“Vega?”
Kedua orang tua Vega terkejut saat mendapati anak sulungnya itu datang tanpa memberi kabar.
“Ma, pa.” Vega bersalaman dengan kedua orang tuanya.
“Kenapa kalian menatapku seperti itu?” tanya Vega.
“Kamu sakit?” tanya mama Mira.
“Nggak ma. Vega baik-baik saja.”
“Kenapa pulang nggak ngabarin mama dulu? Terus memangnya hari ini kamu nggak kerja?”
“Nggak ma. Ya sudah ma pa, Vega mau ke kamar dulu.”
Vega pun melangkahkan kaki menuju kamarnya. Vega tahu pasti mamanya akan menghujani berbagai pertanyaan padanya. Ia belum siap menjawab dan memberitahu semua kebenaran yang terjadi pada dirinya saat ini.
Vega belum tahu bagaimana ia harus berbicara dan mengatakan kepada kedua orang tuanya tentang kehamilannya. Mereka pasti akan sangat kecewa dengan dirinya. Bahkan bisa saja mereka akan sangat marah dan mengusir dirinya dari rumah. Vega benar-benar takut.
Tapi ada satu hal yang paling Vega takutkan, yaitu tentang kesehatan papanya. Mengingat kondisi papanya yang sudah tua dan sering sakit-sakitan. Apalagi jika mendengar kabar buruk dan mengejutkan, Vega tak ingin papanya kenapa-napa.
*****
Hari demi hari pun berganti. Vega hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar. Ia mengurung dirinya di kamar. Hal itu pun membuat kedua orang tuanya semakin merasa khawatir. Saat ditanya Vega hanya menjawab dengan kalimat yang sama yaitu tidak papa dan baik-baik saja.
“Vega, ayo keluar, kita makan malam dulu,” ucap mama Mira sembari mengetuk pintu kamar Vega.
“Nanti aja ma. Aku belum lapar.”
“Tapi mama lihat dari tadi pagi kamu belum keluar dari kamar dan belum makan sama sekali.”
“Iya ma. Nanti kalau aku sudah lapar, aku akan makan.”
“Vega, boleh mama masuk? Mama ingin bicara denganmu.”
“Maaf ma, aku lagi ingin sendiri.”
“Sebenarnya apa yang terjadi? Kamu baik-baik saja kan?”
“Iya ma. Aku baik-baik saja.”
“Ya sudah kalau begitu. Tapi jangan lupa makan ya? Nanti kamu sakit.”
“Iya ma.”
Mama Mira pun pergi dari kamar Vega. Mama Mira benar-benar merasa khawatir dan menghubungi anak bungsunya.
“Halo ma, ada apa?”
“Apa besok kamu ada kuliah?”
“Ada ma. Besok Lukas ada kuliah pagi sampai sore.”
“Oh ya sudah kalau begitu.”
“Memangnya ada apa ma?”
“Sebenarnya mama ingin minta tolong sama kamu.”
“Minta tolong apa ma? Apa terjadi masalah?”
“Kakakmu.”
“Kak Vega? Ada dengannya?”
“Mama juga nggak tahu. Tapi sikapnya aneh. Beberapa hari ini dia di rumah tapi hanya mengurung diri di kamar saja. Tidak mau makan juga.”
“Loh… memangnya kak Vega nggak kerja?”
“Katanya dia ambil cuti.”
“Ya sudah kalau begitu besok Lukas akan pulang ma.”
“Lalu bagaimana kuliahmu?”
“Nggak papa. Ijin sehari aja.”
“Oh iya nak.”
Mama Mira pun menghentikan panggilannya. Mama Mira pikir Lukas bisa membujuk Vega agar mau terbuka dan bercerita tentang masalah yang sedang anak sulungnya hadapi itu. Karena memang Vega adalah tipe anak yang sering menyimpan masalahnya sendiri dan tak ingin membuat orang lain khawatir ataupun menyusahkan orang lain.
“Gimana ma?” tanya papa Aji.
“Sama saja pa. Ia tak mau keluar dari kamarnya.”
“Sepertinya ada yang disembunyikan sama Vega.”
“Iya pa. mama juga merasa seperti itu. Makanya mama meminta Lukas untuk pulang besok. Mungkin Lukas bisa membujuk kakaknya.”
“Iya semoga saja. Ya sudah sekarang kita istirahat dulu. Mama nggak usah berpikir berlebihan. Vega sudah besar. Dia tahu mana yang baik untuk dirinya.”
“Iya pa.”
****
Keesokan harinya Lukas benar-benar pulang ke rumah.
“Kak, ini gue. Udah bangun belum lo? Anak perawan jam segini jangan tidur. Pamali.” ucap Lukas sambil menggedor pintu kamar Vega.
“Apaan sih? Orang gue udah bangun dari tadi,” sahut Vega dari dalam kamar.
“Kalau gitu lo keluar dong. Kita sarapan bareng.”
“Nanti aja. Lagian lo kenapa pulang sepagi ini? Apa lo nggak kuliah?”
“Bolos gue.”
“Ngapain bolos?”
“Lo aja juga bolos kerja. Gue juga bolos kuliah nggak papa dong.”
“Gue cuti.”
“Kalau gitu gue juga cuti.”
“Terserah lo deh.”
“Ya udah bukain dulu pintunya. Kalau nggak, gue dobrak.”
“Mau ngapain? Udah sana pergi. gue lagi nggak mau berantem atau pun berdebat sama lo.”
“Gue hitung sampai tiga, kalau nggak lo bukain gue dobrak beneran. Gue nggak tanggung jawan kalau pintu kamar lo rusak. Satu…….”
Vega masih tak mau membuka dan tak takut dengan ancaman adiknya itu.
“Duaaaaaaaaaaa!!!”
Masih diam.
“Dua setengaah…”
“Tiiiiigaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!”
‘Bruuuukkkkkkkk……”
“Aaaaaaaaaaaauuuuuuuwwwwww…” Lukas kesakitan, tersungkur ke lantai. “Sialan. Kalau mau buka pintu bilang-bilang dong.”
“Sengaja.”
“Hemmmm… Ya udah deh kali ini gue maafin. Sebab lo udah mau buka pintu.”
“Lagian lo dari tadi heboh sendiri. Ngapain?”
“Ayo kita sarapan dulu kak. Udah ditunggu sama mama, papa.”
“Gue belum laper. Kalian makan aja dulu.”
“Kak!!!” Lukas menatap Vega tajam. Tak lama kemudian Lukas langsung memeluk tubuh kakaknya yang semakin kurus.
Suasana menjadi sangat hening. Dan tak lama kemudian merasa baju bagian dadanya terasa dingin dan basah. Ternyata air mata Vega yang berusaha ia tahan, akhirnya mengalir saat menerima pelukan hangat dari sang adik. Lukas hanya diam dan mengusa-usap punggung Vega, mencoba menenangkannya yang sudah menangis sesegukan.
Sesudah cukup tenang, Lukas membawa Vega untuk duduj di tepi kasur milik Vega. Lukas mengusap air mata Vega.
“Sebenarnya apa yang terjadi kak? Kenapa lo jadi seperti ini? Gue bener-bener nggak tega ngelihat lo.”
Vega hanya menggelengkan kepalanya.
“Kalau memang nggak mau cerita ya sudah, tapi setidaknya lo harus makan.”
“Gu-gue resign.”
“Hah?” Lukas tak begitu mendengar karena suara Vega yang pelan.
“Gue udah nggak kerja lagi. Gue keluar kerja.”
“Ow ya sudah nggak papa. Gue tahu lo pasti capek selama ini harus kerja banting tulang membiayai kehidupan keluarga kita, dan membiayai pendidikan gue. Lo juga berhak istirahat. Maaf ya kak selama ini, gue udah ngebebanin lo. Biar gantian gue yang kerja. Nanti gue akan cari kerja part time.”
“Tidak. Bu-bukan karena itu.”
“Terus ada apa? Kenapa lo bisa sampai begini?”
“Gu-gue…”
Lukas menatap Vega, menunggu kalimat yang akan diucapkan Vega.
“Gu-gue hamil, Lukas.”
Seketika Lukas pun terdiam mendengar pernyataan kakaknya yang sama sekali tak bisa dipercaya.
“Lukas… Gue hamil. Gue harus bagaimana? Gue hamil,” rengek Vega dengan air mata yang kembali mengalir sembali menarik-narik kaos yang dikenakan Lukas.
“Lo nggak usah bercanda ya? Nggak lucu.”
“Gue serius.”
“Jadi beneran?”
Vega menganggukkan kepalanya.
“Siapa?” Wajah Lukas berubah menjadi marah, dan mengepal kedua tangannya.
“Hah?”
“Siapa pelakunya?”
Vega menggelengkan kepala.
“Katakan siapa pelakunya?”
Vega kembali menggelengkan kepalanya.
“Katakan kak. Siapa laki-laki b******k yang telah menghamili lo?” Lukas menggoyang-goyangkan tubuh Vega, mulai geram karena Vega tak mau menjawab.
“HA-HAMIL?”
Suara itu membuat Vega dan Lukas menatap kearah pintu yang dimana mamanya sudah berdiri dengan muka terkejut.
Vega pun langung menghampiri mamanya dan bersimpuh di kaki mamanya.
“Maafin Vega ma. Maafin Vega.”
“Siapa yang sudah melakukan ini padamu?” tanya mama Mira. Namun Vega tetap tak mau menjawabnya.
“Kalau lo nggak mau jawab. Gue akan datang ke kantor lo, dan akan gue cari tahu sendiri siapa pelakuny,” geram Lukas.
“Iya, katakan Vega! Siapa yang sudah menghamilimu,” sahut mama Mira.
“P-Pak Nolan.”
“Siapa pak Nolan? Boss lo?” tanya Lukas dengan nada tinggi.
Vega menganggukkan kepala.
“Baiklah.” Lukas pun langsung berajak, dan melangkahkan kaki hendak pergi menghrmpiri Nolan.
“Jangan!!! Jangan Lukas!!!” Vega dengan segera menarik tangan Lukas.
“Lepaskan kak. Biar gue hajar boss b******k lo itu.”
“Jangan Lukas. Gue nggak mau lo kena masalah. Gue nggak mau masalah ini semakin panjang.”
“Apa maksud lo? Gue nggak takut kalau gue kena masalah. Tapi dia harus tanggung jawab dengan perbuatannya.”
“Jangan Lukas!!! Kakak mohon jangan!!! Dia juga tidak tahu apa-apa.”
“Maksudnya?”
TBC
******