9. Penderitaan Bertubi-tubi

1276 Kata
“Gimana kabar lo?” “Baik gue.” “Ponakan gue gimana? Udah nendang-nendang belum?” “Kadang-kadang sih.” “Dia nggak ngidam yang aneh-aneh kan?” “Nggak kok. Dia pengertian sama bundanya.” “Syukurlah. Kabar di rumah gimana kak? Papa, mama, baik kan?” “Iya mereka semua baik.” “Oh ya maaf gue belum bisa pulang. Selain karena sekarang jaraknya cukup jauh, waktu gue juga udah habis buat kerja sama kuliah.” “Iya nggak papa. Yang penting kamu jaga kesehatan disana?” “Iya kak, lo juga. Jagain yang bener ponakan gue. Kalau ada apa-apa atau butuh apa-apa segera hubungin gue.” “Iya.” “Ya udah, gue mau lanjut kerja dulu kak.” “Iya. Semangat.” Lukas menghubungi Vega, karena hampir dua bulan ini ia sama sekali tak pulang dan usia kandungan Vega kini sudah memasuki lima bulan. Setelah panggilan berakhir Vega menerima sebuah pesan masuk dari nomer yangtak dikenal. “Mamaaa!!!” teriak Vega mencari mama Mira. “Ada apa Ve? Jangan lari-lari begitu. Ingat kamu sedang hamil.” “Hehehe. Iya maaf ma. Vega lagi seneng banget soalnya.” “Ada apa?” “Jadi waktu itu Vega juga mencoba melamar kerja secara online dibeberapa tempat. Dan baru saja Vega menerima pesan bahwa Vega diterima kerja. Akhirnya Vega diterima kerja ma.” jelas Vega dengan antusias. “Benarkah? Dimana? Kerja apa?” “Di toko bunga ma. Tenang saja, kerjaannya juga nggak berat kok.” “Tapi pemilik toko itu tahu kalau kamu sedang hamil?” “Tahu kok ma. Tapi katanya tidak mempermasalahkan tentang hal itu. Yang penting cara kerja, kedisiplinan, ketekunan, dan bertanggung jawab.” “Ya sudah syukurlah kalau begitu. Mama ikut senang. Tapi kamu tetap harus berhati-hati dan jaga kesehatan.” “Iya ma.” *** Vega benar-benar disambut baik oleh seorang wanita paruh baya pemilik toko bunga, yang bernama Greysa. Ada dua karyawan lain di toko buka itu yaitu Sinta dan Anggun. Menurut Vega mereka baik, namun tak seramah bu Greysa. Sudah beberapa hari Vega bekerja di toko bunga. Semuanya berjalan lancar dan tanpa kendala apapun. Tugas Vega disini adalah merawat tanaman bunga, seperti memotong bunga dan daun yang layu, menyirami bunga, dan lainnya. Vega benar-benar merasa nyaman dan menikmati pekerjaannya saat ini. Selain karena pekerjaan yang tak terlalu berat, melihat bunga-bunga yang indah bermekaran membuat hatinya ikut terasa tenang dan sejuk. “Tunggu!!!” cegah bu Greysa saat melihat Vega hendak mengangkat pot bunga yang cukup besar dan berat. “Ada apa bu?” “Kamu mau mengangkat pot itu?” “Iya bu. Mau saya pindahkan ke tempat yang lebih luas. Soalnya daunnya udah menjalar kemana-mana. Memangnya kenapa bu?” “Kamu tahu kan orang hamil tidak boleh mengangkat beban yang berat-berat?” “Tidak papa bu. Saya masih mampu kok kalau hanya mengangkat pot ini.” “Tidak, tidak. Biarkan yang lain yang melakukannya.” Bu Greysa pun memanggil Anggun dan menyuruhnya untuk memindahkan pot tersebut. “Sudah biar Anggun aja yang melakukannya. Kamu bisa melakukan pekerjaan lainnya,” ucap bu Greysa. “Tapi bu…” “Tidak papa. Ya sudah ibu mau ke mengecek pesanan ya. Ingat, kalau ada kesulitan, kamu boleh minta tolong yang lain.” “Baik bu. Terima kasih.” Bu Greysa pun meninggalkan Vega. Dan Anggun juga telah memindahkan pot bunga sesuai perintah bu Greysa. “Terima kasih ya Anggun. Maaf sudah merepotkan,” ujar Vega. “Seharusnya kalau hamil itu di rumah aja. Jangan kerja. Jadi tidak merepotkan orang lain,” ucap Anggun lirih dan berlalu melewati Vega. Namun Vega masih terdengar jelas ucapan Anggun. Vega hanya bisa menghela nafas tak mau mengambil hati ucapan Anggun. *** Semenjak kejadian itu sikap Anggun kepada Vega sangat berbeda. Anggun tak lagi tersenyum ramah kepada Vega. Justru kedua bola mata Anggun selalu menatap sinis padanya. Apalagi sudah beberapa kali Anggun melakukan tugas, yang seharusnya itu adalah pekerjaaannya Vega. “Siapa yang membuat buket bunga ini? Apa kamu Sinta?” tanya bu Greysa. “Tidak bu,” jawab Sinta saat melihat buket yang ada di genggaman bu Greysa. “Bukan saya juga bu,” sahut Anggun. “Sa-saya bu. Maaf bu, saya sudah lancang membuat buket itu tanpa ijin dan perintah bu Greysa,” jawab Vega ragu-ragu. “Ini sangat cantik Vega. Perpaduan warna dan bunga-bunganya terlihat sangat cantik dan mewah. Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu juga bisa membuat buket bunga?” “Tidak bu. Itu saya cuman asal buat aja.” “Hemmm… buat asal aja bisa cantik begini. Itu tandanya kamu memnag mempunyai jiwa seni dan kreatif.” “Tidak bu. Aku rasa bu Greysa terlalu memuji. Kemampuan saya masih jauh dibanding Sinta. Saya masih harus banyak belajar.” “Harus itu. Kalau kamu banyak belajar ibu yakin kemampuanmu akan melebihi Sinta.” Vega benar-benar merasa tak enak karena bu Greysa terus memujinya di depan senior-seniornya. Vega tahu saat ini Anggun dan Sinta sedang menatap dirinya dengan tatapan tajam dan penuh kekesalan di hati mereka. “Ah tidak bu. Bu Greysa terlalu memuji. Ya sudah bu, saya permisi dulu, mau lanjut kerja.” Vega berusaha menghindar dan melanjutkan pekerjaannya. Begitu juga dengan Anggun dan Sinta. Mereka melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing. Anggun sebagai admin dan marketing. Sedangkan Sinta sebagai asisten florist, yang membuat buket, mendekor, dan lainnya. Hingga sore hari pun tiba. Mereka siap untuk pulang. Sebelum pulang, Vega pergi ke toilet terlebih dahulu. Namun Vega benar-benar kaget saat mendengar ada orang yang membicarakn dirinya dari dalam toilet. Tidak lain, tidak bukan, mereka adalah Anggun dan Sinta. Hati Vega merasa sangat perih, saat mendengarkan percakapan mereka yang membicarakan dirinya dengan sangat buruk. Ia tak menyangka kedua teman kerjanya itu sebegitu benci pada dirinya. Karena tak tahan mendengarkannya, Vega pun segera pergi. **** Hari demi hari pun terus berlalu. Vega berusaha untuk tetap bekerja dengan maksimal. Ia mencoba untuk menutup mata, telinga, dan hati, agar tetap bisa bertahan bekerja demi kedua orang tuanya dan bayi yang ada dalam kandungannya. “Ternyata kamu orangnya gigih juga ya,” ucap Sinta pada Vega. Dan kebetulan bu Greysa tidak ada di toko. “Antara gigih dan tidak tahu malu, beda tipis,” sahut Anggun. “Mentang-mentang mendapat perhatian dari bu Greysa, gayanya belagu banget.” “Iya, suka ngrepotin orang aja, sok banget.” “Sebenarnya apa salah aku pada kalian? Kenapa kalian sepertinya sangat membenciku?” “Bukan sepertinya. Tapi kita berdua memang sangat membencimu.” “Iya tapi kenapa?” “Kamu yakin tidak tahu alasannya?” “Seingatku, aku memang tidak pernah melakukan kesalahan apapun pada kalian. Aku tidak pernah mengganggu kalian.” “Apa kamu bilang? Tidak pernah mengganggu? Asal kamu tahu ya, kamu selalu menggangguku dan merepotkanku. Aku harus melakukan pekerjaan yang bukan menjadi bagianku.” “Tapi sebagai rekan kerja bukankah kita harus saling membantu. Aku juga bisa membantumu, kalau kamu memang memerlukannya. Lagian aku tidak pernah menyuruhmu atau memintamu melakukannya, tapi bu Greysa. Jadi kalau kamu ingin protes atau ingin membenci, seharusnya itu kamu lakukan pada bu Greysa.” “Wah udah berani nyolot kamu ya.” “Aku hanya…,” ucapan vega terhenti saat ponsel yang ada dalam sakunya bergetar karena ada panggilan masuk. “Halo ma, ada apa?” Tidak ada jawaban, hanya terdengar mama Mira yang sedang menangis. “Mama nangis? Ada apa ma? Semua baik-baik saja kan?” Kembali hanya terdengar isak tangis. “Ma, tolong jawab Vega. Jangan bikin Vega bingung.” “Papa kamu Ve….” “Ada apa dengan papa?” “…….” “Apa? Baiklah Vega akan segera datang.” Vega pun segera pergi dan meninggalkan toko. Ia tak menghiraukan Anggun dan Sinta yang terus berteriak padanya. TBC *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN