun, Mahendra tahu kalau wanita itu belum tidur. Mahendra menghampiri Vania lalu menarik selimutnya. "Kau sudah gila ya?" Ucap Vania lalu bangun dari ranjangnya. "Cepat cari. Atau kau mau aku tetap seperti ini?" Kata Mahendra. Vania pun bangun dan pergi menuju lemari dimana yang dicari Mahendra ada di sana. "Dalamanmu ada dilaci, kemeja dan jasmu digantung di sana." Tunjuk Vania. Awalnya Vania lah yang selalu menyiapkan keperluan Mahendra. Namun mama mertuanya menyuruh Vania agar sedikit cuek pada Mahendra. Dia mau Mahendra merasa sedikit menghargai Vania. "Kenapa kau tidak menyiapkannya seperti kemarin saja? Karena ulahmu, dua hari ini aku tidak memakai dalaman." Ucap Mahendra lalu diikuti oleh suara tawa Vania yang cekikikan. Vania masih saja tertawa sampai membuat Mahendra kesal dan mencoba membuat Vania diam. Mahendra mencium bibir Vania sampai membuat Vania diam dan syok dengan perlakuan Mahendra yang tiba-tiba itu. Setelah merasa kalau Vania diam, Mahendra melepaskan ciumannya. "Baiklah, kau sudah diam. Jangan pernah menertawakan aku lagi." Kata Mahendra. Vania tak habis pikir dengan apa yang Mahendra lakukan. Dia melakukan sesuatu semaunya. Namun dia juga berkata kalau dia membenci Vania. Karena kejadian barusan, Vania memilih untuk tidur saja. Mahendra menatap Vania yang tertidur pulas. Mengingat kembali bahwa wanita itu pernah menjadi seseorang yang paling dia cintai. Bahkan mungkin perasaan itu masih ada sampai saat ini. Walau Mahendra selalu mengatakan dia membenci wanita ini, tapi hatinya tak dapat berbohong. Dia masih mencintainya. Mahendra mengambil kacamatanya dan tanpa sengaja menjatuhkan gantungan kunci yang dia lihat tadi di rumah sakit. Mahendra mulai meneliti gantungan kunci itu. Gantungan kunci yang pernah dia berikan saat bersama Vania dulu. Mahendra mengambil sebuah kotak dan memperlihatkan sebuah gantungan kunci yang sama. Dia juga masih menyimpan gantungan kunci itu. Ingatannya kembali pada saat dia bertemu Vania dulu. Setiap tahunnya, Mahendra selalu mengunjungi sebuah panti asuhan. Mahendra begitu menyukai anak kecil. Dia membagi-bagikan makanan dan hadiah untuk anak panti. Disana lah dia melihat sosok Vania yang sedang tertawa bersama anak-anak. Dia juga ikut bagian dalam acara amal . "Oh iya, Mahendra. Ini Vania. Dia junior kita di kampus. Dia dulunya juga anak di panti ini." Kata Irfan. "Mahendra." Ucap Mahendra sambil mengulurkan tangannya. "Vania." Jawab Vania sambil tersenyum. Mahendra terhipnotis dengan kecantikan dan kebaikan Vania. Dia juga mengetahui kalau Vania seorang yatim piatu yang dibesarkan di panti asuhan. Mulai dari sana mereka dekat dan menjalin hubungan. "Ini buat kamu." Kata Mahendra. Vania meraih hadiah yang diberikan Mahendra. Sebuah gantungan kunci dengan foto dirinya dan juga Mahendra terpampang di sana. "Terima kasih." Ucap Vania. Lalu Mahendra juga menunjukkan satu gantungan kunci yang sama. Mahendra sungguh menggilai sosok Vania. Bahkan diapun berjanji bahwa akan selalu mencintai Vania selamanya. Sampai sesuatu itu terjadi. Mahendra menaruh kembali gantungan kunci itu ditempatnya. Dia bergegas keluar lalu melajukan mobilnya. Menuju ke tempat Irfan, sahabatnya. "Loe masih sering mengalami Insomnia itu?" Tanya dokter Irfan. "Iya. Setiap mengingat kejadian itu. Insomnia gue selalu kambuh." Kata Mahendra. "Kenapa loe gak coba tanya sama Vania, apa alasan dia sampai hianatin loe, ndra." Kata dokter Irfan. "Gak ada yang harus gue tanyain lagi. Gue tahu kalau dia hianatin gue karena waktu itu gue miskin dan bukan siapa-siapa lagi " kata Mahendra. "Apa menurut loe Vania semurah itu? Dia hianatin loe karena Adrian waktu itu sudah lebih mapan?" Kata dokter Irfan. "Fan, gue tahu kalau loe suka sama Vania kan? Jadi loe selalu bela dia." Tanya Mahendra. "Jujur aja, ndra. Gue bahkan lebih suka dia duluan dari pada loe. Tapi yang gue tahu, dia gak pernah cinta sama cowok lain kecuali loe, Mahendra. Makanya gue ngalah dan biarin dia jadi milik loe." Kata dokter Irfan. Mahendra hanya diam. "Cobalab buat terbuka sama Vania. Dia gak seperti apa yang loe pikirkan. Coba loe buka hati buat dia lagi. Gue pastiin kalo loe bakalan tahu jawaban dari semuanya." Kata dokter Irfan. Setelah berkonsultasi cukup lama, Mahendra pun kembali pulang. Dia mempertimbangkan apa yang Mahendra katakan. Mahendra sekali lagi memberikan kesempatan untuk dia dan Vania. Mahendra segera membuka aplikasi di HP miliknya. Memesan sebuah tempat untuknya dan juga Vania untuk berbulan madu berdua. Mencoba memperbaiki apa yang telah rusak. Mahendra juga mempersiapkan pakaian dia dan Vania lalu mengepaknya menjadi satu koper. Semoga dengan apa yang dia pikirkan, hubungannya bisa sedikit membaik . Keesokan paginya, Vania melihat sebuah koper besar di kamarnya. "Kamu mau kemana?" Tanya Vania. "Bukan aku aja, tapi kita." Jawab Mahendra. "Maksud kamu?" Tanya Vania kebingungan. "Maksudnya, aku sudah mikirin ini dengan matang-matang. Aku gak mau hidup seperti ini terus. Aku mau kasih kesempatan untuk hubungan kita. Jadi aku putuskan untuk pergi honeymoon ke Bali sama kamu. Berdua aja. Aku mau waktu berdua sama kamu untuk memperbaiki segalanya." Kata Mahendra yang sontak membuat Vania semakin bingung. Di meja makan, Vania masih saja diam. Tak bisa percaya dengan apa yang Mahendra katakan. "Mama sama papa senang kalau kalian memutuskan untuk berbulan madu." Kata bu Sandi. "Papa juga senang. Biar perusahaan papa sementara yang urus. Dan Dinda bisa bersama Oma- nya. Kalian harus bersenang-senang disana dan memberikan kami cucu lagi." Ucap pak Sandi membuat Vania tersedak makanannya. Melihat Vania yang terbatuk-batuk, Mahendra memberikan air. Sontak saja kedua orang tua itu tersenyum. "Jadi kalian berangkat jam berapa?" Tanya pak Sandi. "Sejam lagi. Setelah ini kita langsung menuju bandara." Kata Mahendra. Bahkan Mahendra tak berkata kalau keberangkatannya hari ini. Semakin membuat Vania panik. Mau tak mau Vania mengikuti kemauan Mahendra
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN