8. Mencari Solusi

1351 Kata
Lukas dan Mama Mira benar-benar merasa marah setelah mendengar semua cerita yang dialami oleh Vega. “Kenapa kak? Biarkan gue menemuinya. Kalau memang dia tidak mau bertanggung jawab, setidaknya gue bisa bikin babak belur itu orang.” “Tapi sampai kapan pun kita tidak akan menang. Kita semua tahu, siapa yang banyak uang dia yang berkuasa. Kakak tidak mau memperpanjang masalah ini dan nantinya akan menyulitkan kamu, bahkan keluarga ini.” “Terus apa yang akan lo lakukan sekarang?” “Iya benar. Apa yang akan kamu lakukan sekarang?” sahut mama Mira. “Vega juga nggak tahu ma. Kemarin Vega sempat berpikir untuk menggugurkan kandungan ini.” “Digugurkan?” “Iya ma. Karena ini adalah sebuah aib untuk keluarga kita. Vega tahu kalau tetangga sampai tahu, mereka pasti akan heboh dan mengucilkan keluarga kita.” “Tapi anak itu tidak bersalah apapun. Kamu akan semakin berdosa jika kamu sampai melakukan hal itu.” “Iya bener kata mama. Anak itu tidak salah apapun. Tidak seharusnya dia menjadi korban,” “Lalu apa yang harus Vega lakukan?” “Mama akan membantumu merawat anak itu.” “Mak-maksud mama?” “Kita besarkan anak itu bersama-sama.” “Iya kak. Lo nggak sendirian. Masih ada gue sama mama.” “Terima kasih. Terima kasih banyak.” Vega, mama Mira, dan Lukas saling memeluk satu sama lain. Padahal Vega sempat berpikir bahwa keluarganya akan membencinya dan mengusirnya. Namun justru sebaliknya. Vega merasa sangat bersyukur mempunyai keluarga yang saling mendukung dan menguatkan dalam keadaan apapun. “Lalu bagaimana dengan papa? Vega takut. Papa pasti akan sangat marah. Tapi yang lebih Vega takutkan adalah kesehatan papa.” “Nanti biar mama yang pelan-pelan bicara dengan papamu.” “Baiklah ma.” “Ya sudah sekarang kita makan dulu gimana? Kasian peliharaan di perut pada kelaparan,” ujar Lukas mencoba mencairkan suasana. “Oh iya. Kalian makan saja. Mama dan papa sudah makan dulu tadi.” “Yuk kak?” ajak Lukas. “Kamu duluan saja. Kakak mau cuci muka dulu.” “Tapi janji yan anti nyusul?” “Iya.” Akhirnya satu masalah yang ada di pikiran Vega telah terpecahkan. Setidaknya itu sudah membuat Vega sedikit tenang. Vega juga sudah tak mengurung diri lagi di kamar. Ia pun juga sudah bisa tersenyum, meskipun belum lepas. Karena masih memikirkan tentang papanya. *** Keesokan harinya. “Kita jual saja rumah ini.” Ucapan papa Aji membuat Vega, Lukas, dan mama Mira tercengang saat mereka sedang asyik menikmati sarapan pagi ini. Mereka menatap papa Aji bingung. “Iya, kita jual aja rumah ini. Kita beli rumah baru di tempat lain,” lanjut papa Aji. “Memangnya ada apa pa? Kenapa papa tiba-tiba ingin menjual rumah ini?” tanya Lukas. “Kita pindah tempat dimana orang tak mengenal kita. Biar kita bisa tenang merawat dan membesarkan anaknya Vega.” Uhuuukkk… Vega tersedak makanannya saat mendengar ucapan papa Aji yang ternyata sudah mengetahui soal kehamilannya. “Semalam mama sudah bicara dan menjelaskan semuanya pada papamu,” ujar mama Mira. “Maafin Vega pa. Vega sudah membuat kalian semua kecewa dan malu.” “Ya sudah. Papa memang kecewa dan sangat marah. Tapi semua sudah terjadi. Kita pikirkan saja tentang masa depan.” “Sekali lagi terima kasih pa, ma, dan Lukas.” *** Setelah beberapa hari berusaha dengan cara mengiklankan dan menghubungi beberapa makelar tanah, akhirnya rumah mereka pun terjual dengan harga yang cukup tinggi. Selain karena tanahnya luas, tempatnya pun cukup strategis. Mereka harus mengikhlaskan rumah dan tanah itu, yang tentunya menyimpan banyak kenangan, demi untuk bisa menjalani kehidupan di masa depan. Kini mereka tinggal di rumah pinggir perkotaan yang penduduknya tidak terlalu padat. Mereka membeli rumah yang luasnya lebih kecil dari rumah sebelumnya. Bulan demi bulan pun berlalu. Tentu saja perut Vega semakin membuncit. Selama tinggal di rumah baru, mereka memenuhi kebutuhan hidup dari uang sisa hasil penjualan rumah. Namun semakin lama uang itu pun semakin menipis. Lukas pun juga sudah bekerja part time untuk membiayai hidupnya sendiri. “Ma, kita tidak bisa hidup begini terus,” ucap Vega. “Iya. Tabungan kita semakin menipis. Kalau begitu biar mama cari kerja. Jadi tukang gosok atau pembantu rumah tangga aja bagaimana?” “Tidak ma. Jangan. Biar Vega aja.” “Tapi kamu lagi hamil Ve.” “Memangnya kenapa kalau lagi hamil ma? Vega kuat kok. Vega sehat.” “Tidak biar mama saja. Nanti malah terjadi apa-apa sama kandungan kamu.” “Tidak ma. Vega tidak tega kalau mama yang kerja. Kalau begitu biar Vega cari solusi lain ma. Lagian kebutuhan Vega yang paling banyak. Biaya persalinan, pakaian bayi, dan lain-lain. Biar Vega saja yang kerja.” “Tapi kamu mau kerja apa nak?” “Belum tahu ma. Yang pasti Vega tidak mungkin bekerja di perkantoran. Tidak aka nada yang mau menerima dengan kondisi Vega yang seperti ini. Mungkin besok Vega akan berkeliling mencari lowongan pekerjaan. Entah itu di toko, warung makan, atau apapun itu.” “Apa kamu yakin?” “Yang penting usaha dulu ma.” “Ya sudah kalau itu sudah menjadi keputusanmu.” *** Benar saja, selama beberapa hari Vega menyusuri jalanan dan menghampiri beberapa toko yang tertulis membutuhkan karyawan. Namun tak satu pun yang mau menerima Vega. Tentu saja dengan alasan kehamilannya. Vega tak menyerah, ia terus berusaha supaya ia bisa bekerja dan dapat penghasilan dengan cara apapun. Satu toko di tolak, ia akan memasuki toko lain. Begitu seterusnya. Hingga akhirnya kedua kaki Vega membengkak karena kelelahan. Vega beristirahat di sebuah warung makan. Ia membeli nasi rames dan juga es teh. Setelah selesai ia pun membayar. “Permisi bu,” ucap Vega pada pemilik warung makan. “Iya neng.” “Apa ibu membutuhkan karyawan? Atau saya boleh melamar kerja disini nggak bu? Saya bisa cuci piring, bersih-bersih, ngelayani pembeli, atau pekerjaan apa saja juga boleh bu. Soalnya saya lagi butuh banget bu.” “Maaf neng, tapi saya tidak membutuhkan karyawan. Bukannya apa-apa ya neng, tapi saya tidak kuat untuk membayar gaji karyawan. Soalnya neng tahu sendiri, warung ibu ini kecil dan sederhana. Pengunjung juga nggak terlalu ramai. Paling hasil tiap harinya, cuma bisa ibu gunakan untuk beli bahan makanan lagi.” “Oh ya sudah kalau begitu bu. Tidak apa-apa.” “Sekali lagi maaf ya neng, ibu tidak bisa membantu. Lagian kenapa kamu butuh pekerjaan? Memangnya suami kamu kemana? Seharusnya dia tidak akan membiarkanmu untuk bekerja dengan kondisi hamil seperti ini.” “Hehehe ada bu. Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu bu. Terima kasih.” Vega pun meninggalkan warung makan itu. Lagi dan lagi Vega harus pulang dengan perasaan lelah dan kecewa. Tanpa bertanya pun, Mama Mira tahu kalau kali ini tak berhasil lagi dengan melihat kepulangan Vega dengan raut wajah yang masam. “Maaf ma. Vega belum bisa dapat pekerjaan.” “Tidak papa. Jaman sekarang memang sulit nyari pekerjaan. Kamu yang sabar ya. Sudah besok kamu istirahat aja. Nggak usah keliling cari pekerjaan lagi.” “Tapi ma…” “Kasihan anakmu. Kali ini nurut sama mama.” “Iya ma.” “Oh ya Ve, bagaimana kalau kita ngomong sama Lukas, kalau untuk sementara ini dia suruh ambil cuti dulu kuliahnya.” “Loh kenapa ma?” “Uang kita hanya cukup untuk keperluan kita sehari-hari.” “Jangan ma. Jangan ganggu kuliah Lukas. Pasti ada jalan lain. Jangan beritahu Lukas juga tentang keuangan kita ma. Biarkan dia fokus untuk kuliahnya. Hanya Lukas satu-satunya harapan keluarga ini ma. Vega yakin suatu saat nanti pasti Lukas akan menjadi orang yang sukses dan bisa mengangkat derajat keluarga ini ma.” “Tapi…” “Maafkan papa. Papa sebagai kepala keluarga tak bisa membantu dan berbuat apa-apa. Papa hanya menyusahkan kalian saja.” Mama Mira dan Vega kaget saat tiba-tiba papa Aji datang. “Tidak pa. Selama ini papa yang sudah banting tulang untuk membesarkan dan menafkahi kita semua. Sekarang waktunya papa istirahat. Papa tidak boleh kecapekan. Mama dan papa tenang saja. Kita pasti akan menemukan jalan keluarganya.” Vega berusaha tegar dan menenangkan kedua orang tuanya. Padahal sebenarnya saat ini dirinya juga benar-benar bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. TBC ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN